RSS

Dalam Naungan Allah.

02 Sep

Naungan adalah sebuah perlindungan. Disaat kita hidup seperti sekarang inipun kita membutuhkan naungan. Yaitu sebuah perlindungan yang bisa menjamin diri kita dari panasnya matahari, dari lebatnya hujan, dari kerasnya hembusan angin, dari gangguan binatang buas, dari gelapnya malam, dari gangguan orang-orang yang berniat jahat kepada kita. Semua itu saat ini bisa kita peroleh dari diri payung, jas hujan, jaket, rumah dan pagarnya, yang bagus dan kuatnya sangat relatif. Lalu api atau lampu listrik, juga laki-laki yang kekar, baik sebagai seorang suami ataupun sebagai penjaga keamanan atau satpam dengan anjing galaknya. Kadang juga menyertakan bodyguard untuk mengawal kemanapun kita pergi.

Dan kebanyakan dari kita lupa, atau bahkan sengaja melupakannya dengan tidak menghiraukan apa yang pernah kita dengan dari para kyai, para ustadz tentang keadaan di hari kiamat kelak. Jaket, payung, rumah yang kuat dan pagar yang kokohpun tidak akan bisa melindungi kita. Seluruh manusia akan sibuk dengan keselamatannya sendiri. Tidak perduli kepada orang lain, meskipun anak dan istri sendiri. Semua akan sibuk mencari perlindungan yang hampir mustahil akan mereka dapatkan, karena saat itu semua harus binasa. Tidak ada yang akan bisa menolak apa yang terjadi pada saat itu. Sebuah kehancuran yang melenyapkan kehidupan. Yang membuktikan kebenaran sebuah kata ada dan tiada.

Tidak ada naungan atau perlindungan pada hari kehancuran tersebut, karena memang sudah tidak perlu lagi sebuah perlindungan. Semua harus binasa, kecuali Allah, dzat yang Maha Hidup. Kehancuran kehidupan dunia itu adalah sebuah kepastian. Sebagai akhir kehidupan dunia sekaligus sebagai awal dari sebuah kebangkitan yang pernah dijanjikan oleh Allah swt. Sebagai awal kehidupan yang lain yang juga pernah dijanjikan oleh Allah swt. Sebagai balasan atas semua apa yang pernah dilakukan oleh setiap diri manusia yang telah diberi kesempatan untuk menjalani ujian kehidupan. Berbagai jenis cobaan atau ujian yang menawarkan pilihan antara dunia dan akhirat.

Kiamat adalah akhir dari kehidupan dunia, tapi bukan berarti urusan dunia akan selesai begitu saja. Seluruh amalan atau perbuatan kita selama hidup di dunia akan dihisab atau dihitung. Setiap amalan yang baik akan dilipat gandakan pahalanya dan setiap amal perbuatan yang buruk akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Dan tidak ada seorangpun yang akan dirugikan pada saat itu, karena timbangan yang akan digunakan adalah seadil-adilnya timbangan. Tidak seperti timbangan yang banyak digunakan sewaktu kita hidup di dunia yang banyak terjadi kesalahan. Baik kesalahan yang tidak di sengaja atau kesalahan yang memang sering sengaja dibuat.

Akhirat adalah tempat pembalasan. Siapapun yang pernah mendapatkan kesempatan hidup di dunia akan mendulang hasil dari apa yang telah diperbuatnya. Ada dua pilihan tempat yang keduanya sangat tergantung pada amalan kita selama di dunia. Yang satu berlimpah kenikmatan dan yang lainnya penuh dengan siksaan. Itulah surga dan neraka. Barang siapa mendapatkan naungan dari Allah niscaya akan dijauhkan dari panasnya api neraka. Dan Allah akan memasukkan mereka ke dalam nikmatnya surga yang tentu saja seluruh penghuninya dalam naungan dan perlindungan Allah. Tapi bagi mereka yang lepas dari lindungan Allah, maka tidak ada lagi naungan bagi dirinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “Sab`atun yudhilluhumullahu fii dhilllihi. Yauma laa dhilla illa dhilluhu”. Yang artinya, ada tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah swt yang pada hari itu tidak akan ada naungan kecuali naungan Allah. Yaitu : Pemimpin yang adil, anak muda yang menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah, Orang yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh perempuan terpandang dan jelita lalu laki-laki tersebut menjawab “saya takut kepada Allah”, orang yang bersedekah dengan merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, orang yang mengingat Allah dalam kesunyian hingga air matanya bercucuran.

Pemimpin yang adil.

Bukanlah perkara yang ringan untuk bisa menjadi pemimpin yang adil. Hampir semua pemimpin mengatakan dirinya telah berbuat adil. Memang benar, tapi banyak yang berbuat adil hanya untuk diri dan keluarganya sendiri serta golongan atau partai yang mengantarkan dirinya menjadi seorang pemimpin. Jika merujuk kepemimpinan Rasulullah saw dan para sahabat, saat ini sangat sulit mencari pemimpin yang adil. Apalagi kursi kepemimpinan yang diraihpun membutuhkan pengorbanan tenaga, pikiran, waktu dan materi yang tidak sedikit. Tidak jarang seseorang mempertaruhkan hampir seluruh hartanya hanya untuk menduduki jabatan di desa dimana mereka tinggal.

Pada struktur jabatan yang lebih tinggi malah lebih-lebih lagi. Seseorang akan membuat jaringan tim sukses dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan bisa dibilang sangat luar biasa. Karena penghamburan uang yang terjadi ditengah-tengah kesulitan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok untuk hidupnya. Begitu banyak orang berambisi untuk meraih kedudukan atau jabatan. Begitu banyak pula orang berambisi untuk meraih kemuliaan dunia dengan mengesampingkan akhirat. Padahal konsekwensi amanat yang diemban tersebut begitu berat di hadapan Allah. Tapi banyak dari mereka yang berhasil meraih mimpinya melenggang dengan santai tanpa beban.

Amanat kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat berat, maka sudah sepatutnyalah seseorang akan menangisi penunjukan dirinya sebagai pemimpin karena takutnya kepada Allah jika dia tidak mampu menjalankannya dengan adil dan bijak. Tapi yang terjadi saat ini seseorang akan mencalonkan dirinya dan berusaha untuk menjatuhkan para pesaingnya demi amanat Allah. Padahal seseorang yang sangat berambisi menjadi pemimpin bukanlah seorang yang patut untuk diberi amanat. Bahkan kadang malah bisa membahayakan negara dan menyengsarakan rakyat. Karena keinginan besar yang kurang memperhitungkan kemampuan.

Masih adakah pemimpin yang adil? Mudah-mudahan masih ada pemimpin yang berusaha untuk berbuat adil untuk kepentingan rakyatnya. Yaitu mereka yang peduli dengan keadaan saat ini yang tidak lagi mempertimbangkan hukum dan syariat Islam. Mereka yang mengutamakan akhiratnya sendiri dan akhirat orang lain. Mereka yang tidak bertambah gemuk dan bertambah kaya dengan cepat karena kepemimpinannya. Mereka yang menganjurkan keluarganya untuk hidup dengan Islam, bukan hidup dengan kekayaan. Mereka yang menyadari bahwa kematian tidak membutuhkan kekayaan. Dan mereka yang menyadari bahwa hidup ini hanya untuk Allah swt dan sesama ciptaanNya.

Mereka yang benar-benar menghamba hanya pada Allah dan berjuang untuk Islam dengan harta dan jiwanya. Mereka yang menyuruh kepada yang ma`ruf dan melarang kemunkaran. Yang tidak hanya pandai berjanji untuk kemudian mengingkari. Yang melarang beredarnya aurat perempuan, tak terkecuali mereka yang non muslim. Yang menjunjung tinggi kejujuran. Yang peduli dengan rakyatnya yang miskin, yatim piatu, para pejuang kemerdekaan, orang-orang cacat. Dan mereka yang perduli dengan harkat dan martabat bangsa, dengan tidak membiarkan bangsa lain menginjak-injak kehormatan bangsa ini dengan berbagai macam jalan atau cara. Hanya pemimpin Islam yang kaffah dalam keislamannya saja yang akan dinaungi oleh Allah kelak di hari pembalasan.

Anak muda yang menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah.

Sebagian anak muda memang terlihat tekun beribadah, tapi sebagian besar yang lain bahkan jauh dari ibadah. Kita banyak menyaksikan aktifitas anak muda pada saat ini yang melenceng jauh dari ajaran agama. Dan sebagian kecil yang beribadahpun masih belum menjanjikan konsistensi dalam ibadahnya, karena pengaruh lingkungan yang sangat dominan membentuk pribadi-pribadi yang justru cenderung untuk melanggar norma-norma agama. Siapa yang salah? Selain lingkungan pergaulan, tentu saja kita orang tua yang mempunyai peran besar dalam membentuk jiwa anak-anak muda seperti sekarang ini. Tentu saja kita boleh mengelak, tapi cobalah untuk introspeksi diri lebih dahulu sebelum memberikan penolakan kita.

Kesalahan fatal kita sebagai orang tua adalah kedangkalan dalam ilmu agama. Ibadah kita sebagai orang tua jauh dari sempurna. Shalat juga enggan penuh lima waktu. Sehingga kita tidak mendidik anak kita ke arah yang semestinya. Kita arahkan mereka sepenuhnya untuk keberhasilan dunia. Dengan membiayai sekolah tanpa batas, menuruti semua kemauannya, tapi akhlaknya jauh dari Islam. Hingga anak-anak kita buta tentang ibadah, tentang Islam dan bahkan buta tentang agama. Jika orang tua jauh dari ibadah, besar kemungkinan anak akan jauh pula dari ibadah. Walaupun hal ini tidak mutlak. Tapi peran orang tua dalam mengarahkan anak ke arah ibadah sangat besar pengaruhnya.

Anak-anak muda yang berpikir tentang ketauhidan Allah dan menjalani hidupnya dengan ibadah adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang akan mendapat naungan Allah dari kerasnya siksa neraka. Tentu saja jika mereka tetap istiqamah dalam Iman dan Islam. Dan ini memang tidak mudah. Karena dia harus menahan diri untuk melakukan semua hal seperti teman-teman mereka. Dan lebih banyak untuk mengingat Allah. Mengutamakan lima waktu shalat dan sering berpuasa disaat banyak temannya bersenang-senang. Lebih banyak membaca Al Qur`an dan memahami makna yang dikandungnya. Sopan dan santun pembawaannya. Menghormati mereka yang lebih tua. Jujur dan tidak banyak mengumbar lisannya.

Orang yang hatinya terikat dengan masjid.

Masjid dibangun untuk beribadah, terutama untuk shalat berjama`ah. Merupakan simbol ketauhidan, kekuatan sekaligus eksisnya umat Islam. Tapi saat ini banyak orang Islam yang lebih suka untuk beribadah shalat di dalam kamar di rumah masing-masing. Banyak dari kita yang beranggapan bahwa shalat dimana saja tempatnya sama saja. Mereka tidak tahu seberapa besar pahala yang akan diberikan oleh Allah dengan shalat berjama`ah di masjid. Atau mereka tahu tapi bersikap cuek tentang besarnya pahala. Banyak juga dari kita yang enggan ke masjid karena ada masalah dengan masjid atau dengan orang-orang pengurus masjid.

Biasanya hal itu terjadi karena ketidak ikhlasan kita untuk shalat berjama`ah di masjid. Bisa karena perbedaan pendapat mengenai status masjid. Bisa juga karena ketidakjujuran dari para pengurus masjid. Atau berbeda pendapat cara pengelolaan keuangan masjid. Bahkan bisa pula karena ego kita sendiri yang tidak kita sadari. Padahal dengan shalat sendirian di rumah belum tentu menjamin bahwa shalat yang dilakukan sudah benar. Bahkan mungkin banyak sekali kekurangannya. Terutama dari bacaan Al Fatihah dan ayat-ayatnya yang kebanyakan hanya sekedar membaca.

Jika kita ingin menjadi salah satu orang yang akan mendapat naungan dari Allah kelak di hari pembalasan, hendaknya jangan lagi menunda untuk mengalihkan tempat shalat wajib kita ke masjid. Dan berusahalah untuk mencintai masjid dan memakmurkan masjid dengan kegiatan-kegitan yang bermanfaat. Dengan mengabaikan kepentingan pribadi dan hanya karena Allah, kita langkahkan kaki kita ke masjid. Terutama untuk saat-saat Isyaa` dan subuh yang kebanyakan kita sudah berada di rumah. Apapun konflik yang terjadi diantara pengurus masjid, hendaknya kita abaikan. Karena keberadaan masjid adalah untuk ibadah umat. Bukan untuk kepentingan duniawi segelintir orang.

Dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu dan berpisah karena Allah.

Kita bisa memaknai kalimat tersebut dengan pertemuan antara dua orang sahabat sesama saudara muslim. Dimana mereka bertemu, berinteraksi dan berpisah hanya karena Allah ta`ala. Bisa juga kita memberi makna dengan bertemunya dua orang berlainan jenis yang kemudian berlanjut ke pernikahan dan hidup berkeluarga sampai ajal menjemput. Dengan kata lain mereka yang hidup dengan keluarganya dengan berlandaskan Al Qur`an dan sunnah Rasulullah saw. Tak ada konflik yang berarti dalam biduk rumah tangganya. Semua dibangun berdasarkan kasih sayang dan ibadah. Hingga banyak orang menyebut dengan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Saat ini begitu sering kita melihat sebuah persahabatan terputus hanya karena sebuah kepentingan duniawi. Karena hutang piutang, karena merebut pasangan atau mungkin hanya kesalah pahaman Juga keluarga yang berantakan hanya karena menuruti nafsu duniawi. Laki-laki yang terlalu egois dan perempuan yang materialistis begitu banyak mewarnai kehidupan rumah tangga saat ini. Hingga banyak sekali terjadi kegagalan rumah tangga hanya karena masalah materi. Semua ini terjadi karena kita lebih senang mengarahkan mata kita pada apa yang ada di depan mata. Dan tidak mau memaksimalkan pikiran dan hati. Hingga isi jiwa kita juga hanya terisi dengan apa yang terlihat oleh mata saja.

Untuk bisa “Lillah” kita harus selalu berusaha untuk memperkuat kualitas Iman kita. Karena landasan Iman yang kuat akan menghiasi setiap gerak dan langkah kita. Baik diwaktu masih lajang maupun diwaktu kita menemukan pasangan dan melanjutkannya ke jenjang pernikahan sampai dengan kelahiran anak-anak kita. Sehingga bisa dikatakan tidak ada waktu yang lepas dari kebersamaan kita bersama Allah. Demikian juga persahabatan. Jika hubungan antara dua orang sahabat dibangun atas dasar karena Allah, maka jalan yang akan ditempuhpun juga jalannya Allah. Sehingga sebuah persaudaraan dalam Islam bisa menjadi sebuah bukti tentang kebenaran janji Allah akan sebuah naungan pada suatu hari yang pada hari itu tidak ada lagi naungan kecuali naungan Allah.

Seorang laki-laki yang menolak perbuatan zina karena takut kepada Allah.

Iman sesorang laki-laki bisa pergi untuk sesaat, hanya karena syahwat. Kekuatan laki-laki beriman bisa demikian mudah dikalahkan oleh setan yang bersekongkol dengan seorang perempuan. Dan godaan yang paling berat bagi seorang laki-laki adalah perempuan yang menampakkan auratnya di tempat yang memungkinkan untuk berbuat sesuatu larangan agama yaitu zina. Maka dari itu Iman dan Islam melarang keras dua orang yang berlainan jenis berada di tempat sepi hanya berduaan. Karena kinerja setan akan menjadi lebih mudah untuk menggelincirkan mereka yang sedang ditinggalkan Iman.

Betapa banyaknya kejadian-kejadian seperti itu terjadi di masyarakat kita. Ada yang menyesali perbuatannya, namun banyak yang justru terjerat dalam manisnya pelampiasan nafsu syahwat. Dan betapa sulit saat ini menemukan seseorang yang dapat bertahan dari godaan yang bertubi-tubi dari setan yang bersembunyi di terbukanya aurat-aurat perempuan. Sekali kita tergelincir, selanjutnya kita sendirilah yang akan menggelincirkan diri kita ke dalam nikmatnya maksiat zina. Kita akan cenderung untuk mencari dan mengulanginya lagi, walaupun dengan beberapa alasan yang berbeda antara kita sebagai laki-laki dan seseorang yang lain sebagai perempuan.

Maka, sangatlah pantas kalau Allah akan memberikan sebuah naungan untuk bisa bebas dari siksaan api neraka kepada mereka, yaitu seorang laki-laki yang bisa menolak bujuk rayu perempuan cantik lagi kaya untuk berbuat zina. Walaupun dalam hati kecilnya keinginan begitu besar, tapi bayangan siksa Allah yang begitu pedih telah mengalahkan sebuah hasrat yang begitu jarang seorang laki-laki bisa menolaknya. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang benar-benar hidup bersama Allah. Sehingga dalam setiap gerak dan langkahnya Allah sendiri yang mengawal dan melindunginya. Dan Allah tidak akan membiarkan setan dengan mudah menggelincirkan seseorang yang telah menjadikaaNya sebagai pemimpin dalam hidupnya.

Memang tidak bisa kita pungkiri kalau zina adalah salah satu surganya dunia, tapi jika dibandingkan dengan nikmat akhirat, zina hanyalah nikmat sesaat. Yang tidak akan bisa kita lakukan di usia uzur kita, sementara berbagai jenis penyakit tua telah juga banyak bersarang di tubuh kita. Dan nikmatnya surga tidaklah bisa dibandingkan dengan nikmatnya dunia. Kekekalannya tidak bisa diukur hanya dengan panjangnya umur kita. Sehingga, kekalahan terhadap setan dalam hal menahan nafsu syahwat, adalah sebuah kesalahan yang fatal. Yang bukan saja merugikan diri kita di akhirat tapi juga menghilangkan kesempatan kita untuk mendapatkan lindungan dari Allah kelak di hari pembalasan.

Orang yang bersedekah dan merahasiakannya.

Sedekah adalah sebuah cara atau metode untuk mendapatkan ridhanya Allah dalam beribadah. Tetapi sedekah bisa juga jadi sebuah alat untuk memperkenalkan diri agar banyak di kenal dan dipuji orang. Saat ini sedekah banyak digunakan orang untuk alat promosi diri. Terutama orang-orang yang kaya dan mempunyai tendensi khusus, misalnya agar diangkat jadi pemimpin melalui sebuah pemilihan umum. Atau ingin dikenal sebagai orang yang dermawan dan banyak disebut-sebut orang karena sedekahnya. Orang seperti ini selalu menyebut-nyebut apa yang telah diberikan kepada orang lain. Dan sedekahnya selalu dikeluarkan pada kesempatan-kesempatan tertentu saja.

Karena banyaknya orang yang menggunakan sedekah sebagai alat agar mendapatkan pujian dan tujuan-tujuan tertentu, maka mereka yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi jumlahnya menjadi langka dan sulit diketahui. Terhadap orang-orang seperti inilah Allah memberikan perhatian yang besar. Yaitu dengan memberikan ridha atas ibadahnya dan memberikan pula naungan yang banyak dibutuhkan orang kelak di hari pembalasan. Orang-orang seperti ini adalah orang yang ikhlas dalam ibadahnya. Orang-orang yang berhati emas. Karena tidak mengharapkan sesuatupun dari apa yang telah disedekahkan.

Ibaratnya, mereka bersedekah dengan tangan kanan, tapi tangan yang sebelah kirinya tidak mengetahui. Mereka beranggapan, bahwa apa yang akan disedekahkan bukan lagi haknya secara pribadi, semua yang ada pada dirinya adalah milik Allah. Harta yang dimilikinya hanyalah titipan dari Allah yang diamanatkan kepadanya untuk disampaikan kepada para fakir miskin yang ada di sekitarnya. Limpahan harta adalah sebuah kepercayaan sekaligus sebuah cobaan dari Allah. Mereka senang dan bersyukur karena limpahan harta tersebut, sehingga dengan senang hati pula mereka meyalurkan harta Allah tersebut kepada mereka yang berhak.

Itulah orang-orang yang hidup diatas kebenaran tentang kehidupan. Orang-orang yang memahami apa arti kehidupan yang “harus” menghidupi apa yang ada disekitarnya. Bukan hanya mengambil untuk kehidupannya, tetapi juga untuk menghidupi orang lain dan makhluk-makhluk yang lain pula. Jika kita ingin menjadi abdi Allah yang benar kitapun harus berprinsip demikian. Yaitu, prinsip hidup adalah menghidupi. Karena yang demikian itu adalah salah satu sifat Allah yang harus menjadi rujukan dalam bersikap tentang kehidupan. Mudah-mudahan Allah memberikan naungannya pada kita kelak pada saat kita membutuhkannya.

Orang yang mengingat Allah dalam kesunyian hingga air matanya bercucuran.

Sunyi kadang membuat sebagian orang ketakutan. Yaitu mereka yang hanya menginginkan hidup dalam terang dan ramainya dunia. Padahal untuk bisa eksis hidup, gelap harus pula tetap lewat. Orang yang tidak yakin tentang Allah akan merasa tersiksa kesunyian. Dalam terang bisa terjadi sunyi lebih-lebih lagi di kegelapan. Sunyi lebih mendekatkan pada Tuhan, sedang keramaian lebih banyak menjauhkan diri kita Allah. Memahami ciptaan Allah di keramaian jauh lebih sulit dari pada merenung untuk mencari pencerahan batin di kesunyian. Kadang ramai timbul dari sebuah kepanikan. Dan kepanikan kadang datang dari sebuah ketakutan. Ketakutan yang amat sangat kadang baru bisa mengingatkan tentang “butuh”nya kita kepada Allah. Tapi kebanyakan sudah terlambat. Sebab jika belum ketakutan jarang seseorang datang kepada Allah.

Waktu yang tepat untuk merenungi ciptaan-ciptaan Allah adalah di waktu datang kesunyian. Disitulah kita bisa memahami alam tanpa ada gangguan kebisingan. Sunyi menjanjikan ketenangan dan ketajaman dalam berpikir. Sehingga bukti-bukti kebenaran akan lebih mudah terungkap. Mengingat Allah sambil merenungkan ciptaannya di kesunyian malam akan semakin mendekatkan kita pada kesadaran spiritual. Sehingga semakin menimbulkan keyakinan tentang Allah dan segala apa yang akan terjadi pada kita kelak. Memang benar, yang kita butuhkan adalah keyakinan tentang kebenaran Allah dan kuasanya. Dan itu hanya bisa di dapat kalau kita menggunakan akal, pikiran dan hati kita untuk memahami tanda-tanda Allah yang ada.

Jika kita yakin bahwa semuanya itu benar, lalu kita mengingat kembali semua apa yang pernah kita lakukan selama ini, kemungkinan besar akan lahir sebuah penyesalan. Sebuah penyesalan yang dalam akan menyebabkan menetesnya air mata secara tidak sengaja. Dan jika hal itu sering kita lakukan, akan semakin dalam pula keyakinan kita kepada Allah. Hal ini otomatis akan timbul rasa takut akan adzab dan rasa taat kepada perintah. Yang kemudian akan timbul keinginan untuk selalu memenuhi semua apa yang diperintahkan olehNya. Allah memberikan naungan kepada mereka yang mengingat dan merenung di kesunyian karena hal tersebut bisa menyebabkan kepahaman akan tanda-tandaNya di alam semesta.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 2, 2010 in Renungan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: