RSS

Sudah shalatkah kita

02 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾

QS. An Nuur : 41.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ﴿٤١﴾

“ Alam tara `annallaha yusabbihu lahu man fiis samaawaati wal ardhi wath thairu shaaffat, kullun qad `alima shalaatahu wa tasbiihahu, wallahu `alimun bimaa yaf`aluuna”

”Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

Sudah shalatkah kita ?

Jika seseorang di tanya demikian apa kira-kira jawabnya? Ada yang menjawab belum, ada yang menjawab sudah. Kalau seseorang menjawab belum berarti dia harus mulai belajar tenang ilmu-ilmu shalat, dan bersegera untuk mendirikan shalat jika sudah mendapatkan ilmunya shalat.

Apakah shalat itu ? Secara lahiriah shalat bisa memberikan artian kepada kita sebagai suatu rangkaian gerak disertai bacaan tertentu, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Secara bathiniah shalat memberikan arti kepada kita sebagai sarana untuk berinteraksi (pertemuan) dengan Allah swt, sang pencipta dan penguasa alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Mengapa kita harus shalat ?

QS. Thahaa : 14.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي﴿١٤﴾
“Innanii `anallahu laa illaaha illa `anaa faa`budnii wa `aqimish shalata lidzkrii”
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

QS. Al Kautsar 1 – 2.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ﴿١﴾
“Inna a`thainaa kal kautsar “
”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.”
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴿٢﴾
“fashalli lirabbikaa wan har”
”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

QS. Al Ankabuut 45.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴿٤٥﴾
“utlu maa `uuhiya `ilaika minal kitaabi wa aqimish shalata, innash shalata tanhaa `anil fahsyaa`i wal munkara, wa la dzikrullahi akbaru, wallahu ya`lamu maa tashna`uuna”
”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Shalat adalah perintah Allah, ayat di atas hanyalah sebagian kecil saja dari ayat-ayat dalam Al qur`an yang berisi perintah untuk melaksanakan shalat. Anda semua bisa meneliti di ayat-ayat berikut : Al Baqarah 43 ; 110 ; 238 ; Huud 114 ; Ibrahiim 31 ; Bani israa`il 78 ; Thahaa 132 ; Al hajj 77 ; An nuur 56 ; Luqman 17 ; Ruum 17.

Disamping amalan yang di perintahkan shalat merupakan salah satu dari rukun Islam yang wajib dilaksanakan dan banyak sekali mengandung keutamaan. Bahkan Rasulullah sendiri mengatakan kalau shalat itu “mi`raj” nya orang mu`min. Shalat adalah tiang agama, barang siapa mendirikan shalat berarti dia menegakkan agama dan barang siapa meninggalkan shalat berarti dia merobohkan agama. Bahasan tentang keutamaan shalat ini insya Allah akan saya tulis di lain waktu.

Kapan dan dimana harus shalat ?

QS. An Nisaa` 103.
ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴿١٠٣﴾
“,…Innash shalata kaanat alal mu`miniina kitaaban mauquutan”
”,…Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Waktu-waktu shalat sudah ditentukan, diantaranya adalah di kedua tepi siang, yaitu shalat Subuh dan Maghrib, di permulaan malam yaitu shalat isya` sesudah matahari tergelincir yaitu shalat zhuhur, dan shalat wustha yang ditafsirkan sebagai shalat ashar, disamping masih ada shalat yang di perintahkan yaitu shalat malam yang banyak sekali keutamaannya, tetapi hukum “shalat malam” ini di sunnahkan.

Dimana harus shalat, dimana saja kira berada asal sudah tiba waktu shalat kita bisa shalat asal tempatnya bersih, dan tidak termasuk tempat-tempat yang dilarang untuk melaksanakan shalat, yang diantaranya ada tujuh tempat. Diantara tempat-tempat tersebut, yaitu tempat pembuangan kotoran, tempat pemotongan hewan, kuburan, di tengah jalan, kamar mandi, tempat-tempat menderum unta ( di sekitar air), dan diatas atap Baitullah.

Bagaimana kita harus shalat ?

Inilah bagian terpenting dari tulisan ini yang menyangkut kualitas shalat. Banyak dari kita ini merasa “sudah” shalat tapi jika ditanya bagaimana shalatmu ? Jarang yang ada bisa menggambarkan bagaimana rasanya dia melakukan shalat, kebanyakan juga menjawab biasa-biasa saja, shalat ya kayak gitu , berdiri, ruku` sujud, mau bagaimana lagi ?

Shalat yang sebenarnya akan berbeda sekali dengan “pokoknya” shalat. Prinsip pokoknya itu hanyalah di gunakan hanya untuk mengugurkan kewajiban sebagai seorang muslim. Sehingga yang bersangkutan sudah terbebas dari suatu keharusan yang mengikat. Beberapa ciri shalat yang seperti ini adalah, awal waktu mau mengerjakannya malas-malasan, cepat-cepat ingin selesai, bacaan-bacaannya sekedar membaca, tidak tahu apa arti dan makna yang di ucapkannya. Tak beda seperti orang berolah raga senam.

Shalat seperti ini biasanya tidak disertai kehadiran hati secara sungguh-sungguh. Dan ini akan merugikan diri kita sendiri kelak. Maka dari itu, marilah kita berusaha untuk memahami yang sedikit saja yaitu masalah shalat. Pelajari dan pahami tiap-tiap gerakan dan bacaan yang kita ucapkan. Secara logika kita harus tahu dan mengerti apa yang kita ucapkan dengan lisan kita. Apalagi ini nenyangkut shalat. Sesuatu yang sangat penting sekali untuk seseorang yang merasa bahwa shalat adalah bentuk interaksi antara manusia dengan TuhanNya, atau sarana untuk berinteraksi antara makhluk dan penciptanya.

Jika kita tetap tidak mau merubah shalat kita yang menggunakan prinsip pokoknya shalat, niscaya kelak kita berada dalam kerugian yang sangat besar. Seseorang yang berucap tapi tidak mengerti apa yang di ucapkan adalah tidak ada bedanya dengan orang yang mabuk karena dipengaruhi alkohol atau obat-obat lain yang cenderung menimbulkan terganggunya fungsi otak. Dan kita tahu bahwa orang yang mabuk tidak di perbolehkan melakukan shalat sampai dia mendapatkan kembali kesadarannya.

QS. Al Maa`uun : 4 – 5.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ﴿٤﴾
”Fawailul lilmushalliina”
”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴿٥﴾
”Alladziinahum `an shalaatihin saahuuna”
”(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”

Untuk itu marilah kita perbaiki shalat kita dengan sedikitnya memahami seluruh bacaan yang ada dalam shalat, dengan menghadapkan diri dan hati kita ke kiblat di hadapan Allah swt.

Dengan berdiri tegak setelah mensucikan diri dengan air wudlu, sadarilah anda sedang menghadap kepada Allah swt, sang Khalik, sang Penguasa alam semesta, yang di tanganNyalah segala sesuatu bergantung. Allah Azza wa Jalla, yang ahad, tidak mempunyai anak dan tidak pula diperanakkan atau dilahirkan. Dia ada sebelum semuanya ada, dan Dia menciptakan segala sesuatu di alam semesta untuk kepentingan manusia agar bertauhid kepadaNya sampai segala sesuatunya berakhir.

Takbiratul ikram.

Berniatlah untuk shalat, untuk menghadap Allah swt. karena segala sesuatu bergantung pada niatan awalnya, dan ucapkanlah takbiratul ikram sambil mengangkat kedua telapak tangan dan meletakkannya di antara dada dan pusar. Sadarilah anda sedang menghadap kepada Allah Yang Maha Besar, tidak ada sesuatu yang lebih besar dariNya, semua yang ada di alam semesta ini adalah sesuatu yang sangat kecil, termasuk diri kita yang bagaikan setitik debu yang berada di luasnya alam semesta.

Bacalah do`a iftitah lebih dulu karena akan semakin menambah kesempurnaan shalat kita.

Salah satu do’a iftitah adalah :
“Allaahu akbar kabiiraa walhamdu lillaahi katsiiraa wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifam muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil’aalamiin. Laa syariikalahu wa bi dzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.”

Artinya :
“Allah Maha Besar lagi Sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan memberi keselamatan dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku dari golongan orang muslimin.”

Hati-hati, pahami kata demi kata yang kita ucapkan dan hadirkan selalu hati kita untuk ikut serta dalam shalat. Lisan dan hati harus seirama, lisan mengucapkan hati yang menterjemahkan. Bacaan di atas bukanlah sekedar bacaan, tetapi lebih menyerupai sebuah pernyataan/persaksian, tidak ada sesuatu yang lebih besar dari pada Allah dan pujian untukNya.

Tidak ada yang terlintas sesuatu apapun yang masih bersifat keduniaan kecuali yang di hadapannya hanyalah Allah swt. dan pernyataan bahwa kita bukanlah orang-orang yang musyrik, dan sesungguhnya semua yang kita lakukan pada waktu lampau, pada saat ini dan pada saat yang akan datang hanyalah semata-mata karena Allah, tak ada sekutu bagiNya dan kita termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.

Jika kita lalai akan makna semua bacaan tersebut, sadarilah mungkin kita sedang “berdusta” di hadapan Allah swt. karena kita sekedar mengucapkan tanpa tahu maknanya dan tanpa suatu bukti apapun atas semua yang kita nyatakan.

Membaca surah Al Faatihah yang di dahului, bacaan Ta`awudz secara perlahan.

QS. An Nahl 98.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴿٩٨﴾
‘Fa `idzaa qara`tal qur`ana fasta`idz billahi minasy syaitaanir rajiimi”
”Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

Kemudian membaca surah Al faatihah,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾
Ucapkan dengan benar dan jangan terburu-buru, “Bismillahir rahmaanir rahiim” Dengan nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. sadarilah anda akan membaca kalimat-kalimat Allah, dan hanya karena Allah lah anda melakukan ibadah ini.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿٢﴾
“ Alhamdulillahi rabbil’aalamiin “, Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yakinlah bahwa kita telah mendapatkan kenikmatan yang banyak sekali dari Allah, yang kita rasakan sekarang ini dan yang akan kita rasakan di masa yang akan datang, dalam bentuk wujud jasmani yang sempurna dan kesehatan ruhani serta kenikmatan-kenikmatan dunia yang lain yang telah kita terima dan yang akan kita terima.

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿٣﴾
“Ar rahmaanir rahiim”. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah yang telah memberikan kepada semua hambanya baik yang meminta maupun yang tidak meminta berupa segala kebutuhannya. Begitu pemurahnya Allah dan begitu lembut dan sayangnya kepada makhluknya.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴿٤﴾
”Maaliki yaumid diin”. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Yakinlah bahwa Allah lah yang akan menguasai hari pembalasan atas segala amal perbuatan manusia kelak di hari kiamat yang pasti akan terjadi.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴿٥﴾
“`Iyyaka na`budu wa `iyyaka nasta`iinu”. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Pastikan hanya kepada Allah lah kita menyembah dan bertauhid dan hanya kepada Allah lah kita memohon segala sesuatu yang kita hajatkan. Tidak kepada yang lain. Yang justru akan menyebabkan kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾
”Ihdinash shiraathal mustaqiima”. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran, jalan menuju keridhaan Allah swt.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴿٧﴾
”Shiraathal ladziina `an`amta `alaihim ghairul maghdhuu bi `alaihim walaadh dhalliina”. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Yaitu jalan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat, seperti para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Kemudian membaca beberapa ayat Al Qur`an,

: “Rasulullah Shallallaahu‘alaihi Wasallam ketika dzuhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang beliau perdengar-kan ayat (yang dibacanya) kepada para sahabat.

Biasanya, kita membaca surat-surat pendek di juz akhir dari Al Qur`an. Bacalah apa yang bisa anda baca dan hafal. Tetapi jangan mengesampingkan arti dan makna dari ayat yang anda baca. Jika kita mengesampingkannya maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berucap tapi tidak paham apa yang di ucapkannya. Janganlah menganggap arti dan makna sebagai sesuatu yang remeh. Sekali lagi pahami dengan benar sehingga anda akan dapat memperoleh manfaat dari shaalat yang anda lakukan.

Sepatutnyalah kita untuk selalu berusaha menambah perbendaharaan hafalan ayat-ayat di surat yang lain, karena banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari banyaknya ayat yang kita hapal dan pahami arti dan maknanya. Al Qur`an adalah peringatan bagi seluruh alam dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Jika kita tidak menambah pengetahuan kita tentang ayat-ayat yang jumlahnya ribuan tersebut, dikhawatirkan kita justru akan terjebak dalam rutinitas belaka.

Belajarlah dan bacalah kitabullah, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Jika kita mempunyai kemauan pasti Allah akan memberikan jalan kepada kita untuk lebih mudah dalam memahami Al Qur`an.

Contoh surat pendek,

QS. Al Ikhlas 1-4.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴿١﴾
اللَّهُ الصَّمَدُ﴿٢﴾
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ﴿٣﴾
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ﴿٤﴾

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Saat lisan membaca ayat tersebut, sudah seharusnya hati kita memahami dan selalu mengarahkan hati kepada Allah. Hayati maknanya, resapi kandungannya, dan selalu yakin dan sadar bahwa yang sedang kita baca/ucapkan adalah kalam Allah.

Ruku`,

Setelah selesai membaca beberapa ayat dalam Al Qur`an, ruku`lah. Dengan mengangkat kedua belah tangan setinggi pundak atau telinga, Ucapkan takbir kemudian membungkuklah dengan kedua tangan di atas lutut dan luruskanlah punggung sehingga membentuk sudut 90 derajat.

Petikan ungkapan Imam Ja’far Ash Shadiq as., ”Ruku’ adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Barangsiapa memenuhi makna pertama, maka yang kedua menjadi benar. Di dalam ruku’ terdapat adab dan di dalam sujud terdapat kedekatan. Barangsiapa tidak membaguskan adab, ia tidak layak untuk dekat. Maka, ruku’lah dengan ruku’ orang yang tunduk kepada Allah, dengan hati yang merasa hina dan malu dibawah kuasa-Nya, dan merendah kepada-Nya, dengan seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana orang yang takut dan berduka karena luput mendapat faedah orang-orang yang ruku’” (Shalat Ahli Makrifat).

Dengan merendahkan diri dan dengan segala keterbatasan yang kita miliki serta keagungan `Arsy Allah tunduklah, kemudian bacalah,

“Subhaana rabbiyal ‘adhiimii wa bi hamdih” sebanyak tiga kali.
(Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung dan dengan puji-Nya), ruku` adalah sebuah kepasrahan diri kepada Allah, dengan membersihkan hati dari segala nafsu yang besifat duniawi, kita pasrahkan diri kita dan yakinkan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah semata.

Sempurnakan ruku` dengan tidak tergesa-gesa untuk mengangkat badan kembali sampai kita merasakan bahwa kita telah menyelesaiakan ruku` sebagai bukti kepasrahan diri kita dan kita telah mengucapkan pujian kita kepada Allah yang Maha Agung dengan sempurna.

I`tidal, berdiri tegak setelah ruku`.

Setelah melakukan ruku`, bacalah, “Sami’allahu liman hamidah” (Allah sungguh mendengar para pemuji-Nya). Angkatlah kembali punggung dan kepala kita untuk berdiri tegak seperti semula dan jangan tergesa-gesa untuk sujud sebelum membaca, “Rabbanaa lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’du” (Ya Allah Tuhan kami ! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu)

Sempurnakan pujian tersebut, lakukan dengan tuma`ninah kemudian bersiaplah untuk melakukan sujud.

Sujud.

Setelah berdiri I`tidal lakukanlah sujud, sertailah dengan ucapkan takbir, dengan meletakkan dahi dan hidung ke lantai tempat shalat kita setelah kedua belah tangan, kedua lutut dan jemari kaki kita. Dengan posisi pinggul lebih tinggi dari kepala, sampai kira-kira membentuk sudut 270 derajat.

Dalam sebuah hadis diceritakan, Dari Abu Wail bin Hujr, ia menceritakan, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah, apabila bersujud beliau meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya, sedang apabila bangkit dari sujud beliau mengangkat kedua tangan sebelum kedua lututnya” (HR. Khamsah, kecuali Ahmad).

Sujud adalah peristiwa terdekat dengan Allah swt, maka dari itu lakukan dengan sungguh-sungguh dan janganlah tergesa-gesa untuk mengangkat kepala kembali sebelum sempurna sujudnya dan sebelum menyelesaikan bacaan, “Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Luhur dan dengan puji-Nya)”. Sebanyak tiga kali. Dengan sepenuh hati dan kepasrahan total seorang yang menghamba hanya kepadaNya. Ucapkan pujian dengan lisan dan hati, karena di situlah letak kesungguhan kita dalam bersujud dan kepasrahan diri kita kepadaNya.

Yakinkan dalam sujud kita bahwa tidak ada dzat yang kesucian dan keluhuran yang melebihi dzat Allah yang Maha Agung, dengan segala pujian yang menyertainya, yang dilakukan oleh seluruh makhluk yang taat dan patuh beribadah kepadaNya di seluruh alam semesta.

Duduk diantara dua sujud.

Ucapkan takbir untuk kemudian duduk untuk berdo`a. Lakukan dengan tuma`ninah, jangan tergesa untuk sujud kembali sebelum anda benar-benar menghayati arti dan makna dari yang anda mintakan kepada Allah swt.

Ummul Mu`minin ‘A-isyah berkata: “Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan, baliau melarang dari duduknya syaithan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim)

Menurut Syaikh Al-Albani, “duduknya syaithan adalah dua telapak kaki ditegakkan kemudian duduk dilantai antara dua kaki tersebut dengan dua tangan menekan dilantai”.

”Dari Rifa’ah bin Rafi’ – dalam haditsnya – dan berkata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila engkau sujud maka tekankanlah dalam sujudmu lalu kalau bangun duduklah di atas pahamu yang kiri.” (Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan lafadz Abu Dawud).

Posisi duduk ini memberikan kepada kita kesempatan untuk meminta kepada Allah, berdo`alah dengan sungguh-sungguh, lakukan dengan segenap perasaan takut dan harap melalui sebuah permintaan,

“Rabbighfirlii,……….ya Allah ampunkanlah aku,…………..
“Warhamnii,………….belas kasihanilah aku,…………..
“Wajburnii,……………cukupkanlah segala kekuranganku,……………
“Warfa`nii………….angkatlah derajatku,…………
“Warzuqnii,………..berilah rezeki kepadaku,…………
“Wahdinii,………….berilah petunjuk kepadaku,……….
“Wa`aafinii,………..berikanlah kesehatan kepadaku,……….
“Wa`fu`annii,……. dan ma`afkanlah aku.

Tasyahud awal dan akhir.

Posisi tasyahud ini menegaskan dimana posisi seorang hamba di hadapan Tuhannya, tidak ada kekuatan apapun dari kita kecuali hanya bergantung kepadaNya, bahkan seluruh makhluk di jagad raya ini bergantung kepadaNya. Hanya kesadaran diri dari seorang yang menghamba kepadaNya saja yang bisa tergugah hatinya untuk berucap lisan dan hati dengan mengucap,

“At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatulillaah” ( Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi Allah )

Kemudian timbul lagi kesadaran, jika bukan lantaran tersingkapnya ketauhidan dan jalan menuju ridhanya Allah oleh Rasulullah Saiyidiina Muhammad saw. Maka tak seorangpun bisa sampai menuju penghambaan yang sempurna kepada Al Haq, Allah Azza wa Jalla. Kesadaran itulah yang menyebabkan kita menghadirkan pribadi Rasulullah saw, dengan memberi salam,

“Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh” (Salam, rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan kepadamu wahai nabi (Muhammad), ucapkan salam itu dengan sungguh-sungguh dan harapkan dengan keyakinan akan sampai kepadaNya, sehingga Allah akan membalas salam kita dengan balasan yang lebih baik

kemudian berikan salam pula kepada diri kita bersama dengan hamba-hamba Allah yang shaleh dengan ucapan,

“As salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin”. (Salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Ucapkanlah dengan sungguh-sungguh dan berharaplah kepada Allah agar Allah membalas salam kita dengan sepenuh jumlah hambaNya yang shaleh-shaleh.

Kemudian perbaruhi kesaksian kita atas ke-tauhid-an Allah dan atas kerasulan Saiyidiina Muhammad saw, dengan membaca dua kalimah syahadat.

“ Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah” ( Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah).

Kemudian bershalawatlah kepada Nabi,

“Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad” (Ya Allah, Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad).

Dan di Tasyahud akhir kita lanjutkan dengan do`a,

“Wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad” ( Ya Allah, Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad),

kemudian,
“Kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahim” (Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya),

“Wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad” ( Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya),

“Kamaa baarakta ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahiim” (Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya), kemudian,

“Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid” (Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji dan Maha Mulia ).

Salam.

Rasulullah SAW bersabda, “”Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

Posisi salam, merupakan penutup dari seluruh rangkaian perjalanan dalam shalat kita. Lakukan salam dengan menengok ke kanan dengan tujuan memberi salam kepada para malaikat yang menyertai kita dan hamba –hamba yang shaleh, seraya berkata, “Assalam ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh” (salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah atas kalian), kemudian menengok ke kiri dengan memberi salam dengan ucapan, “ Assalam ‘alaikum warahmatullah” (salam sejahtera serta rahmat atas kalian)

Salam memberikan makna “aman” dari segala “hijab” terhadap kesaksian Allah yang sangat di inginkan atau di dambakan oleh seorang yang hanya menghamba kepada Allah.

Dalam Sirr As Sholah, mengutip perkataan Imam Ja’far Ash Shadiq as. dalam Mishbah asy Syari’ah, dikatakan, “ Makna salam di akhir setiap shalat adalah aman. Artinya barangsiapa melaksanakan perintah Allah dan sunnah Nabi-Nya saw. dengan hati yang khusyuk, ia akan memperoleh aman dari bencana dunia dan bebas dari siksa akhirat. As Salam adalah salah satu nama Allah ta’ala yang dititipkan kepada makhluk-Nya agar mereka menggunakan maknanya dalam berbagai muamalah, amanat, hubungan, dan menegaskan persahabatan diantara mereka serta mengesahkan pergaulan mereka. Apabila engkau ingin meletakkan salam pada tempatnya dan menunaikan maknanya, maka takutlah kepada Allah agar Dia menyelamatkan agama, hati, dan akalmu. Jangan mengotorinya dengan gelap maksiat. Hendaklah engkau memberi salam kepada para penjagamu. Jangan membuat mereka bosan dan jemu, dan jangan menjadikan mereka berlepas diri darimu dengan perlakuanmu yang buruk terhadap mereka, lalu terhadap temanmu, lalu musuhmu.

Bagi seseorang yang menghayati shalat secara utuh dan menjadikan shalat sebuah kebutuhan, maka tempat shalat yang sesungguhnya tidak hanya di dalam “masjid”, namun di seluruh hamparan bumi ini. Ketika kita bekerja, berhubungan dengan orang lain, ketika kita melakukan aktivitas keduniaan, dipandang sebagai aktivitas berjalan memenuhi undangan Allah dan senantiasa menegakkan jalan yang lurus. Semua makhluk, kejadian yang ada di muka bumi adalah hamparan bukti – bukti terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Adanya segala makhluk justru menjadi wasilah untuk lebih mengenal Allah.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 2, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: