RSS

Ziarah ke Makam Waliyullah

02 Jul

Rasa penasaran tentang keingintahuan mencicipi rasa nikmat dari ziarah ke makam para wali seakan terjawab sudah. Plong rasanya. Ternyata banyak juga kesan yang hinggap di hati kecil ini dari perjalanan yang cukup melelahkan plus menyenangkan tersebut. Meski akhir perjalanan yang kami tempuh terasa ada yang hilang, namun kami semua sepakat bahwa perjalanan religi kali ini telah membuat kami ingin mengulangnya di saat-saat yang akan datang. Ziarah kemakam para aulia Allah tersebut telah sedikit membuka mata hati kami memahami tentang perilaku mereka yang senang dengan perjalanan religi napak tilas makam waliyullah.

Memang, dalam hati kami tidak memungkiri kalau sebagian masyarakat Islam sangat antipati terhadap amalan ziarah wali ini. Tapi kami juga sadar bahwa tanpa meneliti terlebih dahulu, sebuah prasangka negatif yang membabi buta mungkin justru akan membawa seseorang pada perilaku dzalim. Baik dzalim terhadap orang lain, maupun dzalim terhadap diri sendiri. Ziarah yang dilakukan oleh orang-orang beriman bukanlah sebuah perilaku syirik seperti yang sering diungkapkan sebagian saudara kita sendiri. Ziarah adalah amalan silaturahmi terhadap kebenaran sebuah kematian. Yang juga bisa kita maknai sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada para waliyullah atas warisan Iman dan Islam yang sampai saat ini masih kita miliki.

Dengan berlindung kepada Allah dari godaan syetan dan mengawali langkah dengan kata bismillah, kami membaca ayat-ayatNya, mengumandangkan kalimat-kalimat thoyyibah, mengumandangkan shalawat nabi, mendo`akan arwah para syuhada, arwah orang-orang beriman, memohonkan ampun arwah kedua orang tua dan kerabat kami dan memohonkan hajat kami hanya kepada Allah swt, bukan kepada benda-benda atau sesuatu yang ada di depan mata kita. Dengan berusaha memenuhi semua permintaan Allah dan tetap pada keyakinan tauhidnya Allah swt, kami berharap mudah-mudahan syafaat Allah dan syafaat Rasulullah saw akan hinggap di kehidupan kami. Baik di dunia maupun kelak di akhirat nanti.

Perjalanan berbalut dzikir.

Lepas jam kerja, rombongan kecil kami yang terdiri dari empat belas orang meluncur dari halaman perusahaan pt. Sepanjang Baut Sejahtera dengan menggunakan dua mobil. Belum berlalu setengah jam perjalanan, rintik hujan turut pula menyertai perjalanan kami. Seakan memberi isyarat bahwa malam akan berlalu dengan guyuran air hujan. Menambah dinginnya udara dalam mobil yang sebenarnya sudah begitu dingin. Namun udara dingin bukanlah halangan keceriaan kami. Mobil terus melaju di bawah gelapnya langit dan pandangan yang terhalang tetesan air hujan yang semakin deras. Meluncur agak kencang dan berkelok diantara makhluk sejenis mobil kami yang mempunyai body jauh lebih besar, yakni truck gandeng dan treller.

Satu setengah jam berlalu. Kami menghentikan perjalanan sejenak untuk memenuhi panggilan shalat maghrib di Masjid Jami` Lamongan. Untuk effisiensi dan demi keringanan pelaksanaan syariat kami menjama` taqdim sekaligus qoshor shalat maghrib dengan Isya` dalam satu waktu. Usai shalat kami bersama-sama merekatkan kebersamaan dalam suasana makan nasi bungkus, telur asin plus sambal terong. Terasa nikmat dan begitu berkesan. Inilah keindahan orang-orang yang bersaudara dalam Iman. Selesai makan, sebagian dari kami yang tergolong ahli hisab melampiaskan hasrat ngudud-nya. Satu jam tanpa tembakau dalam mobil rasanya mungkin seperti dalam penjara selama seharian. Maka begitu tuntas masing-masing satu batang, kami segera meneruskan perjalanan di atas rajutan aspal yang masih panjang.

Lima jam perjalanan yang mestinya bisa kami gunakan untuk mencuci mata, yakni dengan melayangkan pandangan ke indahnya tepi pantai utara. Tapi hal itu tak bisa kami lakukan karena sinar rembulan tertutup awan dan hujan. Yah, apa mau dikata, perjalanan ke makam Sunan kalijaga di desa Kadilangu Demak terpaksa kami tempuh dengan ekstra hati-hati karena hujan yang tak kunjung reda sampai lewat tengah malam. Pukul 01.30 pagi rombongan kami tiba di lokasi makam. Kembali kerinduan akan asap dan hitamnya kopi tak tertahankan lagi. Setelah istirahat beberapa saat, kami semua menuju padasan untuk mensucikan hati dari segala sesuatu yang bersifat duniawi. Sejenak kami berucap salam pada arwah sunan Kalijaga dan pada seluruh penghuni kubur di lokasi makam sunan.

Kira-kira tiga puluh menit kami larut dalam quri`al Qur`an surat ke tigapuluh enam dan lantunan kalimat-kalimat thaiyibah. Kemudian bertawasul kepada Rasulullah saw dan para syuhada serta bertawasul pula pada sunan Kalijaga. Lantas mengalirlah permintaan-permintaan kami pada Allah swt untuk memohon ampun atas dosa-dosa orang-orang beriman, dosa-dosa kedua orang tua kami, kakek-kakek kami dan seluruh ahli kubur di keluarga kami. Tak lupa kami juga memohon kebaikan untuk istri, anak dan mohon pula agar dijauhkan dari amalan-amalan yang buruk dalam menjalani kehidupan ini. Kami memohon pula dijauhkan dari segala bala` bencana, memohon agar negara yang kita cintai ini bisa menjadi negara yang baldatun thaiyibatun war rabbun ghafur.

Setelah kami rasa cukup dalam meminta sesuatu kepada Allah, kamipun merenung sejenak sambil memperhatikan lekuk ornamen bangunan yang sudah berusia selama ratusan tahun di depan mata kami. Beberapa saat kemudian kamipun sudah berada di lorong jalan yang menawarkan berbagai cindera mata khas daerah dan berbagai aksesoris untuk ritual ibadah. Pemandangan seperti ini memang hampir selalu terlihat di berbagai komplek pemakaman para waliyullah. Harus jeli dalam melihat kualitas dan piawai dalam menawar jika ingin mendapatkan harga yang sesuai dengan kualitas barang. Sebab tidak sedikit pedagang yang sengaja memanfaatkan keikhlasan jama`ah ziarah meski harus mengeluarkan uang untuk membayar sesuatu yang tidak sesuai dengan kualitas.

Lima belas menit kemudian kami sudah berada di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju masjid agung Demak dan berziarah ke makam Sunan Demak. Tak berapa lama rombongan kami sudah berada di komplek masjid yang sangat terkenal di tanah jawa ini. Pemandangan pertama yang kami temui adalah banyaknya jama`ah ziarah yang bergelimpangan tidur di beranda masjid. Mungkin mereka kelelahan setelah menempuh jauhnya perjalanan dari berbagai tempat asal yang jaraknya bisa ratusan kilometer. Sambil melangkah kami mencoba untuk memperhatikan sokoguru yang tergolek di musium kecil masjid Demak. Beberapa batang kayu yang sudah kelihatan rapuh tersebut seakan menjadi saksi bisu berdirinya Masjid di akhir pemerintahan kerajaan Hindu Majapahit yang pernah sangat berjaya.

Batangan kayu bulat besar yang sudah berusia ratusan tahun tersebut memang sengaja diistirahatkan dari tugasnya menyangga atap Masjid Demak. Bukan karena apa, hanya karena kondisi yang sudah termakan usia saja hingga beberapa sokoguru tersebut harus disimpan dan dilestarikan sebagai saksi bisu sejarah berdirinya Masjid yang diyakini pernah digunakan sebagai tempat berkumpulnya para wali seluruh tanah jawa tersebut. Ada perasaan heran bercampur takjub atau mungkin sebaliknya ketika memperhatikan benda-benda tersebut dengan seksama. Batangan kayu yang kelihatan tak berguna tersebut ternyata menyimpan sejuta peristiwa tentang sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa. Jika saja tak ada bukti batangan kayu tersebut, mungkin wacana sejarah yang ada bisa dianggap hanya isapan jempol belaka.

Setelah puas melihat-lihat sokoguru yang identik dengan Sunan Kalijaga tersebut kamipun bergegas menuju makam di bagian belakang bangunan. Kemudian beberapa saat kami tenggelam dalam dzikir sambil melantunkan tahlil bersama-sama untuk meyakinkan hati bahwa kematian adalah sesuatu yang haq. Kubur dan nisan adalah bukti bahwa cepat atau lambat kematian pasti akan menghampiri kita. Hanya kualitas jiwa dan besarnya perjuangan di jalan Allah saja yang membedakan antara kematian biasa dan kematian luar biasa orang-orang yang disayangi oleh Allah swt. Kematian biasa hanya menyisakan gundukan tanah dan nisan. Sedangkan kematian para waliyullah mewariskan kehidupan untuk warga sekitar makan dan bahkan orang-orang yang jauh dari lokasi makam.

Lantas bagaimana dengan kematian kita kelak ? Bisakah kematian kita yang menganggap diri paling benar ini mampu menghidupi ribuan orang-orang disekitar kehidupan kita ? Tak ada jawaban pasti mengenai pertanyaan tersebut. Tapi yang hampir pasti, kita hanya akan meninggalkan nama di batu nisan yang terselip di dangkalnya liang kubur kita. Betapa hebatnya orang-orang yang disayangi oleh Allah swt. Disaat hidup dibutuhkan banyak orang, disaat matipun jadi sandaran hidup ribuan orang-orang yang menggantungkan mata pencaharian di sekitar makam. Benar-benar manusia yang membawa berkah dari Allah untuk di serahkan ke umat. Tapi kebanyakan kita mengingkari tentang hal-hal seperti ini.

Setelah menunggu beberapa teman yang ingin mencicipi fenomena shalat di masjid para Wali ini, kamipun meneruskan perjalanan menuju kota Kudus untuk silaturahmi dengan syech Ja`far Shadiq atau Kanjeng Sunan Kudus di Jalan Menara Kota Kudus. Meski harus bertanya kesana-sini akhirnya sampai juga kami ke makam Sunan Kudus. Agak aneh, meski sudah berkali-kali datang untuk berziarah di tempat yang sama kamipun masih saja kesasar jalan. Hal itu tak lain karena perjalanan ziarah yang biasa kami tempuh tidak seberat sekarang ini. Kami terbiasa melakukan perjalanan jauh hanya dengan memejamkan mata. Dan ketika membuka mata tiba-tiba sudah berada di lokasi makam tujuan. Heran ?

Jangan heran, karena kami terbiasa menggunakan bus besar dan tidur selama perjalanan untuk kemudian bangun ketika bus sudah sampai di tujuan. Berbeda dengan perjalanan kali ini yang wajib melek untuk memotivasi pilot pesawat agar tetap semangat menginjak pedal gas untuk memenuhi target waktu minimal perjalanan. Persis waktu subuh rombongan kami menginjakkan kaki di komplek Masjid yang bersebelahan dengan bangunan menara ber-arsitektur Hindu tersebut. Kemudian satu demi satu masing-masing diri mengambil air wudlu untuk menunaikan shalat fajar bersama-sama dengan ratusan jama`ah yang memang sengaja menunggu shalat berjama`ah dengan Imam Masjid Agung tersebut.

Langkah menuju lokasi makam yang berada di belakang masjidpun sedikit terkendala. Karena ada salah satu teman kami yang kehilangan foots forest alias alas kaki alias sandal. Alhasil, kamipun harus meneruskan langkah bersama salah satu teman kami yang berjalan dengan kaki telanjang. Untuk beberapa saat lamanya kami tenggelam lagi dalam dzikrullah. Lantunan ayat yang bersahut-sahutan diantara banyaknya jama`ah dari berbagai tempat tak melunturkan niat kami untuk tetap memenuhi tujuan ziarah. Justru banyaknya jama`ah semakin menambah motivasi untuk segera menyelesaikan pembacaan tahlil dan do`a. Karena jama`ah di belakang kami juga membutuhkan tempat untuk berada lebih dekat dengan lokasi makam Sunan Kudus.

Setelah menyelesaikan rangkaian do`a dilokasi makam, kamipun beranjak keluar lokasi dan menyempakan diri untuk berpose layaknya orang-orang yang berwisata. Puas tersenyum di depan kamera, rombongan bergerak menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Muria guna bersilahturahmi dengan syech maulana raden Umar Said yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria. Perjalanan lagi-lagi terhambat dengan kebutaan mata saya dalam melihat papan petunjuk lokasi. Kebablasan beberapa kilometer ke arah kota Pati menyebabkan perjalanan harus tersesat di jalan desa yang sempit sepanjang kurang lebih 15 kilometer. Dengan jurus tanya sana sini akhirnya sampai juga kami di lokasi makam Sunan Muria yang berada di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut.

Setelah bersepakat untuk mengisi perut lebih dulu, maka kamipun harus bersabar menunggu nasi pecel plus telur mata sapi yang disajikan dengan speed rendah. Ujian kesabaran memang kadang bisa berada di perut. Yang tidak terbiasa dengan perut kosong pasti akan sedikit tersiksa dengan kondisi lapar. Apalagi kami sudah bersepakat untuk naik tangga sejauh satu setengah kilometer ke arah makam secara manual alias jalan kaki. Sengaja saya sarankan agar berjalan kaki untuk merasakan kesan yang dalam dari ziarah dimakam Sunan yang berada di tingginya Gunung Muria tersebut. Alhasil, semua anggota rombongan bisa lolos dari dua ujian sekaligus. Yang pertama ujian menahan lapar dan yang kedua ujian fisik yang lumayan berat.

Meski sebagian besar anggota rombongan sampai diatas dengan gobyos keringat, namun raut kegembiraan dimasing-masing wajah kami tak bisa lagi disembunyikan. Tapi sayang, kegembiraan kami tak bisa berlangsung lama. Sebab ketika kami memutuskan untuk segera memasuki lokasi makam, yang kami dapatkan adalah antrean panjang dan padat para jama`ah yang sama-sama ingin memasuki lokasi makam. Jadilah ujian kesabaran yang ketiga kalinya kami hadapi. Meski berdiri cukup lama, akhirnya kami bisa juga merangsek masuk keloksi makam. Namun ternyata ujian belum berakhir. Lokasi yang penuh sesak jama`ah membuat kami tak lagi bisa bergerak. Bahkan hanya untuk mengerakkan telapak kaki saja kami sulit. Akhirnya kami memutuskan untuk berdo`a sendiri-sendiri di penuh sesaknya jama`ah.

Dengan bergerak perlahan akhirnya kami bisa membebaskan diri dari sesaknya jama`ah dan menghirup sejuknya udara pegunungan. Seteguk air yang kami dapat dari rekan membuat hidup bisa lebih hidup. Segarnya air minum dari sumber diatas gunung muria membuat tubuh kami terasa lebih bersemangat. Kemudian tibalah waktunya untuk memutuskan turun gunung secara manual pula. Menuruni tangga yang awalnya kami yakini akan terasa ringan ternyata masih juga memberikan beban yang diluar dugaan. Beban berat masing-masing tubuh kami ternyata masih sedikit menyiksa lutut. Rasanya seperti akan terlepas dari sambungannya. Meski agak berat akhirnya sampai juga kami di tempat parkir mobil. Sambil beristirahat, sebagian dari kami menyempatkan diri untuk mandi dan menyaksikan lalu lalangnya para jama`ah yang seakan tak ada hentinya berdatangan dari berbagai pelosok daerah di tanah Jawa ini.

Sesekali salah satu diantara kami melihat jam di pergelangan atau di layar ponsel. Ternyata pukul 11.00 wib. Dan kami masih berada di posisi yang jauh dari tujuan selanjutnya. Kota Tuban. Dan memang benar. Lewat waktu ashar kami baru tiba di lokasi komplek pemakaman Syech Maulana Makdum Ibrahim yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang. Setelah membaca tahlil bersama-sama kamipun segera keluar lokasi makam untuk meneruskan perjalanan ke Desa Drajat. Sebelum memutuskan berangkat masing-masing dari kami menyempatkan diri untuk minum dan mengganjal perut bagian dalam dengan tahu atau ote-ote. Setelah tubuh bisa berdiri tegak kembali kamipun berangkat untuk mencari makanan yang sesungguhnya.

Beberapa kilometer sebelum makam Ibrahim Asmoroqondi yang merupakan ayah dari Sunan Ampel kami menemukan tempat makan yang saat itu sepi pembeli. Depot Wali Songo. Pas dengan tema perjalanan. Maka kamipun berhenti untuk menunggu pesanan makan dan manjing maghrib. Setelah melaksanakan shalat maghrib sekaligus Isya` di satu waktu, kamipun bersama-sama makan sesuai pesanan masing-masing. Puas menyantap makanan dan minuman plus asap jin, perjalanan dilanjutkan menuju makam Sunan Drajat. Setengah jam kemudian kami tiba di lokasi dan segera masuk mendekati makam lalu membaca tahlil yang menurut penilaian kami merupakan pembacaan tahlil yang paling kompak diantara semua bacaan tahlil sebelumnya. Alhamdulillah. Kami telah menyelesaikan enam lokasi dari sekian banyak lokasi makam wali yang berada di pesisir pantai pulau jawa.

Dari perjalanan yang cukup panjang tersebut kami ada sedikit catatan. Bahwa diantara sekian ribu jama`ah yang terus mengalir dari berbagai penjuru daerah jawa, semua membawa kedamaian. Meski berada disatu tempat yang saling berdesakan, tak ada satupun diantara kami yang mengeluh. Kaki yang saling terinjak justru bisa mempertemukan dua hati yang sebenarnya bersaudara. Hampir semua memilih untuk bersabar dalam kondisi yang penuh sesak. Tak ada lirikan sinis, apalagi kata umpatan. Yang ada hanyalah perasaan seiman dalam Islam. Saling lempar senyum dalam sesaknya ruangan dan saling memberikan jalan bagi mereka yang merasa ketinggalan rombongan.

Inilah Islam yang damai. Yang tidak terkontaminasi nafsu duniawi. Inilah orang-orang yang yakin, bahwa kematian adalah sesuatu yang segera akan menghampiri kita. Inilah orang-orang yang sadar, bahwa kekayaan dunia bukanlah segala-galanya. Makam atau kubur adalah tempat tinggal kita selanjutnya. Maka ingatan akan kematian tak seharusnya terpisahkan dari kehidupan. Dengan bersandar pada kekuatan Allah swt, marilah kita isi Iman atau keyakinan kita dengan Ilmu-ilmu agama. Baik ilmu Islam yang berkaitan dengan pelaksasnaan syariat maupun ilmu Iman untuk memantapkan hati dalam bertauhid hanya kepada Allah swt. Amiin.

Sekian

Surabaya, 02 Juli 2011.

Agushar.

About these ads
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 2, 2011 in Uncategorized

 

2 responses to “Ziarah ke Makam Waliyullah

  1. marcurius xinma

    November 6, 2013 at 12:28 am

    ni bs menambh pngetahuan tentang walisongo

     
  2. marcurius xinma

    November 6, 2013 at 12:29 am

    oke

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 107 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: