RSS

Ketika Dekat, Aku Sudah Mati.

01 Jul
 

Aku mulai berpikir ketika aku mulai bisa berpikir. Tapi yang kupikirkan hanyalah sebatas sesuatu yang tampak di kedua bola mataku. Seberkas wajah yang begitu mempesona dengan balutan warna tulang telah membuatku ekstase. Tak sedetikpun waktu berlalu tanpa senyumnya. Kadang bibirku tersenyum tanpa didahului kata. Di kesendirian kutumpahkan semua kata-kata indah. Kutuang dalam lembaran-lembaran berwarna, lalu kubingkai dengan bunga-bunga yang indah.

Saat-saat berlalu tanpa sentuhan. Jauh dari jangkauan jari jemariku. Hanya pandangan mata yang berucap mesra. Menuangkan isi hati dan pikiran yang penuh dengan khayal dan angan. Menceritakan kata hati yang tak sanggup kuucapkan dengan lisan. Betapa indah hidup ini. Serasa di awang-awang. Senyumnya membuat pikiranku lelap. Tak bisa berpikir yang lain kecuali wajahnya, bola matanya, rambut di keningnya dan gemulai langkahnya.

Kulalui waktu demi waktu tanpa ingat kepadaMu yaa… Allah.

Malam berselimut bintang. Ketika hening itu mulai sedikit mencekam, aku mulai tersadar. Aku sendirian ditengah malam. Aku tak punya apa-apa. Aku tak punya siapa-siapa. Aku tak punya dunia. Yang akan bisa menahan batang tubuhku. Yang bisa membawa langkah kedua kakiku. Menuju sebuah pintu gerbang pengikat dua hati yang sebelumnya berserakan. Aku mulai berfikir lagi. Berfikir untuk mencari duniaku. Tapi aku tak pernah tahu, dari mana aku harus memulai.

Kulalui waktu demi waktu tanpa ingat kepadaMu yaa… Allah.

Kucari duniaku dengan berbekal segenggam tanah. Berjalan tanpa arah bagai debu yang berterbangan. Kugenggam tanah yang lain. Untuk kupadu dengan tanah di genggaman tangan yang lain. Tapi apa yang kutemukan ? Tanah di genggamanku yang lalu telah sirna. Tak berbekas. Aku tak tahu kemana perginya. Dengan lunglai kulangkahkan lagi kakiku mencari dunia yang lain. Ketika sampai tangan kananku menggapai, genggaman di tangan kirikupun telah sirna. Begitu selalu. Semakin tak kumengerti apa yang sedang terjadi.

Tanpa sadar, aku telah sampai di pintu gerbang perjalanan hidupku. Dengan segala keterbatasan dunia yang kumiliki aku meniti tangga. Kutemui sebuah jembatan diatas sungai yang kering, tanpa aliran air. Yang ada hanyalah rumput-rumput kecil sisa makan sekumpulan kambing. Kujalani mimpi hidupku bersamanya. Senang, susah berbaur menjadi satu dalam sebuah kesederhanaan hidup. Satu demi satu buah hatiku datang. Menjadikan hidupku lebih berwarna. Perlahan kurasakan nikmat kehidupan. Semakin hari semakin terasakan nikmatnya. Tak terasa begitu mudahnya semuanya kuraih.

Lalu datang sekumpulan setan yang menawarkan berbagai kenikmatan dunia. Dengan bujuk rayunya yang demikian memikat, membuat hanyut sedikit demi sedikit keyakinan yang baru terajut. Tanpa sadar kuikuti langkah-langkahnya. Kuturuti kata-katanya. Kuikuti saran-sarannya. Lalu kuterjuni dunianya.

Kulalui waktu demi waktu tanpa ingat kepadaMu yaa…Allah.

Tanah dalam genggamanku tak lagi mudah sirna. Bahkan telah datang pula genggaman tanah dari tangan yang lain. Kunikmati hidupku dengan senyum dan tawa. Kumanjakan bunga di sebelahku, kumanjakan pula buah-buah hatiku. Kuturuti nafsu duniaku seperti aku tak pernah memilikinya. Kubiarkan diriku larut dalam manisnya dunia. Kubiarkan bunga dan buah hatiku menikmati dengan seleranya. Kakiku semakin kuat melangkah. Tak lagi rapuh seperti dulu. Lelah seakan menjauh. Berganti dengan kekuatan yang entah dari mana datangnya.

Dunia semakin indah dalam pandanganku. Kugapai apa yang bisa kugapai. Kuraih apa yang bisa kuraih. Tak perduli lagi dengan tangan yang mana aku memperolehnya. Mataku tertutup. Tak bisa melihat lagi kenyataan hidup yang sebenarnya. Leherku bahkan terkunci. Tak bisa lagi kupalingkan kearah yang lain. Tanganku begitu aktif, kakiku begitu lincah. Kubiarkan dia melangkah tanpa arah, asal tidak mengganggu kesenangan hatiku. Tak ku hiraukan bunga dan buah hatiku, kutinggalkan larut dalam kesenangan hidup yang nyata. Yang sebenarnya semu belaka.

Kubiarkan bungaku sendirian, kulepaskan buah hatiku di bebasnya alam. Sendirian kurajut benih-benih dosa. Kubeli kemaksiatan ditiap malam, bersama sekumpulan burung-burung hantu. Yang tak pernah lepas melayangkan pandangannya yang tajam. Yang siap memangsa siapa saja yang datang, untuk menjadi korban biadabnya nafsu. Tak ada waktu tanpa rajutan dosa. Semakin jauh aku melangkah semakin banyak jurang ku temui. Tak peduli lagi dimana letak kebenaran. Semua sudah terbungkus dan terbingkai dengan keindahan lukisan setan.

Kulalui waktu demi waktu tanpa ingat kepadaMu yaa…Allah.

Tanpa sadar aku telah meninggalkan bunga dan buah hatiku di kejauhan. Tanpa sadar pula aku telah membawa mereka masuk dalam kegelapan. Tanpa sadar aku berenang dalam laut yang memabukkan. Tanpa sadar pula begitu banyak racun dunia yang sudah aku telan. Kesombongan telah melekat erat di sikapku. Ketidak pedulian telah pula menghiasi sifatku. Semakin jauh aku melangkah semakin jauh pula aku meninggalkanNya.

Begitu indah terbuai mimpi ditiap malam yang kulalui, menyebabkan aku selalu merindukan saat tidurku. Kunikmati lelapnya malam dalam sebuah fantasi dunia. Membuatku tak lagi merasakan putaran waktu. Makin lama makin terasa, bahwa waktu akan menelan semuanya. Semua yang pernah ada dan pernah singgah di bola mata, lambat laun tak terdengar lagi bisikan-bisikannya. Adakah semua akan sirna ? Meninggalkan aku sendirian seperti semula ?

Perlahan kakiku mulai bergetar. Tak lagi bisa berdiri tegak. Pandangan mataku mulai suram. Tak lagi jelas apa yang sedang kuperhatikan. Kurasakan dunia mulai gelap. Keperhatikan wajahku di cermin. Seakan bukan diriku. Seakan telah lenyap wajah yang selalu kubangga-banggakan selama ini. Kemana? Kemana semua yang pernah kumiliki selama ini ? Bunga satu-satunya milikku juga tak jauh berbeda. Lemah, layu, rapuh, tak berdaya. Buah hatikupun telah tumbuh jauh dari jangkauan.

Kulalui waktu demi waktu tanpa ingat kepadaMu yaa…Allah.

Kepalaku tersentak. Kulihat seberkas sinar menyambar di depan mata. Membuatku takut. Takut yang amat sangat. Tiba-tiba mataku basah, keringat dingin mulai terasa mengalir di pori-pori kulitku. Membuatku semakin takut. Takut kalau-kalau kematian segera datang menjemput. Kubuka mataku sejenak untuk memastikan bahwa semuanya telah berlalu. Kuangkat tubuhku. Berat. Seberat beban yang saat ini berada di punggungku. Dosa-dosa yang begitu banyak. Bagai bongkahan batu membentuk gunung.

Perlahan kulangkahkan kaki keluar kamar. Tak terlihat seorangpun berada di sana. Kulangkahkan kakiku lagi lebih jauh keluar. Hening. Tak terdengar apapun. Perlahan aku bersimpuh di atas rumput. Berat. Nafasku begitu berat. Dengan cemas kutunggu datangnya mentari. Lama kutunggu sendirian. Selimut malam yang dingin tak lagi ku hiraukan. Samar-samar terdengar suara burung. Semakin lama semakin dekat dan semakin jelas terdengar. Gemetar aku mendengarnya. Kututup telinga rapat-rapat. Tapi burung itu tak mau segera pergi. Terus berputar di atas atap gubuk reotku.

Beberapa saat kemudian hening kembali datang. Lalu disusul suara adzan dari surau kecil di ujung jalan. Ya,.. aku masih ingat suara itu. Suara yang tidak asing di masa kecilku. Tak terasa lagi air mataku mengalir deras. Aku menangis. Menangis keras di keheningan subuh. Mengakibatkan sedikit kegaduhan di suasana desa yang sunyi. Beberapa saat kemudian terdengar suara menyebut-nyebut sebuah nama. Sebuah nama yang pernah begitu akrab di telingaku.

“Pak Parto,…….Pak Parto,…….hidup !……. Pak Parto hidup lagiiiiiiiii,……..” . Semakin lama semakin jelas dan semakin banyak suara berdatangan ke gubuk reotku. Tangisku belum berhenti. Sementara semakin banyak orang berkerumun di gelapnya subuh itu, semakin sesak pula nafas di dadaku.

“Lampu,…tolong ambilkan lampu dan bantu untuk mengangkat Pak Parto”, salah seorang dari mereka berkata pada yang lain. Tak lama kemudian suasana yang begitu gelap berubah menjadi terang. Disamping lampu yang telah datang, mentaripun sudah sedikit menampakkan wajahnya. Beberapa orang membantu mengangkat tubuh lemahku ke dalam gubuk. Lalu seseorang menyodorkan segelas air putih. Sambil memegang telapak tanganku.

Tak ada pertanyaan. Hening kembali datang. Semua orang duduk diam di depan mataku. Seakan menunggu apa yang akan aku katakan. Perlahan aku membuka mulut. Dengan lemah aku bertanya kepada mereka, “Dimana isteriku ?”

Tak ada jawaban. Hening. Kuulangi lagi pertanyaanku, “Dimana Isteriku?”. Lalu terdengar jawaban, “Pak Parto,….P ak Parto sudah bisa mendengar ya ?”. aku menganggukkan kepala dengan pelan.

“Pak Parto,….ibu sudah meninggal pak”, kata seseorang yang duduk di paling depan.

Tiba-tiba air mataku menetes lagi. Tapi tak terdengar tangisku. Hanya begitu perih dalam hati yang menyebabkan tak kuasanya aku menahan lelehnya air mata. Lalu aku mengangguk-anggukkan kepala lagi untuk memberikan tanda kepada mereka bahwa aku kuat untuk menahan semua yang telah terjadi. Kemudian salah satu dari mereka bercerita bahwa, istriku telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Aku tidak tahu dan tidak pernah tahu karena saat itu aku sudah “mati”

Aku “mati” karena aku sama sekali tak bisa bergerak dan membuka mata. Hanya nafas yang masih tersisa. Hingga tak terasa sampai datang seberkas sinar menyambar di sebuah malam yang begitu hening dan menyadarkanku dalam tidur lelap “matisuri”. Lalu kudengar lagi cerita yang lain yang membuatku begitu trenyuh. Bahwa selama aku “mati” seseorang telah begitu sabar dan telaten mengunjungiku dan mengusap tubuhku dengan air setiap hari. Seseorang itu adalah kakek tua yang tinggal di ujung desa yang setiap harinya melewati gubuk reotku sambil menghalau kambingnya.

Ya,.. Allah. Tiba-tiba mulutku menyebut namaNya. “Ya Allah begitu lama aku menjauhimu. Begitu kejam aku mempermainkan Iman kepadaMu. Begitu banyak dosa yang ada di pundakku. Yang tak mungkin engkau ampunkan ya Allah. Dahulu aku tak punya sesuatu apapun. Tak punya siapapun. Kini aku kembali sendiri. Tak punya sesuatupun yang bisa kubuat sandaran. Ya Allah,…. aku tahu seberapa besar dosaku. Aku tahu seberapa besar dosaku terhadap istriku,.. aku tahu seberapa besar dosaku terhadap anak-anakku,….aku tahu seberapa besar dosaku terhadap orang-orang yang ada di depanku,….mereka tak pernah tahu apa yang pernah aku perbuat dalam hidupku. Mereka tak pernah tahu betapa ingkarnya aku kepadaMu. Aku datang pada mereka saat semuanya sudah sirna.

Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari sisa hidupku. Selama ini telah kusia-siakan kesempatan yang Engkau berikan. Betapa malunya aku ya Allah. Aku akan kembali kepadaMu dalam keadaan hina. Tak punya ilmu, tak punya amal yang baik. Sendiri dalam kehinaan. Kala hidup begitu jauh dariMu ketika dekat hari kematian justru aku sudah “mati”. Ya Allah untuk terakhir kali aku menyapamu. Aku akan kembali kepadamu untuk memenuhi hukumanMu”

Sesaat aku terpaku. Pandangan mataku kosong. Masih kurasakan ketika tubuhku lunglai, lalu terjatuh dipangkuan kakek tua yang meneteskan air matanya. Sayup-sayup kudengar dalam tidurku, “Pak parto pergi,….. pergi meninggalkan gubuknya,…..pergi meninggalkan dunianya. Meninggalkan kita semua.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji`uun.

Sekian.

Ditulis : Agushar, 22 Juni 2010.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 1, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: