RSS

Allah Membenci NATO.

31 Mei

Abu Thalib adalah seorang paman Rasulullah saw. Seorang paman yang begitu sayang kepada Nabi. Setelah kakeknya meninggal dunia, tidak ada orang lain yang menyayangi beliau seperti pamannya tersebut. Begitu sayangnya kepada Rasulullah semasa kecil, sehingga Abu Thalib tidak rela ada seseorang yang mengganggu diri nabi. Masa kecil Nabi dihabiskannya dengan saudara sepupu, yaitu Aliy bin Abi Thalib.

Pada saat banyak penduduk Mekah memusuhi Nabi karena ajaran yang dibawanya, sang Paman ini tampil menjadi pembela di barisan depan bersama keluarga yang lain. Tapi tahukah anda ? Apakah sang Paman yang begitu sayang dan membela mati-matian keponakannya ini mati dalam keadaan Islam ?. Menurut riwayat ada yang mengatakan pada saat wafatnya Abu Thalib telah bersaksi dan masuk Islam. Tapi menurut riwayat yang lain Abu Thalib sampai dengan meninggalnya tetap dalam keyakinannya yang lama dan belum bersaksi menyatakan diri masuk Islam.

Kita tidak tahu apakah Abu Thalib meyakini ajaran yang dibawa keponakannya yaitu Nabi Muhammad saw. Yang jelas Abu Thalib tidak melarang Nabi untuk mengajarkan dan menyebarkan agama baru di masyarakat Mekah. Abu Thalib tahu kalau keponakannya adalah seorang nabi, bahkan beliau tahu lebih awal dari seorang pendeta Buhairah. Tetapi Abu Thalib adalah seorang pemuka di masyarakat Quraisy. Sehingga pengakuan dan masuknya kedalam agama Islam saat itu akan berpengaruh pada kedudukannya di masyarakat Quraisy Mekah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang pamannya yaitu Al Abbas bin Abdul Muthalib, “Mengapa kamu tidak menolong pamanmu (Abu Thalib) padahal dia telah membentengimu dan memarahi (orang kafir Quraisy) untuk membelamu ?” lalu nabi Saw menjawab,”Dia berada di neraka yang paling dangkal, seandainya tanpa pertolonganku, dia akan berada di neraka yang paling dasar”.

Di riwayat lain Rasulullah saw berkata,”Mudah-mudahan syafaatku kelak pada hari kiamat akan berguna baginya, sehingga dia akan ditempatkan di bagian neraka yang dangkal, yang apinya hanya sebatas mata kakinya yang membuat otaknya mendidih”.

Abu Thalib adalah orang yang tahu dan mengakui kebenaran Islam tapi dia tidak mau masuk dalam agama Islam sampai wafatnya. Dari informasi hadist tersebut diatas Abu Thalib pun akan ditempatkan di neraka, walaupun neraka yang paling dangkal sekalipun. Karena Abu Thalib membiarkan keluarganya masuk Islam tapi dia sendiri tidak mau melakukannya.

Ada lagi seorang Yahudi Mekah yang menyuruh dan memerintahkan keluarganya untuk mengikuti dan mentaati Islam dan Nabi Muhammad karena tahu bahwa ajaran yang dibawanya membawa kebenaran. Tapi dia sendiri tidak mau masuk dan mengikuti agama dan ajaran Islam. Lantas diturunkannya satu ayat untuk mengingatkan orang-orang yang berperilaku seperti ini.

QS. Al Baqarah : 44

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴿٤٤﴾
”Ata`muruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaaba, afala ta`qiluuna”

”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

Ayat tersebut diatas berkaitan dengan seseorang yang membiarkan dan menyuruh orang lain untuk berbuat suatu kebaikan seperti yang dia yakini, tetapi dia sendiri tidak mau melakukannya. Mungkin karena beberapa alasan pribadi. Yang bisa dibaca mungkin dari sisi posisi atau kedudukan seseorang itu di masyarakat pada saat kejadian.

Jika seseorang sudah mempunyai kedudukan kuat di masyarakat dalam agama dan ditokohkan oleh sebagian besar masyarakat, mungkin ada pertimbangan yang lebih matang untuk memutuskan akan menerima atau menolak sebuah tawaran agama atau ajaran yang baru. Sementara sebagian besar masyarakat yang selama ini memberi kepercayaan dan dukungan kepadanya belum tentu bisa menerima ajaran baru tersebut.

Konsekwensi yang harus diterima memang sangat besar. Ambil saja contoh Abdullah bin Salam, seorang pemimpin agama Yahudi di Madinah. Dia sudah mempunyai kedudukan yang kuat di masyarakatnya dan dari keturunan yang sangat dihormati. Pengetahuannya tentang Taurat yang membuat keyakinannya tentang datangnya seorang Nabi baru, menyebabkan dia merasa harus menemui saat nabi Muhammad menuju kota Madinah.

Setelah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Abdullah bin Salam di jawab oleh Nabi, saat itu langsung Abdullah bin Salam bersaksi dan masuk ke dalam agama Islam. Tentu dengan konsekwensi yang mau tidak mau harus dia terima. Dari orang yang sangat di hormati menjadi orang yang sangat di musuhi oleh orang-orang yang semula begitu menghormatinya. Dan ini adalah buah dari sebuah pilihan yang sangat berani. Demi suatu kebenaran yang tidak bisa dibantahnya sendiri, Abdullah bin Salam tidak menghiraukan akibat yang akan di terima apabila dia mengalihkan keyakinannya pada sebuah agama baru yang memang nyata membawa kebenaran itu.

Berbeda dengan diri Abdullah bin Salam yang memilih untuk langsung menerima dan masuk ke dalam agama Islam, Abu Thalib memilih untuk tetap dalam keyakinannya yang lama sampai dengan akhir hayatnya. Persamaannya adalah keduanya mempunyai kedudukan, pengaruh dan sangat di hormati di lingkungannya. Hampir semua orang segan kepada Abu Thalib. Karena garis keturunan orang-orang terhormat di kalangan penduduk Mekah.

Orang akan berpikir dua kali untuk mengganggu Nabi kalau tidak mau berhadapan dengan sang Paman. Dan Nabi sampai merasa begitu kehilangan dengan wafatnya sang paman ini. Juga sebuah penyesalan karena sampai dengan akhir hayatnya sang paman masih tetap kukuh dengan keyakinannya yang lama.

Ada sebuah kemungkinan yang sangat mungkin terjadi jika Abu Thalib berpindah keyakinan ke dalam agama Islam saat itu. Dimana kedudukan Nabi dan orang muslim yang belum begitu kuat dan masih banyak sekali masyarakat Mekah yang memusuhi mereka. Juga keyakinan dari kaum Quraisy dengan kebiasaan jahiliyah yang masih sulit untuk diubah, yang semua itu bisa menjadi batu sandungan yang sangat kuat dalam langkah penyebaran Islam.

Dengan bertahannya Abu Thalib dalam keyakinannya, menyebabkan Nabi dan para sahabat secara perlahan masih dapat menyampaikan ajaran tentang kebenaran Islam kepada orang-orang yang berkunjung ke Mekah. Sehingga sebagian kecil masyarakat Yatsrib ada yang sudah begitu yakin tentang kebenaran agama baru ini. Dan sosok dari seorang Paman Nabi yaitu Abu Thalib inilah yang sebenarnya mempunyai peran yang tidak kecil dengan berjalannya dakwah Nabi tersebut.

Kita tidak tahu apakah ini merupakan buah dari jeniusnya pemikiran atau memang kuatnya keyakinan Abu Thalib terhadap keyakinan lamanya. Sebab bukan tidak mungkin hal ini adalah karena kesediaan berkorban yang demikian tinggi dari Abu Thalib agar dakwah Nabi Muhammad tetap bisa berjalan dengan perlindungannya. Juga bukan tidak mungkin dengan masuknya Abu Thalib ke dalam Islam pada saat itu akan menyebabkan perang terbuka antara kabilah-kabilah yang memusuhi Nabi dengan kabilah-kabilah yang masih kerabat Nabi dan masih berusaha untuk melindungi beliau.

Namun, bagaimanapun juga Abu Thalib sudah berkehendak. Dia tidak menghalangi keluarganya , bahkan anaknya sendiri, Aliy untuk mengikuti ajaran agama baru yang di bawa oleh keponakannya sendiri, Nabi Muhammad saw. Demikian juga orang lain. Mengakui dan menyuruh orang lain untuk berbuat baik tapi dia sendiri tidak mau melakukannya adalah sesuatu yang patut “ditegur”. Menyuruh melakukan sesuatu tapi tidak pernah melakukannya sendiri bisa dimasukkan dalam kategori NATO atau No Action Talk Only.

Ada satu contoh yang lebih mendekati lagi tentang kebencian Allah terhadap orang-orang NATO. Yaitu orang-orang yang suka berbicara sesuatu, tapi dia sama sekali tidak pernah melakukannya. Dalam suatu peristiwa, beberapa orang telah bercerita mengenai kehebatan dirinya di medan perang. Mereka bercerita kalau mereka telah melakukan pemukulan, penusukan bahkan pembunuhan terhadap lawan dalam perang uhud. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang telah melarikan diri dari medan perang. Mereka menghindari perang karena takut. Tapi mereka bercerita kepada orang-orang bak seorang pahlawan.

QS. Ash Shaff : 2 dan 3.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ﴿٢﴾
“Yaa ayyuhal ladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf`aluuna”

”Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴿٣﴾
“Kabura maqtan `indallahi an taquuluu maa laa taf`aluuna”.

”Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan peristiwa diatas. Dimana seseorang banyak berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Seolah-olah telah mengalaminya sendiri mereka bercerita tentang keadaan perang di bukit Uhud. Mungkin mereka bertujuan untuk memperoleh simpati dari mereka yang tidak berangkat berperang. Padahal pada perang Uhud ini kaum muslimin menderita kekalahan.

Terlepas dari peristiwa tersebut diatas, memang tidak sedikit orang yang mempunyai sifat-sifat seperti itu. Hanya suka berbicara tanpa pernah bisa membuktikan apa-apa yang telah dibicarakan. Suka memerintahkan berbuat sesuatu, tapi dia sendiri tak pernah bisa dan mampu untuk melakukannya. Di lingkungan mana saja orang-orang ini ada dan seakan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. Semakin hari semakin banyak saja kita temui orang-orang seperti ini.

Saya tidak tahu, apakah ini sebuah penyakit atau memang sudah menjadi semacam “hobby” atau kegemaran seseorang. Yang pasti memang ada orang yang hanya pandai bicara tetapi tidak tahu bagaimana harus merealisasikannya. Banyak mengeluarkan ide tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana cara pelaksanaanya. Banyak memerintah tapi dia sendiri tidak pernah sekalipun terlibat dalam pekerjaan yang diperintahkannya. Di lingkungan tempat kita tinggal hampir pasti ada beberapa orang yang mempunyai sifat seperti itu.

Dalam dunia politik banyak sekali orang-orang yang hanya pandai untuk mengkritisi sebuah kebijakan dengan pelaksanaanya. Apapun yang dilakukan oleh lawan politiknya yang nota-bene merupakan Pemerintah selalu tidak pernah ada nilai positif di matanya. Statemen negatif dengan campuran bumbu-bumbu penyedap rasa banyak dilontarkan untuk mempengaruhi opini masyarakat agar termakan oleh isu-isu yang disebarkannya.

Padahal jika dia sendiri yang berada di lingkaran kekuasaan belum tentu akan bisa lebih baik dari yang ada saat itu. Bahkan mungkin bisa jauh lebih buruk keadaannya. Karena pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan sudah bercampur dengan kebohongan-kebohongan. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukan dijadikan dasar untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, padahal dia sendiri tidak yakin kalau apa yang di ungkapkan akan bisa menyelesaikan masalah.

Juga untuk orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya hanya “berbicara”. Mereka yang mengaku konsultan dalam bidang apa saja mempunyai kemungkinan untuk masuk dalam golongan NATO alias bisa bicara tak bisa kerja. Dalam bahasa jawa “Iso ngomong gak iso nglakoni”. Banyak ide, banyak mengenal metode, tapi semua belum pernah dilakukannya sendiri.

Demikian juga mereka yang menyuruh untuk selalu berbuat baik, api dia sendiri sering melakukan perbuatan yang tidak baik. Menyuruh orang untuk bersedekah tapi dia sendiri tidak pernah mau untuk mengeluarkan hartanya untuk sedekah. Mereka termasuk orang-orang yang sangat dibenci oleh Allah. Seperti firman Allah di atas, amat besar kebencian Allah terhadap orang-orang yang hanya bisa berbicara tanpa pernah mau melakukan apa yang selalu di bicarakannya.

Orang-orang yang seperti ini memang patut untuk dimasukkan dalam kelompok kata “pembohong” besar. Dan seorang pembohong lebih dekat dengan “kemunafikan”. Suatu sifat manusia yang disarankan oleh Islam agar dijauhi. Suatu sifat yang oleh Islam telah di label “jahannam”. Karena kerugian yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari manfaat yang bisa diperoleh dari orang-orang “hipokrit” tersebut. Jangan pernah untuk dekat dengan orang-orang yang mempunyai sifat-sifat seperti itu.

Negara kita memang bukan anggota NATO, tapi kita yang ada di negara ini mungkin banyak yang masuk dalam kelompok NATO. Yaitu manusia-manusia yang hanya bisa berbicara tapi tidak pernah bisa melakukan. Mereka banyak tergabung dalam kelompok “komentator”. Hanya berkomentar tapi tidak pernah membuktikan komentarnya. Lihat saja siaran langsung “world Cup”. Yang dikomentari permainan kelas dunia, tapi kita tidak pernah mencicipinya.

Di panggung politik, seseorang bisa banyak berbicara mengumbar janji, tapi satu demi satu janji-janji tersebur mereka ingkari. Demikian juga mereka yang menyuruh anak-anaknya melaksanakan shalat tapi dia sendiri tak pernah melakukannya. Menyuruh anak-anaknya “ngaji”, tapi dia sendiri membiarkan diri dalam kebodohan agama. Menyuruh orang shalat di Masjid, mengikuti majelis jama`ah pembacaan Yaasiin & Tahlil, tapi dia sendiri sangat jarang menghadirinya. Orang-orang seperti inilah anggota-anggota NATO atau NO ACTION TALK ONLY alias hanya pandai bicara tapi tak pernah ada relalisasinya

Memang lebih mudah untuk berbicara dari pada mengerjakannya. Tapi kebiasaan-kebiasaan NATO bukan tidak mungkin kita hindari. Dengan mempelajari ilmu agama yang sudah kita anut selama bertahun-tahun ini lambat laun pasti semua kebiasaan-kebiasaan yang buruk tersebut bisa luntur atau bahkan hilang sama sekali. Tergantung diri kita mau “kaffah” atau tidak dalam beragama Islam.

QS. Al Baqarah : 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴿٢٠٨﴾
“Yaa aiyuhal ladziina aamanuud khuluu fiis silmi kaffatan, wa laa tattabi`uu khuthuwaatisy syaithaani, innahu lakum `aduwwum mubin.”

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Banyak orang beriman kepada Allah, tapi belum bersedia menerima Islam sebagai keyakinan mereka. Ayat itu merupakan seruan untuk masuk secara berbondong-bondong mereka yang mengaku telah beriman kepada Allah. Sekaligus untuk mengingatkan kepada mereka yang beriman dan masuk Islam untuk tidak tanggung-tanggung atau setengah-setengah dalam menerima Islam. Hendaklah mereka beriman dan menjalankan semua apa yang telah di perintahkan dalam kitab Al Qur`an. Jangan hanya berupa kesaksian saja. Karena sebuah kesaksian hanyalah sebuah pengakuan kalau kita masuk ke dalam agama Islam.

Sedangkan Islam adalah sebuah agama dengan dasar Iman dan pemahaman Ilmu. Tentunya pemahaman ilmu Iman dan ilmu Islam itu sendiri. Nah di dalam ilmu Iman itulah kita akan bisa mengubah perilaku-perilaku kita yang tidak sesuai dengan tuntunan-tuntunan yang ada dalam kitab dan sunnah Rasulullah saw. Demikian juga dengan sifat NATO, sifat pembohong, banyak bicara tanpa bukti, menjelekkan orang lain dan memandang baik diri sendiri serta menyebar fitnah, semua sifat-sifat tersebut adalah rekomendasi dari setan.

Dengan mempelajari ilmu Iman, semua sifat tersebut dapat di atasi bahkan bisa hilang sama sekali. Juga dengan memahami Islam dengan semua ilmu yang ada di dalamnya, Insya Allah kita akan bisa menemukan kebenaran, kedamaian dan keindahan dalam kehidupan beragama. Yang akan bisa mengantarkan kita pada akhir kehidupan dalam damai dan indahnya sebuah kematian.

Sekian.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 31, 2010 in Renungan

 

5 responses to “Allah Membenci NATO.

  1. tabsa

    Agustus 23, 2010 at 3:42 pm

    ABU THALIB KORBAN KESALAHAN PERSEPSI dan KONSPIRASI KEKUASAAN

    (dikutip dari Mushadiqmarhaban)

    Setelah membaca buku “Abu Thalib, Mukmin Quraisy”, pikiran saya diberondong oleh sederetan pertanyaan berikut: Mengapa orang sampai bisa mempercayai Abu Thalib as sebagai kafir? Bagaimana orang bisa mengabaikan bukti-bukti otentik mengenai keimanan Abu Thalib, dan memvonis beliau sebagai kafir? Mengapa orang tidak jujur, tidak adil dan curang dalam menilai orang lain? Apa faktor-faktor yang mendorong lahirnya ketidakjujuran, ketidakadilan dan kecurangan dalam penilaian? Mengapa terjadi manipulasi dalam sejarah? Mengapa seorang pejuang dan pahlawan bisa dicoreng hitam oleh para penulis sejarah, sedangkan penjahat dan penipu bisa dipuji-puji dan disanjung? Dan akhirnya, kalau kita langsung bertanya kepada Abu Thalib as, “Bagaimana engkau ingin ditampilkan dalam sejarah Islam?” Maka apakah kira-kira jawaban yang akan beliau kemukakan?

    Sebagian besar pertanyaan di atas sejatinya lebih berkaitan dengan soal kejiwaan daripada soal kesejarahan. Hampir seluruh pertanyaan di atas bermuara pada satu pokok soal, yakni: apa faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi persepsi dan penilaian (judgment) manusia? Apakah manusia bisa mempersepsi dan menilai objek, baik objek itu berupa benda ataukah berupa manusia, secara objektif? Apa sifat hubungan antara subjek dan objek? Bagaimana satu objek bisa dipersepsi dan dinilai secara berbeda-beda oleh beberapa subjek? Apakah ada prinsip umum yang bisa menjelaskan soal persepsi dan penilaian manusia terhadap objek? Dan terakhir, apakah manusia bisa mempersepsi dan menilai objek tanpa dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang bergejolak di dalam jiwanya?

    Beberapa pertanyaan dalam paragraf kedua ini akan membawa kita pada persoalan yang lebih jauh lagi, yaitu persoalan epistemologi. Epistemologi adalah satu cabang dalam filsafat yang berbicara mengenai pelbagai jenis, dasar, sumber dan nilai pengetahuan, serta sifat hubungan antara jiwa yang mengetahui (baca: subjek) dan objek yang diketahui. Epistemologi juga membahas apakah pengaruh subjek terhadap objek pengetahuannya, dan sebaliknya bagaimana jenis-jenis objek mempengaruhi subjek yang mengetahui dan mengubahnya?

    Tentu saja saya tidak akan—lebih tepatnya: tidak mungkin—membahas atau menjawab seluruh pertanyaan di atas dalam pengantar pendek ini. Yang ingin saya kemukakan di sini adalah prinsip-prinsip umum yang telah disepakati oleh para ahli mengenai penilaian manusia terhadap semua objek di dalam maupun di luar dirinya. Menurut para filosof, manusia mula-mula mengamati objek di luar dirinya secara sederhana (simple perception), tanpa melibatkan suatu penilaian (judgment) atau penegasan (assent) mengenai objek tersebut. Setelah menggagas objek yang diamatinya, baru ia akan menilai dan menetapkan putusan dan kesimpulan mengenainya. Pada umumnya, di tahap kedua ini timbul kerumitan dan kekeliruan, mengingat keputusan ini biasanya dipengaruhi oleh suatu jaringan daya dalam dirinya.

    Jaringan daya yang mempengaruhi penilaian manusia terdiri atas daya akal, daya khayal, daya syahwat dan daya amarah. Tiap-tiap daya ini bekerja dengan input internal dari fitrah, hati, emosi, ingatan, naluri, susunan hormon, jenis makanan dan lain sebagainya; dan input eksternal seperti keluarga, pendidikan, teman, kelompok, masyarakat, budaya dan lain sebagainya. Pergumulan ini dalam istilah sebuah hadis Baginda Nabi disebut dengan jihâd an-nafs (pertarungan batin). Dan pertarungan ini sebetulnya bekerja untuk mempengaruhi kehendak (iradah) dan pilihan (ikhtiyâr) akhir manusia sebagai pemegang wewenang tertinggi.

    Dalam bahasa Al-Qur’an, kehendak atau kebebasan memilih ini diungkapkan dalam beberapa istilah. Di antaranya ialah dengan istilah اراد (arâda) yang berarti mencari sesuatu dengan tenang; سعى (sa’a) yang secara harfiah berarti berjalan dengan cepat dan secara istilah bermakna usaha sungguh-sungguh untuk memperoleh sesuatu; كسب (kasaba) yang bermakna hasil dari upaya; dan lain sebagainya.[1]

    Dalam surah Al-Isra`, Al-Qur’an mendahulukan arâda dari sa’a untuk menunjukkan urutan kemunculannya dalam jiwa manusia; irâdah lebih lembut dan lebih dahulu ketimbang sa’y. Allah berfirman: Dan barangsiapa yang menghendaki (arâda) kehidupan akhirat dan berusaha (sa’a) menujunya dengan betul-betul dan dia dalam keadaan beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan disyukuri (dibalas dengan baik). (QS 17: 19)

    Dalam ayat lain, Allah berfirman: Dan bahwasanya tiada (hasil) bagi manusia kecuali apa yang telah dia usahakan. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). (QS 53: 39-40). Dalam surah Al-An`am ayat 164, Allah berfirman: Katakanlah: “Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan segala sesuatu. Dan setiap orang akan (merasakan) kejelekan dari apa yang diupayakannya (kasaba); dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Tuhan dan Dia akan memberitakan semua hal yang kalian perselisihkan. (QS 6: 164).

    Maksud kehendak atau upaya dalam ayat-ayat di atas gampangnya adalah kemampuan untuk bertindak sesuai dengan kehendak dan kebebasan memilih. Secara paradoksal, para filosof sering menyatakan bahwa “Tuhan telah memaksa manusia untuk berkehendak dan bebas memilih.” Mungkin saja ada orang atau kekuatan yang dapat memaksa manusia untuk melakukan sesuatu di masa tertentu. Tetapi, tanpa kehendak dan memilih untuk tunduk, pemaksaan itu tidak akan berlangsung lama. Orang yang dipaksa pasti akan mempunyai kesempatan untuk mematahkan kekuatan yang memaksanya. Dengan demikian, semua tindakan dan penilaian manusia pastilah bersumber dari kehendak dan kebebasan memilih.

    Oleh karena itu, dalam segala kerumitan pertarungan batin itu, kita menemukan suatu “konsistensi” perilaku dan penilaian manusia. Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu mengetahui dirinya * meskipun ia mengemukakan dalih-dalih. (QS 75: 14-15). Maksudnya, ketika manusia memutuskan sesuatu, ia sepenuhnya menyadari kebaikan dan keburukan akhir dari keputusannya. Akal pasti sudah memberinya pertimbangan baik dan buruk, fitrah juga pasti telah mendorongnya kepada kebenaran dan hati telah menyuruhnya untuk jujur, tetapi kemudian daya syahwat bergandengan dengan daya khayal untuk menyimpangkan pertimbangan-lurus akal, dorongan-tulus fitrah dan kejujuran hati nurani sebagai dalih-dalih pembenaran kehendaknya.

    Dalam banyak ayat Al-Qur’an kita menemukan pertanyaan-pertanyaan retoris berkenaan dengan manusia-manusia yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau menerima dan berperilaku sesuai dengannya. Di akhir ayat-ayat itu biasanya kita menyaksikan bahwa Al-Qur’an menggelari mereka sebagai orang-orang yang كافر (kâfir). Secara bahasa, kâfir diturunkan dari akar-kata كفر (kafar) yang berarti menutupi atau menyelubungi, sehingga kâfir dalam ungkapan orang Arab juga berarti malam. Jadi, semua orang yang menutupi cahaya kebenaran bisa disebut sebagai kâfir. [2]

    Orang kâfir di dalam ungkapan Al-Qur’an lazim diidentifikasi sebagai orang-orang bodoh (جاهل), lantaran keduanya sama-sama muncul dari sikap menutup diri. Misalnya, dalam surah Al-A`raf ayat 138, Al-Qur’an menyebutkan Bani Israil sebagai kaum yang bodoh (qaumun tajhalûn). Dalam surah Huud ayat 29, Nabi Nuh menyebut kaumnya yang ingkar juga sebagai kaum yang bodoh (qauman tajhalûn). Nabi Luth dalam surah An-Naml ayat 55 menyebut kaumnya yang kafir sebagai bodoh. Dalam surah Al-An`am ayat 111, Allah menyebut orang-orang yang kafir terhadap Nabi Muhammad saw sebagai orang-orang bodoh dan zaman mereka hidup disebut dengan Zaman Jahiliyah (QS 3: 154 dan 5: 50) dan sebagainya.

    Mengenai orang bodoh, Amirul Mukminin Ali a.s. memiliki perkataan yang menarik. Beliau menuturkan:

    اثبات الحجّة على الجاهل سهل، ولكن اقرا ره بها صعب

    Membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah, tetapi membuatnya menerima kebenaran itu susah.

    Konon pernah dua orang Baduwi, Amr dan Zaid, berselisih tentang sesosok benda yang mereka lihat di kejauhan. Amr memastikan bahwa sosok itu adalah kambing, sedang Zaid memastikan bahwa sosok itu adalah burung. Merasa yakin dengan pendapatnya masing-masing, kedua orang ini akhirnya bersepakat untuk mendekati benda itu. Begitu sudah cukup dekat, Amr berteriak bahwa sosok itu pasti adalah burung elang. Zaid tetap bergeming, menegaskan bahwa itu adalah kambing pandang pasir. Amr lantas mengambil batu dan melempar ke arah binatang itu, dan ternyata burung itu terbang. Melihat burung yang terbang itu, Amr menyatakan bahwa itu adalah sejenis kambing yang bisa terbang (عنز ولو طرد).

    Anekdot ini sebenarnya ingin mengilustrasikan kehendak kukuh dalam diri orang yang bodoh, pendirian tegas dalam diri orang yang sesat, dan tipuan licik dari seorang yang bingung. Inilah puncak kebodohan yang melahirkan kebencian (atau kecintaan) tanpa dasar, kejumudan berpikir, penipuan sejarah dan pelbagai malapetaka lain yang menimpa umat Islam. Bilamana penilaian dan pendapat kita didasarkan pada sikap-sikap demikian, maka bisa dipastikan kita akan bergerak menjauh dari kebenaran dan kebajikan.

    Ironisnya, para penulis, pengajar, pelajar dan pembaca sejarah Islam kerap berpegang pada cara-cara penilaian seperti itu. Maka, kita melihat bagaimana para pejuang dan pembela Islam sejati dikafirkan dan dicoreng hitam secara semena-mena dan demi memuaskan sekelompok orang bejat. Abu Thalib r.a. adalah salah satu korban dari cara penilaian yang demikian. Puluhan bahkan ratusan bukti otentik mengenai keislaman beliau diabaikan, sementara prasangka-prasangka seputarnya terus disebar-sebarkan.

    Banyak penulis dan lebih banyak lagi pembaca sejarah Islam sekonyong-konyong memvonis paman dan pembela Baginda Nabi ini sebagai kafir, dengan tanpa sedikit pun rasa malu atau rasa bersalah terhadap Baginda Nabi. Sebagian penulis sejarah sampai ada yang berani merekayasa dalil-dalil berkenaan dengan kekafiran Abu Thalib r.a. seperti sebab turunnya ayat 56 surah Al-Qashash (28) dan sejumlah hadis palsu. Dalil-dalil palsu ini telah dibantah habis oleh penulis buku ini, Abdullah al-Khanizi, secara menyeluruh dan elaboratif.

    Lebih konyol lagi, tuduhan atas Abu Thalib r.a. yang berpijak pada kebohongan ini dijadikan alasan oleh sejumlah ahli kalam untuk menarik kesimpulan rancu menyangkut hidayat dan keimanan. Kata mereka, “Manusia sangat tidak berdaya dalam masalah hidayat dan keimanan, dan Allah sangat ‘kikir’ dan ‘sempit’ dalam memberi hidayat kepada seseorang. Bagaimana tidak? Abu Thalib r.a. yang mati-matian membela Rasulullah saja mati dalam keadaan kafir?” Kesimpulan semacam ini tidak lain dari kesimpulan orang yang tidak mengenal Allah sama sekali, karena Allah sesungguhnya adalah Tuhan yang Maha Pemberi rahmat dan hidayat, Maha Pemurah, Maha Penerima taubat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Gambaran tentang Allah yang menakutkan dan mencekam ini agaknya telah merasuki akidah dan pola beragama sebagian umat Islam. Akibatnya, mengikuti gambaran yang seperti itu, tanpa berpikir panjang, dengan gampang dan cepat mereka bisa mengkafirkan atau memusyrikkan seseorang atau sekelompok orang yang berbeda dengan mereka. Akidah dan pola keberagamaan yang kasar ini umumnya dianut oleh golongan Wahabi dalam tubuh umat Islam. Barangkali wajar saja kalau mereka berlaku seperti itu, lantaran Allah dalam bayangan mereka adalah Tuhan yang ‘kikir’ dan ‘sempit’, na’udzu billahi min dzalik!

    Pengkafiran Abu Thalib r.a. adalah cermin yang memantulkan hakikat orang yang mengkafirkan beliau. Ketika kita menyaksikan orang-orang tertentu mengkafirkan pembela Baginda Nabi dan menyanjung musuh-musuh beliau, kita sejatinya telah melihat hakikat jiwa orang-orang tersebut. Sebuah kaidah dalam filsafat menyatakan bahwa hakikat kita adalah sama dengan apa yang kita kehendaki dan apa yang kita pikirkan. Kalau kita menghendaki rumah, maka hakikat kita pada saat itu berubah menjadi batu bata, pasir dan semen. Kalau kita menghendaki mobil, maka jiwa kita tak lebih dari rangkain benda mekanik. Sebaliknya, kalau kita menghendaki kebenaran, maka hakikat kita adalah kebenaran itu sendiri.

    Kecintaan dan kebencian adalah perwujudan kehendak yang juga bisa menjadi ukuran untuk menilai hakikat seseorang. Kalau seseorang mencintai selebritis, maka jiwanya suka dengan ketenaran meski ia membantah secara lisan. Kalau ada orang yang begitu mencintai Al-Qur’an, maka jiwanya adalah keindahan dan keluasan yang terkandung di dalamnya. Kalau seseorang membenci zikir, maka hakikat jiwanya adalah kelalaian dan kegelisahan. Kalau hati kita dipenuhi dengan kecintaan kepada seseorang, maka nilai kita sebanding dengan orang itu.

    Dalam kaitan ini, Rasulullah bersabda:

    “انت مع من احببت يوم القيامة”

    Artinya, di hari Kiamat, yakni hari ketika semua tabir fisik dan rahasil di balik kejadian diungkapkan, kita akan bersama dengan orang yang kita cintai. Mengapa? Karena orang yang kita cintai adalah cermin diri kita sendiri. Baginda Nabi juga pernah bersabda:

    من جالس جانس

    Kumpulan kita adalah sejenis kita. Maksudnya, teman-teman di sekeliling kita adalah pantulan dari wajah kita sendiri.

    Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berkata:

    من كان همّه في بطنه كان قيمته ما خرج منه

    Siapa yang pikirannya tertuju pada perutnya, maka nilainya sama dengan apa yang keluar darinya. Ucapan ini secara tegas melukiskan hubungan timbal-balik antara yang kita pikirkan dan hakikat diri kita. Dalam perkataan lain, Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menyatakan:

    انّ الطيور على اشباهها تقع

    Burung hanya berkawan dengan sejenisnya. Prinsip atraksi (daya tarik) antar benda-benda yang serupa telah dibuktikan secara ilmiah dan filosofis, meskipun bukan tempatnya kita membahasnya di sini. Atraksi antar dua benda berfungsi untuk memperkukuh masing-masing menuju titik yang sama. Dalam semua bidang kehidupan, kita telah menemukan gejala-gejala yang selaras dengan prinsip atraksi ini. Karenanya, manakala Allah menyuruh kita untuk mencintai dan mengikuti Rasulullah (QS. 3: 31) dan menyucikan keluarga beliau sesuci-sucinya (QS. 42: 23), maka patutlah kita menyadari bahwa semua itu adalah cara Allah menyempurnakan seluruh manusia. Dengan semua itu, Allah mengharapkan agar hati kita terpaut dan terhiasi dengan cahaya kesucian, bukan dengan hal-hal duniawi yang serba semu.

    Kecintaan kita kepada Baginda Nabi yang merupakan pelita yang terang dan menerangi (sirâjan munîran, QS. 33: 46) serta utusan yang bertugas untuk menyucikan umat manusia (QS. 2: 151) berfungsi untuk membuka hati kita terhadap segenap kesempurnaan dan cahaya kesucian yang beliau bawakan. Dengan mencintai sesuatu atau seseorang berarti kita telah menghadirkan dan menghidupkannya dalam jiwa dan perilaku kita. Allah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan banyak menyebut Allah. (QS. 33: 21).

    Kesempurnaan Rasulullah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS 21: 107), terutama manusia, agar setiap hati manusia terpatri dan tersangkut ke puncak-puncak kesempurnaan yang tinggi. Itulah mengapa Rasulullah saw bersabda kepada Imam Ali bin Abi Thalib a.s.:

    يا علي ، لا يحبّك الاّ مؤمن ولايبغضك الاّ كافر او منافق

    (Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang munafik.)[3]

    Di sini Rasulullah kembali menegaskan prinsip yang telah kita uraikan di atas, bahwa apa yang kita cintai adalah cermin hakikat kita. Hati orang kafir atau munafik tidak akan pernah bisa mencintai Imam Ali bin Abi Thalib, karena hati mereka terpenjara dalam jurang kegelapan sedangkan Imam Ali berada di puncak kemuliaan. Menanggapi sabda Nabi di atas, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Seandainya kupukul hidung seorang mukmin dengan pedangku supaya dia membenciku, dia tidak akan membenciku; dan seandainya aku tuangkan seluruh nikmat dunia kepada seorang munafik supaya dia mencintaiku, dia tidak akan mencintaiku.’[4]

    Akhirnya, kalau kita bertanya kepada Abu Thalib r.a. bagaimana dia ingin ditulis dalam sejarah Islam, maka saya yakin dia akan senang bila dijadikan sebagai cemin bagi kita untuk berkaca dan melihat hakikat jiwa kita masing-masing. Kenangan kita tentang Abu Thalib r.a. tidak akan membawa kemulian baginya, melainkan lebih sebagai hiasan bagi diri kita. Mengenal dan mengagumi orang-orang besar semacam Abu Thalib r.a. bukan kultus individu, tetapi lebih sebagai luapan kecintaan pada nilai-nilai yang dia bawa dan dia peragakan.

    Abu Thalib r.a. yang saat ini sudah merasakan semua nikmat yang dijanjikan oleh Allah buatnya sepertinya lebih senang kalau kita sering-sering bertanya kepada diri sendiri: Siapa yang saat ini kau pilih untuk mengisi hatimu? Untuk tujuan apa kau bersusah-susah hidup dan menanggung beban derita? Adakah semua kesusahan dan penderitaan itu akan membawaku kepada kebahagiaan atau malah menjerumuskanmu ke dalam lembah kesengsaraan? Apakah kau yakin bahwa kecintaan dan kebencianmu telah kau arahkan ke sasaran-sasaran yang tepat? Apakah kau sudah mencintai orang-orang sempurna yang akan mengobarkan kerinduanmu kepada puncak-puncak kesempurnaan dan kesucian? Apakah kau sudah cukup membenci orang-orang sesat dan bejat yang telah membuat manusia berputus asa terhadap kebenaran dan keadilan?

    Dan terakhir, rasanya Abu Thalib r.a. akan senang bila kita mengikuti anjuran beliau dalam syair berikut ini:

    Sabarlah, hai Abu Ya‘la, dalam membela agama Ahmad

    jadilah pembela agama ini dengan kesabaran

    Lindungi pembawa kebenaran dari sisi Tuhan

    dengan ketulusan dan tekad bulat, jangan jadi kafir

    Bahagialah aku saat kau katakan, “Kau adalah seorang Mukmin”

    maka kukuhlah dalam membela Rasul Allah, di jalan Allah

    Serulah Quraisy dengan apa yang kau peroleh

    dan terang-terangan katakanlah, “Ahmad bukan penyihir!”

     
  2. tabsa

    Agustus 23, 2010 at 3:56 pm

    KONTROVERSI KEIMANAN ABU THALIB DAN KECINTAAN KEPADA KELUARGA NABI

    Menyakiti Keluarga Nabi Sama Seperti Menyakiti Allah Dan Rasul-Nya

    “ Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya (mengutuknya) d idunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan (Q.S. 33:57) ”.

    “ Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih (Q.S. 9:61)”

    Diriwayatkan dari al-Thabrani dan al-Baihaqi, bahawa anak perempuan Abu Lahab (saudara sepupu Nabi Saww ) yang bernama Subai’ah yang telah masuk Islam datang ke Madinah sebagai salah seorang Muhajirin, seseorang berkata kepadanya : “ Tidak cukup hijrahmu ke sini, sedangkan kamu anak perempuan kayu bakar neraka” (menunjuk surah al-Lahab). Maka dari ucapan itu, menyebabkan hatinya luka dan melaporkannya pada Rasulullah Saww. Selepas mendengar ucapan itu, Baginda Saww menjadi murka, kemudian beliau naik ke mimbar dan bersabda :

    “Apa urusan suatu kaum menyakitiku, baik dalam nasabku (salasilahku) maupun sanak kerabatku. Barang siapa menyakiti nasabku serta sanak kerabatku, maka dia telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku, maka dia menyakiti Allah SWT.”

    Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Ali a.s. bahawasanya Rasulullah Saww bersabda :

    “ Barang siapa yang menyakiti sehujung rambut dariku maka dia telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku berarti dia telah menyakiti Allah SWT ”. Dengan demikian jelaslah bahawa siapa yang menyakiti Abu Thalib bererti menyakiti Rasulullah Saww beserta cucu-cucu beliau pada setiap masa. Rasulullah saw bersabda :” Janganlah kamu menyakiti orang yang masih hidup dengan mencela orang yang telah mati ”.

    Pencinta Keluarga Nabi Adalah Mukmin

    Sa’ad bin Manshur dalam kitab Sunannya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair tentang Firman Allah SWT (Q.S; 42,23) :

    “ Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta dari kamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (Ahlul Bait )”.

    Dia berkata: yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah Saww.

    ( Hadis ini disebutkan juga oleh al-Muhib al-Thabari dalam Dzkhair al-Uqbah ha.9, Dia mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Sirri, dikutib pula oleh al-Imam al-Hafid Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuthi dalam kitab Ihyaul Maiyit Bifadhailil Ahlil Bait hadis no 1 dan dalam kitab tafsir al-Dur al-Mantsur ketika menafsirkan ayat al-Mawaddah :42,43 )

    Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya Juz 4 hal.210 hadis no.177 meriwayatkan:
    Abbas, pakcik Nabi Saww masuk menemui Rasulullah Saww, lalu berkata: “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami (Bani Hasyim) keluar dan melihat orang-orang Quraisy berbincang-bincang lalu jika mereka melihat kami mereka diam ”. Mendengar hal itu Rasulullah Saww marah dan menitiskan airmata kemudian bersabda : “ Demi Allah tiada masuk keimanan ke hati seseorang sehingga mereka mencintai kamu (keluarga nabi Saww) kerana Allah dan demi hubungan keluarga denganku ” (hadis serupa diriwayatkan pula oleh al-Turmudzi, al-Suyuthi, al-Muttaqi al-Hindi, al-Nasa’i, al-Hakim dan al-Tabrizi).

    Membenci Mereka Adalah Munafik

    Ibnu Adi dalam kitab al-Kamil meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata bahawa Rasulullah Saww bersabda: “ Barang siapa yang membenci kami Ahlul Bait (Nabi dan keluarganya) maka ia adalah munafik. ”(at-Athabrani dalam Dzakair, Ahmad dalam al-Manaqib, al-Syuthi dalam al-Dur al-Mantsur dan dalam Ihyaul Mayyit).

    al-Thabrani dalam kitab al-Awsath dari Ibnu Umar, dia berkata: Akhir ucapan Rasulullah Saww sebelum wafat adalah: “Perlakukan aku setelah sepeninggalanku dengan bersikap baik kepada Ahlul Baitku.” (Ibnu Hajar dalam al-Shawaiq). al-Khatib dalam tarikhnya meriwayatkan dari ‘Ali as bersabda : “ Syafa’at (pertolongan di akhirat kelak) ku (hanya) teruntuk orang yang mencintai Ahlul Baitku. (Imam Jalaluddin al-Syuthi dalam Ihyaul Maiyit) .

    al-Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id, dia berkata bahawa Rasulullah Saww bersabda : “ Keras kemurkaan Allah terhadap orang yang mengganguku dengan menggangu itrahku ”. (al-Suyuthi dalam Ihyaul Maiyit, dikutib juga oleh al-Manawi dalam Faidh al-Qadir, dan juga oleh Abu Nu’aim).

    Siapa Yang Mengkafirkan Abu Thalib ra?

    Sebenarnya pandangan tentang kafirnya Abu Thalib adalah hasil rekaan politik Bani Umaiyah di bawah program Abu Sufyan, seseorang yang memusuhi Nabi Saww sepanjang hidupnya, memeluk Islam kerana terpaksa dalam pembebasan Makkah, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Muawiyah, seorang yang diberi gelaran oleh Nabi Saww sebagai “ kelompok angkara murka ”, yang meracuni cucu Nabi Saww, Imam Hasan ibn ‘Ali a.s. Dalam kitab Wafiyat al-A’yan Ibnu Khalliqan menuturkan cerita Imam Nasa-i (penyusun kitab hadis sunna al-Nasa-i), bahawasanya sewaktu Nasa-i memasuki kota Damaskus, dia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Muawiyah, kata Nasa-i: “ Aku tidak menemukan keutamaan Muawiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya”. Selanjutnya dilanjutkan oleh Yazid anak Muawiyah si pembunuh Husein ibn ‘Ali as cucu Nabi Muhammad Saww di padang Karbala bersama 72 keluarga dan sahabatnya. Muawiyah yang sebagian Ulama Ahli Sunnah telah mengkategorikannya sebagai sahabat Nabi Saww, telah memerintahkan pelaknatan terhadap Imam ‘Ali bin Abi Thalib as di hampir tujuh puluh ribu mimbar umat Islam dan dilanjutkan oleh anak cucu-cucu Bani Umaiyah selama 90 tahun. Ia berlangsung sehinggalah sampai zaman Umar bin Abdul Azizi. Ibnu Abil Hadid menyebutkan Muawiyah membentuk sebuah lembaga yang bertugas mencetak hadis-hadis palsu dalam berbagai segi terutama yang menyangkut keluarga Nabi Saww, lembaga tersebut beranggotakan beberapa orang sahabat dan Tabi’in (sahabatnya sahabat) di antaranya “ Amr ibn al-Ash, Mughirah ibn Syu’bah dan Urwah ibn Zubair).

    Sebagai contoh Ibnu Abil Hadid menyebutkan hadis ciptaan tersebut :

    “ Diriwayatkan oleh al-Zuhri bahawa : Urwah ibn Zubair menyampaikan sebuah hadis dari Aisyah. ia berkata : Ketika aku bersama Nabi Saww, maka datanglah Abbas (pakcik Nabi Saww) dan ‘Ali bin Abi Thalib dan Nabi Saww berkata padaku : “ Wahai Aisyah kedua orang itu akan mati tidak di atas dasar agamaku (kafir)”.

    Inil adalah kebohongan besar tak mungkin Rasul Saww bersabda seperti itu yang benar Rasul Saww bersabda seperti yang termaktub dalam kitab : Ahlul Bait wa Huququhum hal.123, di situ diterangkan: Dari Jami’ ibn Umar seorang wanita bertanya pada Aisyah tentang Imam ‘Ali as, lalu Aisyah menjawab : “ Anda bertanya kepadaku tentang seorang yang demi Allah SWT, aku sendiri belum pernah mengetahui ada orang yang paling dicintai Rasulullah Saww selain Ali, dan di bumi ini tidak ada wanita yang paling dicintai puteri Nabi Saww, iaitu ( Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s isteri Imam Ali a.s).

    al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, al-Suyuthi dalam kitab al-Jami ash-Shaghir dan juga al-Thabrani dalam kitab al-Kabir dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saww bersabda : “ Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya, Maka barangsiapa ingin mendapat Ilmu, hendaknya dia mendatangi pintunya ”. Imam Ahmad bin Muhammad ash-Shadiq al-Maghribi berdasarkan hadis ini telah membuat kitab khusus yang diberi judul : “ Fathul Malik al’Aliy bishihati hadis Babul Madinatil Ilmi ‘Ali ” yang membuktikan ke shahihan hadis tersebut.

    Jadi berbalik kita kepada kisah Abu Thalib ra. Benar, sekitar kurang lebih 9 hadis yang mengkafirkan Abu Thalib. Tetapi sebagai mana yg telah disampaikan jalur-jalur hadis tersebut penuh dengan keraguan ditambah dengan ruwat (perawi) hadis tersebut yang lemah dan tidak boleh diterima. Diantaranya:

    1- Salah seorang perawi hadis dari kalangan sahabat adalah Abu Hurairah. Para sejarawan Islam sepakat mengatakan dia masuk Islam pada perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah. Jadi bagaimana dia boleh meriwayatkan hadis tersebut?

    SIAPA ABU THALIB?

    Nama aslinya adalah Abdul Manaf, sedangkan nama Abu Thalib adalah nama ‘kunyah’ (panggilan) yang berasal dari nama putera pertamanya iaitu Thalib. Abu bererti ayah. Abu Thalib adalah pakcik dan ayah asuh Rasulullah Saww, dia mengasuh Nabi Saww dengan jiwa raganya. Ketika Nabi Saww berdakwah dan mendapat rintangan dan halangan, Abu Thaliblah yang membelanya dan dengan tegar berkata:

    “ Kamu tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kamu menguburkanku ”.

    Ketika Nabi Saww dan pengikutnya dipulaukan di sebuah lembah, Abu Thalib mendampingi Nabi Saww dengan setia. Ketika dia melihat ‘Ali solat di belakang Rasulullah Saww, iaitu ketika beliau mahu meninggal dunia, dia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi Saww dan membelanya dalam dakwahnya.

    BUKTI ISLAM ABU THALIB

    · Kesaksian Dengan Ucapan

    Selain beliau merupakan benteng dan tempat bernaung Rasulullah saww daripada segala ancaman musyrikin Mekah, beliau juga telah menerima dan melaksanakan amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi Saww dan dia telah melaksanakan amanat tersebut dengan baik. Nabi Saww adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Beliau mengetahui akan kenabian Muhammad Saww jauh sebelum Nabi Saww diutus oleh Allah SWT, sebagai Rasul di atas dunia ini. Dia menyebutkan hal tersebut ketika berpidato dalam pernikahan Nabi Saww dengan Sayyidah Khadijah sa. Abu Thalib berkata :

    “ Segala Puji bagi Allah yang telah menjadikan kita semua sebahagian anak cucu Ibrahim dan Ismail, dan menjadikan kita semua berasal dari Bani Ma’ad dan Mudhar dan menjadikan kita orang yang bertanggungjawab menjaga rumah-Nya (ka’bah) sebagai tempat haji pemimpin-pemimpin manusia. Ketahuilah bahawa anak buah saya ini adalah Muhammad ibn Abdullah yang tidak boleh dibandingkan dengan lelaki-lelaki manapun kecuali pasti dia lebih tinggi kemuliaannya, keutamaan dan akalnya. Dia (Muhammad), demi Allah, setelah ini akan mendatangkan dengan sesuatu khabar besar dan akan menghadapi tentangan yang serta tanah haram yang aman damai, dan menjadikan kita semua sebagai berat”.

    Kata-kata beliau ini, jelas menunjukkan bahawa Abu Thalib adalah seorang pemyembah Allah, seorang yang beragama dengan agama datuknya Ibrahim dan Ismail a.s. bagi Abu Thalib tidak susah untuk mengenal siapa itu Muhammad ibn Abdullah kerana beliau telah melihat ciri-ciri kenabian itu terpancar dari cahaya wujud Rasulullah saww.

    · Mendengar Tanda kenabian Nabi Dari Seorang Rahib

    Pada saat Abu Thalib bermusafir ke Syam, sedang di waktu itu Nabi Saww masih berusia 9 tahun dan bersama dengan Abu Thalib ketika itu. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan seorang rahib Nasrani bernama Buhairah yang mengetahui tanda-tanda kenabian yang terdapat pada Nabi Saww dan memberitahukan pada Abu Thalib berita tersebut. Kemudian beliau menyuruhnya membawa Rasulullah Saww pulang kembali ke Mekah karena takut akan gangguan orang Yahudi. Lantas dari itu Abu Thalib membawa Nabi Saww pulang ke Mekah, kerana takut ancaman tersebut.

    · Menunjukkan Dengan Tindakan (Akhlak Mulia)

    Dengan bukti ini juga menunjukkan Abu Thalib tahu bahawa Muhammad adalah Rasulullah Saww. Maka itu penghormatannya kepada Rasulullah Saww amat tinggi berbanding yang lain. Sebagai contoh, jika Abu Thalib hendak makan bersama keluarganya, beliau selalu berkata: bersabarlah kamu menunggu hingga Muhammad datang, kemudian Nabi Saww datang serta makan bersama mereka hingga mereka menjadi kenyang. Dan di antara adab mulia Abu Thalib kepada Nabi Saww, bahawa dia tidak makan melainkan Muhammad Saww makan dahulu kemudian barulah dia makan dan kemudian ahli keluarganya yang lain. Abu Thalib berkata kepada Nabi Saww: “ Sesungguhnya Engkau adalah orang yang di berkati Tuhan ”.

    Setiap kali Nabi akan tidur, Abu Thalib akan membentangkan selimutnya di mana sahaja Nabi Saww tidur. Beberapa saat setelah baginda Saww tertidur, dia akan membangunkan beliau Saww lagi dan kemudian memerintahkan sebagian anak-anaknya untuk tidur di tempat Rasulullah Saww , sementara untuk Rasulullah akan dibentangkan selimut di tempat yang lain agar Nabi Saww tidur di sana. Semua ini dilakukkan oleh Abu Thalib demi keselamatan Nabi Saww.

    Ya Allah! mereka menyangka Engkau tidak memberi hidayah kepada orang yang telah mengorbankan segala sisa hidupnya dalam membela nabi-MU, seorang yang teramat tinggi cintanya kepada sang kekasih-MU.

    Ya Allah! sungguh prasangkaku baik kepada-Mu, tak mungkin Engkau tidak memberi iman kepadanya. Ya Allah Yang Maha Pemurah! dan Engkau amat jauh dari prasangka buruk ini. Ya Allah! apakah mungkin umat Nabi-Mu akan menerima syafa’at daripadanya, sedang lidah-lidah mereka tiada kering dari mengkafirkan pakcik kesayangannya. Ya Allah! Engkau adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Engkau akan menghukum siapa saja yang menyakiti Nabi-Mu dan keluarganya.

    · Hadis-hadis Iman Abu Thalib as

    Kini tibalah saatnya untuk kami ketengahkan hadis-hadis tentang Mukminnya Abu Thalib, namun untuk menjaga keringkasan buku ini, kami hanya mengutip sebagian sahaja.

    1- Dari Ibnu Adi yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik, dia berkata; “ Pada suatu saat Abu Thalib sakit dan Rasulullah Saww menjenguknya, maka dia berkata; “ Wahai anak sudaraku, berdoalah kamu kepada Allah agar Ia berkenan menyembuhkan sakitku ini ”, dan Rasulullah pun berdoa: Ya Allah, …sembuhkanlah pakcik hamba ”, maka seketika itu juga dia berdiri dan sembuh seakan dia lepas dari belenggu ”.

    Apakah mungkin Rasulullah berdoa untuk orang yang kafir ?, apakah mungkin orang kafir memohon doa daripada Rasulullah Saww? Apakah mungkin orang yang menyaksikan mukjizat yang demikian lantas tidak mahu beriman?. Perkaranya kembali pada logika orang yang waras.

    2- Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aqil bin Abu Thalib, diterangkan bahawa orang-orang Quraisy berkata kepada Abu Thalib: “ Sesungguhnya anak saudaramu ini telah menyakiti kami ”, maka Abu Thalib berkata kepada Nabi Muhammad Saww : “ Sesungguhnya mereka Bani pakcikmu, menuduh kamu menyakiti mereka ”. Nabi menjawab : “ Jika seandainya kamu (wahai kaum Quraisy) meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku untuk aku tinggalkan perkara ini, sehingga Allah menampakannya atau aku hancur kerananya, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sama sekali ”.

    Dari itu kedua mata beliau mencucurkan air mata karena menangis, maka berkatalah Abu Thalib kepada Nabi Saww: “ Wahai anak saudaraku, katakalah apa yang kamu suka, demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada mereka selamanya ”. Dia juga berkata kepada orang-orang Quraisy, “ Demi Allah, sesungguhnya anak saudaraku tidak berdusta. ”

    Kami bertanya, apakah kata-kata dan pembelaan demikian ini dapat dilakukan oleh orang kafir, yang agamanya sendiri dicela habis-habisan oleh Nabi Saww ? Kalau yang demikian ini dikatakan tidak beriman, lalu yang bagaimana yang beriman?

    3- Dari al-Khatib al-Baghdadi dari Imam Jaa’far ash-Shadiq yang sanadnya sampai pada Imam ‘Ali as berkata: aku mendengar Abu Thalib berkata, “ Telah bersabda kepadaku, dan dia (Muhammad) demi Allah adalah orang yang paling jujur, Abu Thalib berkata selanjutnya: “ Aku bertanya kepada Muhammad, Wahai Muhammad, dengan apa kamu diutus (Allah) ? ” baginda Saww menjawab: “ Dengan silaturrahmi, mendirikan solat, serta mengeluarkan zakat.”

    al-Khatib al-Baghdadi adalah seorang ulama besar dan beliau menerima hadis yang diriwayatkan oleh Abi Thalib, jika Abu Thalib bukan mukmin maka tentu hadisnya tidak akan diterima, demikian juga Imam ‘Ali dan Imam ash-Shadiq dan lain-lain lagi. Penelitian akan isi kandung hadis ini menunjukkan Abu Thalib adalah seorang mukmin.

    4- Dari al-Khitab, yang bersambung sanadnya, pada Abi Rafik maula ummu Hanik binti Abi Thalib bahawasannya dia mendengar Abu Thalib berkata: “Telah berbicara kepadaku Muhammad anak saudaraku, bahawanya Allah memerintahkannya agar menyambung tali silaturrahmi, menyembah Allah serta tidak boleh menyembah selain-Nya (tidak menyekutukan-Nya) ”. Kemudian Abu Thalib berkata: “ Dan Abu Thalib berkata pula: “ Aku mendengar anak saudaraku berkata: “ Bersyukurlah, tentu anda akan dilimpahi rezeki dan janganlah kufur, nescaya anda akan disiksa ”.

    Apakah ada tanda-tanda beliau seorang kafir dalam hadis di atas?, wahai saudaraku, anda dianugerah akal dan kemampuan berfikir, gunakanlah ianya sebaik mungkin sebelum ianya ditarik balik semasa usia tuamu. Dan pergunakanlah ia, jangan seperti domba yang digiring oleh gembala. Selama 14 Abad umat Muhammad telah ditipu oleh propaganda Bani Umaiyyah, sampai bila mereka mampu mengakhirinya.

    5- Dari Ibnu Sa’ad al-Khatib dan Ibnu Asakir dari Amru ibn Sa’id, bahawasanya Abu Thalib berkata : “ Suatu saat aku bersama anak saudaraku (Muhammad) di dalam perjalanan (safar), kemudian aku merasa dahaga dan aku beritahukan kepadanya serta ketika itu aku tidak melihat sesuatu bersamanya, Abu Thalib selanjutnya berkata, kemudian dia (Muhammad) membengkokkan pangkal pahanya dan menginjakkan tumitnya diatas bumi, maka pakcikku minumlah !”, maka aku minum”.

    Ini adalah mukjizat Nabi Saww dan disaksikan oleh Abu Thalib, yang meminum air mukjizat, adakah orang kafir dapat meminum air al-Kautsar ?. Berkata a-Imam al-Arifbillah al-Alamah Assayyid Muhammad ibn Rasul al-Barzanji: “ Jika Abu Thalib tidak bertauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan memberikannya rezeki dengan air yang memancar untuk Nabi Saww yang air tersebut lebih utama dengan air al-Kautsar serta lebih mulia dari air zamzam.

    6- Dari Ibnu Sa’id yang diriwayatkan dari Abdillah Ibn Shaghir al-Udzri bahawasanya Abu Thalib ketika menjelang ajalnya dia memanggil Bani Abdul Mutthalib seraya berkata: “ Tidak pernah akan putus-putusnya kamu dengan kebaikan yang kamu dengar dari Muhammad dan kamu mengikuti perintahnya, maka dari itu, ikutilah dia, serta bantulah dia tentu kamu akan mendapat petunjuk ”. Jauh sekali anggapan mereka, dia tahu bahawa sesungguhnya petunjuk itu di dalam mengikuti baginda Saww.

    Dia menyuruh orang lain agar mengikutinya, apakah mungkin dia sendiri meninggalkannya?. Sekali lagi hanya akal yang waras yang boleh menentukannya.

    7- Dari al-Hafidz (penghafal hadis lebih dari 100, 000 hadis) Ibn Hajar dari ‘Ali Ibn Abi Thalib a.s bahawasanya ketika ‘Ali memeluk Islam, Abu Thalib berkata kepadanya: “ Tetaplah engkau bersama anak pakcikmu ! ”.

    Pertanyaan apa yang mampu ditanyakan terhadap seorang ayah yang menyuruh anaknya memeluk Islam, sedangkan dia sendirian dikatakan bukan Islam, adakah hal itu masuk akal ?.

    Dari al-Hafidz Ibn Hajar yang riwayatnya sampai pada Imran bin Husein, bahawasanya Abu Thalib : bersolatlah kamu bersama anak pakcikmu, maka dia Jaa’far melaksanakan solat bersama Nabi Muhammad Saww, seperti juga dia melaksanakannya bersama ‘Ali bin Abu Thalib. Sekiranya Abu Thalib tak percaya akan agama Muhammad, tentu dia tidak akan rela kedua putranya solat bersama Nabi Muhammad Saww, sebab permusuhan yang timbul karena seorang penyair berkata: “ Tiap permusuhan bisa diharapkan berakhirnya, kecuali permusuhan dengan yang lain dalam masalah agama ”.

    8- Dari al-Hafidz Abu Nu’aim yang meriwayatkan sampai kepada Ibnu Abbas, bahawasannya dia berkata : “ Abu Thalib adalah orang yang paling mencintai Nabi Saww, dengan kecintaan yang amat sangat (Hubban Syadidan) tidak pernah dia mencintai anak-anaknya melebihi kecintaannya kepada Nabi Saww. Oleh karena itu dia tidak tidur kecuali bersamanya (Rasulullah Saww).

    9- Diriwayatkan dalam kitab Asna al-Matalib fi najati Abu Thalib oleh Assayid al-Alamah al-Arifbillah, Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan Mufti mazhab Syafi’i di Mekah pada zamannya: “ Sekarang orang-orang Quraisy dapat menyakitiku dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi selama Abu Thalib hidup ”. Tidaklah orang-orang Quraisy memperoleh sesuatu yang aku tidak senangi (menyakitiku) hingga Abu Thalib wafat ”. Dan setelah beliau melihat orang-orang Quraisy berlumba-lumba untuk menyakitinya, baginda Saww bersabda: “ Hai pakcikku, alangkah cepatnya apa yang aku peroleh setelah engkau wafat ”. Ketika Fatimah binti Asad (isteri Abi Thalib) wafat, Nabi Saww menyembahyangkannya, turun sendiri ke liang lahat, menyelimuti dengan baju beliau dan berbaring sejenak di samping jenazahnya, beberapa sahabat bertanya kehairanan, maka Nabi Saww menjawab: “ Tak seorang pun sesudah Abu Thalib yang ku patuhi selain dia (Fatimah binti Asad).

    Kewafatan Abu Thalib

    Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah isteri Nabi Saww wafat dalam tahun yang sama, oleh karena itu tahun tersebut Nabi Saww menyebutnya sebagai Aamul Huzn iaitu tahun dukacita. Jika Abu Thalib seorang kafir patutkah kematiannya disedihkan. Dan apakah patut Nabi berkasih mesra dengan orang kafir, dengan berpandangan bahawa Abu Thalib kafir sama dengan menuduh Allah menyerahkan pemeliharaan Nabi Saww, pada seorang kafir dan membiarkan berhubungan cinta-mencintai dan kasih-mengasihi yang teramat sangat padahal dalam al-Quran disebutkan: “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka(QS;48,29). Dan di ayat yang lain Allah berfirman: “ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak saudara-saudara atupun keluarga mereka”.(QS;58,29)

    Seandainya kami tidak khuatir anda menjadi jemu, maka akan kami sebutkan hadis yang lainnya, kini untuk memperkuat argumentasi di atas akan kami ketengahkan disini sya’ir-sya’ir Abu Thalib:

    “ Saya benar-benar tahu bahawa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini. ”

    Di sya’ir yang lain beliau berkata: “ Adakah kamu tidak tahu, bahawa kami telah mengikuti diri Muahmmad sebagai Rasul seperti Musa yang telah dijelaskan pada kitab-kitab ”.

    Semaklah sya’ir beliau ini, bahawa beliau juga beriman pada Nabi-Nabi yang lain seperti Nabi Musa a.s, dan ketika Rahib Buhairah berkata padanya beliau juga mengimani akan kenabian Isa a.s , sungguh Abu Thalib adalah orang ilmuan yang ahli kitab-kitab sebelumnya.

    Dalam sya’ir yang lain:

    “ Dan sesungguhnya kasih sayang dari seluruh hamba datang kepadanya (Muhammad). Dan tiada kebaikan dengan kasih sayang lebih dari apa yang telah Allah SWT khususkan kepadanya. ”

    “ Demi Tuhan rumah (Ka’bah) ini, tidak kami akan serahkan Ahmad (Muhammad) kepada bencana dari terkaman masa dan malapetaka. ”

    “ Mereka (kaum Quraisy) mencemarkan namanya untuk melemahkannya. Maka pemilik Arsy (Allah) adalah dipuji (Mahmud) sedangkan dia terpuji (Muhammad). ”

    “ Demi Allah, mereka tidak akan sampai kepadamu dengan kekuatannya. Hingga Aku terbaring di atas tanah. Maka sampaikanlah urusanmu secara terang-terangan apa yang telah diperintahkan tanpa mengindahkan mereka. Dan berilah kabar gembira sehingga menyenangkan dirimu. Dan engkau mengajakku dan aku tahu bahawa engkau adalah jujur dan benar. Engkau benar dan aku mempercayai. Aku tahu bahawa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini . Dan sebilah pedang meminta siraman air hujan dengan wajahnya, terhadap pertolongan anak yatim sebagai pencegahan dari muslim yg berpura-pura. Kehancuran jadi tersembunyi dari Bani Hasyim (keluargaya Nabi Saww), maka mereka disisinya (Muhammad) tetap dalam bahagia dan berada dalam keutamaan. ”

    “ Sepanjang umur aku telah tuangkan rasa cinta kepada Ahmad.

    Dan aku menyayanginya dengan kasih sayang tak terputus.

    Mereka sudah tahu bahawa anak yatim tidak berbohong.

    Dan tidak pula berkata dengan ucapan yang bathil.

    Maka siapakah sepertinya di antara manusia hai orang yang berfikir.

    Jika dibanding pemimpinpun dia lebih unggul.

    Lemah lembut, bijaksana, cerdik lagi tidak gelabah, santun serta tidak pernah lalai.

    Ahmad bagi kami merupakan pangkal, yang memendekkan derajat yang berlebihan.

    Dengan sabar aku mengurusnya, melindungi serta menepiskan darinya semua gangguan. ”

    Kiranya cukup, apa yang kami ketengahkan dari sya’ir-sya’ir Abu Thalib yang membuktikan bahawa beliau adalah seorang Mukmin dan telah menolong dan membela Nabi Saww, maka beliau termasuk orang-orang yang beruntung.

    “ Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS; 7;15)

    Sesungguhnya Abu Thalib adalah orang yang telah mempercayainya, memuliakannya serta menolongnya, sehingga dia menentang orang-orang Quraisy. Dan ini telah disepakati oleh seluruh sejarawan. Sebuah hadis Nabi Saww menyebutkan : “ Saya (Nabi Saww) dan pengawal yatim, kedudukannya disisi Allah SWT bagaikan jari tengah dengan jari telunjuk ”. Siapakah sebaik-baik yatim? Dan siapakah sebaik-baik pengasuh yatim itu?, Bukankah Abu Thalib mengasuh Nabi Saww dari usia 8 tahun sampai 51 tahun.

    Dalam Tarikh Ya’qubi jilid II hal. 28 disebutkan :

    “ Ketika Rasul SAW diberi tahu tentang wafatnya Abu Thalib, beliau tampak sangat sedih, beliau datang menghampiri jenazah Abu Thalib dan mengusap-usap pipi kanannya 4 kali dan pipi kiri 3 kali. Kemudian beliau berucap : “ Pakcik, engkau memelihara diriku sejak kecil, mengasuhku sebagai anak yatim dan memjagaku di saat aku sudah besar. Kerana aku, Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu ”. Baginda lalu berjalan perlahan-lahan lalu berkata : “ Berkat silaturrahmimu Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu pakcik. ”

    Dalam buku Siratun Nabi Saww yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, jilid I hal.252-253 disebutkan: Abu Thalib meninggal dunia tanpa ada kafir Quraisy di sekitarnya dan mengucapkan dua kalimat syahadah yang didengar oleh Abbas bin Abdul Mutthalib. Demikian pula dalam buku Abu Thalib mukmin Quraisy oleh Syeikh Abdullah al-Khanaizy diterangkan : bahawa Abu Thalib mengucapkan kalimat Syahadah diriwayatkan oleh Abu Bakar, yang dikutib oleh pengarang tersebut dari buku Sarah Nahjul balaghah III hal.312, Syekh Abthah hal.71nAl-Ghadir VII hal.370 & 401, Al-A’Yan XXXIX hal.136.

    Abu Dzar al-Ghifari seorang sahabat Nabi Saww yang sangat dicintai Nabi Saww bersumpah menyatakan, bahawa wafatnya Abu Thalib sebagai seorang mukmin (al-Ghadir Vii hal.397).

    Diriwayatkan dari Imam Ali ar-Ridha dari ayahnya Imam Musa al-Kadzim, riwayat ini bersambung sampai pada Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan beliau mendengar dari Nabi Saww, bahawa : “ Bila tak percaya akan Imannya Abu Thalib maka tempatnya di neraka ”. (An-Nahjul III hal.311, Al-Hujjah hal.16, Al-Ghadir VII hal.381 & 396, Mu’janul Qubur hal.189, Al-A’Yan XXXIX hal.136, As-Shawa’iq dll). Abbas berkata ; “ Imannya Abu Thalib seperti imannya Ashabul Kahfi. ”

    Boleh jadi sebagian para sahabat tidak mengetahui secara terang-terangan akan keimanan Abu Thalib. Penyembunyian Iman Abu Thalib sebagai pemuka Bani Hasyim terhadap kafir Quraisy merupakan strategi, siasah dan taktik untuk menjaga dan membela Islam pada awal kebangkitannya yang masih sangat rawan itu sangat membantu tegaknya agama Allah SWT.

    Penyembunyian Iman itu Banyak dilakukan ummat sebelum Islam sebagaimana banyak kita jumpa dalam al-Quran, seperti Ashabul Kahfi (pemuda penghuni gua), Asiah istri Fir’aun yang beriman pada Nabi Musa a.s dan melindungi, memelihara dan membela Nabi Musa a.s, juga seorang laki-laki dalam kaumnya Fir’aun yang beriman dan membela pada Nabi Musa a.s.

    Lihat al-Quran; 40:28 berbunyi : “ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut (kaum) Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki (Musa) kerana dia menyatakan” : “ Tuhanku adalah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung dosanya itu, dan jika dia seorang yang benar nescaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah SWT, tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta . ”

    Jadi menyembunyikan iman terhadap musuh-musuh Allah tidaklah dilarang dalam Islam. Ada suatu riwayat di zaman Rasulullah Saww, demikian ketika orang-orang kafir berhasil menangkap Bilal, Khabab, Salim. Shuhaib dan Ammar bin Yasir serta ibu bapanya, mereka digilir disiksa dan dibunuh sampai giliran Ammar, melihat keadaan yang demikian Ammar berjihad untuk menuruti kemahuan mereka dengan lisan dan dalam keadaan terpaksa. Lalu diberitahukan kepada Nabi Saww bahawa Ammar telah menjadi kafir, namun baginda Nabi Saww menjawab: “ Sekali lagi tidak, Ammar dipenuhi oleh iman dari ujung rambutnya sampai keujung kaki, imannya telah menyatu dengan darah dagingnya ”. Kemudian Ammar datang menghadap Rasulullah Saww sambil menangis, lalu Rasulullah Saww mengusap kedua matanya seraya berkata: “ Jika mereka mengulangi perbuatannya, maka ulangi pula apa yang telah engkau ucapkan. ” Kemudian turunlah ayat (QS; 16;106) sebagai membenarkan tindakan Ammar oleh Allah SWT dengan berfirman: “ Barang siapa yang kafir kepada Allah SWT sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak berdosa), akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah SWT menimpahnya dan baginya azab yang besar. ”

    Imam Muhammad bin Husein Mushalla al-Hanafi (yang bermazhab Hanafi) dia menyebut dalam komentar terhadap kitab Syihabul Akhbar karya Muhammad ibn Salamah bahawa: “ Barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumnya adalah kafir ”. Sebagian ulama dari Mazhab Maliki berpandangan yang sama seperti Ali al-Ajhuri dan at-Tulsamany, mereka ini berkata orang yang mencela Abu Thalib (mengkafirkan) sama dengan mencela Nabi Saww dan akan menyakiti beliau, maka jika demikian dia telah kafir, sedang orang kafir itu halal dibunuh. Begitu pula ulama besar Abu Thahir yang berpendapat bahawa barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumannya adalah kafir.

    Kesimpulannya, bahawa siapapun yang cuba-cuba menyakiti Rasulullah Saww adalah kafir dan harus diperangi (dibunuh), jika tidak bertaubat. Sedang menurut mazhab Maliki harus dibunuh walau telah taubat. Imam al-Barzanji dalam pembelaan terhadap Abu Thalib, bahawa sebagian besar dari para ulama, para sufiah dan para aulia’ yang telah mencapai tingkat ‘Kasyaf’, seperti al-Qurthubi, as-Subki, asy-Sya’rani dan lain-lain. Mereka sepakat bahawa Abu Thalib selamat dari siksa abadi, kata mereka : “ Ini adalah keyakinan kami dan akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT kelak. ”

    Akhirnya mungkin masih ada kalangan yang tanya, bukankah sebagian besar orang masih menganggap Abu Thalib kafir, jawabnya : “Banyaknya yang beranggapan bukan jaminan suatu kebenaran. ”

    “ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT) (QS;6:115).

    Semoga kita dijadikan sebagian golongan yang mencintai dan mengasihi sepenuh jiwa ruh dan jasad kepada Nabi Muhammad Saww dan Ahlul Baitnya yang telah disucikan dari segala noda dan nista serta para sahabatnya yang berjihad bersamanya yang setia mengikutinya sampai akhir hayatnya.

    Sesungguhnya taufiq dan hidayah hanyalah dari Allah SWT, kepada-Nya kami berserah diri dan kepada-Nya kami akan kembali.

    SYA’IR-SYA’IR DALAM MEMUJI KELUARGA RASULULLAH SAWW

    Dalam salah satu sya’ir Imam Syafi’i, beliau berkata :

    “Wahai Keluarga Rasulullah

    Kecintaan kepadamu

    Allah wajibkan atas kami

    Dalam Al-Quran yang diturunkan

    Cukuplah tanda kebesaranmu

    Tidak sah solat tanpa selawat padamu”

    (maksud selawat : Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad)

    Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dalam sya’irnya:

    “ Kecintaan Yahudi kepada keluarga Musa nyata

    Dan bantuan mereka kepada keturunan saudaranya jelas

    Pemimpin mereka dari keturunan Harun lebih utama

    Kepadanya mereka mengikut dan bagi setiap kaum ada penuntun

    Begitu juga Nasrani sangat memuliakan dengan penuh cinta

    Kepada Al-Masih dengan menuju perbuatan kebajikan

    Namun jika seorang Muslim membantu keluarga Ahmad (Muhammad)

    Maka mereka bunuh dan mereka sebut kafir

    Inilah penyakit yang sulit disembuhkan, yang telah menyesatkan akal

    Orang-orang kota dan orang-orang desa, mereka tidak menjaga

    Hak Muhammad dalam urusan keluarganya

    dan Allah Maha Menyaksikan. ”

    Imam Zamakhsyari dalam sya’irnya berkata:

    “ Beruntung anjing karena mencintai Ashabul kahfi

    Mana mungkin aku celaka karena mencintai keluarga Nabi Saww”

    Abu Hasyim Isma’il bin Muhammad al-Humairi dalam salah satu sya’ir yang mengharap syafa’at nabinya Saww, berkata:

    “ Salam sejahtera kepada keluarga dan kerabat Rasul

    Ketika burung-burung merpati beterbangan

    Bukankah mereka itu kumpulan bintang gemerlapan di langit

    Petunjuk-petunjuk agung tak diragukan

    Dengan mereka itulah aku di Syurga, aku bercengkerama

    Mereka itu adalah lima tetanggaku, Salam sejahtera ”.

     
    • Agus Hartono

      Agustus 25, 2010 at 1:41 am

      Salam,
      Alhamdulillah, Dalam hati kecil saya memang terbersit kata “sembunyi”. Yang tujuannya tidak lain hanyalah demi kepentingan yang jauh lebih besar dari sekedar “diri” paman Rasulullah, Abu Thalib. Bahwa Paman Rasulullah Abu Thalib telah mengorbankan diri membentengi Nabi saw adalah sebuah perjuangan awal perkembangan Islam yang telah memberikan hasil seperti saat ini. Mudah2an Allah memberikan petunjuk bagi mereka yang mengkafirkan paman Baginda Rasulullah saw, Abu Thalib. Karena tanpa beliau sejarah Islam tidak akan bisa seperti yang kita pahami selama ini.
      Wassalam.

       
  3. tabsa

    Agustus 23, 2010 at 4:03 pm

    ABU THALIB KORBAN BLACK CAMPAIGN DARI PENGUASA UMAIYAH YANG MEMBENCI KEUTAMAAN ALI BIN ABU THALIB

    Mengenai Abu Thalib kalau kita tinjau dari sejarahnya, Abu Thalib menderita
    karena mendapatkan “black campaign” dari pengikut Bani Umayyah khususnya
    pada masa Muawwiyah. Mereka memiliki peranan penting dalam memutar balikkan
    kebenaran yang ada. Mereka gunakan kesempatan ketika berkuasa dalam
    menghitamkan sejarah keluarga Ali bin Abu Thalib, bukankah Abu Thalib itu
    ayahanda dari Ali bin Abu Thalib ? Mereka mancaci Amirul Mukminin dan
    memerintahkan kepada umat Islam agar turut mencaci mereka, hingga
    melaknatnya, melaknat kedua anaknya, Hasan dan Husein, cucu Rasullullah dan
    kesayangannya. Mereka juga menanamkan kedengkian serta menghasut melalui
    mimbar-mimbar mesjid sehingga kemungkaran ini menjadi sebuah kebiasaaan dan
    terus berlangsung. Apakah kondisi seperti itu yang menjadikan para ahli
    sejarah pun menuliskan apa yang penguasa kehendaki? Menolak keimanan Abu
    Thalib dan terus menyebarluaskan tuduhan-tuduhannya dan menyatakan bahwa Abu
    Thalib wafat dalam keadaan kafir?

    LONG LIVE EDUCATION !!

     
    • Agus Hartono

      Agustus 25, 2010 at 1:28 am

      Salam,
      Terima kasih, anda memberikan pencerahan pada diri saya tentang diri Paman Nabi saw. Mudah2an apa yang ada di pikiran saya sama dengan yang ada di pikiran anda. Sekali lagi terima kasih banyak.
      Wassalam.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: