RSS

Koalisi Teroris.

24 Mar

Kemajuan berfikir teroris di indonesia tidak mengilhami cara berfikir teroris level negara. Di Indonesia teroris sudah terlihat lebih “arif”, yaitu hanya mengarahkan bom pada seseorang yang benar-benar menjadi “target” mati. Dengan mengirimkan paket buku tebal yang berisi sebuah bom “kecil” pada seseorang yang namanya sudah masuk dalam daftar “almarhum”. Tapi teroris bumi yang sesungguhnya masih tetap memilih jalan kejam “bumi hangus”. Dengan memusnahkan semua makhluk yang ada dalam radius puluhan kilo meter dari pusat sasaran ledakan. Apa yang terjadi saat ini di Libya adalah pemusnahan makhluk hidup yang kesekian kalinya di bumi yang mayoritas masyarakatnya muslim.

Ya, setelah Jepang dengan dua bom atom di dua kotanya, Vietnam yang meninggalkan kehancuran jasad dan cacat yang benar-benar memilukan, Bosnia yang menghancurkan hidup dan harga diri umat muslim, Palestina yang sampai saat ini masih berlangsung penindasan umat muslim oleh zionis Israil, Irak yang hancur lebur karena hujan bom pasukan sekutu pimpinan Amerika, Afghanistan yang kini merana di injak-injak hanya karena tuduhan menyembunyikan Usamah Bin Laden kini giliran Libya yang menanti tercabutinya jutaan nyawa umat muslim karena kejam dan bengisnya pasukan koalisi teroris Amerika cs yang kali ini dipimpin oleh prancis.

Kepentingan dibalik koalisi pasukan teror.

Sebenarnya apa yang dikehendaki oleh koalisi teroris tersebut ? Kalau hanya “sekedar” menegakkan demokrasi tentu tidak harus diawali dengan pemusnahan manusia secara masal. Demokrasi bertujuan mulia. Mengangkat harkat dan martabat yang sama diantara semua manusia yang ada. Menjunjung tinggi persamaan derajat manusia. Memberikan kebebasan dalam menentukan arah kehidupan masing-masing individu. Tapi demokrasi juga mutlak harus dipisahkan jauh-jauh dengan berbagai macam senjata pencabut nyawa. Dan demokrasinya negara yang dihuni oleh manusia harus dipisahkan dengan dengan demokrasinya setan atau iblis yang “tamak” dan tidak pernah merasa puas dengan bagian yang didapatkan.

Jika demokrasi tidak dipisahkan dengan senjata pemusnah masal dan tidak tertutup untuk manusia-manusia yang berhati “dajjal” niscaya demokrasi hanya akan menjadi alat untuk tujuan yang sangat besar dan kejam, yaitu pemusnahan manusia yang tidak sepaham dengan keyakinan yang saat ini menghuni otak manusia yang berhati dajjal. Simak saja berbagai pembunuhan masal yang dilakukan oleh koalisi negara teroris yang pernah terjadi dan tidak akan pernah dilupakan oleh manusia di seluruh jagad. Kebanyakan dari mereka adalah umat muslim. Jika diteliti lebih dalam, selain kepentingan materi (terutama minyak) ada kepentingan lain yang lebih besar. Kepentingan apalagi kalau bukan “mengubur” umat muslim dan keyakinannya.

Minyak dan hasil bumi lain hanyalah sebuah alasan yang masih bisa diterima oleh akal. Tapi minyak bukanlah satu-satunya kebutuhan yang tak tergantikan. Kalau memang benar mereka adalah golongan manusia yang berotak “jenius” tentu mereka bisa dan sanggup mencari alternatif penggantinya. Karena Allah telah menyediakan energi yang tidak kalah hebat dari pada minyak. Air yang begitu melimpah di bumi dan panas matahari yang begitu besar energinya memang sengaja dieksplor secara lambat. Mereka tetap memilih jalan “vampire” untuk survive. Dengan cara menghisap darah bumi secara habis-habisan. Sampai saat ini manusia-manusia pengikut dajjal masih belum memahami “geliat” bumi yang terjadi secara parsial di bagian-bagian bumi yang tersebar.

Koalisi pasukan setan adalah manusia-manusia yang bertopeng. Kelihatan baik di depan tapi bengis dibelakang. Sepertinya mereka tidak pernah melupakan “doktrin” bahwa umat-umat lain selain mereka adalah binatang dan halal darah serta kematianya. Tapi mereka juga tidak mau tujuan utama “pemusnahan” etnik yang mereka rencanakan tergambar dengan jelas dimata mereka yang menjadi sasaran. Terutama dunia Islam. Maka mereka memilih jalan yang paling halus. Yaitu jalan yang mereka bisa “lalui” dan bisa “diterima” oleh mereka yang sebenarnya menjadi sasaran. Simak saja hubungan mereka dengan negara-negara yang yang dianggap sahabat. Begitu manis, meski mereka berada jauh dari “demokrasi”.

Siapa Amerika ?

Hampir semua orang tahu Amerika. Sebuah negara adidaya yang memimpikan untuk menguasai jagad dan menjadi polisi dunia. Penguasa dunia yang bagaimana ? Tentu saja penguasa yang jahat dan lalim. Karena yang ditunjukkan selama ini kepada dunia sangat mrip dengan apa yang dilakukan oleh srigala berbulu domba. Sebuah negara yang pemimpinnya selalu menerapkan standard ganda dalam menyikapi sebuah permasalahan yang sudah jelas salah dan benarnya. Sebuah negara yang bersembunyi dibalik demokrasi dan hak asazi manusia untuk memperdaya sebuah negara lain. Sebuah negara yang menerapkan politik luar negeri seperti memberi makan seekor burung sambil mencabuti bulunya satu persatu. Untuk kemudian lumpuh dan selalu bergantung pada mereka.

Sebuah negara yang memiliki pasukan iblis yang suka membunuh manusia dengan tertawa-tawa. Pelopor penghancuran kehidupan yang bersembunyi dibalik komunitas penyelamat alam. Sebuah negara yang tidak mempunyai rasa keadilan terhadap apa yang terjadi terhadap rakyat Palestina. Negara yang melarang negara lain memproduksi senjata nuklir, sementara manusia tidak banyak tahu tentang pengembangan dan produksi senjata pemusnahnya. Hampir semua kebijakan yang diambil untuk sebuah konflik di negara muslim berakibat penghancuran. Bisakah kita menyelami apa yang sebenarnya dilakukan oleh negara-negara hipokrit tersebut ? Terlalu banyak membutuhkan energi untuk mengungkap kejahatan “besar” yang telah berulang-ulang terjadi di depan jutaan mata.

Demi “tegaknya” demokrasi hanya isapan jempol.

Berapa banyak negara anti demokrasi yang menjadi “sahabat” Amerika. Di Asia maupun Eropa. Dan Amerika tak pernah mengusiknya. Kalau negara monarchi tersebut adalah sebuah negara “liliput” mungkin masih bisa diterima akal. Dengan sekali gempur tanah lapang sudah terhampar. Tapi jika negara monarchi benua Eropa sampai “sami`na wa atho`na” terhadap Amerika, hal ini adalah sebuah “keterbacutan”. Negara-negara maju yang kelihatan kuat dan ber”harga diri” tinggi ternyata hanya sekumpulan balita yang meng”hamba” pada seorang “paman” yang berinitial “sam”. Seorang anak kecil yang tak pernah bisa mengucapkan kata “tidak” pada ajakan “paman”nya. Meskipun ajakan tersebut sangat kental dengan “bau” neraka.

Takut ! Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan sebuah negara yang cenderung “rentang renteng” dengan paman Sam. Seperti “pecundang” yang tak pernah berani melawan. Meski andaikata diludahi wajahnya dan dilempari tubuhnya dengan kotoran cowboy. Tapi dihadapan negara-negara “masykin” mereka berlagak “sok” punya harga diri. Sok berwibawa. Padahal dihadapan paman angkatnya sendiri tak pernah kuasa untuk sekedar “menggeleng”kan kepala. “Sendiko dawuh” adalah senjata ampuh untuk tetep di”wawuh”. Karena jika tali “kekerabatan” sampai putus, maka rasa bencipun akan hinggap. Kalau rasa benci sudah menghinggapi, maka yang ada hanya rasa ingin memusuhi. Dan jika kata “musuh” sudah masuk dihati, maka tunggu saja giliran kehancurannya.

Inilah sebab kehancuran sebagian besar negara muslim di Asia. Karena “keberanian” yang tak pernah luntur menghadapi musuh-musuh Allah. Karena keberanian untuk berkata tidak pada “kekafiran” yang terlanjur merajalela di muka bumi. Karena tidak mau menukar harga diri kepemimpinan dengan sebuah pengkhianatan terhadap Allah. Terhadap Rasulullah saw. Dan terhadap rakyat serta keyakinan yang dianutnya. Lebih baik mati dalam keimanan dari pada hidup tanpa harga diri dan harus menghamba pada kepemimpinan dajjal. Tapi berapa banyak mereka yang berpikiran seperti ini dalam kepemimpinan mereka ? Tentu saja tidak begitu banyak ! Karena kebanyakan manusia lebih suka selamat diri dan keluarganya sendiri serta memperkaya diri dan keluarganya sendiri.

Runtuhnya Irak dan jatuhnya kepemimpinan Presiden Saddam Hussein bisa jadi karena termakan pancingan Amerika yang ber”umpan” Kuwait. Tapi untuk menumbangkan seorang Saddam Hussein yang sudah “rapuh” dengan mengerahkan Pasukan Multi Nasional adalah sebuah perbuatan yang sangat-sangat pengecut ! Apalagi harus menghancurkan seluruh infrastruktur yang sarat dengan peninggalan budaya masa lampau. Hal ini tak beda dengan membunuh singa tua dengan memporak porandakan dan membakar seluruh kawasan hutan. Dan sikap “mengeroyok” ramai-ramai sebenarnya hanyalah “trik” untuk “nabok nyilih tangan” saja. Karena kalau dilakukan oleh pasukan Amerika sendirian sama saja dengan bunuh diri. Karena beban biaya perang bisa membuat perekonomian Amerika bangkrut.

Perlakuan yang berbeda didapat oleh negara tetangga Irak. Yakni Iran. Kepemimpinan kaisar Shah Reza Pahlevi mendapat dukungan penuh Amerika. Mungkin Pemimpin Iran tersebut bisa menjadi anak yang “manis” bagi Amerika dan sekutunya. 37 tahun Shah Reza berkuasa tanpa demokrasi, tapi tidak sedikitpun keinginan tegaknya demokrasi terjamah. Bergulirnya revolusi pimpinan para ulama menyebabkan sang kaisar terakhir Persia tersebut terpaksa hengkang dari negaranya sendiri dan harus mengeakhiri hidupnya di negeri boneka paman sam yang lain. Iran di jaman Shah hanyalah salah satu dari sekian banyak negara monarchi sahabat Amerika. Saat ini masih begitu banyak negara tanpa demokrasi yang bersembunyi di ketiak paman Sam. Di Asia maupun di Eropa.

Agresi pasukan teroris selalu berakhir memilukan.

Bukti-bukti yang tersisa dari kekejaman pasukan koalisi masih banyak dan masih terlihat dengan jelas. Ribuan bahkan ratusan ribu atau mungkin justru jutaan ranjau yang ditanam di lahan-lahan tak berdosa di negara-negara yang saat ini hancur adalah saksi bisu kebiadaban pasukan pembunuh. Belum lagi mereka yang saat ini menderita cacat seumur hidup akibat muntahan peluru dan sebaran senjata kimia. Tapi tetap saja dunia “diam”. Karena seluruh korban bukan dari etnik mereka. Kalaupun ada korban di pihak koalisi, tentu hanya merupakan sebuah pengorbanan kecil untuk tujuan yang mereka anggap besar dan “agung”. Pemusnahan etnik selain etniknya. Terutama mereka yang berbeda keyakinan. Dunia diam dan membiarkan karena sejujurna mereka membutuhkan tontonan.

Sebuah tontonan yang hanya bisa memuaskan hati mereka yang telah menyandang gelar “monster”. Bukan sebuah tontonan untuk manusia biasa. Mereka menganggap diri sebagai manusia yang “telah” berbudaya, tapi mereka membunuh seperti layaknya pasukan “jahil” yang tidak ber”hati”. Datang membawa ketakutan dan pergi meninggalkan suasana yang begitu memilukan. Dimana semua yang berdiri megah telah terhampar hancur. Yang tertutup telah terobek-robek. Yang utuh tidak lagi terlihat bentuknya. Yang tua terkapar, yang muda cacat disana sini. Anak-anak tak lagi bisa melihat ke depan. Suram dan tidak lagi jelas. Semua luluh lantak. Baik jasad, pikiran dan harga diri. Dan ini tak akan pernah berhenti selama dajjal bebas melakukan agresinya.

Kesombongan dan kesewenang-wenangan negara-negara “destroyer” hanya bisa dilhat dan dirasakan oleh mereka yang mempunyai perasaan sensitif. Mereka yang apatis terhadap penderitaan orang lain tentu tidak akan pernah bisa merasakan betapa jahat koalisi pasukan pembasmi manusia tersebut. Padahal sudah jelas di depan mata, bahwa pembantaian yang dilakukan para pasukan “tanpa” hati telah menyebabkan penderitaan yang sulit di ungkapkan hanya dengan kata. Tak cukup diungkapkan dengan habisnya air mata. Kehormatan dan harga diri yang tercabik-cabik hanya bisa di tebus dengan “balas dendam” yang setimpal. Tapi kapankah dendam yang “setimpal” itu dapat terlampiaskan ? Rasanya sulit terbalaskan kalau kita hanya mengandalkan “ndelok” dan “ngelus dhodho” saja.

Kebangkitan perlawanan hanya dilakukan orang per orang. Mereka berjuang dengan kemampuan seadanya dan “sekenanya”. Akibat yang ditimbulkan adalah munculnya simpati “hanya” dari dalam hati dari sebagian kecil masyarakat. Tapi umpatan, hujatan dan sumpah serapah tak penah berhenti atas aksi para pembela “ikhwan” muslim tersebut. Kenapa ? Banyak korban “sampingan” yang mereka anggap tidak pernah berdosa berjatuhan di banyak tempat. Berbeda sekali dengan sikap kita dan sikap dunia terhadap pembantaian dan pemusnahan manusia yang dilakukan oleh pasukan koalisi Iblis. Kita dan dunia, terutama yang mengaku berada di atas jalan yang benar, lebih cenderung untuk diam dan menahan diri dari emosi untuk kemudian tertidur dan membiarkan semuanya terjadi.

Meski korbannya berjumlah ribuan kali lipat dan sisa penderitaan yang ditinggalkan begitu memilukan, tapi dunia tetap “diam”. Tak bereaksi apa-apa. Kalaupun bereaksi hanya terbatas pada kata-kata dan penyesalan kenapa hal itu bisa terjadi. Hanya ungkapan belasungkawa yang terucap. Lalu diam. Tak ada reaksi lain yang lebih nyata. Dilain kesempatan yang tidak jauh dari kejadian pembantaian dunia tetap melangsungkan “hubungan” dengan penyebar angkara murka tersebut. Seperti tak pernah ada kejadian yang kejam dan memilukan yang menimpa saudara mereka di belahan bumi yang lain. Masih kalah “setia” dibanding anak-anak kecil. Ya, masih kalah dalam kesetiaan dibanding anak kecil yang sesungguhnya.

Anak-anak kecil akan melakukan sesuatu demi kesetiaan terhadap temannya. Apalagi yang masih ada hubungan “saudara”. Mereka akan memutuskan untuk “siwak” terhadap mereka yang melakukan ketidakadilan dan penganiayaan terhadap teman dan saudara mereka. Sedangkan kita umat Islam dunia yang sudah dewasa tidak melakukan apa-apa. Kenapa ? Banyak faktor yang bisa dijadikan alasan. Tapi muara semua alasan yang muncul tidak lain hanya ada pada satu kata. Yakni “takut”. Untuk “siwak’ dengan memutuskan hubungan diplomatik saja kita takut. Apalagi untuk muncul dan melawan seperti pasukan Rasulullah Muhammad saw. Hanya mengecam dan hubungan diplomatik tetap berlanjut. Maka tak berlebihan kiranya kalau pembantaian dan pemusnahan dunia Islam akan terus berlanjut di kemudian hari. Karena cara berpikir kita masih kalah dengan anak kecil yang belum pernah sekolah.

Hanya ketakutan yang amat sangat yang menyebabkan seseorang diam mematung untuk sebuah penindasan dan pelecehan harga diri manusia lain. Ketakutan yang bersumber pada kehilangan harta dunia dan kematian. Padahal kedua jenis takut tersebut menandakan sangat “lemahnya” Iman seseorang. Kenapa kita tidak meniru kekuatan Iman pasukan Khalid bin Walid, pasukan Amr bin Ash dan pasukan-pasukan Rasulullah yang lain. Yang tidak perduli lagi pada habisnya harta benda. Yang tidak perduli lagi pada kematian dalam membela agama dan saudara-saudaranya. Memang sangat banyak alasan untuk “diam”. Tapi diam yang dilakukan pada saat “diam” tidak dibutuhkan adalah diamnya pengkhianat Allah dan Rasulullah saw. Padahal Allah dan Rasulullah saw telah memberikan “warisan” yang yang ternilai di tanah yang mereka pijak.

Mudah-mudahan tanah yang saat ini dijadikan pijakan umat muslim segera bergerak. Bergerak untuk membangkitkan semangat pencegahan terhadap kemunkaran yang dilakukan oleh koalisi pasukan Iblis. Hingga tidak ada lagi Iblis-Iblis kelas dunia yang dengan seenaknya menginjak dan memporak-porandakan umat Rasulullah saw. Hingga tidak ada lagi kebiadaban di muka bumi ini. Karena pada dasarnya manusia hanya punya dua pilihan. Meng-copy paste perilaku Iblis atau menggunakan kekuatan malaikat. Jika mereka para pengikut Iblis sudah jelas kenapa kita tidak mencontoh pasukan Rasulullah dan menggunakan kekuatan malaikat ? Hanya ada dua pilihan. Mulia didunia atau mulia di akhirat. Kalau kita memilih yang lain dengan pilihan mulia di dunia dan akhirat hanya realitas perbuatan yang dibutuhkan. Bukan hanya sekedar basa-basi lisan saja.

Bangkit dan timbulkan keberanian untuk melawan. Dengan mengawali untuk belajar berkata “tidak” untuk setiap kemunkaran yang akan terjadi. Wujudkan kepedulian kita terhadap hilangnya “kemanusiaan” yang adil dan ber”adab”. Realisasikan cita-cita untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia. Dan timbulkan keberanian meski hanya bisa maju sejengkal. Kematian hanyalah soal waktu. Tapi kematian masal yang disebabkan kemungkaran harus dihentikan. Harus dilawan. Karena kematian yang disebabkan oleh ketakutan adalah kematian yang benar-benar sia-sia. Lawan dan yakinlah bahwa perang “Badr” adalah sebuah kebenaran. Mudah-mudahan Allah segera memberikan petunjuk kepada kita semua tentang apa yang harus kita lakukan.

Sekian.

Surabaya, 24 maret 2011.

Agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 24, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: