RSS

Dunia Lain.

30 Sep

Dalam sejarahnya, manusia merindukan sebuah kehidupan yang indah, tenang dan damai. Indah karena setiap saat mata dapat melihat sesuatu yang elok, alami dan selalu menimbulkan kesan senang dan takjub. Indah karena bisa merasakan secara riel sesuatu yang bagus dan bernilai seni yang tinggi. Tenang karena tidak banyak problem atau permasalahan yang begitu berarti dalam kesehariannya. Tidak banyak suara gaduh yang mengganggu telinga dan jauh dari lalu lalangnya orang-orang yang sibuk dengan berbagai urusan dunia. Damai karena tidak ada sesuatu yang membebani dan membuat berat pikiran dan perasaan atau hati. Hingga hidup terasa benar-benar indah dan begitu nyaman untuk dijalani dan dinkmati.

Gambaran surga dalam banyak kitab telah banyak pula mengilhami pemikiran-pemikiran manusia sejak awal budayanya. Mereka berusaha untuk merancang dan merealisasikan dalam kehidupan dunia dan berusaha pula untuk menikmatinya. Dan materi yang bertindak sebagai sarana kehidupan telah membuat manusia kehilangan keindahan, ketenangan dan kedamaian yang seharusnya mereka nikmati. Hingga ketika sampai pada kesuksesan materi yang menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran, mereka berusaha untuk sesegera mungkin merealisasikan “surga-surga” yang semula hanya ada dalam kitab menjadi sebuah kenyataan yang semirip mungkin dengan apa yang digambarkan dalam kitab.

Sesempurna apapun ciptaan manusia, dunia tetaplah dunia. Yang meyimpan banyak onggokan sampah bekas kematian fungsi atau kegunaan. Dan sebuah kepastian juga bagi mereka yang menkmati “surga-surga” dunia tersebut untuk membuang sampah-sampah tersebut di luar kawasan surganya. Dan tidak memperbolehkan “sampah” dari luar untuk masuk ke wilayahnya. Bahkan hanya sekedar lewatpun mereka akan kesulitan. Karena pagar-pagar yang mereka pasang di batas-batas surganya adalah pagar-pagar yang hidup dan bisa membuat kita lari menjauh bahkan ketakutan. Itulah gambaran tentang hunian-hunian elite yang semakin hari semakin banyak bertebaran disekitar kita.

Begitu banyak pemukiman untuk orang-orang kelas elit dibangun dilahan-lahan yang semula bermanfaat atau kurang bermanfaat bagi orang-orang kecil. Kalau melihat fisiknya kita semua pasti akan mendukung sepenuhnya hunian-hunian tersebut. Karena perawatan terhadap “alam”nya yang begitu menonjol. Tapi yang agak ironis adalah kawasan-kawasan tersebut dibangun di bekas lahan-lahan petani kecil yang tergiur dengan besarnya ganti rugi yang sebenarnya kecil bagi mereka yang mengganti. Karena unsur “keuntungan” yang lebih dominan, membuat semakin menjamurnya pemukiman khusus orang-orang “the have” tersebut terus berjalan dan bahkan cenderung berlari.

Bagi mereka yang bisa menikmati, “surga” tersebut akan merasa sebagai sebuah kebutuhan. Karena konsep indah, tenang dan damai minimal dapat mereka dapatkan disana, meskipun perasaan tenang dan damai belum tentu bisa diukur dengan keindahan yang tersedia. Sedangkan bagi orang kecil, keberadaan lingkungan elite hanya menambah mereka semakin kecil dan tak lagi berarti. Karena aturan-aturan yang mereka terapkan untuk kawasan mereka menyebabkan jatuhnya derajat kemanusiaan yang mereka miliki selama ini. Karena tertutupnya kawasan untuk orang-orang selain penghuni dan tamu-tamu yang membawa barang-barang dan kepentingan khusus penghuni “surga”

Taman-taman surga jiplakan telah membawa dua konsekwensi bagi alam. Disatu sisi alam lebih “dihargai”, tapi disisi lain memisahkan kodrat manusia yang selalu ingin berinteraksi antara satu dengan lainnya. Alam lebih terawat tapi tidak setiap orang yang bisa lewat. Apalagi melihat. Kalaupun masyarakat kecil bisa masuk, itupun hanya sekedar kesempatan untuk berdecak kagum. Dan dari jauh para penghuninya melihat dan menganggap hanyalah sebuah pemandangan yang mengganggu dan merusak mata mereka saja. Hal ini lebih dikarenakan mereka para penghuni “surga” tersebut tidak mengharapkan kaum kebanyakan berada di lingkungan mereka kecuali pada saat mereka membutuhkan saja.

Mereka yang tinggal dikawasan elite hanya membutuhkan orang kecil untuk dipekerjakan. Untuk mengatasi pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin mereka mau melakukannya. Seperti pekerjaan pembantu rumah tangga dan keamanan lingkungan. Atau para pengemudi kendaraan mewah mereka. Atau para kuli angkut yang kadang mereka butuhkan. Mereka ini masih bisa menikmati indah dan tenangnya sebuah kawasan hunian elit karena mereka bekerja disana. Selain yang berprofesi seperti mereka akan mengalami kendala prosedur dari para petugas keamanan kawasan. Karena mereka tidak memperbolehkan orang lain masuk tanpa keperluan yang jelas.

Kebanyakan kawasan elit menutup hampir semua pintu gerbangnya dengan pintu besi dan para penjaganya. Dan menjadikan sebuah kawasan yang bebas dari orang lain selain mereka yang menghuninya. Mungkin mereka merasa bahwa untuk bisa menghuni kawasan seperti itu mereka harus mengeluarkan banyak materi, maka tidak boleh ada orang lain dengan seenaknya melintas dan menikmati semua keindahan dan ketenangan yang ada di dalamnya. Mungkin karena sebuah ketakutan yang sangat besat terhadap keselamatan diri dan harta mereka. Atau karena kecurigaan yang begitu berlebihan terhadap orang-orang yang tidak se”kasta” dengan mereka. Hingga hunian elit seakan-akan mernjadi dunia lain bagi orang-orang yang tinggal di kampung-kampung sebelah mereka.

Diakui atau tidak mereka ingin memisahkan diri dari orang-orang yang ber”kasta” rendah. Karena kekayaan materi yang mereka miliki menjadikan diri mereka tidak pantas untuk berdampingan dan bergaul dengan penduduk-penduduk pribumi. Orang miskin yang berjalan kaki seperti sebuah najis yang akan mengotori dan merusak pemandangan indah di kawasan hunian mereka. Mereka ingin hidup seperti penghuni surga yang sesungguhnya. Mereka mengabaikan perasaan orang miskin dan menjadikannya hanya sebagai obyek yang hanya hadir pada saat dibutuhkan saja. Jika tak dibutuhkan mereka harus berada diluar pagar dan pandangan curiga dari para penjaga kawasan.

Sesungguhnya apa yang kita miliki hanyalah sebatas apa yang ada pada diri kita. Dan hanya sebatas “rasa” memiliki sesuai dengan kesepakatan kita dengan beberapa orang lain. Sedangkan jalan, baik itu jalan setapak atau jalan makadam apalagi jalan besar yang beraspal, kita tak akan pernah memilikinya. Semua jalan adalah milik Allah. Dan Allahlah pemilik jalan yang sebenarnya. Oleh karena itu seharusnya tak ada seorangpun yang berhak untuk menutup jalan, kecuali jalan yang melintas di lahan mereka. Dan tidak seorangpun berhak untuk menghalangi seseorang untuk melintas di jalan-jalan milik Allah.

Seharusnya pula kita merasakan, berapa energi yang kita keluarkan untuk memutari sebuah kawasan elit yang begitu luas. Dan betapa tersiksanya berjalan di tengah kemacetan yang setiap hari bertambah padat. Sementara kita melihat sebuah jalan yang begitu besar yang bisa menjadi alternatif kemacetan malah ditutup rapat dengan pagar besi dan badan atau tubuh para penjaganya. Dengan pongah dan rasa tidak perduli mereka malah menikmati kemacetan yang terjadi di depan matanya. Memandang wajah-wajah lelah penuh keringat akibat terik matahari. Sama sekali tidak terlintas rasa ingin memberikan jalan “milik” Allah untuk membantu mengurangi kebingungan mereka yang terjebak kemacetan.

Sebuah kawasan yang tidak begitu banyak berguna bagi sebagian besar manusia. Justru keberadaanya lebih banyak berfungsi sebagai pemisah antara mereka yang kaya dan yang miskin. Hunian elit adalah sekumpulan manusia yang membentuk diri alergi dengan orang-orang miskin. Dan menjauhkan orang-orang miskin dari pandangan mata mereka. Mengangkat tinggi-tinggi derajat diri sendiri dan membanting jatuh derajat orang lain yang sebenarnya banyak mepunyai peran terhadap berlimpahnya materi mereka. Memandang tinggi diri sendiri dan memandang rendah orang kebanyakan. Padahal belumlah tentu pandangan itu benar.

Proteksi yang begitu ketat memungkinkan para penghuninya berbuat di luar batas-batas kewajaran perilaku. Hunian yang sepi dan tersembunyi serta bebas dari lalu lalangnya manusia berpotensi melahirkan berbagai tindak kejahatan. Dari mulai perjudian, perkosaan, pelacuran, transaksi barang-barang haram sampai memproduksi sendiri barang-barang haram tersebut. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan, mengingat sepi dan terlindungnya dari pandangan mata manusia lain. Bahkan sangat besar kemungkinan hal-hal kriminal tersebut telah dan sedang berlangsung terus sampai saat ini. Karena sebagian kecil keinginan terciptanya hunian elit juga didasari atas hal-hal seperti itu juga.

Mengapa ? Karena orang-orang yang berkelebihan materi cenderung untuk berbuat sesuatu di luar aturan agama. Mereka cenderung melanggar dan tidak perduli dengan agama. Apalagi mereka yang sekedar beragama. Dan hunian yang sepi dan terlindung dari dunia luar adalah tempat idaman bagi hal-hal negatif, meskipun tidak semua penghuni kawasan elit berkonotasi negatif. Tapi kemungkinan hunian elit jadi sarang kejahatan dan maksiat adalah sangat besar. Karena penghuninya bebas berlalu lalang tanpa prosedur keamanan dari para penjaganya. Bebas sebebas-bebasnya alias bebas tanpa batas.

Bebas berbuat dan berperilaku tanpa ada yang harus menghalanginya.

Tulisan ini bisa bersifat subyektif bisa juga obyektif. Subyektif karena pengalaman pribadi yang sering terhadang satpam untuk sekedar melihat dan melewati jalan di dalamnya. Atau melihat dan merasakan sendiri sebuah kemacetan dimulut sebuah pintu huniat elit yang nyata-nyata bisa dijadikan solusi mengatasi kemacetan yang bersifat sementara. Obyektif mungkin apa yang tertuang di dalamnya mengandung kebenaran rasio. Atau adanya sebuah pengakuan sebenarnya dari para penghuni kawasan elit yang sering tidak mengetahui kalau di dalam kawasan huniannya justru jadi sarang maksiat dan produksi obat-obat terlarang.

Sekian.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 30, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: