RSS

Negara Beragama.

20 Sep

Agama ada untuk mengatur kehidupan agar tidak kacau. Tentu saja kehidupan umat manusia. Kita tidak pernah berpikir apakah hewan juga harus ber-agama. Apalagi tanaman, yang hanya tumbuh di tempatnya semula sampai hari kematiannya. Apakah hewan dan tumbuhan beragama? Jangan beri jawaban lebih dulu sebelum menanyakannya pada keduanya. Yang pasti ada beberapa ayat di beberapa surat dalam Al Qur`an yang menginformasikan bahwa semua yang ada di bumi dan dilangit bertasbih kepada Allah swt. ini menunjukkan bahwa semua makhluk di alam ini bertauhid kepada penciptanya. Tidak terkecuali hewan dan tumbuhan.

Hewan dan tumbuhan adalah dua pilihan sikap bagi manusia dalam hidup. Yang satu “diam” dan mengambil ransum makanan secukupnya untuk hidup, bertasbih, bersedekah dan meneruskan keturunannya. Jika manusia meng”copy” paste sifat tumbuhan, mungkin agama tidak seberapa besar pengaruhnya bagi manusia. Bahkan tidak lagi menjadi sesuatu yang sangat diperlukan keberadaanya. Mengapa? Karena “beragama” tidak sama dengan “beribadah”. Beragama berarti memeluk sebuah agama. Sedangkan beribadah adalah mengabdikan diri hanya kepada Allah. Jika fungsi agama mengatur ibadah manusia, orang yang beribadah sudah hampir pasti adalah orang yang ber-agama. Sebaliknya orang yang beragama belum pasti bisa dikatakan beribadah.

Tetapi jika kita memilih untuk meng-copy sifat-sifat hewan, yang terjadi adalah sebuah aktifitas untuk mempertahankan diri dan kehidupan dengan cara kita masing-masing. Jika yang kita tiru hewan yang lebih specific lagi misalnya harimau atau buaya, yang terjadi adalah pemangsaan komunitas hidup lain dengan cara sadis akibat dari keserakahan dan ketamakan kita. Akibatnya adalah usaha mempertahankan hidup yang serba keras, hingga tidak memperdulikan makhluk lain dan alam sekitar. Disini peran agama menjadi begitu penting, hingga seseorang yang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perintah dan larangan agama bisa di “cap” orang yang tidak beragama. Demikian juga untuk negara yang selalu di landa kekacauan tanpa henti selama bertahun-tahun. Negara tersebut bisa di katakan sebagai negara yang belum beragama atau melanggar perintah-perintah agama yang telah dianutnya.

Kalau agama bersifat mengatur, apakah semua ketentuan-ketentuan yang bersifat mengatur bisa disebut sebagai agama ? Sebagian besar dari kita menolak karena beranggapan bahwa agama menyangkut “ibadah” dan tidak semua aturan yang mengatur berkaitan dengan ibadah. Padahal sesuatu yang dilakukan atas dasar karena Allah juga bernilai ibadah. Ibadah bukan hanya sekedar shalat, zakat atau puasa. Kepedulian terhadap “hidup” orang lain adalah ibadah. Mengatur sebuah rumah tangga agar senantiasa bahagia dan damai adalah ibadah. Demikian juga mengatur masyarakat. Baik dalam skala kecil maupun pada tingkat negara. Jika di dasarkan Lillahi ta`ala semua adalah ibadah.

Negara adalah sebuah organisasi besar yang banyak sekali membuat dan memberlakukan berbagai aturan-aturan yang bertujuan untuk kesejahteraan, keamanan dan keadilan bagi rakyatnya. Semua aturan-aturan yang dibuat tentu saja disesuaikan dengan bentuk dan dasar pemerintahan yang dianutnya. Seperti juga agama, bentuk dan landasan sebuah pemerintahan juga ada beberapa pilihan. Ada yang berbentuk Republik ada pula yang berbentuk monarchi. Keduanya sangat dipengaruhi oleh sejarah perjalanan terbentuknya. Ada yang hanya meneruskan sistem pemerintahan yang sudah ada, ada pula yang membuat “agama” baru bagi sebuah negara. Yang sebagian aturannya berbeda dengan aturan yang sudah ada.

Yang berbentuk republik berdiri di landasan demokrasi. Bagi sebuah negara “demokrasi” adalah “agama”. Yang meletakkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Berpedoman bahwa kekuasaan adalah dari rakyat, yang harus di kelola dan dijalankan oleh rakyat pula serta harus juga dipergunakan untuk kepentingan rakyat secara mutlak. Tetapi dalam kenyataannya rakyat hanyalah berfungsi sebagai alat untuk mewujudkan ambisi orang-orang yang haus kekuasaan. Rakyat dijunjung hanya pada saat dibutuhkan dukungannya. Setelah terpenuhi syahwat politiknya, rakyat kembali ditinggalkan. Kembali sendiri dengan semua keterbatasan dan ketidak berdayaan dalam menghentikan syahwat para penguasanya.

Apakah semua negara yang ber”agama” demokrasi semua rakyatnya dalam kondisi lemah ? Tentu saja tidak. Sangat tergantung dengan kualitas pemimpinnya. Kualitas disini menyangkut seberapa kuat tingkat ketaqwaan pemimpin tersebut. Sebab dalam “agama demokrasi” setiap orang mempunyai hak dan kedudukan yang sama dalam berpolitik. Tidak perduli dengan derajat ketaqwaan masing-masing orang. Yang menjadi pertimbangan adalah kemampuan memimpin, mengatur dan mengelola aset-aset sebuah negara. Termasuk di dalamnya, rakyat dan semua kekayaan yang dimiliki oleh negara. Dan kemampuan untuk memenuhi segala sesuatu yang di butuhkan oleh rakyatnya. Baik berupa sandang, pangan dan pemukiman.

Yang berbentuk monarki, termasuk di dalamnya, kerajaan, keemiran, kekaisaran meletakkan landasan negara pada sebuah keluarga raja, emir atau kaisar secara turun-temurun. Rakyat hanya bisa mencapai derajat “patih” atau perdana menteri. Kekuasaan tertinggi tidak terletak pada rakyat, tetapi pada raja. Rakyat mengabdi pada raja dan negara. Semua aturan yang dibuat harus ada persetujuan atau “cap” dari raja. Sepintas agama negara berbentuk monarki ini seperti mengebiri kemerdekaan rakyat. Terutama kebebasan untuk berpartisipasi dalam politik. Tetapi dalam perkembangannya, seorang raja hanya berfungsi sebagai lambang atau bukti sejarah bentuk kepemerintahan saja.

Hal ini hanya karena trik “jemput bola” dari raja, ratu atau kaisar yang “takut” dengan gelombang massa yang cepat atau lambat akan menggusur agama monarki dengan agama demokrasi. Dengan mengganti “tuan” raja dengan “tuan” rakyat dan mengganti Tuhan “wujud” dengan “Tuhan” abstrak yaitu Hak Asazi Manusia. Karena kerajaan memberi kelonggaran kepada rakyat untuk berperan aktif dalam pemerintahan, maka rakyatpun bersikap lebih santun dengan membiarkan bentuk negara kerajaan eksis sebagai simbol atau lambang dan penghormatan terhadap kejayaan yang pernah diperoleh di masa lampau.

Sebagian warga sebuah negara ingin bentuk negara kerajaan dipertahankan. Tentu saja karena kebijakan raja selama ini sangat menguntungkan rakyatnya. Dan sepanjang raja masih berpihak pada rakyatnya selama itu pula masih banyak orang yang ingin mempertahankan “agama” monarki sebagai sesuatu yang harus di lestarikan oleh negara dan rakyatnya. Tapi tidak sedikit pula cerita bahwa sebuah negara dengan sistem monarki akan melahirkan sebuah tirani yang akhirnya hanya akan menyengsarakan rakyat. Dimana kepentingan raja dan keluarganya menjadi sesuatu yang paling utama dari pada kepentingan lainnya. Termasuk juga kepentingan rakyat.

Negara telah menjadikan sebuah sistem pemerintahan sebagai “agama”. Dan menjadikan agama yang “sebenarnya” sebatas bagian dari aktivitas sebuah negara. Yang kekuasaan dan pengaruhnya hanya setingkat menteri atau departemen. Hal ini menjadikan agama menjadi sebuah bagian kehidupan yang harus ber”agama” pada “agama” negara. Hal tersebut mengesankan bahkan mungkin membenarkan bahwa hukum-hukum “Tuhan” harus tunduk dan patuh pada hukum produk manusia. Bukankah ini seperti sebuah lelucon yang benar-benar riel atau nyata? Tapi memang demikianlah kenyataannya. Dari awal memang sudah ada usaha manusia untuk memisahkan agama dengan politik.

Mengapa? Karena agama terlalu bersih atau terlalu suci untuk dicampur dengan politik yang notabene haus akan kekuasaan dan materi. Padahal sebenarnya tidak begitu. Agama dianggap sebagai penghalang mulusnya jalan menuju kekuasaan. Agama mengharuskan untuk berjalan diatas jalan yang lurus atau benar. Tetapi kekuasaan menawarkan jalan yang justru banyak bertentangan dengan yang digariskan agama. Solusinya adalah penyempitan peran agama atau bahkan menghilangkan sama sekali perannya dalam politik. Akibat yang terjadi adalah lahirnya banyak pemimpin yang tidak begitu paham arti agama bagi kehidupan rakyat atau manusia pada umumnya.

Banyaknya pemimpin yang alergi dengan ilmu agama atau sekedar menggunakan agama sebagai kedok telah menjadikan akhlak sebuah negara tidak lagi menghiraukan ajaran-ajaran yang pokok dalam agama. Shalat, zakat dan puasa hanyalah sekedar ritual yang bisa dilakukan dengan bercanda. Hingga yang terjadi adalah ketidak sesuaian perilaku sehari-hari rakyat dengan ketentuan-ketentuan syariat yang diwajibkan oleh agama. Karena agama tauhid yang dianut rakyat berada di bawah agama negara, yaitu demokrasi yang ber-Tuhan pada “hak asazi manusia”, maka yang terjadi adalah ketidak berdayaan agama manusia untuk membawa rakyat kepada perilaku berakhlak agama tauhid.

Lantas, apakah agama tauhid yang dianut manusia tidak bisa dijadikan landasan untuk mengatur jalannya sebuah pemerintahan ? Sebuah kemustahilan kalau hukum yang ditawarkan oleh Allah tidak bisa digunakan untuk menjalankan sebuah pemerintahan. Rasulullah saw dan kedua sahabatnya Sayyid Abu Bakr dan Sayyid Umar bin Khattab telah membuktikan, betapa agama Islam telah membalik dunia arab dari dari sistem pemerintahan “jahilliyah” menuju kebesaran bangsa dan tingginya martabat manusia serta mulianya manusia di hadapan Allah swt. Sebuah ketinggian derajat yang pernah di tempuh oleh sebuah pemerintahan yang menggunakan Islam sebagai landasan pemerintahannya.

Mengapa kita yang saat ini hidup dengan Islam tidak lagi bisa mencapai derajat seperti yang pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw ? Tak lain karena kita telah mengganti “Tuhan” kita Allah dengan “Hak Asazi Manusia” yang justru diberikan oleh Allah sendiri. Sebuah hak yang awalnya mengandung pengertian hak untuk hidup dan hak untuk mati hanya ditangan Allah saja. Sehingga tidak satupun manusia yang boleh sewenang-wenang mencabut nyawa manusia lain dengan sebuah peristiwa pembunuhan. Tetapi pada akhirnya “hak asazi” memperbesar ruang geraknya dengan membebaskan perilaku manusia diluar batasan-batasan yang ada dalam agama yang sudah “pasti” di produksi oleh Allah sendiri.

Memang, sebuah ketaqwaan dan sebuah kekafiran pada Allah adalah sebuah pilihan bebas. Tapi bukan berarti kita “harus” memilih untuk “ingkar” lalu membuat aturan sendiri. Bagaimanapun Aturan-aturan yang dibuat oleh Allah derajatnya jauh lebih tinggi dan lebih baik dari pada aturan yang di produksi manusia. Yang banyak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan orang-orang atau golongan tertentu yang bertujuan untuk melampiaskan syahwat kekuasaanya. Sedangkan aturan Allah jauh lebih ketat dan mengikat. Tetapi semua aturan yang mengikat itu sebenarnya bukan untuk Allah atau untuk malaikat, tetapi untuk diri manusia sendiri.

Bagi orang yang yakin akan kehidupan akhirat, pasti akan ada usaha untuk memasuki dan menempatkan dirinya dengan mudah dan lebih baik dari pada apa yang terdapat di dunia. Tapi bagi mereka yang terpesona dengan indah dan nikmatnya kehidupan, pasti akan ada usaha untuk membuat aturan-aturan yang bersifat pengingkaran terhadap aturan-aturan yang sudah ada. Tidak ada maksud lain kecuali memberikan ruang gerak sebebas mungkin kepada setiap orang untuk berbuat sekehendak hatinya. Tidak dibatasi oleh aturan-aturan yang ketat seperti dalam aturan agama. Yang semuanya itu dianggap sebuah belenggu yang menyiksa hati manusia.

Bagaimanapun kita telah terlanjur hidup dengan aturan-aturan yang banyak dibuat oleh manusia. Yang semua aturan itu tidak mendukung manusia untuk taat pada aturan agama. Dengan kata lain banyak aturan yang dIbuat justru mengajak manusia untuk mengingkari aturan agama secara berjama`ah. Kita terpesona pada agama demokrasi dan berguru pada negara-negara yang telah lama menganutnya. Hingga lama kelamaan “aturan agama yang sebenarnya” hanya berlaku pada diri masing-masing penganutnya saja. Sedangkan negara semakin memperluas ruang gerak untuk semakin meng-copy paste apa yang saat ini terjadi di negara guru demokrasinya.

Cepatnya pengaruh agama demokrasi tidak lain karena kebebasan yang ditawarkan berbeda dengan yang ditawarkan agama manusia, terutama Islam. Islam membatasi kebebasan karena makna hidup adalah cobaan. Islam berusaha untuk mengajak agar umat memfokuskan diri dan hati pada tujuan utama kehidupan. Tidak terlena pada kebebasan yang ditawarkan dunia. Tetapi secara jujur harus diakui pula kalau mayoritas manusia memang memilih untuk menikmati dunia sebebas-bebasnya. Bahkan tanpa batas. Oleh karena itu dalam menentukan agama negarapun kita memilih sebuah sistem yang bisa memberikan jaminan hidup bebas tanpa batas.

Padahal jika saja kita meletakkan landasan pemerintahan seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. belum tentu hasilnya lebih buruk dari saat ini. Bahkan ada keuntungan ganda yang akan kita dapatkan. Yaitu hidup dengan hati penuh Iman dan jaminan mati dalam Islam. Berbeda dengan hidup yang mengagungkan kebebasan dan menjunjung tinggi hak asazi seperti yang banyak kita saksikan. Dimana sopan santun, adab kesusilaan dan rasa hormat dan saling menghargai tidak lagi mendapat tempat di hati manusia. Iman tidak lagi menjadi prioritas dan ketelanjangan jiwa dan raga lebih kita perjuangkan mati-matian.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa mayoritas orang beragama Islam kok tidak mau menerima landasan hidup dan kehidupan dengan hukum atau aturan-aturan Islam. Dan lebih memilih aturan-aturan orang-orang non Islam. Apakah mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang Islam di hadapan Allah? Ratusan juta orang yang mengaku dirinya Islam tetapi tidak mau diatur oleh Islam. Bagaimana kita nanti akan mempertanggung jawabkan keislaman kita dihadapan Allah? Bagaimana pula kita akan menyembunyikan wajah kita di hadapan Rasulullah yang sering kita junjung keteladannya?

Semua pertanyaan tentang keislaman kita hanyalah tinggal pertanyaan. Karena kita telah mempersiapkan semua jawaban yang intinya menolak diterapkannya syariat Islam ke dalam kehidupan sehari-hari dan memilih untuk bangun pagi setelah matahari naik agak tinggi. Hingga kita tidak terlalu repot untuk bangun dan berjalan dalam gelap untuk menunaikan perintah shalat disaat lagi nikmat-nikmatnya tidur. Dan kita bebas tak terbatas untuk berperilaku dengan jaminan hak asazi manusia yang telah dibuatkan jalan baru yang lebih mulus dan halus untuk menjamin berlangsungnya ketelanjangan jiwa dan raga.

Seandainya jiwa dan raga kita hidup ditengah-tengah kolam susu yang berpagar syariat Islam, dimana tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman, dengan kail dan jala saja kita sudah bisa menjalani kehidupan, betapa kita akan menemukan dua surga dalam hidup ini. Dimana kesabaran menjadi hiasan Iman kita dan keikhlasan menjadi ruh ibadah kita. Jiwa yang menolak ketamakan dan kerakusan dan raga yang bersinar karena terbasuh air wudlu berulang-ulang. Dan di setiap pergantian waktu kita jalankan shalat dengan hati yang tenang, tanpa tanpa rasa khawatir tentang kebenaran yang kita langkahkan.

Aduhai betapa indahnya hidup ini. Hidup bersama orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan, yang begitu mudah memaafkan segala kesalahan orang lain, yang suka bersedekah karena taatnya kepada Allah, yang apabila berbuat suatu kesalahan cepat-cepat memohon ampun dan mengakui kesalahannya. Yang menjadikan Allah sebagai pelindung diri, keluarga, masyarakat dan negara. Yang menjadikan Islam sebagai agama negara seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Hingga kita nantinya tidak menyembunyikan muka jika berhadapan Rasulullah saw. dan bisa mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah swt.

Tapi sesungguhnya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah. Kita sudah terlanjur hidup ditengah-tengah masyarakat yang suka mengkonsumsi semangka tanpa biji. Yang hanya ingin memakannya tanpa perduli bijinya. Yang hanya ingin Islamnya tanpa mau tahu apa inti ajarannya. Yang ingin masuk surga dengan syarat seringan-ringannya. Sungguh kita nampak seperti orang beriman tapi sesungguhnya kita adalah sekumpulan orang yang membantah kebenaran syariat Islam. Kita mengaku beragama Islam, tapi kita menolak aturan-aturan yang ditawarkan oleh Islam. Mudah-mudahan kelak Allah memberikan keringanan hukuman bagi kita semua, hingga kita bisa terbebas dari apa yang telah kita lakukan selama ini bersama jiwa dan raga kita.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2010 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: