RSS

Apa motivasi shalat kita ?

12 Apr

Apa motivasi shalat kita ?

Sebagian besar dari kita meng-identik-kan Islam dengan shalat. Pada bulan tertentu kita meng-identik-kan Islam dengan puasa dan shalat. Jika salah satu dari keduanya yaitu shalat dan puasa lepas dari diri kita, “baju” agama Islam tetap terasa menempel pada tubuh kita. Tetapi hanya terbatas pada identitas diri. Pada situasi seperti ini Islam kita berubah menjadi tak lebih dari pada sebuah “topeng”.

Ya,…sebuah topeng untuk menyembunyikan wajah kita yang sebenarnya cacat. Wajah yang sebenarnya banyak “jerawat” dan “bopeng” kecil-kecil di permukaan kulitnya. Islam tanpa iman adalah sebuah kebohongan. Dan Iman tanpa amalan adalah kesia-siaan. Hidup dengan iman bagaikan bersampan di tengah lautan. Terhempas kesana kemari oleh tarian ombak. Dan kita tidak akan pernah sampai ke pelabuhan dengan selamat tanpa pernah sekalipun menggerakan dayung.

Rukun Islam. Itulah kesatuan yang saling terkait yang tidak akan pernah berjalan sendiri-sendiri. Sebuah kesaksian yang disertai kejujuran dan pengamatan akan menghasilkan keimanan. Keimanan yang sebenarnya akan berbuah ketaatan pada perintah. Ketaatan yang di landasi Iman akan berbuah ketakwaan. Buah ketakwaan adalah ridhanya Allah swt.

Jarang sekali kita meng-identik-kan Islam dengan shalat, zakat atau infaq, dan puasa. Apalagi ditambah dengan “haji”. Tapi bagi sebagian orang, terutama yang mempunyai kemampuan finansial kuat ada yang meng-identik-kan Islam dengan haji dan shalat. Haji menjadi lebih utama kemudian baru shalat. Yang demikian ini shalatnya karena embel-embel “haji”.

Adakalanya kita begitu bersemangat mengerjakan shalat. Sebelum adzan di kumandangkan kita sudah ada di dalam masjid. Hal itu berlangsung beberapa lama. Semangat atau motivasi mengerjakan shalat antara orang yang satu dengan orang yang lain relatif beda. Jika diamati mungkin kita sedikit akan menemukan jawaban dari masing-masing orang tersebut. Kira-kira apa motivasi semangatnya shalat mereka.

Seseorang yang aktif shalat jama`ah di sebuah masjid terlihat begitu meyakinkan kalau ia ahli masjid. Terlihat seperti orang yang khusyu`. Tapi pada suatu saat sama sekali tak terlihat ada di dalam masjid pada saat shalat ditegakkan. Hari berikutnya tidak terlihat lagi. Begitu seterusnya sampai kira-kira satu bulan lamanya. Lantas sesama jama`ah ada yang ingin meyakinkan ada apa dengan salah satu saudaranya tersebut.

Setelah beberapa lama tak terlihat berjama`ah di masjid. Seseorang bertanya kian kemari mengenai salah satu saudaranya tersebut. Mungkin dia lagi sakit atau ada halangan lain. Setelah beberapa hari bertanya, diperoleh jawaban bahwa yang bersangkutan saat ini sudah bekerja. Kelelahan adalah alasan utama untuk tidak datang berjama`ah di masjid lagi.

Kesibukan pekerjaan telah bisa mengalahkan kewajiban kita yang lebih utama. Tapi tidak mengapa. Asal mereka tetap dalam keimanan, mau shalat di rumah, di mushala, di masjid yang mana saja itu adalah urusan pribadi masing-masing. Kita tidak akan pernah memaksa seseorang untuk selalu shalat di masjid bersama-sama kita.

Ada yang lain lagi. Motivasi seseorang datang ke masjid untuk shalat hanya mengharapkan orang lain akan menerima kita. Pada saat akan mempunyai hajat, baik itu “khitanan” ataupun “mantu” atau mungkin “ngunduh mantu” seseorang bisa begitu terlihat aktif untuk shalat berjama`ah di masjid. Bahkan aktif mengikuti majelis dzikir semacam “Yasiinan”. Waktunya kira-kira bisa sampai sekitar 3 (tiga) bulan sebelum perhelatan acara. Tetapi setelah selesai acara “hajatan” tiba-tiba seperti lenyap. Sama sekali tak pernah terlihat lagi shalat berjama`ah di masjid. Bahkan frekwensi hadir di majelis dzikirpun menurun drastis.

Kalau sudah seperti ini yang perlu di tanyakan adalah apa sebenarnya motivasi mereka untuk datang ke masjid lalu shalat ? Apakah masjid hanya dijadikan “tambel butuh” untuk memperbanyak “undangan” ? Agar hajatan mereka nanti akan di datangi banyak tamu ? Atau dengan bahasa yang lebih vulgar supaya lebih banyak “amplop” atau “buwuhan” yang akan diterima ?

Jika itu motivasi mereka, maka semuanya akan kembali pada diri mereka sendiri. Masjid juga akan menjadi saksi atas semua permainan yang mereka lakukan. Dan kita semua hanya bisa mengharapkan agar mereka tetap dalam Iman dan tetap menjalankan shalat, walaupun tidak bersama-sama dengan kita. Karena terputus atau berhentinya shalat disaat kita masih dalam Iman adalah suatu kejadian yang akan sangat menyesalkan seseorang kelak di hari penghisaban.

Hal seperti itu bisa terjadi kalau kita hanya membutuhkan Allah pada saat-saat tertentu saja. Pada saat kita membutuhkan pekerjaan kita meminta kepada Allah dengan dibarengi semangat shalat. Demikian juga kalau kita mengharapkan “hajatan” kita supaya di datangi banyak tamu. Kita jalin hubungan dengan sebanyak-banyaknya orang dengan di barengi shalat berjama`ah dengan banyak orang pula. Namun jika hajat kita sudah kesampaian, kita segera menjauhkan lagi ingatan kita dari Allah.

Berapa banyak orang-orang yang seperti itu ?
Kita tidak akan pernah tahu berapa jumlah mereka. Yang kita utamakan adalah mereka yang mengalami penurunan semangat shalat karena sesuatu hal. Dan hal tersebut tidak ada hubungannya dengan “riya” akan sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia. Apakah itu pekerjaan, ingin istri yang cantik, ingin suami yang tampan sampai pada keinginan agar bisnis “hajatan” yang akan menguntungkan.

Jujur saja mereka yang melakukan “Trik” atau “mengecoh” dengan menggunakan shalat sebagai media sebenarnya hanyalah sebagian orang yang mempunyai Iman yang “tipis” sekali. Juga mempunyai “Ketebalan” muka yang “lumayan”. Disamping kepedulian sosial yang rendah, kebanyakan dari mereka sedikit “rakus” dalam urusan perut. Jika ada kondangan pasti datang. Giliran dia yang mengundang semua serba “ngirit”. Sampai-sampai yang diundang ada yang tidak kebagian “jatah”.

QS. An Nisaa` : 142

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴿١٤٢﴾
“Innal munaafiqiina yukhaadi`uunallaha wa huwa khaadi`uhum wa idzaa qoomuu ilaash shalata qaamuu kusaalaa, yura`uunan naasa walaa yadzkuruunallaha illa qaliilan”

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Begitulah, kalau motivasi shalat kita bukan karena kekuatan Iman dan bukan karena Allah. Shalat hanyalah sarana untuk menggapai sesuatu. Kalau bukan karena Maha Pemurahnya Allah, orang-orang yang mempunyai perilaku seperti ini akan banyak yang “kecele”. Mereka akan banyak mendapatkan kekecewaan karena permintaan atau keinginan yang jarang sekali menjadi kenyataan. Tetapi Allah merealisasi hampir semua angan-angan kita.

Hal yang demikian terjadi karena Allah memberi apa saja yang kita minta. Walaupun setelahnya kita tidak pernah menyapaNya lagi Allah tidak akan pernah menyesal telah memberi sesuatu yang kita minta. Justru yang tidak kita sadari adalah faktor “ujian” dari terkabulnya semua permintaan itu. Faktor “ujian” atau cobaan sering kita abaikan. Karena apa ? Tidak lain adalah kebodohan kita . Kita tidak pernah mau mengerti dan tidak pernah mau untuk memahami. Kenapa Allah begitu mudah memberikan sesuatu yang kita inginkan ? Apa maksudNya ?

Tidak lain karena agar kita merasakan nikmat-nikmat Allah dalam kehidupan kita. Agar kita memahami bahwa semua kenikmatan dunia yang dapat dia rasakan adalah dari Allah swt. Walaupun semua nikmat hidup yang sudah melekat pada diri kita tak terhitung banyaknya, kesadaran kita akan ketauhidan Allah masih jauh dari pikiran dan perasaan kita. Apa yang membuat diri kita begitu “pandir” dalam hal ini ?

Keyakinan yang “tipis” menyebabkan semua itu bisa terjadi. Kita menganggap Allah adalah tempat meminta segala sesuatu yang kita butuhkan, tempat memohon pertolongan disaat-saat kita dalam kesulitan. Tapi pada saat yang lain kita juga meminta kepada selain Allah, bisa pada setan atau jin. Di saat yang lain pula kadang kita menyandarkan kekuatan pada selain Allah, seperti menyimpan “jimat” berupa keris, cincin batu atau apa saja. Pada saat yang lain lagi kita kadang menumpahkan kekesalan kita pada Allah, karena tak kunjung datang sesuatu yang kita inginkan dan tertundanya pertolongan yang sangat kita butuhkan.

Apapun persepsi negatif kita tentang Allah, tak akan pernah merugikan Allah. Sebenarnyalah Allah tidak membutuhkan kita. Bahkan jika kita ingkar dengan tidak pernah menyebut namaNya sekalipun, tidak akan berkurang kekuasaan dan kemuliaan Allah. Sesungguhnya telah tetap keputusan Allah terhadap apa yang akan terjadi pada setiap diri manusia kelak.

QS. Al Baqarah : 9

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ﴿٩﴾
“Yukhaadi`uunallaha walladziina aamanuu wa maa yakhda`uuna illa anfusahum wa maa yasy`uruuna”

”Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”

Iman atau keyakinan bukanlah sesuatu hal yang harus dibuat main-main. Kesungguhan akan menjadi pertaruhan kualitas iman kita. Jika Iman dan Shalat dibuat sebagai permainan spekulasi, tinggal tunggu saja. Ajal sudah menanti di depan mata kita. Keterlambatan kita dalam bertobat akan menghasilkan sebuah penyesalan yang tak berujung. Tidak ada sesuatu yang paling hebat akibatnya kecuali bagi orang-orang yang ingkar pada Allah. Yang mempermainkan Iman. Yang menyepelekan amalan shalih.

QS. Al A`raaf : 51

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ﴿٥١﴾
“Alladziinat takhadzuu diinahum lahwan wala`iban wa gharathumulhayatud dunyaa, falyauma nansaahum kamaa nasuu liqaa`a yaumihim haadzaa wamaa kaanuu biaayaatinaa yajhaduuna”

”(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”

Demikianlah, motivasi dari pada shalat kita akan mempengaruhi balasan untuk diri kita. Segala sesuatu tergantung niatnya. Antara niat dan motivasi atau semangat ada perbedaan. Niat berkaitan dengan seseorang yang akan melakukan sesuatu. Sesuatu itu bisa dilakukan tanpa semangat. Artinya sebagai kebiasaan sehari-hari karena sudah merupakan kewajiban. Tetapi apabila sesuatu itu dilakukan dengan begitu antusias, begitu bernafsu, pasti disitu ada sesuatu yang lain. Sesuatu itu lah yang kita sebut motivasi atau dorongan semangat yang kuat dikarenakan adanya tendensi tertentu dari pelaku.

Jika di kupas lagi, bisa juga di pertanyakan, shalat kita karena apa ? Yang benar adalah karena perintah Allah. Yang tidak benar adalah karena ingin diakui oleh orang lain kalau kita orang yang khusyu` dan ingin menambah kenalan untuk kemudian di undang di acara “hajatan” nya. Dan Apa motivasi shalat kita ? yang benar karena takut siksa di nerakanya Allah, karena ingin kelak dimasukkan di surganya Allah, karena ingin mendapatkan ridhanya Allah. Yang tidak benar adalah ingin menambah “Tamu” dengan “amplop” atau “buwuhan”nya sekalian.

Mereka tidak pernah mempertimbangkan kalau niatan dan motivasi yang salah bisa menyebabkan mental “down” jika sesuatu yang sudah di “target” tidak kesampaian. Bisa menyebabkan seseorang “stress” bahkan “stroke”. Sebab kadang modal untuk “hajatan” lebih banyak di dapatkan dari “pinjaman”. Entah pinjaman dari mana saja yang pasti adalah “pinjaman”. Mereka hendak berspekulasi. Hanya berbeda sedikit dengan berjudi.

Akan berbeda jika semua dilakukan hanya karena Allah semata. Seseorang tidak akan mengambil resiko untuk berspekulasi dengan meminjam “modal” kesana kemari untuk kemudian “menggembungkan” jumlah “undangan” dengan membabi buta. Walau tidak pernah mengenal seseorang tapi tetap “diberikan” undangan. Niatan karena Allah, tidak akan memaksakan diri untuk hal-hal yang tidak di haruskan dalam syariat.

Dengan demikian, semua apa yang telah di keluarkannya dan seberapapun yang telah di dapatkannya tidak akan pernah merubah apapun dari pribadi orang itu. Mudah-mudahan kita semua bisa terbebas dari pengaruh-pengaruh pemikiran seperti yang demikian. Yang sering terjadi di masyarakat sekitar kita..

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 12, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: