RSS

Memancing Berkah.

08 Jun

Memancing memang memberikan keasyikan sendiri bagi mereka yang menyukainya. Bahkan sebagian orang menjadikan “memancing” sebagai sebuah hobby atau kesenangan. Tentu saja mereka yang mempunyai hobby ini harus melengkapi dengan peralatan-peralatan umumnya seorang pemancing. Seperti stick lengkap dengan rol senar dan mata pancingnya. Kalau saya menyebutnya dengan nama “walesan” lengkap. Artinya sudah termasuk senar secukupnya plus mata pancing minimal 1 mata.

Siapa saja boleh melakukannya. Dari anak kecil sampai orang dewasa bisa melakukannya. Cuma yang perlu diketahui adalah perubahan budaya memancing dan tehnologinya yang sangat mencolok antara saya di waktu kecil dengan budaya memancing saat ini. Kalau dulu, orang memancing hanya pakai “walesan” sederhana. Tempat memancing juga alami, seperti di sungai, danau atau bisa juga di laut. Belum banyak, bahkan mungkin belum ada sarana kolam pancing seperti saat ini. Dimana kolam untuk “memancing” sudah dimodifikasi menjadi sebuah ladang bisnis yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang bagi yang mengelolanya.

Saat ini memancing sudah menjadi sebuah kegiatan yang eksklusif. Dimana harga peralatan pancingnya satu set bisa mencapai jutaan rupiah. Biaya pembuatan “umpan” juga tidak murah. Tergantung bahan yang akan dipakai untuk membuatnya. Belum lagi biaya “ticket” memancing yang dihitung per jam, dan setiap orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kolam pancing. Bahkan sering ada yang menghabiskan hampir tiap malam berada di kolam pancing hanya untuk memanjakan diri dalam kesenangan.

Ada lagi yang lebih mahal biayanya, seperti memancing di tengah lautan. Memancing di tengah lautan memang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai kelebihan materi yang berlimpah. Disamping peralatan pancing yang serba modern, masih ditambah dengan biaya sewa perahu atau bahkan kapal khusus untuk memancing yang sulit di jangkau untuk orang kebanyakan. Bagi kita yang hidup pas-pas-an mungkin hanya sebuah keinginan. Yang mungkin hanya bisa dilakukan dalam sebuah mimpi dan tidak membutuhkan biaya sedikitpun.

Tentu saja budaya memancing modern tidak bisa dijadikan analogi untuk memancing “berkah”. Hasil yang diperoleh dari memancing di kolam pancing kadang tidak sesuai dengan pengorbanan yang dilakukan. Mereka hanya menyalurkan hobby atau kesenangan. Sehingga mereka tidak perduli dengan hasil yang akan di dapat, apakah sesuai dengan biaya yang dikeluarkan atau tidak. Bagi mereka memancing adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Yang tidak bisa di ukur dengan berapa biaya yang akan dikeluarkan. Bahkan mereka tidak perduli dengan biaya, karena secara umum mereka adalah orang-orang yang mampu secara materi.

Berbeda dengan pemancing tradisional, yang kadang menjadikan memancing sebagai mata pencaharian. Umpan yang digunakan kadang hanya “cacing” yang bisa dicari di “galengan” sawah. Dan jika mendapatkan ikan, sudah pasti nilai ikan itu tidak bisa di ukur dengan “cacing”. Tapi jika lagi “sepi”, hasil yang di dapat juga tidak sesuai dengan pengorbanan berupa waktu dan fisik.

Persamaan dari keduanya adalah sama-sama membutuhkan kesabaran dalam melakukannya. Dan inilah yang menjadi kunci dari aktifitas “memancing”. Disamping kesiapan fisik dan mental, kesabaran menjadikan salah satu “ujian” sebelum mereka bisa mendapatkan sesuatu seperti yang di harapkan. Perbedaan yang nyata adalah pengorbanan berupa “umpan” dan biaya “ticket” yang sangat mencolok. Yang modern biayanya relatif besar, yang tradisional biayanya begitu minimal.

Sedangkan memancing “berkah” bisa di ibaratkan memancing dengan cara tradisional. Alat yang digunakan tidak perlu mahal, juga tidak perlu membayar ticket begitu besar. Asal segala sesuatu yang berkaitan dengan turunnya berkah dipenuhi, Insya Allah berkah dari Allah pasti akan turun dan sampai kepada kita. Dengan persiapan secukupnya dan kesungguhan hati dalam “meminta” serta kesabaran dalam menunggu realisasi berkah yang kita harapkan, niscaya kita akan mendapatkannya. Yang sangat diperlukan adalah kesabaran dan ketaatan dalam Iman atau keyakinan kepada Allah sebagai pencipta, penguasa sekaligus pemberi berkah bagi semua umat manusia di dunia.

Memancing berkah tidak memerlukan stick yang harganya jutaan rupiah. Sebagai ganti “senar” adalah do`a atau permintaan dan stick setnya adalah “Iman” atau keyakinan pada tauhidnya Allah. Umpannya adalah “sedekah” secukupnya disertai keikhlasan. Dengan berharap terkabulnya permintaan serta rasa takut tidak terkabulkan, kita tunggu hasil do`a kita dengan “kesabaran”. Sudah cukupkah ? Belum ! Coba perhatikan firman Allah di bawah ini.

QS. Al Mu`min : 60.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴿٦٠﴾
”Wa qaalaa rabbukumud `uunii astajib lakum. Innal ladziina yastakbiruuna `an `ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhriina”.

Dan Tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

QS. Al Baqarah : 186.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴿١٨٦﴾
“Wa idzaa sa`alaka `ibaadii `annii fa`innii qariibun, ujiibu da`watad daa`in idzaa da`aani, falyastajiibuulii wal yu`minuubii la`allahum yarsyuduuna”.

”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Dua ayat tersebut adalah jaminan dari Allah swt. bahwa setiap diri kita, dipersilahkan untuk meminta sesuatu kepada Allah. Dan pasti Allah akan mengabulkannya. Ini adalah sebuah janji dari Allah dan pasti akan di tepati olehNya. Mereka yang menyombongkan diri dan tidak percaya akan kuasanya Allah dalam memenuhi janjinya serta enggan atau tidak mau menyembah dan meminta kepada Allah, akan ditempatkan di neraka sebagai suatu kepastian yang telah di tetapkan.

Ayat dibawahnya bahkan lebih spesifik lagi menjelaskan bagaimana agar do`a kita dikabulkan oleh Allah. Maka hendaknya tiap diri yang berdo`a atau meminta mempunyai sifat “taat” terhadap apa yang diperintahkan kepadanya. Taat dengan memenuhi semua perintahNya, baik shalat, zakat dan sedekah, puasa serta ibadah haji jika mempunyai kemampuan materi. Dan kesemuanya dari palaksanaan perintah tersebut mutlak harus dilandasi dengan “Iman” atau keyakinan terhadap tauhidnya Allah dan kuasanya Allah dengan kebenaran semua sifat-sifatnya.

Lantas apa korelasinya dengan orang memancing ?

Memancing hanyalah sebuah perumpamaan untuk orang yang berdo`a dengan mengharapkan sesuatu kepada Allah. Tiap orang yang “memancing” hampir pasti mengharapkan akan dapat “ikan”. Dan ikan yang di dapat hampir pasti lebih besar dari pada “umpan” yang di pasang. Dan ini sudah pasti, karena ikan yang “kecil: tidak akan bisa untuk menelan “umpan” plus mata kailnya. Jadi hasil yang akan kita dapatkan dari “memancing” pasti lebih besar dari “umpan”.

Stick atau “walesan” adalah Iman yang berfungsi sebagai “pegangan”. Tali “senar” adalah do`a atau permintaan yang kita sampaikan. Mata kail adalah tumpuan asa atau harapan yang berpadu dengan rasa takut akan lolosnya “ikan” atau sasaran. Dzikir atau ingatan kepada Allah berfungsi sebagai shalat dan “umpan” yang ada di mata kail adalah “sedekah” nya. Jika semua itu sudah terpenuhi, kita tinggal menunggu dengan kesabaran “ketentuan” Allah tentang kapan turunnya berkah yang kita harapkan.

Demikian juga do`a kita, jika semua syarat sebuah permintaan atau terkabulnya do`a kita sudah terpenuhi, maka yang harus diperhatikan adalah pelaksaan ibadah shalat dan kesabaran dalam menunggu ketentuan datangnya hasil do`a kita dari Allah swt. Shalat dan kesabaran ini menjadi syarat mutlak dalam pengajuan permintaan kita kepada Allah. Seperti yang informasikan dua ayat di bawah ini.

QS. Al Baqarah : 45.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ﴿٤٥﴾
“Wasta`iinuu bish shabri wa shalaati, wa innahaa la kabiiratun illaa `alal khaasyi`iina”.

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,

QS. Al Baqarah : 153.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴿١٥٣﴾
“Yaa ayyuhal ladziina aamanuusta`iinuu bish shabri wa shalaati, innallaha ma`ash shaabiriina”.

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sebagian orang menerjemahkan “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. Bisa pula di maknai untuk tetap menjalankan shalat sebagai suatu kewajiban yang mutlak. Jangan pernah meninggalkan shalat, karena shalat merupakan ibadah utama bagi orang-orang yang beriman. Dalam shalat adalah bukti interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan kesabaran adalah bukti kekuatan Iman seorang hamba terhadap “ujian” yang di hadapinya.

Lalu adakah perintah yang lain dari Allah agar permintaan kita pasti terpenuhi ? Marilah kita perhatikan salah satu ayat di surat :

QS. Al Qashash : 77.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴿٧٧﴾
“Wabtaghi fiimaa aataakallahud daral aakhirata, wa laa tansa nashiibaka minad dunyaa, wa ahsin kaamaa ahsanallahu ilaika, wa laa tabghil fasaada fiil ardhi, innallaha laa yuhibbul mufsidiina”

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk mengusahakan diri demi kepentingan akhirat. Tapi ayat ini juga mengingatkan kepada kita untuk tidak melupakan kepentingan dunia kita. Lalu Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu berbuat baik terhadap sesama, seperti Allah juga selalu berbuat baik kepada kita. Untuk apa ? Agar orang lain juga merasakan kebaikan-kebaikan kita dan akan ikut men”support” do`a-do`a kita. Sehingga kita bisa memperbesar harapan untuk terkabulnya permintaan-permintaan kita kepada Allah swt.

Hasilnya ? Tetap merupakan hak prerogatif Allah. Ada yang dikabulkan dalam waktu yang dekat, ada yang ditunda untuk jangka waktu yang relatif, ada pula yang dikabulkan kelak di periode akhirat. Sangat tergantung dengan apa yang kita mintakan kepada Allah. Jika permintaan kita berupa materi keduniaan, mungkin juga akan dikabulkan selama kita masih hidup di dunia. Hanya kemungkinan waktunya yang kita tidak dapat memastikan. Jika menyangkut urusan akhirat, sangat mungkin akan dikabulkan kelak di akhirat.

Tapi mungkin juga bisa terjadi permintaan materi keduniaan tidak dikabulkan, lalu Allah mengganti dengan kenikmatan-kenikmatan kehidupan akhirat. Karena bagaimanapun Allah menghendaki sesuatu yang lebih baik bagi hambanya. Terutama mereka yang paling sabar dalam menghadapi ujian-ujian yang diberikan kepadanya. Dan hal seperti ini hanya bisa terjadi kepada orang-orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sehingga minimnya limpahan materi dalam kehidupan dunia tidak menjadikan dirinya berpaling dari Allah.

“Memancing” hanyalah sebuah kata pinjaman. Yang padanya ada sebuah pelajaran yang bisa kita ambil. Dari Iman atau keyakinan dan amalan yang baik yang di cerminkan dengan “usaha” dan segala sesuatu yang harus di persiapkan untuk “menjemput” berkah Allah demi kehidupan dunia akhirat. Lalu dipadukan dengan sikap sabar dalam menerima ketentuan Allah, niscaya akan kita dapatkan sebuah ketentuan yang paling baik buat diri kita yang diberikan oleh Allah untuk hidup kita kelak di akhirat.

Sebuah kehidupan yang sebenarnya, yang tidak hanya berumur puluhan tahun, tetapi jauh melebihi waktu yang pernah kita bayangkan lamanya. Masa yang tidak sebanding dengan ujian hidup di dunia. Begitu lamanya, hingga kita tidak mengenal kata kematian seperti kehidupan kita di dunia. Kekal. Sepanjang Allah menghendaki kekalnya. Tidak akan pernah berakhir, sepanjang Allah belum menggulung langit dan melenyapkan semua yang ada di alam semesta ini.

Sekian.

Wrote by : Agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 8, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: