RSS

Jujur Beralas Kebohongan.

22 Feb

Pada awalnya kita semua banyak berharap, bahwa institusi hukum dan prosesnya serta semua perangkat yang terlibat didalamnya berfungsi sebagai sumber “mata air kejujuran”. Tapi ketika yang terjadi justru pengafiran terhadap diri “kejujuran” itu sendiri serta pengebirian terhadap semua institusi yang terlibat dalam hukum, mau tidak mau kita harus menarik diri dari “keimanan” terhadap kebenaran dan keadilan hukum produk manusia. Karena hampir semua produk yang dikeluarkan telah terkontaminasi “virus” kebohongan. Sehingga kejujuran yang seharusnya polos telah berubah tampilannya karena “bercak-bercak” kebohongan yang menyertai kemunculannya.

Dilain waktu, seperti pahlawan kesiangan kita berserikat untuk menggugat pengemban amanat rakyat atas kelahiran bayi-bayi kejujuran yang lahir cacat tersebut. Seolah-olah kita sendiri bisa memastikan untuk melahirkan kejujuran dalam keadaan polos, putih, bening alias apa adanya. Kemudian, dengan “menutup” sementara saku-saku kebohongan pada baju dan celana yang biasa kita kenakan, kita berteriak dengan lantang, “Pembohong!!!” pada mereka yang sedang duduk nyaman di kursi-kursi yang telah mereka raih dengan adonan tepung kebohongan dan pemanis-pamanis buatan. Yang lebih banyak menimbulkan suara serak akibat dari batuk-batuk seiring dengan hilangnya rasa lapar dan haus kita.

Mengapa bisa tercipta kondisi seperti ini ?

Jawabnya sebenarnya sederhana saja. Karena pergaulan ! Kita lebih banyak bergaul dan berinteraksi dengan setan yang merupakan suruhan atau kaki tangan Iblis. Hanya kita tidak pernah merasa dan mengakuinya karena manusia disekeliling kita melakukan hal yang sama dengan kita. Kita tidak pernah merasa kalau sebenarnya kita lebih “nurut” bujukan setan dari pada anjuran agama. Karena memang ternyata anjuran setan itu lebih ringan dan lebih mudah untuk diikuti dari pada anjuran agama yang lebih berat dan menyita waktu. Sementara anjuran setan lebih nyata hasilnya sedangkan anjuran agama belum pasti kapan hasilnya. Dan tanpa berpikir panjang kebanyakan dari kita lebih suka mengikuti setan. Karena ternyata sangat sedikit dari kita yang rela bersusah payah mengikuti anjuran agama.

Masihkah kita ingat ? Dalam sejarah manusia, Iblis telah sukses “mengeluarkan” nabi Adam dari surga. Dan mereka telah bersumpah untuk membelokkan hati dan akal manusia dari jalan Allah sampai hari kiamat. Nah dengan ijin Allah, Iblis dan anak buahnya akan selalu berusaha untuk membelokkan keyakinan manusia tentang Allah dengan “tipuan” yang bahan dasarnya adalah “bohong”. Dimanapun mereka berada, disitu mereka bisikkan kata-kata bohong tentang “Iman”. Dan kerja mereka sangat aktif. Berbeda dengan malaikat yang memilih tunduk patuh pada perintah Allah, Iblis dan pasukannya memilih menjadi oposisi. Mereka tak pernah melewatkan waktu walau hanya sejenak untuk membohongi dan mengajari bohong bangsa manusia.

Mayoritas dari kita memang cenderung untuk memenuhi ajakan setan. Karena kita memang cenderung menjauhi Allah. Ingatan kita kepada Allah adalah ingatan yang sangat minim. Hanya sebatas waktu shalat saja. Itupun juga kalau ingat. Banyak dari kita shalat justru tanpa melibatkan Allah. Dan yang lebih celaka lagi, banyak dari kita yang dengan sengaja melepaskan Allah dari akal dan hati kita. Dengan demikian, bukanlah hal aneh kalau tipu daya dan kebohongan memang sudah menjadi hiasan hidup kita. Karena memang kita lebih suka belajar pada setan. Yang tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui datangnya tiba-tiba sudah berada di otak dan aliran darah kita.

Bohong menghiasi hidup kita.

Kebohongan begitu merasuk dalam kehidupan manusia. Sejak masih taman kanak-kanak bohong itu sudah merupakan hal biasa. Masuk bangku Sekolah Dasar lebih berani lagi. Di bangku Sekolah menengah malah lebih lagi. Apalagi di bangku menengah atas, kalau bisa “bohong” malah bangga. Lantas apa mereka semuanya pernah berbohong ? Mayoritas. Baik dilakukan di sekolah atau di lingkungan keluarga. Ada seorang adik membohongi kakaknya. Kakak membohongi adiknya. Anak membohongi orang tuanya. Orang tua membohongi anaknya. Suami membohongi istrinya. Istri membohongi suaminya. Pendek kata hampir dari semua diri kita “tidak” steril dari kebohongan.

Dilingkungan tempat kerja juga tidak bisa steril dari “bohong”. Ada bawahan yang suka membohongi atasan. Begitu juga atasan yang suka membohongi bawahannya. Membohongi temannya sesama karyawan. Bahkan karyawan membohongi perusahaan serta perusahaan membohongi karyawannya sendiri juga sangat besar kemungkinan terjadinya. Kebohongan di lingkungan kerja bisa mulai dari alasan tidak masuk kerja sampai pada pemalsuan dan manipulasi data-data yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Demikian juga pada diri perusahaan. Tidak sedikit perusahaan yang “terpaksa” berbohong untuk menghindari kewajiban pajak.

Lebih-lebih lagi kalau sebuah kebohongan bisa menghasilkan kesenangan. Bisa-bisa “bohong” menjadi sesuatu yang “wajib” dilakukan. Lihat saja para penjual jamu “kuat” stamina. Mereka bahkan berbohong tentang kualitas dagangannya secara lantang dengan menggunakan pengeras suara. Juga mereka yang bekerja sebagai sales-sales berbagai macam produk. Kepintaran berbohong akan sangat berpengaruh terhadap laku atau tidaknya sebuah produk. Pendek kata, sulit untuk mencari disisi mana kita tidak melakukan kebohongan. Karena hampir semua aspek kehidupan mengandung kebohongan. Dan kebohongan selalu menyertai setiap kepentingan kita.

Mengapa ? Karena kita menjauhkan Allah dari otak dan hati kita. Sebuah usaha pencapaian sebuah keinginan kadang lebih banyak mengabaikan pengawasan malaikat. Ingat ! Hidup adalah cobaan dan ujian. Setiap cobaan adalah materi ujian kehidupan. Siapa pengawasnya ? Tentu saja malaikat atas perintah Allah swt. tapi kebanyakan dari kita tak pernah menyadari situasi tersebut. Kita menganggap bahwa para “pengawas” ujian tidak ada. Dan kalaupun ada “mereka” juga tidak akan menegur kita. Sedangkan sekelompok setan yang “justru” banyak bergerombol di otak dan aliran darah untuk membelokkan “kemudi” kebenaran kita biarkan dan malah kita beri ruang istimewa.

Kalau hampir semua sisi kehidupan ini mengandung kebohongan, berarti memang benar juga kalau dunia ini “panggung sandiwara”. Dan kenyataanya juga setiap hari kita juga menikmati “sinetron” yang tidak lain adalah sandiwara. Berarti kita tidak akan bisa menyangkal lagi kalau kita ini penggemar sandiwara yang nyata-nyata adalah sebuah kebohongan belaka. Kalau untuk hal-hal kecil saja kita tidak steril dari bohong, apalagi untuk sebuah kepentingan kekuasaan. Penguasa bohong ? Dimana-mana kalau penguasa itu ya bohong. Apapun sistem pemerintahan yang digunakan, pasti selalu lekat dengan kebohongan. Karena setan memang mengajari kita untuk bohong di hampir setiap saat.

Tapi jangan lupa juga, bahwa bukan hanya mereka yang berkuasa saja yang bohong. Mereka yang ingin berkuasa lebih-lebih lagi. Mereka bukan hanya menggunakan senjata bohong, bahkan mereka suka berlari-lari pagi sambil membawa kayu bakar. Menghasud kelompok sana, menghasud kelompok sini hanya untuk memperoleh dukungan “kebenaran palsu” yang diusungnya. Mereka menamakan diri pengusung kebenaran dan penjaga kejujuran. Tapi sebenarnya semua itu hanya “dagelan” yang nyata-nyata berdiri diatas landasan kebohongan. Mustahil dalam dari mereka tidak mengandung tendensi apapun. Dan tendensi umum dari usungan keranda “kosong” adalah kudeta kekuasaan secara “halus”.

Dalih apapun yang mereka gunakan untuk menangkis serangan opini tentang “haus” kekuasaan tidak akan mengubah apapun tentang tendensi sebenarnya. Alasan “demi’ rakyat adalah alasan “klise”. Dari jaman batu sampai jaman nuklir rakyat akan tetap menjadi alat untuk mencapai puncak kekuasaan. Dan harus rela ditinggalkan jika “pesta” sudah usai. Bagaimanapun perlakuan terhadap sebuah obyek pasti akan berakhir. Demikian juga terhadap rakyat yang selama “pesta” menjadi obyek kebohongan. Pada akhirnya pasti akan menyadari bahwa ternyata keheroikan yang selama ini menjadi harapan tak lebih dari pada sebuah cerita pewayangan. Meskipun kelihatan bermusuhan di luar, tapi tetap beristirahat dan tidur dalam sebuah kotak sandiwara.

Masih adakah kejujuran itu ?

Dimanakah kita bisa menemukan kejujuran, jika disetiap sudut kehidupan kita mengandung kebohongan. Orang yang mengatakan bahwa dirinya telah berlaku “jujur” justru patut dicurigai bahwa dia telah melakukan sebuah kebohongan. Karena orang yang jujur tidak akan pernah mengatakan bahwa dirinya jujur. Diantara 300 juta manusia di sekitar kita tidak satupun yang mendapatkan predikat “jujur” award. Dan kalau mau “jujur”, semua orang yang jujur itu sudah “mati” karena hanya kematian yang menjadi pemisah antara kebohongan dan kejujuran. Kematian dan semua kejadian sesudahnya tidak ada  lagi kebohongan. Yang ada hanyalah kejujuran dan kenyataan hidup yang sebenarnya.

Dunia dan akhirat adalah dua sisi tempat yang berlawanan. Demikian juga kebohongan dan kejujuran. Kebohongan hanya bisa terjadi di dunia dimana kita hidup saat ini. Sifat keduniaan yang memang “sengaja” menipu manusia, telah menjadikan kita hidup dalam kebohongan. Kesenangan dan kenikmatan sesaat telah membuat kita justru larut ajakan setan yang memang sengaja memalingkan pikiran dan hati kita agar selalu tertuju pada dunia. Padahal kesenangan dan kenikmatan yang terjadi di dunia ini belumlah tentu berimbas pada kesenangan dan kenikmatan di akhirat kelak. Dan parahnya lagi, tentang akhirat kita hanya sebatas pada “kepercayaan” saja. Tidak menyentuh “keyakinan” sama sekali.

Kejujuran di dunia hanyalah impian. Kadang bisa melintas untuk sesaat. Tapi jarang bisa bersemanyam selama umur kita. Ukuran kejujuran seseorang hanya terbatas pada pandangan kita. Selebihnya, hanya Allah dan dirinya sendiri yang tahu dan bisa merasakannya. Sebab ketika kita melakukan sebuah kebohongan, secara naluri kita akan menyembunyikannya dari orang lain. Tapi ketika kita melakukan sebuah “kejujuran” informasi saja, sebisa mungkin kita sampaikan kebanyak orang. Padahal ketika kita melakukannya ada “riya” yang mengikutinya. Demikianlah akhirnya, kejujuran karena Allah semakin sulit kita temukan di dunia ini.

Meskipun mayoritas dari kita hidup berhias kebohongan, tapi bukan tidak mungkin ada manusia yang berusaha untuk benar-benar “jujur” dalam menjalani kehidupannya. Dan untuk menemukan mereka sama sulitnya mencari jarum yang hilang di tengah hutan. Mungkin jika kita mencari manusia yang benar-benar jujur kita hanya akan mendapatkan sebatas pandangan kita saja. Sedang menurut orang lain orang tersebut adalah pembohong besar. Lantas bagaimana menghadapi situasi yang seperti ini ? Semua orang di sekitar kita mungkin telah pernah berbuat bohong. Mungkin termasuk diri kita juga. Masihkah tersisa sebuah kejujuran di dunia ini ?

Sulit untuk membuat diri ini jujur sepanjang umur. Tapi kalau tidak pernah diusahakan kitapun tidak akan pernah mendapatkan kejujuran itu. Jika hidup kita di akhirat kelak lamanya sepanjang umur akhirat, hidup kita di dunia ini tidaklah demikian. Kita hidup di dunia ini hanyalah “seumur” jagung. Hanya sekitar 60 bahkan kurang dari 60 tahun. Dibanding umur dunia yang milyaran tahun umur kita ini tidaklah berarti. Kalau orang-orang tua bilang, “urip iki ibarate cuma mampir ngombe”. Cuma sebentar. Tapi kita merasakan sepertinya sangat lama. Dan waktu hidup kita yang sebenarnya sangat sedikit ini ternyata lebih banyak kita sia-siakan untuk menikmati dunia yang sebenarnya hanya “tipuan” belaka.

Mengapa demikian? Karena sebenarnya waktu yang “sedikit” ini adalah mutlak untuk kepentingan akhirat kita. Dimana kehidupan “manusia” akan berjalan selaras dengan umur akhirat. Sedangkan dunia ini hanyalah tempat dan fasilitas “ujian” saja. Tapi kenyataanya mayoritas manusia terlena dan memilih gemerlapnya dunia dari pada “menjalani” ujian dengan baik. Kita juga menetapkan bahwa harta, tahta dan wanita berada di nomer keramat. Dan untuk ketiganya kita rela berbohong, menghasud rakyat, kita rela bertikai, kita rela saling bunuh dan kita rela ingkar tehadap kekuasaan Allah swt. padahal waktu hidup kita ini sebenarnya pendek sekali. Tapi kita tidak pernah tahan untuk bersusah-susah mengabdi kepada Allah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.

Situasi dan kondisi yang hampir sama banyak terjadi di banyak negara. Bahkan sudah banyak sekali negara yang membawa rakyatnya menjauhi agama. Dengan cara menjauhkan mata dan hati dari kitab suci dan menggantinya dengan hidangan makanan dan minuman buatan setan. Menggantinya dengan hidangan-hidangan aurat dan pose-pose serta adegan yang memang benar-benar menggugah syahwat. Yang benar-benar “kufur” menikmatinya dengan terang-terangan. Tanpa malu-malu. Tapi yang mengaku beriman menikmatinya dengan sedikit malu-malu. Tapi banyak juga meraka yang sepertinya anti atau kontra umbar “aurat” justru menikmatinya secara sembunyi. Takut diketahui orang dan takut “reputasinya” dunianya jatuh berantakan.

Siapa yang salah kalau sudah seperti ini keadaannya ? Setiap pribadi menanggung kesalahan masing-masing dan tanggung jawab mereka sendiri kepada Allah nantinya. Tapi peran ulama dan ulil amri bukanlah sesuatu yang remeh dalam hal ini. Pemisahan Allah dari sistem pemerintahan dan contoh perilaku yang tidak memberikan teladan kepada rakyat akan memberikan “hitungan” tersendiri nantinya. Mudah-mudahan para pemimpin rakyat di negara kita dan para alim ulama serta masing-masing diri kita yang mengaku meng-hamba pada Allah segera menyadari dan kembali menoleh ke belakang untuk “berkaca” kepada diri dan perilaku Rasulullah saw.

Karena dalam keyakinan kita sejak awal, hanya Rasulullah saw yang “siddiq” dan mendapat “gelar” Al Amin. Dan Rasulullah sayyidina Muhammad saw telah memberikan sebuah teladan kepemimpinan yang nyata sampai di akhir hayatnya. Seorang utusan Allah yang bukan hanya memimpin, tapi rela hidup “apa adanya” demi umat dan rakyatnya. Lalu diteruskan oleh dua orang sahabatnya yang meng-copy paste kepemimpinan beliau hingga agama tauhid Islam bisa benar-benar “akbar” seperti sekarang ini. Dan kebanyakan negara hanya menerima Islam hanya di kulitnya saja, bukan di isinya. Hanya simbol dari kebesaran dan kebenaran Islam saja yang diakui, selebihnya semua dilanggar.

Mudah-mudahan masing-masing diri yang mengaku Islam segera menyadari. Bahwa bukan hanya harta, tahta dan wanita saja yang harus dikejar dan diusahakan. Tetapi kebenaran dan kekuatan bertahan dalam Iman adalah yang paling penting. Dan bertahan dalam “kejujuran” haruslah diusahakan bukan hanya ketika kita berada di “ponten”. Karena memang di “ponten” kita akan selalu berkata jujur dengan mengatakan bahwa bau kotoran kita benar-benar “busuk”. Tapi ketika berada di luar kamar kecil kitapun harus mengusahakan kejujuran. Karena sebenarnya kejujuran itu bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri kelak di hari kebangkitan setelah kematian kita.

Sekian.

Surabaya, 21 Pebruari 2011.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2011 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: