RSS

Metode Dakwah Islam.

12 Mei

Dakwah adalah penyampaian pesan-pesan ajaran agama yang berisikan akidah dan norma-norma perilaku yang seharusnya menjadi rujukan masyarakat beragama. Yang menjadi pertanyaan kita adalah, bagaimana metode paling ideal dalam penyampaian pesan-pesan ajaran tersebut. Sementara yang sering kita saksikan di banyak tempat umum maupun di media elektronik adalah sebuah penyampaian pesan religius yang memancing orang untuk tertawa terbahak-bahak. Kita tidak tahu apa yang sedang dilakukan para da`i tersebut. Mereka sedang berdakwah sambil melawak atau sedang melawak sambil berdakwah ? Sedang mengajarkan ilmu agama atau hanya sekedar sebuah pertunjukan lawak berbumbu dakwah yang tujuan akhirnya bermuara di lembaran-lembaran merah.

Kadang memang timbul pertanyaan, apakah metode dakwah seperti ini bisa dibenarkan oleh syariat ? Menimba ilmu agama sambil tertawa cekiki`an. Bahkan sering dan banyak pula dibumbui oleh kata atau kalimat yang nyerempet-nyerempet pornografi. Biasanya terjadi di pengajian umum yang di ikuti laki-laki dan perempuan atau ibu-ibu. Atau ada pula ustadz yang berdakwah dengan gaya lembeng. Hingga kadang menimbulkan petanyaan dalam hati, apakah Rasulullah saw dahulu mengajarkan ilmu agama dengan cara seperti apa yang banyak dilakukan da`i – da`i saat ini. Mbanyol layaknya seorang pelawak. Kelihatan senang dan puas kalau jama`ah yang hadir banyak yang tertawa-tawa karena banyolannya.

Celakanya, masyarakat kita menyukai cara ngaji sambil mbanyol ini. Padahal, dalam sejarah dakwah Rasulullah saw, mengajarkan ilmu agama sambil mbanyol ini tidak pernah ada. Dan saya sangat yakin dengan hal ini. Andai saja Islam diajarkan sambil mbanyol sejak awal, mungkin agama ini tidak akan begitu besar seperti saat ini. Rasulullah saw berdakwah pada kerabat beliau dengan sungguh-sungguh. Bukan mbanyol ! Dan mendatangi kabilah-kabilah untuk berdakwah dengan sungguh-sungguh pula. Tujuan utamanya adalah agar agama Islam bisa diterima dan diyakini oleh masyarakat Mekkah saat itu. Dan agar masyarakat jahiliyah saat itu sadar atas kekeliruan yang telah mereka lakukan dalam beragama. Dengan serius saja masih mendapatkan perlakuan yang menyakitkan. Apalagi dengan guyonan.

Rasulullah saw mendatangi dan menyampaikan sebuah kebenaran tanpa mengharapkan imbalan materi. Bahkan harta yang beliau miliki bersama Khadijahpun habis untuk keperluan syi`ar Islam. Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabat di kanan kirinya. Dalam berdakwah, Rasulullah saw tidak semakin kaya. Sedangkan saat ini kondisinya berbalik dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah pada permulaan Islam. Dakwah Rasulullah adalah menanam. Sedangkan dakwah pada saat ini, terutama yang berbau hiburan adalah sebaliknya, memetik. Sebuah perbedaan kontras yang terlihat jelas oleh mata. Mungkin mereka tidak bisa menerima anggapan seperti ini dan memberikan berbagai macam dalih untuk menolaknya. Karena memang semua serba subyektif kalau menyangkut tendensi sebuah perbuatan.

Memang tidak semua da`i seperti itu. Banyak sekali para da`i yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt tentang hidup dan rizkinya. Mereka melakukan dakwah dengan cara yang biasa. Tidak dibuat-buat. Dengan kesungguhan dan tidak terkesan mbanyol. Mereka ini sadar bahwa ilmu agama tidak bisa di sajikan bersamaan dengan lawakan. Dan mereka juga sadar kalau ajaran iman diajarkan dengan mbanyol, hasilnya adalah nol. Sesuai dengan sifat banyolan yang cenderung akting, maka hasil yang didapat adalah keimanan yang bersifat akting juga. Korelasi antara metode penyampaian dengan hasil Iman ini bisa besar atau erat sekali, mengingat bahwa agama bukanlah sebuah panggung srimulat. Agama adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa di sambut dengan canda dan tawa. Sambutan yang benar untul ilmu agama adalah kebesaran hati untuk bersyukur kepada Allah. Terlalu besar resiko canda dan tawa ngakak untuk sebuah kepentingan akhirat.

Lelucon adalah lelucon. Hanya sekedar penghilang rasa penat dan stress. Tidak perlu melibatkan hati untuk sesuatu yang lucu, mata, telinga dan otak saja sudah cukup. Mengingat sesuatu hal yang lucu akan merangsang mulut untuk tertawa. Tidak ada orang tertawa terpingkal-pingkal yang bisa mengingat Allah. Bukan berarti tidak boleh tertawa. Asal masih dalam batas kewajaran, tertawa itu boleh-boleh saja. Tapi ketika tertawa itu berlangsung dari awal sampai akhir dalam sebuah kajian ilmu agama, maka nilai dakwahpun akan berubah menjadi sebuah hiburan lawak. Diakui atau tidak memang begitulah kenyataannya. Tidak menambah Iman. Tidak mengubah perilaku. Karena yang mereka lihat dan mereka dengar tak lebih dari sekedar guyonan.

Kalau masih kurang yakin dengan metode dakwah yang benar dan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, cobalah cari tahu tentang metode dakwah yang dilakukan oleh para sahabat dan para salafush shalih. Atau tidak usah jauh-jauh melangkah ke belakang. Kita coba cari tahu bagaimana para wali yanng merupakan cikal bakal Islam kita di bumi Indonesia ini mengajarkan agama pada para santrinya. Adakah referensi yang kuat bahwa para wali songo yang pernah ada di tanah jawa ini mengajarkan ilmu Iman dan Islam sambil melawak ? Sambil akting dengan bahasa tubuh yang dibuat-buat untuk memancing tawa ngakak dari yang mendengarnya. Bukankah yang seperti ini lebih dekat pada sebuah pertunjukan lawak ? Tujuannya ? Dakwah yang menghibur, bukan meningkatkan Iman. Cuma menghibur saja. Tak lebih dari itu.

Yahh,.. beginilah kalau sudah terlanjur. Terlanjur menyukai metode dakwah yang dikemas dalam kelucuan. Karena memang kita ini tidak suka dengan sesuatu yang bersifat beban. Sedangkan menuntut ilmu agama adalah kewajiban yang membutuhkan pengorbanan. Termasuk waktu dan pengorbanan untuk bersungguh-sunggguh dalam mempelajarinya. Guyon, bagaimanapun situasi dan kondisinya tidak akan bisa membantu merekatkan ilmu dengan hati. Kalaupun melekat, mungkin hanya sekedar lekat saja. Mudah sekali untuk lepas dan terbang terbawa angin. Sesuatu yang tidak kita kehendaki untuk bekal meningkatkan keyakinan atau Iman. Waktu berjalan terus, sedangkan keseriusan tak juga kunjung datang untuk urusan Iman. Sedangkan hati sudah tertambat pada metode dakwah plus lawak.

Apapun alasannya, agama bukanlah sebuah sesuatu yang patut untuk dibuat guyonan. Agama berbicara tentang fakta atau kenyataan. Baik fakta tentang dunia maupun fakta tentang akhirat. Sesuatu yang tidak bisa dibuat permainan atau senda gurau. Karena berhubungan langsung dengan dzat yang menciptakan semua apa yang ada di bumi dan alam semesta ini. Yakni Allah yang Maha Tunggal, Yang Maha Agung, Yang Maha Besar, Yang Maha Perkasa. Dan tidaklah Allah menciptakan semua ini dengan bergurau. Keyakinan atau Iman terbangun dari sebuah usaha yang sungguh-sungguh. Bukan sekedar usaha. Apalagi usaha yang dibarengi dengan canda dan tawa. Jika kita bersikukuh untuk ngaji dalam dakwah yang dikemas seperti hiburan lawak, mudah-mudahan nantinya kita terhindar dari penyakit tertawa-tawa sendiri tanpa sebab.

Belajar agama bukan sekedar menghadiri undangan pengajian. Berjalan dan berusaha dengan ikhlas mendatangi sumber-sumber ilmu yang mempunyai kompetensi dalam ilmu agama. Juga harus intensif, karena ilmu yang menyangkut keimanan harus dipelihara dan selalu ditambah dengan pemahaman-pemahaman ayat-ayat Allah. Dan ini tidak bisa dilakukan dengan sekedarnya saja. Dibutuhkan royalitas dan loyalitas yang tinggi untuk mewujudkan pemahaman ilmu Iman. Itu kalau menginginkan Iman yang berkualitas. Jika menuntut ilmu Iman hanya sekedarnya saja yang akan kita dapat ya hanya Iman yang sekedarnya pula. Memang sedikit benar kalau ilmu syariat bisa diajarkan dengan santai atau dengan sedikit gurauan. Karena menyangkut tata cara ibadah. Tapi segudang ilmu syariat yang dimiliki seseorang tidak akan pernah berguna tanpa kekuatan Iman untuk melaksanakannya. Karena hanya Iman yang kuat yang bisa secara otomatis mendorong perbuatan-perbuatan baik menurut syariat.

Dakwah yang baik adalah dakwah yang jauh dari lelucon. Karena lelucon bisa menghalangi pemahaman masuk ke dalam hati. Sedangkan Iman adalah urusan hati. Mata dan telinga adalah piranti yang bekerja untuk mempermudah pemahaman. Keduanya bekerja dan menyampaikan informasi ke dalam otak. Kemudian otak mengolahnya menjadi sebuah kesimpulan tentang benar atau tidaknya sebuah gambaran ilmu. Jika benar menurut logika, otak akan mengirimkan sinyal enter ke dalam hati guna memperkuat keyakinan. Tapi jika menurut logika salah, otak bisa membuangnya keluar. Pelabuhan terakhir sebuah pengetahuan atau ilmu adalah hati. Untuk itulah diperlukan kesungguhan dalam penyampaian informasi. Dan yang demikian itu tidaklah dapat dilakukan dengan guyonan.

Banyolan atau lawakan identik dengan senda gurau. Disitu banyak terjadi ketidaksesuaian antara kata dan fakta. Lalu, apa jadinya jika sebuah kebenaran disampaikan dalam ketidak seriusan ? Yang sering terjadi adalah tawa dan senyum yang tak kunjung sirna. Meski sudah sampai di rumah dan terlewat beberapa hari kemudian. Berarti yang lebih dominan dalam pengajian adalah lawakannya. Kalau ilmunya belum tentu merasuk dalam hati. Waktu puluhan menit atau bahkan kadang sampai berjam-jam selalu di dominasi oleh lelucon. Isi kajian ayatnya pun kadang begitu minim sekali. Kadang malah terbersit dalam hati oleh mereka yang agak paham tentang ngaji, ini ngaji model apa ? Kok dari awal sampai akhir terus melucu. Sepertinya kok hanya bertujuan untuk membuat orang tertawa saja, sedang substansi kajiannya sendiri jadi kabur.

Kadang orang berpikir, apa ini bukan bertujuan untuk cari sensasi atau promosi diri saja. Sebab kenyataanya, penyampai-penyampai pesan Al Qur`an yang nyambi melawak ini kemudian banyak di manfaatkan oleh even organiser untuk mengeruk uang lewat sponsor. Nah kalau sudah seperti ini apalagi kalau bukan bertujuan untuk profit. Pandai-pandainya mereka yang bisa memanfaatkan saja. Tak perduli dia ustadz atau apalah. Yang penting bisa mendatangkan keuntungan. Da`i-nya puas, penonton senang, juga menguntungkan buat perusahaan. Klop sudah. Jadinya ya seperti kita sekarang ini. Beriman sambil sesekali tertawa-tawa tanpa sebab. Hanya ingat lawakan ustadz kemarin malam saja sudah tersenyum-senyum sendiri. Belum kalau ketambahan lawakan-lawakan yang lain.

Untuk itulah perlu kita luruskan kembali tentang metode ngajinya umat. Kalau mau benar-benar ngaji, ya cari tahu dulu bagaimana ngaji yang benar. Lalu dimana kira-kira kita bisa melakukannya. Sebab kalau kurang hati-hati dalam menentukan, jangan-jangan malah terjerumus dalam suatu komunitas yang tidak kita kehendaki. Banyak sekali tempat ngaji yang baik dan benar. Kita tinggal memilih yang mana kira-kira yang bisa mempermudah kita dalam menempuhnya. Masjid-masjid besar tertentu biasanya memberikan waktu khusus untuk jama`ah guna memperdalam pemahaman Al Qur`an. Tentu saja sajiannya tanpa lawakan. Dan memang yang demikianlah ngaji yang benar. Memang kadang timbul rasa jenuh. Tapi jika kita sadar bahwa kejenuhan tersebut adalah kinerja setan, pasti semangat ngaji akan segera timbul lagi.

Kesabaran dalam menempuhnya adalah sesuatu yang sangat berarti buat kita. Intensitas yang tinggi juga akan menjadikan kita lebih cepat dalam pemahaman ilmu agama. Yang perlu kita hindarkan dalam menimba ilmu agama secara non formal ini adalah, menghindari ustadz yang cenderung menjelek-jelekkan umat seiman yang lain. Terutama yang berbeda paham mazhab dari empat Imam yang sering dijadikan masalah. Menghindari ustadz yang merasa benar sendiri hingga kadang mengafirkan aliran-aliran Islam yang lain. Menghindari ustadz yang selalu menjelek-jelekkan perawi-perawi hadist yang mereka anggap pembohong. Seakan-akan pemikirannya sendiri-lah yang paling benar. Menghindari ustadz yang memasang tarif dalam mengajarkan ilmu agama, sebab yang demikian tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Berusahalah mencari ustadz yang benar-benar berakhlak mulia. Yang bisa dijadikan teladan atau contoh dalam kehidupan bermasyarakat maupun beribadah. Yang santun dalam ucapannya dan menghargai orang-orang disekitarnya. Tidak memandang rendah mereka yang miskin dan menjunjung tinggi mereka yang kaya. Adil dalam melayani umat dan tidak terpaku pada besar kecilnya imbalan yang kadang diterimanya. Yang sering berjama`ah di masjid dan tidak melakukan praktik riba dalam bermacam bentuk. Yang tidak berorientasi dunia secara berlebihan dan hidupnya dalam kesederhanaan. Terlihat kejujurannya melalui sikap-sikap atau perilaku keseharian. Yang tidak mudah tergiur oleh rayuan partai-partai politik, apalagi merangkap berbagai jabatan. Yang terakhir, jangan mudah terbujuk oleh ustadz-ustadz palsu yang ujung-ujungnya akan membelokkan akidah Islam kita ke dalam pemahaman yang sesat dan jauh dari Al Qur`an.

Sekian.

Surabaya, 12 Mei 2011.

Agushar.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 12, 2011 in Renungan

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 107 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: