RSS

Kebangkitan Sesudah Mati.

23 Mei

Sejak awal, banyak manusia membantah tentang sebuah berita akan dibangkitkannya mereka yang ada di dalam kubur. Orang-orang kafir pada saat itu banyak yang tidak mempercayai kalau kelak mereka semua akan dibangkitkan setelah kematiannya. Bagi mereka kebangkitan sesudah mati adalah sesuatu yang meragukan. Ada beberapa ayat yang menginformasikan tentang keraguan orang kafir pada saat itu. Diantara ayat-ayat tersebut adalah QS. Al Mu`minuun 82 ; QS. Maryam 66 ; QS. Al Israa` 98 ; QS. An Naazi`at 11. QS. Ash shaaffaat 16 dan 53. Demikian juga 2 ayat di bawah ini.

QS. Al Waqi`ah : 47.

وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ﴿٤٧﴾
”Wa kaanuu yaquuluuna a`idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban wa `izhaaman a`innaa lamab`utsuuna”

”Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali?”

QS. Al Israa` : 49.

وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا﴿٤٩﴾
”Wa qaaluu a`idzaa kunnaa `izhaaman wa rufaatan a`innaa lamab`utsuuna khalqan jadiidan”.

”Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”

Bagi orang-orang kafir saat itu, menyusun dan membangkitkan kembali seluruh tubuh yang sudah hancur dan terurai tulang-tulangnya adalah sesuatu yang benar-benar mustahil. Bahkan mereka benar-benar tidak mempercayai ayat-ayat yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Mereka menganggap “kebangkitan” dari kubur adalah sesuatu tipuan belaka, bahkan hanya merupakan sihir.

Bahkan mereka orang-orang kafir itu sangat yakin tidak akan pernah dibangkitkan lagi sesudah matinya. Bagi mereka hidup hanya sekali dan sesudah itu mati. Kemudian tidak akan pernah dibangkitkan lagi. Seperti firman Allah di QS. Al An`am ayat 29 dan dua ayat di bawah ini.

QS. Al Mu`minuun 37.

إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ﴿٣٧﴾
“In hiya illa hayaatunad dunyaa namuutu wa nahyaa wa maa nahnu bi mab`utsiina”

”kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi,”

QS. Ad Dukhaan 35.

إِنْ هِيَ إِلَّا مَوْتَتُنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ﴿٣٥﴾
”In hiya illa mautatunaal uulaa wa maa nahnu bi munsyariina”

“tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan,

Mereka tidak pernah menyadari kalau diri mereka adalah sebuah ciptaan Allah. Bahwa semua yang ada di alam semesta ini juga di ciptakan. Dan kalau saja tiap diri menyadari bahwa sebuah ciptaan ulang adalah jauh lebih mudah dari yang pertama, niscaya pada diri mereka tidak akan pernah untuk mengingkari sebuah “kebangkitan” dari sebuah kematian. Penciptaan manusia adalah sesuatu yang sangat hebat. Seperti di informasikan oleh Allah di QS. Al Mu`minuun ayat 12 sampai 14.

Berawal dari saripati zat yang ada di dalam tanah tanah. Kemudian Allah menjadikan air mani. Air mani yang bercampur itu kemudian di tempatkan di dalam suatu wadah yang kokoh, yaitu rahim. Lalu air mani itu oleh Allah dirubah menjadi segumpal darah. Dan dari segumpal darah itu Allah menjadikannya segumpal daging. Kemudian dari segumpal daging itu Allah menjadikan tulang belulang. Dan tulang belulang itu lalu dibungkus dengan daging. Lalu jadilah sebuah makhluk yang berbentuk lain yaitu, manusia.

Sebuah metode penciptaan yang sangat canggih dan sangat sempurna. Tetapi Allah bukan hanya menciptakan manusia saja. Allah juga telah menciptakan Jin dari panas api. Yang pada diri Jin itu juga berlaku sifat-sifat dari panas. Merambat dan bisa menembus benda-benda padat. Allah juga telah menciptakan Malaikat dari cahaya, yang mempunyai kecepatan ratusan ribu kilometer per detiknya. Apakah itu bukan merupakan sesuatu yang lebih hebat lagi ?.

Dengan demikian, apa susahnya bagi Allah untuk merekonstruksi ulang sesuatu yang sudah “mati” untuk untuk di hidupkan kembali ? Menghidupkan lagi manusia yang sudah mati tidaklah sulit bagi Allah. Dengan satu kali tiupan saja mereka semua yang ada di dalam kubur akan segera bangkit. Tapi ingat ! Apa saja yang dilakukan oleh Allah adalah sesuatu yang bisa di pertanggung jawabkan ke-Ilmu-annya. Tidak seperti tukang sihir. Yang tidak bisa di jelaskan secara ilmiah.

Sebuah penegasan dari Allah tentang kebenaran Kebangkitan manusia dari kubur.

Allah Maha Kuasa untuk berbuat sesuatu. Demikian juga dengan sebuah kebangkitan manusia setelah matinya. Bagi Allah menghidupkan, mematikan dan membangkitkan kembali hanyalah sebuah rangkaian pekerjaan yang sangat mudah. Manusia diciptakan dari sebelumnya tidak ada menjadi ada. Alam semesta diciptakan dari sesuatu yang awalnya padu, padat kemudian pecah meledak dan berpencar dan saling menjauh satu sama lain. Kemudian masing-masing “cluster” membentuk dirinya sendiri atas perintah Allah dan menjadi sesuatu yang kita tempati dan kita lihat seperti saat ini. Begitu mudah bagi Allah, tapi sangat rumit bagi kita.

Hal yang demikian mestinya menjadi sebuah bukti yang cukup untuk meyakini akan kuasanya Allah untuk berbuat apa saja menurut yang di kehendakinya. Tapi banyak manusia justru membantah tentang kebangkitan sebagai ketentuan yang sudah di tetapkan. Tidak mengapa, Allah tidak perlu berbantah dengan mereka yang tidak meyakini hari berbangkit. Allah telah memberikan “kehendak” kepada tiap diri manusia untuk Iman atau untuk ingkar.

Tetapi Allah Maha benar. Bahkan Maha benar dengan segala firmannya. Allah hanya menegaskan dalam firmannya, bahwa Allah kuasa untuk menyusun kembali tulang-tulang yang telah berserakan dan daging yang sudah hancur menyatu dengan tanah. Seharusnya ini tidak mengherankan kita karena Allah sudah melakukannya pada diri nabi Adam dan pada diri kita semua. Siapa yang telah menyusun tulang-tulang yang ada pada tubuh kita ? Siapa pula yang telah membungkus tulang-tulang kita dengan daging dan kulit?.

QS. Al Mu`minuun 16

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ﴿١٦﴾
“Tsumma `innakum yaumal qiyaamati tub`atsuuna”

”Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”.

QS. An Naaz`iat 6.

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ﴿٦﴾
“Yauma tarjufur rajifatu”

”(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam”,

QS. Al Muthaffifin 4

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ﴿٤﴾
“alaa yazhunnu `ula`ika annahum mabutsuuna”

”Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan”,

Beberapa ayat diatas menegaskan tentang kepastian sebuah kebangkitan manusia dari kematiannya. Cukuplah Allah menginformasikan tentang kepastian hari kebangkitan bagi seluruh manusia yang sudah mati dengan firman-firmanNya. Tiap-tiap diri yang meyakini dan tidak meyakini akan membawa konsekwensi sendiri-sendiri. Bagi mereka yang meyakini akan berdampak pada perilakunya sehari-hari dan bagi yang tidak meyakini tidak akan berdampak sama sekali pada perilakunya selama hidup di dunia ini.

Lalu dimanakah kita akan dibangkitkan setelah kematian kita ?

Ada satu ayat yang menginformasikan kepada kita bahwa kita akan dibangkitkan di bumi yang kita tempati ini juga. Di bumi ini kita dihidupkan, dibumi ini pula kita di matikan dan dari bumi ini pula kita akan dibangkitkan. Berarti kita akan tetap berada di bumi ini lagi. Tapi tentu saja kemungkinan dalam suasana yang lain. Setelah kehancuran bumi dan setelah Allah memperbaikinya kembali. Kita bisa membayangkan bagaimana saat kita dibangkitkan kembali dalam suasana yang tidak satupun makhluk berbuat kerusakan di atasnya. Pasti sangat indah sekali. Dan hasil karya Allah pasti jauh lebih indah dari pada hasil karya seluruh manusia yang ada di muka bumi.

QS. Al A`raaf 25.

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ﴿٢٥﴾
”Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan”.

Dalam wujud apa kita akan dibangkitkan sesudah mati kita ?

Sebagian dari kita meyakini bahwa kita akan dibangkitkan dengan tubuh kita saat ini sebagian yang lain mungkin meyakini akan dibangkitkan dalam keadaaan yang berbeda dari saat hidup di dunia. Dalam beberapa ayat Allah cuma menegaskan tentang kebangkitan. Tetapi tidak menyatakan secara langsung kita akan dibangkitkan dalam bentuk fisik yang rinci. Seperti misalnya dengan tulang dan daging yang sama dengan saat kita hidup di dunia.

QS. Al Waqi`ah 61.

عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ﴿٦١﴾
“Alaa an nubaddila amtsalakum wa nunsyi`akum fii maa laa ta`lamuun”.

”untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui”.

Dalam bentuk yang bagaimana kita akan dibangkitkan kembali kelak, tidak ada yang tahu kecuali Allah. Memang Allah kuasa menyusun kembali tulang dan daging kita yang telah hancur berserakan, tapi Allah tidak menginformasikan kepada kita bahwa kita akan dibangkitkan kembali dalam bentuk seperti sekarang ini. Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa dalam bentuk apa kita akan dibangkitkan hanya Allah yang tahu. Terlalu cepat kita menyimpulkan kalau kita akan dibangkitkan dalam bentuk seperti sedia kala. Sedangkan Allah Maha kuasa untuk membangkitkan kembali manusia dalam bentuk yang Allah kehendaki.

QS. An Naml 65.

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ﴿٦٥﴾
”Qul laa ya`lamuu man fiis samaawaati wal ardhil ghaiba `illallahu, wa maa yasy`uruuna aiyaana yub`atsuuna”.

”Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”.

Jelas, tidak seorangpun di seluruh alam ini yang mengetahui sesuatu hal yang masih “Ghaib”. Karena periode akhirat belum dimulai, kebangkitan manusia dari alam kuburpun belum juga terjadi. Jadi tak satupun dari diri kita yang bisa memastikan bahwa kita akan kembali hadir di alam akhirat dengan tubuh berat dan lamban seperti saat ini. Masih banyak bahan lain yang sanggup membungkus jiwa kita kalau Allah menghendaki. Dan kalau kita meyakini sebuah teori terbalik atau berlawanan, kita bisa saja me-reka reka. Bahwa saat ini tubuh kita terdiri dari material yang begitu berat, mungkin kelak di periode akhirat Allah akan membangkitkan kita dalam bentuk tubuh dari bahan yang sangat ringan.

Seperti keberadaan dua bagian yang berlawanan atau berpasangan dari seluruh apa yang telah di ciptakan oleh Allah. Dunia akhirat, siang malam, baik buruk, laki perempuan, gelap terang, pasang surut dan lain sebagainya. Untuk manusia yang terbungkus material dari tanah mungkin akan bangkit dengan jiwa dan tubuh non material. Itupun masih jauh dari kebenaran, karena kita tidak pernah tahu apa kehendak Allah, sebelum Allah memperlihatkan kepada kita sesuatu yang benar-benar nyata untuk pandangan mata dan hati kita.

Seluruh tubuh kita akan menjadi saksi perbuatan kita kelak.

QS. Al Qiyaamah 14

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ﴿١٤﴾
“Balil`insaanu `alaa nafsihi bashiiratun”

”Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,”

Masing-masing bagian tubuh kita akan menjadi saksi perbuatan kita pada hari penghisaban kelak. Sehingga kemungkinan besar mereka akan tampil terpisah dengan jiwa kita, seperti logika seseorang yang bersaksi untuk orang lain. Bahkan secara terpisah lidah, tangan dan kaki kita akan bersaksi atas semua ucapan dan tingkah laku kita. Seperti firman Allah di bawah ini.

QS. An Nuur 24

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿٢٤﴾
“Yauma tasyhadu `alaihim alsinatuhum wa aidiihim wa arjuluhum bimaa kaanuu ya`lamuuna”.

”pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.

QS. Yaasiin 65.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴿٦٥﴾
“Al yauma nahtimu `alaa afwaahihim wa tukallimunaa aidiihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuuna”.

”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.

Bahkan kulit yang menempel di tubuh kita juga akan turut bersaksi atas semua perilaku kita seperti firman Allah di bawah ini,

QS. Fushshilat 20

حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿٢٠﴾
“Hattaa idzaa maa jaa`uuhaa syahida `alaihim sam`uhum wa abshaaruhum wa juluuduhum bimaa kaanuu ya`lamuuna”.

”Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan”.

QS. Fushshilat 21

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴿٢١﴾
”Wa qaaluu lijuluudihim lima syahidtum `alainaa, qaaluu anthaqanallahul ladzii anthaqa kulla syai`in wahuwa khalaqakum awwala marratin wa `ilaihi turja`uuna”.

”Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.

Bagian-bagian dari tubuh kita ini kelak akan menjadi saksi perbuatan kita di dunia. Jadi mereka bisa mempermalukan kita di hadapan Allah dan memberatkan kita dalam hukuman yang akan kita terima. Tiba-tiba saja mereka pandai berbicara dan menunjukkan semua kesalahan-kesalahan kita di hadapan Allah. Suatu hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya selama kita hidup di dunia.

Hal yang masih mengganjal pikiran saya adalah, apakah semua bagian dari tubuh kita yang sudah bersaksi dihadapan Allah akan juga menanggung siksaan yang akan kita terima ? Apakah mereka semua juga akan di ajukan sebagai bagian yang rangkaian perbuatan dosa-dosa kita ? Jika hal tersebut benar adanya, apakah ini merupakan suatu keadilan juga bagi semua bagian tubuh yang telah bersaksi tersebut ?

Memang, seorang saksi bisa menjadi terdakwa. Tapi tetap dalam tempat yang terpisah. Saling berdiri sendiri dan mempertanggung jawabkan secara sendiri-sendiri pula. Pada akhirnya, saya pun tak punya kekuatan lagi untuk menggambarkan tentang bentuk diri dari kebangkitan manusia setelah mati ini. Saya serahkan kepada Allah diri dan jiwa ini untuk kemudian mendapatkan sedikit ampunan atau beratnya siksaan sesuai dengan ketentuan Allah swt.

sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 23, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: