RSS

Memelihara Dendam.

07 Mei

Memelihara dendam menyimpan kebencian..

Kebencian berasal dari kata -benci- . Satu kata bermakna tidak suka yang disertai dengan sikap ingin memusuhi, menyudutkan, menyakiti, menghancurkan bahkan menghilangkan atau membunuh. Umur makna dari kata ini selaras dengan hidupnya manusia di bumi. Sejak keturunan pertama nabi Adam beranjak dewasa, kebencian sudah menghiasi hati manusia. Berbeda dengan kata “tidak suka”. Kata ini hanya berakibat “acuh” atau tidak menghiraukan tetapi tidak sampai berakibat fatal bagi orang yang dibenci. Dan lawan kata dari “tidak suka” otomatis adalah “suka” atau “senang”, sedangkan lawan kata “benci” yang lebih mendekati adalah “cinta” yang mempunyai makna sebaliknya dengan kata benci.

Contoh akibat dari rasa benci yang menimbulkan kesengsaraan adalah sejarah permulaan Islam. Masyarakat Quraisy saat itu begitu bencinya dengan ajaran baru yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Sehingga mereka begitu tega menyudutkan dengan memfitnah nabi sebagai orang gila, orang yang mempunyai sakit ayan. Mereka menyakiti nabi dengan memukul, melempari dengan batu dan bahkan meludahi nabi.

Belum puas sampai disitu, orang kafir penduduk Mekah dengan teganya mengusir nabi untuk tidak berada dan berdiam diantara mereka. Hingga nabi Muhammad hidup di celah-celah batu gunung di pinggiran luar kota Mekah. Masih belum juga puas, mereka berusaha mencari dan membunuh nabi Muhammad agar tidak mempengaruhi keyakinan penduduk Mekah yang sudah berjalan ratusan tahun. Mereka melakukan segala cara agar dapat menangkap dan membunuh nabi dan membawa jasadnya ke hadapan pemimpin mereka.

Apa sebenarnya yang membuat penduduk Mekah saat itu begitu bencinya terhadap diri nabi ? Tak lain hanya karena nabi Muhammad keluar dari rumah dengan membawa sebuah ajaran yang lain dari apa yang sudah diyakini oleh seluruh penduduk mekah. Yaitu sebuah ajaran tentang “kebenaran” dalam ber”Tuhan”. Dengan sebuah kalimat “Laa ilaha illalah”, nabi telah memporak porandakan pikiran dan hati seluruh penduduk Mekah. Tapi nabi Muhammad dengan kesabaran yang luar biasa bisa menahan semua perlakuan kaum kafir Quraisy terhadap dirinya. Dan nabi lolos dari kejaran mereka yang ingin membunuhnya.

Berkat siapa ? Berkat Allah.
Disamping masih ada dari sebagian penduduk kota Mekah yang mencintainya dan keberadaan keluarga nabi yang tentu saja akan membela, Nabi Muhammad adalah seorang utusan yang sangat dicintai oleh Allah. Sehingga Allah menyelamatkannya dengan memberikan sebuah kekuatan Iman dan fisik yang tidak diberikan kepada orang lain, kecuali orang-orang yang dicintaiNya, seperti para nabi-nabi terdahulu. Kecintaan dari Allah sajalah yang mempunyai kekuatan di luar kekuatan manusia.

Cinta Allah adalah, menyayangi, mengasihi, melindungi, mengangkatnya pada derajat yang tinggi dan menempatkan pada tempat yang paling indah dan paling dekat yaitu disisiNya. Disisi Allah subhanahu wa ta`ala. Berbeda dengan cinta manusia yang hanya terfokus pada cinta antara laki-laki dan wanita. Yang begitu diagung-agungkan dan selalu dijadikan bahan pembicaraan. Dan yang selalu di-sejatikan.

Dalam perjalanan waktu, hampir semua penduduk Mekah mengakui tentang kebenaran ajaran yang dibawa nabi Muhammad. Mereka masuk ke dalam agama Islam setelah kejadian penaklukan kota Mekah oleh pasukan kaum muslimin. Tapi kebencian penduduk Mekah pada “kebenaran” itu ternyata juga kita warisi dan kita tanam di tempat yang paling tersembunyi di dalam hati masing-masing diri kita.

Benarkah kita menyimpan kebencian ?

Islam tumbuh karena rasa kasih sayang. Kasih sayang antara saudara se-iman yang telah membuat Islam begitu besar. Keinginan besar untuk menghilangkan “kebencian” adalah salah tujuan dari tiap agama atau keyakinan yang telah mempunyai pengikut. Baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah yang besar. Tapi setan yang bersarang di hati masing-masing diri kita membuat usaha menghilangkan rasa kebencian itu menjadi sangat sulit.

Kita tahu kalau kita tidak boleh membenci sesuatupun didunia ini kecuali semua yang telah dilarang oleh Allah. Tetapi secara tidak sadar banyak diantara kita justru sukses memasarkan bibit-bibit kebencian di masyarakat. Budaya ghibah atau “ngrasani” atau menggunjing menjadi kebiasaan sehari-hari kita. Kalau tidak menggunjing dalam sehari saja rasanya hidup hari itu kurang sempurna.

Padahal kita juga tahu kalau “ngrasani” itu bagian dari memasarkan kebencian. Tapi kita tidak mau tahu, yang penting mulut ada kegiatan. Tak perduli apa dampak dari kata-kata yang kita ucapkan. Yang penting “hobby” sudah tersalurkan dan perasaan sudah plong. Karena semua kata-kata yang kasar, kotor lagi tajam sudah tidak lagi menghuni mulut. Minimal untuk satu hari.

Sadar atau tidak, kadang kita merasa selalu berbuat kebaikan. Dan kita selalu mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita perbuat. Tapi kita juga hobby mengoleksi kesalahan atau keburukan orang lain. Kita menyimpan dengan rapi hampir semua “rahasia”atau aib orang lain. Terutama mereka yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal kita. Atau lingkungan kerja kita.

Satu contoh, saya pernah mempunyai teman yang jika bertemu seseorang selalu memuji-muji tentang apa yang telah dilakukan orang tersebut. Kemudian berpura-pura menasihati tentang segala sesuatu yang baik-baik. Lalu mulai menampakkan kebaikan-kebaikan yang pernah diperbuatnya. Dengan dibumbui kata-kata “Maaf ya, bukannya saya pamer atau riya, atau ingin dipuji, tapi,……”. Akhirnya semua apa yang telah diperbuatnya dan dirasa merupakan suatu “kebaikan” diungkapkan semua.

Tidak berhenti sampai disitu, kemudian mulai menyebut sebuah nama, baik dari lingkungan keluarganya sendiri maupun orang lain. Lalu mulai membanding-bandingkan apa yang telah di perbuatnya dengan apa yang telah dilakukan orang tersebut. Makin jauh lagi mulai mengungkap kejelekan atau aib orang yang di bicarakannya. Mengeluarkan semua rekaman kejelekan atau aib dari orang yang sedang dibicarakannya. Yang akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya masih jauh lebih baik dari pada orang tersebut. Demikian selalu di ulang-ulang untuk orang yang sama. Dan selalu terjadi pula untuk orang lain yang dibicarakannya.

Orang-orang seperti ini tidah pernah menyadari kalau dia sedang melakukan pembunuhan karakter seseorang dan memuji diri sendiri serta ingin dipuji oleh orang lain. Dia merasa tidak melakukan sesuatu hal yang merugikan orang lain. Dan hanya sekedar membicarakannya saja. Dia tidak menyadari kalau perbuatannya bisa berdampak luas di masyarakat. Perbuatannya telah menanamkan bibit-bibit kebencian. Baik kepada orang yang sedang dibicarakannya maupun untuk dirinya sendiri.

Dan yang tidak disadari pula bahwa dia merasa semua orang senang pada dirinya, padahal tidak demikian. Mayoritas orang tidak senang dengan orang yang mempunyai sifat seperti itu. Kalaupun mau bertegur sapa hanya karena tidak ingin terlihat rasa “ketidaksenangan” dirinya terhadap orang tersebut. Banyak manusia enggan berhubungan dengan orang-orang yang senang “ngrasani”. Kenapa ?

Kebanyakan orang-orang seperti itu mempunyai sifat, banyak bicara, merasa lebih tahu dalam segala hal, suka menyombongkan diri, mau membantu tapi disertai tendensi tertentu, merasa diri lebih pandai, mendominasi percakapan, ingin di dengar orang tapi dia sendiri enggan mendengarkan orang lain. Enggan untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan, juga enggan untuk memberi maaf kepada orang lain yang telah berbuat salah padanya. Selalu menyebut-nyebut kebaikan yang dilakukannya. Dan yang hampir pasti, orang seperti ini rajin memelihara “kebencian”.

Uraian diatas hanyalah sebuah contoh kecil dari setiap diri manusia yang mewarisi sifat benci. Padahal masih ada warisan “kebencian” yang disimpan oleh sekelompok orang. Misalnya dendam yang disimpan oleh sekelompok orang atau suku tertentu terhadap sekelompok orang atau suku yang lain. Biasanya dipicu oleh rasa sakit hati akibat salah satu anggota kelompok mereka yang dianiaya atau bahkan dibunuh oleh kelompok yang lain.

Ada lagi sebuah kebencian yang dipelihara dengan baik. Karena luka lama yang begitu sulit untuk dilupakan atau dimaafkan begitu saja. Seperti dendam orang-orang yahudi terhadap Nazi Jerman akibat peristiwa “holocaust” yaitu sebuah pembantaian manusia yang dilakukan tentara Jerman cs. atas perintah Adolf Hitler. Dan orang-orang yahudi adalah korban yang jumlahnya mencapai 1 juta jiwa.

Atau dendam orang-orang Islam atas kekejaman yang dilakukan oleh yahudi Israel di jalur gaza wilayah Palestina. Atau dendam orang-orang Islam atas Amerika karena telah membantai banyak kaum muslim di negara-negara Islam seperti Irak dan Afghanistan. Atau dendamnya warga negara barat dan Australia atas pengeboman yang dilakukan oleh sekelompok teroris, baik yang mengatakan dirinya Islam atau dari kelompok yang tidak senang dengan pemerintahan yang sedang berjalan.

Memang tidak bisa begitu saja disamakan antara kebencian pribadi dan kebencian sekelompok orang. Tapi dendam tetaplah dendam. Yang akan selalu menginginkan sebuah pembalasan. Dan dendam kesumat bahkan tidak akan berhenti hanya sampai tujuh turunan. Seperti dendam yang di pelihara oleh Iblis pada manusia karena tersingkir pada saat pemilihan khalifah dimuka bumi.

Sekecil apapun, sebuah dendam tetaplah menyimpan kebencian. Kebencian yang terpelihara sewaktu-waktu bisa menimbulkan upaya balas dendam. Bisa berupa teror dalam skala kecil atau sebuah penghancuran dalam skala besar. Dan jika tiba saatnya pelampiasan, tidak akan ada lagi nilai-nilai sebuah ajaran kebaikan. Yang dominan adalah nafsu untuk membunuh dan menghancurkan semua yang bisa dihancurkan. Hasilnya ?

Sebuah kehancuran infrastruktur yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dan meninggalkan luka yang begitu dalam bagi mereka yang jadi korban. Yang menjamin akan lahirnya sebuah episode kebencian yang baru dari mereka yang semula tak mengenal apa itu “dendam”. Jerit dan tangis yang terdengar seakan mengisyaratkan akan adanya sebuah bentuk pembalasan yang entah bagaimana caranya. Asalkan dendam bisa terbalaskan.

Demikianlah, memang lebih mudah untuk bicara daripada melaksanakannya. Dendam harus mati dan kebencian harus luluh. Luluhnya kebencian adalah menyerahnya setan dan matinya dendam adalah takluknya iblis. Sesuatu yang musykil dan hampir mustahil. Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja dan menerima apa adanya dengan terpaksa. Mulailah dari diri kita sendiri untuk sedikit demi sedikit menahan diri dari luapan nafsu angkara murka. Yang justru akan membawa diri kita ke dalam kubangan benci dan dendam yang ditunggu dengan setia oleh setan. Dan akan membawa kita sebagai pasukan untuk bertempur melawan saudara-saudara kita sendiri yang seharusnya kita lindungi.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 7, 2010 in Renungan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: