RSS

Nuzulul Qur`an

07 Sep

QS. Al Baqarah 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

 

”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil),……..”

Ramadhan. Sebuah bulan dimana Al Qur`an diturunkan oleh Allah berupa wahyu yang berisikan ayat-ayat atau firmanNya. Merupakan sebuah petunjuk bagi seluruh manusia yang ada. Tetapi setelah sekian lama Al Qur`an berada di genggaman tangan kita, kira-kira apa manfaat yang kita peroleh dari kitabullah tersebut? Ada sebagian manusia benar-benar memanfaatkan buku petunjuk kehidupan tersebut untuk pedoman hidupnya, tetapi sebagian besar yang lain hanya menganggap tak lebih hanya sekedar buku tebal yang harus disimpan di tempat yang lebih tinggi dari permukaan tanah.

Memang seharusnya Al Qur`an berada di dalam dada atau hati orang-orang yang beriman. Bukan di atas almari atau rak buku, apalagi dipermukaan tanah. Tetapi, ketika kita lebih suka menyimpan dari pada membacanya, yang terjadi justru peng”keramat”an kitab Al Qur`an. Yang tidak perlu disentuh ketika tidak ada keinginan untuk membacanya. Kita baru membuka dan membacanya ketika ada salah satu keluarga kita yang sakit parah atau meninggal dunia. Dengan harapan ayat-ayat yang kita lantunkan akan berfungsi sebagai mantra penyembuh dan sarana ampunan atas dosa-dosa bagi keluarga kita yang sudah meninggal.

Sebenarnya kesan apa yang ada di benak kita mengenai kitabullah tersebut? Hingga banyak dari kita yang enggan mengucapkannya kecuali dalam shalat. Dalam shalatpun kita terkesan hanya sebagai pelengkap bacaan diwaktu berdiri. Kita hanya “hafal” beberapa ayat dari beberapa surat pendek di akhir halaman Al Qur`an. Itupun bahkan hanya sekedar hafal, belum menyentuh arti dan makna yang bersifat perintah dan larangan. Kita menggunakan beberapa ayat Al Qur`an dalam shalat kita tak lebih seperti kita mengucapkan mantra. Hanya komat kamit tak mengerti maknanya. Selebihnya kita hampir tak pernah membuka dan berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya pelajaran yang ada di dalam Kitabullah tersebut.

Padahal kita juga tahu kalau Al Qur`an itu jumlah ayatnya ada ribuan. Dan kita juga tahu kalau Al Qur`an adalah peringatan bagi semesta alam. Disamping peringatan, Al Qur`an adalah induk dari pelajaran kehidupan. Yang menunjukkan bagaimana manusia harus berbuat sesuatu yang berguna, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Tapi kita lebih suka menganggapnya hanya sebagai “kitab suci”, tanpa perduli pelajaran apa yang ada di dalamnya. Ibadah shalat kita hanya sekedar meniru untuk kemudian melanggenggkan gerakan-gerakannya dalam setiap waktu shalat yang kita kerjakan.

QS. Al Hasyr 21.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴿٢١﴾

Lau anzalnaa hadzal qur`ana `alaa jabalin lara`aytahu khasyi`an mutashaddi`an min khasyyatillahi, wa tilkal `amtsaalu naddribuhaa linnasi la`allahum yatafakkaruuna”

”Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”.

Kalau kita mau mengingat ayat-ayat yang turun berupa wahyu yang disampaikan oleh malaikat kepada Rasulullah mungkin kita akan sedikit sadar. Kalau turunnya ayat bukanlah sesuatu yang ringan seperti yang kita bayangkan. Dalam sejarah nabi dijelaskan bahwa turunnya ayat adalah sesuatu yang sangat berat bagi Rasulullah saw. Karena beratnya Rasulullah sampai menggigil dan banyak keluar keringat tiap kali turun wahyu dari Allah. Ayat diatas juga menggambarkan mukzizat dari Al Qur`an. Betapa kekuatan ayat-ayat Al Qur`an bisa menghancurkan sebuah gunung karena takutnya kepada Allah.

Kita yang saat ini tinggal membaca dan mengambil pelajaran dari padanya saja begitu enggan untuk membacanya. Lantas seberapa besar kandungan Al Qur`an yang mampu mempengaruhi hati dan pikiran kita dalam berperilaku ibadah. Keyakinan kita terhadap Al Qur`an hanya terbatas pada keyakinan saja, bukan keinginan untuk mempelajarinya. Dan bukan pula keinginan untuk mengintegrasikan ayat-ayat Allah tersebut dengan hati dan lisan kita. Sehingga, dalam shalatpun kita hanya perlu beberapa ayat dari ribuan ayat yang ada. Padahal bacaan surat di tiap shalat, terutama di dua rakaat awal adalah kesempatan untuk menguji hafalan kita dan untuk menguji pemahaman makna dari ayat yang kita baca.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai manusia yang mengaku beriman terhadap Al Qur`an ? Mungkin ada beberapa kriteria yang menggambarkan sikap kita terhadap Al Qur`an dan perwujudan ibadah kita. Atau hubungan kita sebagai manusia yang beriman terhadap Al Qur`an dengan isi atau kandungan Al Qur`an itu sendiri.

Yang pertama adalah, mereka yang tidak membaca Al Qur`an tapi berperilaku mirip Al Qur`an.

Yaitu mereka yang sehari-hari tidak pernah membaca Al Qur`an, tapi perilaku kesehariannya mencerminkan perwujudan ajaran-ajaran Al Qur`an. Mereka beribadah layaknya orang yang khusyu`. Taat terhadap apa yang diperintahkan oleh agama dan takut untuk melanggar larangan-larangannya. Mereka bukan dari golongan orang-orang pandai. Kemampuan berpikir mereka hanya biasa-biasa saja. Hanya saja mereka banyak mendengarkan tausiah-tausiah para ustadz dan para kyai di berbagai majelis yang ada.

Kebanyakan dari mereka orang-orang setengah umur atau bahkan sudah tua. Mereka memang tidak bisa membaca Al Qur`an dan mereka juga tidak punya kemauan untuk belajar membacanya. Kebanyakan dari mereka hanya berpedoman dari apa yang pernah di dengar dari berbagai tempat pengajian. Dan jumlah umat Islam yang masuk dalam kriteria ini tidak sedikit, walaupun juga tidak cukup banyak. Mereka kelihatan taat, tapi kadang perilakunya bisa di luar kontrol. Karena mereka beriman pada tahapan karena perintah. Bukan karena pemahaman kitabullah. Sehingga pengetahuan agamanya sangat terbatas. Akibatnya mereka akan berbuat sesuatu yang dianggapnya bukan merupakan larangan tapi sebenarnya merupakan sesuatu yang harus dijauhi.

Pengetahuan tentang ilmu agama yang terbatas menjadikan resiko untuk melanggar aturan-aturan agama begitu besar. Dalam keadaan terpaksa mereka akan dengan sukarela melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama. Kebanyakan mereka bertaklid buta tentang agama dan pedoman mereka adalah “katanya”. Bisa bersumber dari kyai sini, kyai sana, ustadz anu atau ustadz anu lainnya. Pengetahuan yang masuk hanya sebatas ingatan, belum masuk ke dalam keyakinan yang sebenarnya. Mayoritas pengetahuan di dapat dari mengikuti pengajian yang banyak di bumbui dengan “banyolan” ala pelawak.

Ciri-ciri orang sepeti ini adalah taat dalam menjalankan perintah shalat. Bahkan setiap hari berjama`ah di masjid. Mereka berpuasa di bulan ramadhan dan membayar zakat fitrah. Sepertinya mereka ikhlas menjalani semua perintah tersebut. Tapi dalam pergaulan sehari-hari sikapnya kadang belum sesuai dengan ciri-ciri orang beriman yang sebenarnya. Mereka merasa taat, tapi kadang juga mudah berbuat maksiat. Karena terbatasnya pemahaman tentang banyaknya batasan-batasan dalam berperilaku. Sehingga suara yang keras, bentakan dan umpatan menjadi makanan sehari-hari. Tapi mereka takut meninggalkan perintah utama berupa shalat lima waktu dan puasa ramadhan.

Yang kedua adalah, mereka yang membaca Al Qur`an tapi tidak berperilaku Al Qur`an.

Banyak orang bisa membaca Al Qur`an, tapi perilakunya jauh dari Al Qur`an. Mereka yang seperti ini biasanya hanya menjadikan ibadahnya sebagai baju atau gamis saja. Atau sebagai penutup dari perilakunya yang tidak sesuai dengan pengetahuan agama yang dimilikinya. Mudah melanggar larangan dan mudah pula meninggalkan perintah. Mereka hanya “bisa” membaca, tapi tidak perduli dengan isinya. Maka dari itu mereka jauh dari Iman atau keyakinan. Kadang mereka menggunakan Al Qur`an untuk tebar pesona pada siapa saja yang ditemuinya. Untuk memberikan kesan alim pada orang-orang yang baru ditemuinya.

Banyak orang yang tahu seseorang bisa membaca Al Qur`an, tapi banyak juga orang yang tahu bahwa orang tersebut tidak mementingkan shalat. Bahkan cenderung meninggalkannya. Pada saat “waktu” shalat tiba dia selalu berada di tempat yang tidak seharusnya. Tetapi pada saat dimana ada pembacaan ayat Al Qur`an dia selalu ada disana dan selalu tampil untuk membacanya. Apa motivasinya tidak begitu jelas. Diluar itu perilaku sehari-harinya tidak menampakkan diri sebagai orang yang tahu isi Al Qur`an. Hingga bisa menimbulkan pertanyaan untuk apa membaca kitab, tapi tidak berakibat pada keimanan. Hanya sia-sia belaka.

Yang ketiga adalah, mereka yang membaca Al Qur`an dan berperilaku seperti Al Qur`an.

Sembodo kalau orang jawa bilang. Atau konsekuen. Orang yang membaca kitabullah adalah orang-orang yang seharusnya lebih tahu bagaimana harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Al Qur`an mengajarkan bagaimana berbuat sesuatu yang baik dan perbuatan apa saja yang harus di hindarkan. Ayat-ayat muhkamat didalamnya begitu jelas dan tegas maknanya. Seperti memerintahkan untuk shalat di waktu-waktu yang telah ditentukan. Membayar zakat dan mengeluarkan sebagian harta untuk sedekah. Menyantuni anak yatim dan bersikap rendah hati atau tawadhu`. Berbuat baik kepada kedua orang tua.

Perintah yang lain adalah menjaga diri dari perkataan yang tidak berguna, menjaga kemaluan kecuali terhadap istri-istrinya, menjaga pandangan mata, memenuhi janji apabila pernah berjanji, memelihara semua shalat-shalatnya. Menghormati mereka yang lebih tua. Semua perintah yang jelas itu menuntut pelaksanaan dalam perbuatan. Sehingga ketika seseorang membaca Al Qur`an dan berperilaku sesuai dengan apa yang diperintahkan, maka yang terjadi adalah sebuah ketaatan kepada yang telah memerintahkannya . Itulah jalan terdekat menuju taqwa. Memang demikianlah seharusnya mereka yang beriman kepada Kitabullah.

Yang keempat adalah, mereka yang tidak membaca al Qur`an dan perilakunya jauh dari Al Qur`an.

Inilah yang dinamakan orang “jahil”. Yaitu orang yang tidak bisa merasakan sebuah kebenaran. Atau orang bodoh yang tidak pernah mau memahami kebenaran ayat-ayat Allah. Sehingga dia tidak mau membacanya dan tidak mau pula mendengarkan bacaan-bacaannya. Akibatnya orang-orang seperti ini akan berjalan di atas bumi tanpa sebuah petunjuk yang akan membawa pada sebuah kebenaran ber-Tuhan. Sifat ini sangat dekat dengan kekufuran. Yaitu sebuah pengingkaran terhadap Allah yang telah menurunkan Al Qur`an sebagai peringatan bagi seluruh alam dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

Buah dari pengingkaran kepada Allah adalah tidak akan terampuninya semua dosa-dosa yang telah diperbuat selama hidup seseorang. Mereka yang merasa dirinya orang Islam dan mengaku beriman, tapi tidak pernah membaca Al Qur`an adalah sebuah kebohongan terhadap Iman. Demikian juga dengan perilaku yang jauh dari Al Qur`an, tidak sepantasnya mereka mengatakan dirinya beriman kepada Kitabullah tersebut. Dan tidak pantas pula mereka mengatakan bahwa dirinya sudah Islam. Karena Islam mempunyai makna berserah diri. Tentu berserah diri hanya kepada Allah dengan mengimani apa yang menjadi ketentuanNya.

Hendaknya kita cepat sadar tentang tujuan hidup kita dan berusaha untuk beribadah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Jangan jadikan Al Qur`an sebagai hiasan atau sebagai “jimat” yang harus disimpan di tempat yang “aman” dari jangkauan. Al Qur`an mengajarkan banyak pelajaran hidup dalam beribadah. Oleh karena itu jika mau beribadah, jangan lepaskan mata dan hati dari ayat-ayat yang ada di dalamnya. Bacalah selagi sempat dan selagi mata masih sehat. Sebab terlambat memulai akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Jangan sampai kita jadi manusia yang merugi hanya karena kelalaian kita sendiri.

Kita sekarang ini sudah dapat nikmatnya. Tinggal baca dan integrasikan dalam hidup, niscaya kita akan sampai atau dekat dengan kata taqwa. Tapi kalau bangunan Iman yang kita miliki masih belum begitu kuat, perilaku Al Qur`an juga masih jauh jaraknya dengan kita. Bacalah dengan sebuah keyakinan, resapi maknanya. Kemudian sering-seringlah mencari bukti kebenaran ayat-ayatnya di alam sekitar kita. Hingga sampai pada kesimpulan bahwa ayat yang kita baca memang benar belaka. Jika bukti rasionalitas ayat-ayat seringkali kita temukan, insya Allah secara perlahan kita akan mencintai Al Qur`an. Apalagi kita bisa membacanya secara tartil, makin nikmat rasanya membaca Al Qur`an.

Dan janganlah cepat berputus asa dalam belajar. Segala sesuatu tidak akan bisa dipahami sebelum dipelajari lebih dahulu. Demikian juga dengan Al Qur`an, asal ada semangat dan kemauan, kita pasti akan mengenal semua hurufnya dan akan lebih mudah pula untuk membacanya. Sepanjang yang saya lakukan selama ini, membaca Qur`an itu nikmat dilakukan kapan saja. Di waktu pagi, siang atau malam hari. Kadang sering juga di perjalanan atau lagi sedang “menunggu” istri yang saya antar kemanapun perginya. Tentu saja yang saya lantunkan hanya ayat-ayat yang sudah saya hafal. Hitung-hitung sambil mengasah kemampuan menghafal ayat-ayat Allah.

Mudah-mudahan Allah segera memberikan hidayahNya kepada kita yang sudah bertekad bulat untuk memahami ilmu agama. Sehingga di dalam perjalanan nanti tidak ada kesulitan yang berarti dan diberi kemudahan pula untuk cepat dapat mengerti isi kandungan Al Qur`an yang terdiri dari berbagai hal untuk mengatur bagaimana seharusnya kita berbuat sesuatu. Agar hidup kita tidak tersesat terlalu jauh dari batas-batas perintah dan larangan Allah. Dan agar kita dapat beribadah dengan berbagai petunjuk yang ada di dalamnya.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 7, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: