RSS

Neraka dipenuhi jin dan manusia.

03 Apr

Neraka dipenuhi dengan manusia dan jin.

QS. Huud : 19.
إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ﴿١١٩﴾
”Illa man rahima rabbuka, walidzaalika khalaqahum. Wa tammat kalimatu rabbika la`amla`anna jahannama minal jinnati wannaasi ajma`iina.”

”kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”

“Mas-mas kok sing diomong surga ambek nêroko terus, suwe-suwe pikiranku kok ono roso kuatir nang awakku dewe. Di deleh nduk êndi awak dewe iki êngkok ambek Gusti Allah” Seorang laki-laki setengah umur berkomentar pada temannya yang suka berbicara tentang pentingnya amal shalih.

Kemudian di jawab oleh sang teman tersebut,”Lho awakmu gak ndêlok tulisan nang mimbar khatib iko tah ? Qad aflahal mu`minuun. Opo iku artine ?”
“Gak ngêrti aku” jawab laki-laki berkomentar tadi.

“Tak jelasno yo.. arti tulisan iku, Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Lha salah sijine ciri wong sing iman iku yoiku wong sing menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna “ kata temannya tadi yang kemudian melanjutkan,

“Timbangane awakmu ngomong sing nggak-nggak lebih baik ngomong sing ono manfaate koyok ngene iki”
“Oo ngono tah”, jawab laki-laki itu kemudian.
“Yo iyo lah”, balas sang teman.

Jujur saja, kita memang sering berkata-kata yang tidak ada gunanya. Kita gemar berkata jorok. Kita sering mengatai teman-teman kita dengan kata-kata kotor, kita sering mengolok mereka dengan kata-kata yang tidak sopan. Kata umpatan kasar sering terlontar dari mulut kita. Sepertinya fungsi mulut kita hanya untuk makan dan meledek teman kita serta menyebut sesuatu yang kotor, kasar dan jorok.

Bagi sedikit orang, berkata kotor adalah menu sehari-hari. Sehari saja tidak “misuh-misuh” dengan kata-kata kotor rasanya belum puas menjalani aktifitas pada hari itu. Padahal orang beriman itu akan menjaga lisannya dari perkataan yang tidak berguna. Mereka sadar bahwa mulut atau lisan kita juga akan menjadi saksi atas apa yang pernah kita ucapkan.

Namun saya lebih tertarik pada maksud kalimat “ akan ditempatkan dimana kita oleh Allah kelak”. Disini terllihat ada kekhawatiran tentang diri manusia kebanyakan. Dimana kita kelak akan “hidup” sesudah mati kita. Akankah apa yang telah kita kerjakan selama ini sudah bisa di jadikan bekal untuk menghadap pengadilan akbar di hari akhir? Akankah pahala kebaikan yang kita kumpulkan selama ini cukup untuk menebus kesalahan atau dosa-dosa kita? Cukup pantaskah bekal amal kebaikan yang telah kita kumpulkan selama ini di hargai dengan sebuah sertifikat “Muttaqin”?

Sementara aktifitas ibadah yang kita lakukan belum begitu berdampak pada diri dan hati kita. Kita merasa sudah shalat, bahkan berjamaah di masjid dekat tempat tinggal kita. Pagi-pagi buta kita sudah berangkat ke masjid. Sementara banyak orang lain lagi nyenyak tidur. Tapi shalat kita belum berdampak pada perilaku sehari-hari kita.

Kita merasa telah bersedekah di jalan Allah. Meski kita akui sendiri infaq atau sedekah kita masih terlalu kecil untuk membalas sebuah kenikmatan Allah yang menempel pada diri kita. Sama sekali tidak sebanding.

Kita merasa sudah berpuasa seperti yang telah di perintahkan oleh Allah di Al Qur`an. Meski kita juga sadar bahwa puasa kita hanyalah “sekedar” puasa. Hanya sekedar untuk menggugurkan sebuah kewajiban seseorang yang ber”agama”.

Tak satupun dari kita yang pantas untuk mengatakan bahwa dirinya “pasti” akan masuk surga. Tidak satupun juga dari kita yang bisa menjamin seseorang akan masuk surga tanpa harus melalui pengadilan dan penghisaban atas apa yang telah dilakukannya selama di dunia. Tiap diri akan menghadap pada Allah sendiri-sendiri. Dan akan menanggung segala konsekuensi yang akan terjadi pada dirinya sendiri.

Ayat di atas adalah salah satu dari firman Allah yang menegaskan bahwa Neraka akan dipenuhi dengan jenis jin dan manusia yang durhaka kepada Allah. Di ayat lain Allah juga menegaskan tentang hal ini.

QS. As Sajdah : 13.

وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ﴿١٣﴾
“Wa lau syi`naa la atainaa kulla nafsin hudaahaa wa lakin haqqal qaulu minnii la`amla`anna jahannama minal jinnati wannaasi ajma`iina”

Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.”

Sebuah kepastian dari Allah, bahwa neraka jahannam akan di penuhi oleh makhluk dari jenis jin dan manusia. Kecuali dari mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah berupa “petunjuk”.

Yaitu sebuah petunjuk yang mengarahkan manusia untuk bertauhid hanya kepada Allah semata.

Sebuah penghambaan yang melahirkan keimanan atau keyakinan atas semua yang berkaitan dengan penciptaan dan kehendakNya.

Satu keyakinan yang berimbas pada ketaatan pada apa yang diperintahkan kepadanya. Yang padanya terdapat tolok ukur kualitas pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya.

Suatu perbuatan atau tingkah laku yang menjadikan “keikhlasan” karena Allah menjadi sebuah harga mati. Yang padanya tidak ada suatu harapan selain dari keridhaan Allah atas semua apa yang telah dilakukannya. Tidak ada keinginan surga tidak pula takut akan neraka. Prinsip hidupnya adalah “Mardhotillah”. Hanya mencari keridhaan Allah swt.

Sedang kebanyakan dari manusia bukanlah menghamba secara tulus kepada Allah semata. Pemberian penangguham waktu dan kebebasan oleh Allah kepada iblis telah mempengaruhi kodrat manusia sebagai makhluk yang seharusnya menghamba hanya kepadaNya . Tetapi dalam kenyataan hidupnya manusia banyak yang terjerumus oleh bujukan setan yang akhirnya mengabaikan seluruh perintah dan menerjang seluruh larangan dari Allah dengan menggunakan kehendak yang dilekatkan oleh Allah pada diri mereka sendiri.

Kebanyakan dari manusia telah merasa cukup dalam perilaku ibadahnya. Tetapi dalam kehidupan sehari-harinya banyak sekali yang lupa membawa “cermin” yang telah di sediakan oleh Allah yaitu Al Qur`an dan As Sunnah berupa hadits Rasulullah saw. Yang banyak terjadi justru rasa percaya diri yang berlebihan pada diri manusia itu sendiri.

Seakan-akan dirinya telah berbuat baik pada setiap orang. Tapi dibalik semua itu mereka bukanlah manusia yang taat dalam ibadah shalat. Bahkan terkadang mereka sangat mudah meninggalkan shalat dan amalan-amalan wajib yang diperintahkan oleh Allah. Lebih parah lagi sebenarnya mereka khilaf dalam masalah “Iman”.

Kepercayaan diri yang berlebihan membuat seseorang selalu menimbang tentang sebuah kebaikan yang telah dilakukannya. Angan-angan surga kadang memenuhi benak masing-masing diri manusia. Padahal jika mengingat semua apa yang telah dilakukannya selama ini, kebaikan itu sangat tidak sebanding dengan perilaku negatif yang telah banyak di perbuatnya. Masih jauh dari pantas untuk mendekat pada surga.

Sebagian besar dari kita banyak yang menutupi lemahnya iman dan amalan baik dengan sekedar memberi dengan nilai yang tidak seberapa namun banyak disertai dengan tendensi-tendensi keduniaan. Jumlah manusia yang seperti ini tidak akan pernah bisa dihitung. Karena mereka bersembunyi di balik kebohongan-kebohongan atau topeng-topeng yang membungkus wajah mereka yang sebenarnya.

Jika kita melihat dengan kaca mata “Agama”, perilaku manusia di seluruh dunia ini banyak yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan beragama. Budaya dari sebuah bangsa yang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu harus dievaluasi dengan benar dengan landasan Agama. Jika kita mengabaikan ketentuan agama dan selalu mengedepankan hak asazi manusia secara mutlak pasti kita akan dihadapkan pada sebuah bangunan moral yang terlihat hampir hancur lebur.

Dewasa ini begitu banyak manusia mengagungkan hak asazi dirinya sendiri (manusia). Mereka menuntut untuk dapat menggunakan hak asazi tersebut secara tak terbatas. Dalam artian boleh mengekspresikan diri dengan sebebas-bebasnya walaupun agama melarang untuk itu. Kebanyakan dari mereka lupa akan akibat jangka panjang dari perilaku bebas tak terbatas tersebut. Dan mereka juga melupakan akan hak dari orang lain yang kadang juga tertabrak oleh kebebasan tak terbatas yang di ekspresikan oleh sebagian manusia.

Sebenarnyalah hak asazi yang kita miliki mempunyai batasan tertentu. Kebebasan kita senantiasa di hadapkan pada keterbatasan terhadap hak asazi dari manusia lain. Kebebasan berekspresi yang kebablasan akan mengganggu kepentingan atau hak orang lain. Sedangkan orang lain juga mempunyai hak untuk tidak mendapat gangguan. Sebagai wujud dari hak asazi mereka juga.

Ekspresi yang kebablasan hampir pasti disertai dengan nafsu. Dan celakanya, nafsu yang mengikuti adalah nafsu yang cenderung negatif. Yang mengarah pada perilaku-perilaku destructive materialistik atau non materialistik. Sebagai contoh adalah demonstarsi yang di kendalikan oleh seseorang yang merasa tersisihkan posisinya dalam kedudukan atau jabatan. Demo semacam ini tidak segan-segan untuk melakukan perusakan-perusakan bangunan fisik maupun benda atau barang-barang bergerak seperti mobil motor dll.

Maraknya produksi film porno. Baik yang sengaja dibuat untuk konsumsi umum atau yang beredar tanpa disengaja. Diakui atau tidak akan mempengaruhi otak atau pikiran manusia untuk melihat lebih jauh dan kalau mungkin menikmatinya. Beredarnya film atau foto ini jelas merupakan penghancuran moral manusia.

Lantas bagaimana kita menyikapinya ? Kebebasan ekspresi hak asazi mempunyai andil yang besar dalam masalah ini. Dalih bahwa Allah memberi kebebasan kepada manusia seluas-luasnya untuk menemukan dan menempatkan diri di dunia telah di salah artikan oleh sebagian besar manusia di dunia.

Kesalahan penafsiran yang cenderung di sengaja membuat manusia lebih banyak berpaling pada nikmat dan indahnya dunia. Tidak lagi menghiraukan norma-norma yang bahkan telah ada sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Norma-norma yang jelas menata agar kehidupan berjalan dengan semestinya telah tertutup oleh kemunkaran para pemuja setan di hampir setiap jengkal tanah di seluruh permukaan bumi. Kenyataan hidup sehari-hari telah membuktikan kalau manusia kebanyakan adalah pemuja setan atau paling tidak cenderung berteman dengan setan.

Dalam banyak aspek kehidupan sudah bisa ditebak, bahwa pengaruh setan lebih banyak mendominasi perilaku manusia. Lihat saja di panggung politik dengan semua perilaku dan kualitas moral yang cenderung mengkhianati amanat rakyat dan cenderung untuk mementingkan diri dan keluarganya. Pada aspek ekonomi demikian juga. Nafsu untuk memonopoli dunia usaha kelihatan begitu jelas dengan mematikan usaha masyarakat kecil dan menggantinya dengan toserba yang menggurita.

Pendek kata hampir semua sisi kehidupan manusia tidak luput dari pengaruh bujukan dan rayuan setan. Kita bisa meneliti dari diri kita sendiri, kemudian keluarga kita, kemudiaan komunitas di lingkungan kita, terus sampai ke tingkatan yang paling tinggi dalam struktur kehidupan nasional negara kita. Adakah dari diri kita yang merasa telah mampu untuk berkata bahwa “ dirinya” telah mampu mengalahkan setan dalam semua sisi kehidupannya ?

Jika ada, tentu dia termasuk manusia yang sombong. Dengan menyatakan dirinya telah meraih kemenangan sementara dia belum pernah tahu sebesar apa kekuatan setan yang akan mengganggu kehidupannya. Dan dia tidak menyadari kalau setan bisa masuk dan mempengaruhi manusia dalam setiap gerak anggota tubuhnya. Tidak terkecuali seluruh indera yang ada.

Kita ambil satu contoh yang lebih konkret lagi tentang dominasi setan terhadap manusia. Masalah pornografi yang demikian bebas di satu bagian dari bumi kita. Yang jelas bahwa semua agama yang ada melarang bahkan mengharamkanya. Tapi secara nyata telah demikian berkembang dengan pesatnya. Bahkan telah pula menjamah kehidupan sebuah negara yang mayoritas penduduknya menganggap bahwa yang demikian itu adalah hal yang tabu atau dilarang. Tapi kenyataanya mayoritas dari penduduk negara tersebut telah menerima “hidangan” itu. Baik secara terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi.

Hanya sebagian kecil dari masyarakat yang menentang kondisi tersebut. Itupun masih perlu di pertanyakan apakah mereka bukan termasuk penikmat secara sembunyi-sembunyi ? Yang tahu kebersihan dan kesucian diri kita hanyalah hati kita sendiri dan Allah swt tentunya.

Yang jelas, fenomena keadaan manusia di bumi dari awal sampai dengan saat ini hanyalah suatu bukti atas kebenaran firman Allah di atas yang menginformasikan bahwa Allah akan memenuhi neraka jahannam dengan jenis jin dan manusia. Kebenaran ayat ini juga di dukung oleh ayat yang lain,

QS. Maryam 71 – 72.

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا﴿٧١﴾
“Wa in minkum illaa wariduhaa, kaana `alaa rabbika hatman maqdhiiyan”

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”.

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا﴿٧٢﴾
“Tsumma nunajjiil ladziinat taqau, wanadzaruzh zhalimiina fiihaa jisyiyya”

”Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”.

Tidak satupun dari manusia kecuali akan masuk neraka. Dan Allah akan menyelamatkan dari mereka yang benar-benar bertakwa. Hal ini sudah dijelaskan pula di ayat lain bahwa manusia semua akan di jerumuskan oleh setan untuk ingkar pada Allah dengan jalan memalingkan hatinya dari “Iman” kecuali hamba-hamba Allah yang “mukhlis” diantara semua manusia.

Mengapa ?

Karena kebanyakan manusia salah dalam mempersepsi tentang diberikannya tiga komponen dalam diri mereka sendiri yaitu, telinga, mata dan hati. Seperti yang tersurat pada ayat di bawah ini.

QS. Al A`raaf : 179.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ﴿١٧٩﴾
“Wa laqad dzara`na li jahannama katsiira minal jinni wal insi, lahum quluubuun laa yafqahuuna bihaa wa laqad a`yunun laa yunshiruuna bihaa wa lahum adzaanun laa yasma`uuna bihaa, ulaa`ika kal an`am bal hum adhallu, ulaa`ika humul ghafiluuna”

“Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.

Ayat-ayat diatas harusnya membuat kita takut kepada Allah dengan balasan yang akan kita terima, kecuali kalau memang kita menyediakan diri kita untuk bahan bakar api neraka bersama-sama dengan batu. Seperti yang di jelaskan di satu ayat bahwa bahan bakar api neraka itu adalah manusia dan batu.

Mudah-mudahan sedilit tulisan ini bisa membuat kita berpikir sejenak untuk mengoreksi diri kita. Apakah kita sudah terbebas sepenuhnya dari pengaruh setan dan teman-temannya. Baik yang nampak di mata kita maupun yang tidak nampak. Sehingga kita mampu untuk bercermin dan melihat cacat-cacat kecil kita. Untuk kemudian memberikan olesan-olesan madu yang terbentang luas di dasar dan permukaan Kitabullah Al Qur`an Al Kariim.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 3, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: