RSS

Mengapa Kita Takut Mati.

20 Agu

Sebagian orang mengatakan dirinya tidak takut mati, tapi disaat berhadapan dengan kematiannya sendiri terlihat begitu ketakutan. Kenapa? Padahal mereka sudah mengatakan tidak takut mati. Sebagian orang lagi kalau ditanya, “Mau nggak jika sewaktu-waktu diambil nyawanya oleh Allah ?”. Kebanyakan bilang “Jangan dulu!”, kenapa ? “Belum siap”. Kalau ditanya lagi, “Apanya yang belum siap?”. Jawabnya kebanyakan “klise” yaitu, “Sangu atau bekalnya belum punya !” dan ini merupakan jawaban yang paling dominan selain alasan keberatan meninggalkan anak dan istri serta harta bendanya.

Alasan lain lagi mungkin kita telah banyak melihat “kematian” dan segala proses yang berkaitan dengan kematian itu sendiri. Suatu keadaan dimana tubuh mengejang disaat “sakaratul maut” dan terbujur lemas untuk kemudian diam, kaku, tak berdaya, mati. Lalu terdengar rintih tangis yang memilukan dari orang-orang dekatnya. Sesaat lagi tetangga dekat berdatangan ke rumah duka ingin menyaksikan untuk terakhir kali. Sampai beberapa saat kemudian, setelah puas dalam rintihan dan tangisan, tibalah waktunya untuk memperlakukan “jenazah” sebagaimana mestinya.

Dalam ruangan yang cuma tertutup tabir berupa kain, jenazah harus dimandikan lebih dahulu. Kenapa? Untuk di”suci”kan setelah dimandikan. Karena untuk menghadap Allah harus suci dari hadats. Alasan lain, karena sudah “mati”, maka tidak bisa mandi dan bersuci sendiri. Oleh karena itu harus orang lain yang merawatnya, terutama dari keluarga dekat dipandu oleh seorang modin atau pemimpin agama setempat. Setelah itu baru dikafani atau dibungkus kain putih untuk kemudian dishalatkan bersama-sama. Sesaat kemudian, dipersiapkanlah sebuah sambutan untuk para pelayat yang datang sebagai bentuk pesan-pesan terakhir sebelum diberangkatkan ke makam.

Isi dari sambutan berkisar pada permintaan maaf dari keluarga atas segala kesalahan yang telah diperbuat “almarhum” selama dalam hidupnya. Dan permohonan untuk mengiringi kepergian jenazah dengan do`a, agar semua kesalahan “almarhum” mendapatkan ampunan dari Allah. Diiringi kalimat tahlil, jenazah diberangkatkan menuju tempat “tidur” khusus untuk mereka yang sudah meninggal. Yaitu sebuah tempat yang sudah dipersiapkan atau digali sebelumnya. Sebuah lubang yang berukuran dua kali setengah meter dengan dalam berkisar kurang dari dua meter. Yang kadang terlihat kering di musim kemarau dan basah bahkan penuh air di musim hujan.

Dengan perlahan jenazah di”tanam” atau dikuburkan dalam ruangan yang sempit tersebut tanpa bekal materi apapun. Karena sesungguhnya setiap jenazah tidak memerlukannya. Yang paling penting bagi jenazah adalah bekal Iman dan amalan yang baik selama hidup di dunia. Setelah tanah urugan terlihat menggunduk dan sudah terpasang “nisan” sebagai identitas mayyit. Kemudian dibacakan talqin untuk menuntun mayyit menjawab semua pertanyaan dari malaikat utusan Allah tentang “Keimanan”nya selama hidup. Diakhiri dengan do`a untuk si mayyit dan sedikit sambutan keluarga, maka berakhir pulalah prosesi pemakaman.

Satu demi satu para pengantar kembali ke rumah masing-masing. Meninggalkan beberapa orang dari keluarga dekat yang masih enggan untuk meninggalkan kubur baru kerabatnya tersebut. Tapi pada akhirnya akan pergi pula meninggalkan “kerabat” dekatnya. Jadilah mayyit dalam lubang sendirian. Gelap, tak ada cahaya tak ada jendela. Tanpa teman, tanpa alas dan berada dalam lubang yang sempit. Semua pergi, yang terdengar hanya suara terseretnya langkah kaki yang semakin menjauh dari orang-orang yang telah mengantar kepergiannya.

Diantara sebagian orang ada yang mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap peristiwa kematian yang diketahuinya. Tapi sebagian besar yang lain menganggap sebagai peristiwa biasa. Yang kejadiaanya berulang-ulang untuk orang yang berbeda-beda. Mereka menganggap tidak ada sesuatupun pelajaran yang bisa diambil dari prosesi kematian. Semuanya tetap sama dari dulu hingga sekarang tidak ada satupun yang berubah, hingga tidak ada sesuatu yang lain yang bisa membuat kesan baru tentang peristiwa sebuah kematian. Yang melekat hanya kata, “kita semua nantinya akan mati juga”. Kesannya hanya sampai pada “kematian” dan bukannya peristiwa “setelah” kematiannya.

Memang kebanyakan kita hanya menyadari kalau kita semua pasti akan mati. Tentang semua peristiwa setelah kematian, kebanyakan tidak banyak memberikan perhatian “khusus”. Kita lebih banyak bersikap “wis opo jare mengko wae”. Perkara sekarang ya sekarang, perkara mati itu urusan nanti. Yang penting sekarang dinikmati saja hidup ini dan biarkan semua mengalir begitu saja. Pada akhirnya nanti kan sampai juga. Tentu saja sampai pada “kematian” kita. Prinsip seperti inilah yang menyebabkan kecilnya arti kehidupan.

Sebenarnya kita sudah menggenggam kata “sangu yang minim” sebagai alasan ketakutan kita pada kematian. Tapi kepedulian kita pada “sangu” juga sangat minim. Hal itu bisa terlihat beberapa hari setelah sebuah peristiwa “kematian” seseorang yang ada di dekat kita. Tidak ada perubahan yang berarti pada perilaku ibadah kita selain hanya “partisipasi” dalam acara “tahlilan” selama tujuh hari. Ke empat puluh hari atau ke seratus harinya. Tapi keyakinan atau keimanan kita juga tidak pernah beranjak naik alias jalan di tempat.

Semua prosesi dalam sebuah peristiwa kematian yang kita saksikan harusnya bisa menjadi pengingat tentang peristiwa yang akan terjadi setelah kematian itu sendiri. Dan seharusnya pula bisa menjadi pengingat tentang “sangu” seperti yang kita jadikan alasan tentang takutnya kita pada kematian. Jika benar kita takut mati karena nggak punya “sangu” ya segeralah berusaha untuk “mencari” sangu tersebut. Bukan ilmu yang setinggi langit atau materi yang setinggi gunung, tetapi sangu atau bekal yang paling baik adalah ketaqwaan kita kepada Allah. Yaitu ketaatan dalam menjalankan semua perintah dan menghindari semua larangan.

Mungkin diantara kita banyak hafal tentang alunan syair dikala menunggu shalat di masjid. Yang kalau tidak salah berbunyi, eling-eling para manungsa, lanang wadon enom lan tuwo, mbesuk kabeh bakale mati, yen wis mati ora bakal bali. Sebuah pengingat kepada seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, kalau semuanya nanti pasti mengalami kematian. Dan jika sudah mati, kita semua tidak akan bisa kembali ke alam dunia seperti saat ini. Tapi syair seperti ini rasanya lewat saja di telinga, tak banyak yang berusaha menghayati.

Bait selanjutnya berbunyi, tumpak`ane kereto jowo, rodho papat rupa menungso, jujugane omah guwo, tanpo bantal tanpo keloso. Ditempatkan di “pendhuso” dan diangkat oleh minimal empat orang yang berjalan kaki menuju sebuah lubang yang sempit dan gelap. Lalu ditidurkan sendirian tanpa bantal yang biasanya kita pakai di tempat tidur. Juga tanpa alas tikar, apalagi kasur. Yang ada hanya kain putih yang langsung bersentuhan dengan tanah dan bantal dari bulatan-bulatan tanah basah. Bait inipun tidak banyak memberikan pengaruh “takut” dan “taat”. Mungkin hanya dianggap sebagai nyanyian belaka.

Syair lanjutannya, ditutupi anjang-anjang, diurugi disiram kembang, kabeh tonggo podho sambang, podho nangis koyo wong nembang. Setelah mayyit diletakkan pada posisi yang pas, lalu ditutup dengan papan miring atau ditutup dengan papan yang sudah dibentuk persegi panjang. Kemudian ditimbun dengan tanah asal galian sampai menggunduk. Setelah dipasang nisan sebagai identitas kubur, lalu ditaburi bunga untuk menebar wewangian dan sebagai tanda perpisahan. Tetangga-tetangga semua sama menghantarkan, diantara mereka ada yang menangis sesenggukan. Seperti sebuah alunan lagu atau tembang.

Akhir dari syair berbunyi, omah sumpeg ora ono lawange, petheng dedhet ora ono lampune, turu ijen ora ono kancane, klabang lan orong-orong kancane. Rumah yang begitu sempit, tanpa pintu lagi, semua tertutup rapat. Keadaan yang sangat gelap karena memang di dalamnya tak ada penerangan apapun. Sendirian, tanpa satupun teman. Hanya berteman dengan binatang-binatang tanah seperti “kelabang” dan “orong-orong”. Begitu mencekamnya kalau kita mau membayangkan dengan sungguh-sungguh. Tapi kebanyakan diri kita sudah terlanjur menganggap hanya sebuah nyanyian. Hingga tak pernah terbersit makna atau pesan yang sesungguhnya dibawa oleh kata demi kata syair tersebut.

Sesungguhnyalah, ketakutan kita pada kematian bukanlah perkara “sangu”, karena pada umumnya kita tidak pernah atau jarang memikirkan dan mengusahakan sangu tersebut. Hanya sebagian kecil orang yang memahami makna hidup sebenarnya sajalah yang mau mengusahakan “sangu” tersebut. Sedangkan sebagian besar yang lain hanya sibuk dengan urusan duniawinya saja. Alasan “sangu” yang belum ada hanya sebagai isyarat kalau kita sebenarnya masih ber-agama. Hanya saja kita lebih banyak dan lebih suka mengabaikan perintah dan larangannya.

Ketakutan kita pada kematian sebenarnya hanya bersumber pada dua hal. Yang pertama, karena kita terlanjur mencintai dunia sehingga kita begitu takut untuk meninggalkannya. Kita juga terlanjur memiliki sesuatu yang begitu kita cintai sehingga membuat kita begitu takut kehilangan semuanya. Sedangkan yang kedua adalah, kita takut mati karena kekhawatiran kita tentang kebenaran berita-berita yang bersumber dari kitab suci agama kita. Jangan-jangan semua berita tentang siksa yang akan ditimpakan kepada kita akan menjadi kenyataan. Juga karena keyakinan kita bahwa kita termasuk mereka yang akan mendapatkan siksa tersebut.

Sebenarnya kita semua ini meyakini, bahwa kita akan mendapat siksa setelah kematian kita. Karena kita juga yakin kalau perbuatan kita seringkali tidak mencerminkan sebagai orang yang ber-agama. Agama hanyalah sebuah identitas. Makna agama kita tidak tahu. Kitab suci kita nggak pernah membacanya. Shalat hanya kalau ingat. Itupun belum tentu ikhlas melakukannya. Lebih banyak “pokok`e” shalat. Lalu mudah sekali untuk meninggalkanya hanya karena urusan dunia yang sepele. Tak pernah berusaha untuk meningkatkan iman atau keyakinan dan lebih suka beragama “semau gue”.

Terkadang bisa juga dikatakan kalau kita ini “alergi” dengan agama. Kenapa ? Coba saja kalau mendengar orang berbicara tentang Iman dan amal shalih, telinga rasanya panas. Ingin segera keluar dari pembicaraan atau ingin segera pergi saja ke tempat lain. Kalau memilih channel TV dan ketemu dengan acara “dakwah” agama, pasti cepat-cepat kita pindah channel. Kadang juga disertai kata “pancet ae”, mblenger, sing dibahas kok iku thok ! Kalaupun mendatangi acara pengajian, yang dipilih dan didengarkan cuma banyolannya saja. Ketika sampai pada masalah inti tentang agama, mata langsung terpejam dan kepala “theklak-thekluk” atau ngantuk.

Itulah cermin kebanyakan dari diri kita. Belum lagi kalau disodori kaleng sumbangan di dalam masjid atau proposal permintaan sumbangan pembangunan masjid di lingkungan rumahnya. Kaleng langsung didorong ke orang disebelahnya. Sumbangan hanya sekedarnya saja. Memilih yang terkecil diantara nominal sumbangan yang paling kecil. Kebanyakan sumbangan hanya berkisar ribuan saja, tapi pakaian yang dikenakan kadang berharga ratusan ribu. Belum lagi perhiasan yang dipakai. Benar apa nggak ? Makanya, kita semua ini takut pada kematian ! Karena dalam hati, kita sudah yakin kalau “disana” pasti akan disiksa.

Untuk itu, sebelum segala sesuatunya terlambat, marilah segera sadar. Bahwa keberadaan agama adalah untuk membimbing manusia ke jalan Allah. Tidak ada satupun jalan yang ditempuh oleh manusia di dunia ini yang benar kecuali jalan Allah. Kalau kita tidak pernah berusaha untuk berpindah jalur ke jalan Allah, niscaya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya. Yang ada cuma kekhawatiran dan ketakutan tentang kebenaran siksa-siksa yang diinformasikan dalam kitab Al Qur`an. Dan banyak diceritakan oleh para ustadz dan ulama.

Jangan kita menjauhi ulama, karena para ulama adalah pewaris para nabi. Mereka mengajarkan ilmu agama sebagai jalan menuju kebenaran langkah hidup kita. Sebagian besar dari kita termasuk orang-orang yang jauh dari ulama. Kita cenderung menjaga jarak dengan para ulama, karena alergi dengan kata-kata yang baik, apalagi yang bersumber dari Al Qur`an. Kita tidak betah duduk berlama-lama dengan mereka. Sadarlah, mereka adalah sumber ilmu dan contoh perilaku. Jika kita mendekati insya Allah kita akan beroleh banyak kebaikan. Tapi jika kita menjauh, niscaya kita akan tetap terkungkung dalam kebodohan agama. Yang akan membuat kita senantiasa takut menghadapi kematian kita sendiri.

Banyak-banyaklah membaca Al Qur`an, jangan lupa juga membaca terjemahannya. Lebih bagus lagi jika mengetahui makna lewat tafsir dan penjelasan para ulama. Bacalah sejarah Rasulullah saw. Jangan pernah bosan untuk membaca. Karena membaca adalah perintah Allah. Jika kita tidak pernah membaca kita juga tidak akan pernah tahu apa isi yang terkandung di dalamnya. Padahal isi Al Qur`an yang lebih dari enam ribu ayat mengandung banyak pelajaran hidup dan bukti-bukti peristiwa yang bisa menguatkan keimanan.

Berfikirlah selalu, bahwa semua yang hidup di alam semesta ini ada yang mengatur. Dan yakinkan pula bahwa kematian adalah sebuah jalan atau jembatan untuk menuju kehidupan yang lain. Sebuah kehidupan yang lebih panjang dan lebih dari sekedar kehidupan dunia yang saat ini kita cintai. Kematian hanyalah sebuah pengingat buat mereka yang masih hidup, bahwa apa yang diinformasikan di banyak ayat dalam Al Qur`an adalah benar. Yang mengharuskan kita yang masih hidup berusaha untuk meraih kebaikan-kebaikan apa yang ada dalam kematian kita. Baik berupa nikmat kubur maupun janji surganya Allah.

Jika kita sadar dan tahu serta yakin, niscaya kita tidak pernah takut akan kematian, karena kita memang telah mempersiapkan kematian itu sendiri. Dan setiap hari kita berusaha untuk mencari bekal yang akan kita bawa untuk kematian kita. Berupa taat pada perintah dan menghindari semua larangan. Kematian adalah sesuatu yang pasti, jadi memang benar kita pasti akan mati. Karena datangnya tidak pernah kita ketahui, maka kita siap untuk setiap saat ajal datang menjemput. Hanya Allah yang ada di pikiran dan hati kita, oleh karena itu hati kita akan selalu tenang dan tentram. Baik dalam menjalani hidup maupun menghadapi kematian yang pasti akan datang.

Jangan takut pada kematian, karena kemanapun kita pergi dan bersembunyi, ajal pasti menemukan kita. Dan jangan lagi beralasan takut mati karena “sangu”, karena yang demikian ini hanya sebuah alasan untuk bisa tetap menikmati kesenangan-kesenangan atau nikmat dunia saja. Sedangkan diri kita masih jauh dari taubat. Hentikan langkah, dan segera putar haluan di jalan Allah. Niscaya kita akan menghadapai kematian kita dengan senyum. Seperti yang pernah dilakukan oleh banyak orang-orang shalih yang telah pergi lebih dulu.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 20, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: