RSS

Menyempurnakan Waktu.

08 Apr

Sebuah kolaborasi gerak antara bumi dan bulan terhadap matahari yang sangat mengagumkan Batas antara siang dan malam yang mencatat dengan teliti setiap gerak kehidupan. Kita biasa menamai tarian bumi dan bulan yang begitu kompak tersebut dengan kata waktu. Sepenggal kata yang membatasi antara kehidupan dan kematian. Antara ada dan ketiadaan. Sebuah kata yang mengisyaratkan bahwa bumi, bulan dan matahari adalah sesuatu yang hayat. Karena hanya yang hidup yang bisa dan sanggup untuk menghidupi. Hanya yang hidup yang bisa memberikan manfaat buat kehidupan. Hanya yang hidup yang berhak atas waktu yang telah di tentukan. Sebuah kesempatan mewarnai jiwa dengan estetika atau justru dengan angkara murka.

Dalam perjalanannnya, waktu berlalu dan bermetamorfosis menjadi kesempatan sesaat setelah hidup merengkuh dan mengaplikasikannya ke dalam kekosongan jiwa. Lalu, kehidupan mengikrarkan diri sebagai sebuah kesempatan untuk pembentukan karakter jiwa yang menghasilkan jati diri yang bernilai moral. Sebuah value yang menentukan naik turunnya derajat kebeningan jiwa. Berjalan tertatih diatas seutas tali taqwa dan berdiri tegak di atas duri kefasikan. Suka atau terpaksa kita akan meretasnya. Berjalan tergesa dan teledor atau berjalan tenang dalam dzikirullah. Tak ada paksaan. Kita bebas mengarahkan langkah kaki kita. Kemanapun arah yang akan kita jadikan tempat berlabuh, waktu akan menyertai perjalanan sampai batas akhir hembusan nafas kita.

QS. Al `Ashr` : 1- 2

وَالْعَصْرِ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴿٢﴾

“Wal Ashri ~ innal `insaana lafii khusrin”

Demi Waktu ~ Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian”

Lahir, hidup lalu mati meninggalkan waktu. Waktu yang benar-benar milik kita hanyalah waktu yang sirna ketika hembusan nafas terakhir menghampiri jasad. Sebuah kesempatan yang datangnya dari Allah. Hanya sekali. Dan tidak akan pernah datang lagi setelah terhapus oleh kematian. Kesempatan hidup yang dibatasi waktunya oleh Allah. Seperti sebuah lomba atau pertandingan yang terikat erat oleh waktu. Maka ketika Allah menegaskan tentang pentingnya waktu dalam kehidupan, seharusnya tak ada lagi sebuah permainan iseng. Karena menyebabkan kita kehilangan kesempatan meraih angka. Kehilangan angka atau nilai menyebabkan kita tertinggal. Tentu saja tertinggal di padang mahsyar dalam keadaan tak menentu. Menunggu terlaksananya hukuman karena menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Allah swt.

Waktu memberikan kepada kita kesempatan untuk berbuat sesuatu. Ayat ke tiga dari surat Al `Ashr` tersebut memberikan informasi kepada kita bahwa hanya perbuatan baik yang dilandasi Iman dan sikap saling mengingatkan satu sama lain dalam hal kebaikan dan kesabaran saja yang akan memperoleh keberuntungan. Kira-kira keberuntungan apa yang akan kita peroleh dari kedua perbuatan tersebut ? Kita menginginkan jawaban yang konkret. Kita selalu menginginkan sesuatu yang nyata. Sedangkan jawaban berupa kemenangan dan hadiah surga sering sekali kita dengar. Tapi tak satupun jawaban dari pertanyaan serupa bisa memuaskan kita dari dahaga kebenaran. Lalu dimana kita mencari jawaban atas pertanyaan yang sering melintas ini ? Sedangkan waktu terus saja berjalan tanpa halangan.

Lomba dalam sebuah pertandingan.

Ketika kita menyaksikan sebuah lomba atau pertandingan, yang terlihat adalah sebuah kenyataan antara dua atau beberapa peserta yang sejajar atau berhadapan. Dan ketika waktu yang tersedia sudah terlewati, maka lomba atau pertandingan lantas dihentikan. Apa yang akan kita lihat selanjutnya adalah sebuah penentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dan hadiah utama hanya diberikan pada pemenang. Yang kalah ? Hanya hadiah hiburan sebagai ucapan terima kasih atas peran sertanya dalam even yang telah digelar. Benarkah demikian ? Secara umum memang demikianlah yang selalu terjadi. Ada lawan, ada persaingan, ada kemenangan sekaligus kekalahan dan ada hadiah atau ganjaran.

Perlu kita tahu bahwa pagelaran yang di helat oleh manusia tidak akan bisa menyamai pagelaran akbar yang dihelat oleh penguasa alam, Allah swt. Tapi logika manusia dalam sebuah permainan adalah contoh nyata kebenaran sunnatullah. Ada peserta, ada aturan, ada pengawasan dan pencatatan skor. Kira-kira berita tentang kemenangan dan keberuntungan pada ayat-ayat Al Qur`an benar apa tidak ? Jika kita menjawab benar, tentu jawaban kita harus di letakkan di atas logika berpikir dan keyakinan. Tapi jika kita menjawab salah, berarti kita tidak pernah menemukan kebenaran dalam logika berpikir manusia. Tidak punya keyakinan dan ragu akan kebenaran Al Qur`an. Terserah kita mau pilih yang mana.

Hidup adalah kesempatan mengikuti ujian di sebuah pertandingan yang dibatasi oleh waktu.

Manusia adalah pesertanya. Peserta yang lain adalah Iblis dan semua yang mengikutinya. Lalu bagaimana cara bertandingnya ? Inilah yang menarik untuk disimak. Even yang digelar oleh Allah akan sangat berbeda dengan even yang di helat oleh manusia. Jika manusia adalah peserta yang jasadnya terbuat dari sari pati tanah, Iblis dan pengikutnya terbuat dari panas api. Malaikat sebagai pengawas dan pencatat jasadnya dibuat dari bahan cahaya. Jika dalam pertandingan peserta harus saling berhadapan, maka dalam even akbar kehidupan manusia tidak bisa berhadapan langsung dengan peserta lain yang merupakan lawan. Mengapa ? Karena keterbatasan kemampuan manusia dan aturan main dari Allah yang tidak memerlukan situasi saling berhadapan.

Manusia tidak bisa melihat lawannya, maka manusia tidak bisa bertarung secara fisik karena memang hal itu tidak diperlukan. Iblis dan pengikutnya mungkin bisa melihat manusia, tapi mereka tidak bisa melakukan kekerasan secara fisik. Ada tabir dari Allah agar iblis dan pengikutnya tidak melakukan hal itu. Meskipun kadang ada juga terjadi pelanggaran tersebut. Manusia hanya perlu mempertahankan diri dari rayuan Iblis dan pengikutnya. Dengan cara menghindarkan pandangan, pendengaran dan rasa nikmat yang ditawarkan oleh iblis. Tidak perlu memukul, menendang atau bahkan mengkanvaskan lawan. Sedangkan Iblis hanya boleh merayu, menggoda dari sisi mana saja agar manusia mau masuk dalam kelompoknya. Design pertandingan memang dibuat sedemikian rupa hingga tidak lagi bisa disebut sebagai pertandingan.

Ya manusia hidup memang sedang berlomba. Berlomba untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin untuk meraih point maksimal. Pesaingnya adalah sesama manusia. Iblis dan pengikutrnya adalah peserta dari dunia lain dan merupakan lawan yang sangat berat. Lawan yang harus segera disingkirkan apabila mendekat. Karena kalau tidak demikian iblis akan menghalangi jalan manusia dalam usahanya berbuat baik demi point maksimal. Namun tidak sedikit manusia yang justru berbelok arah dan berhenti untuk beristirahat atau bahkan tinggal di warung, depot, restoran, hotel yang dikuasai oleh Iblis. Mereka yang terbujuk oleh rayuan Iblis inilah yang akan tertinggal bahkan kehilangan sebagian besar waktu yang diberikan oleh Allah.

Waktu memang tersedia tak terbatas. Tetapi waktu yang kita miliki hanyalah sebatas pada masa hidup kita. Seperti berlalu lintas di jalan raya, disaat lampu menyala hijau manusia harus berbuat sesuatu. Sampai tiba waktunya lampu menyala merah. Lampu kuning menyala sesaat untuk memberi peringatan bahwa waktu kita tinggal sedikit lagi. Ditandai dengan perubahan warna rambut, kulit yang mengeriput, penglihatan yang berkurang, tulang-tulang tak lagi kuat. Semua hal tersebut menginformasikan sisa waktu yang tidak lagi panjang. Tidak bisa lagi dibuat main-main. Mungkin tak lama lagi waktu akan memisahkan kita dari dunia yang fana ini.

Waktu yang saat ini kita genggam harus terisi dengan perbuatan. Karena hanya perbuatan yang akan memberikan nilai atau manfaat bagi diri sendiri. Entah nilai positif atau negatif. Perbuatan sendiri terbagi menjadi 3 kelompok.

  • Yang pertama adalah perbuatan yang bermanfaat.Termasuk dalam perbuatan yang bermanfaat adalah perbuatan yang bernilai baik dimata manusia dan dihadapan Allah. Intinya adalah taat pada perintah Allah dan anjuran agama. Point yang akan kita dapatkan dalam perbuatan ini adalah point positif.
  • Yang kedua adalah perbuatan yang tidak bermanfaatYaitu perbuatan yang bertentangan dengan anjuran agama atau perbuatan yang memang dilarang oleh Allah. Atau semua perbuatan yang berkonotasi negatif, merugikan orang lain atau berbuat kerusakan terhadap alam. Hasil yang akan kita dapatkan adalah point negatif.
  • Yang ketiga adalah perbuatan yang tidak bernilai atau sia-sia.Perbuatan tidak bernilai disini adalah sebuah perbuatan seperti yang dikatakan dalam ungkapan, misalnya menggarami laut. Padahal air laut sudah asin. Atau seperti kata menyapu angin. Termasuk dalam perbuatan ini adalah hobby makan berlebihan, suka melihat banyolan hingga selalu tertawa-tawa. Atau bersedekah sambil mengumpat mereka yang diberi sedekah.

Menyia-nyiakan waktu adalah sebuah kerugian. Dalam QS. Al `Ashr` ayat 3 Allah menegaskan, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Sederhana, tapi perlu penjabarann yang agak panjang mengenai satu ayat tersebut. Perbuatan yang baik hanya akan bernilai dunia apabila tidak dilandasi dengan Iman. Tetapi, perbuatan yang baik akan bernilai dunia dan akhirat apabila dilandasi dengan Iman. Erat sekali hubungannya dengan keikhlasan dalam melakukannya. Jika sebuah perbuatan tidak dilakukan dengan ikhlas hanya akan menjadikan sebuah perbuatan yang sia-sia. Keterlibatan Allah dalam setiap perbuatan menjadi kunci nilai akhirat yang positif.

Saling mengingatkan adalah kepedulian horizontal yang bernilai vertikal. Sebagai wujud interaksi positif antar sesama yang dibatasi dua kata. Kebenaran dan kesabaran. Dua kata yang menjadi kunci keberhasilan akhirat setelah Iman dan amal shalih. Kebenaran adalah sesuatu yang harus dicari dan diusahakan. Meskipun kata tersebut sudah akrab di telinga dan mulut kita tapi kadang bisa menghilang dari kesadaran. Dzikr atau ingat menjadi perekat antara perbuatan dan kebenaran. Sedangkan kesabaran menjadi alat pengurang kecepatan atau rem. Tentu saja agar perbuatan tidak menjadi liar dan tak terkendali. Meredam emosi dan menata hati agar tidak terjerumus ke perbuatan terlarang.

Membagi waktu.

Waktu yang sempurna bagi manusia adalah waktu yang terisikan dengan perbuatan yang dianjurkan oleh agama. Waktu kita adalah waktu yang kita miliki. Tetapi dalam keseharian sebagian waktu untuk berbuat sesuatu sudah kita berikan kepada orang lain. Karena ketergantungan antara satu sama lain. Saling membutuhkan mengakibatkan barter atau pertukaran sesuatu. Kadang kita hanya mempunyai waktu dan tenaga. Ada juga dari kita yang mempunyai waktu, tenaga dan keahlian khusus. Tapi tenaga dan keahlian tidak bisa kita barter tanpa waktu. Untuk itulah manusia perlu memperhatikan pembagian dan penggunaan waktu agar bisa memperoleh hasil yang maksimal. Tidak mengkorup waktu yang sebenarnya hak orang lain karena sudah dibarter.

Sebuah contoh nyata adalah perilaku sehari-hari kita. Tenaga dan keahlian serta waktu yang kita miliki di waktu siang sebenarnya telah kita barter dengan lembaran-lembaran uang. Sehari selama 7 (tujuh) jam yang dipisahkan oleh waktu istirahat selama satu jam. Satu minggu menurut perjanjian kita harus memberikan tenaga, keahlian dan waktu milik kita selama 40 (empat puluh) jam. Lantas di akhir atau awal bulan kita menerima hasil barter milik kita tersebut dengan lembaran-lembaran uang. Tapi benarkah kita telah melakukan barter tersebut dengan sempurna ? Artinya, apakah kita telah memberikan tujuh jam sehari tanpa menguranginya ?

Jujur saja kita akui, kalau sebagian dari kita suka sekali mengakali partner barter kita. Tujuh jam sempurna yang mesti kita berikan kepada pemilik modal kadang kita kurangi dengan hal-hal yang semestinya bisa kita lakukan pada waktu milik kita sendiri. Pada waktu pagi sebelum sirine mulai kerja dibunyikan, siang hari di waktu istirahat selama satu jam atau di waktu sore seusai jam pulang kerja. Hingga kalau benar-benar dihitung dalam menit, tujuh jam kerja tersebut tidak akan benar-benar selama tujuh jam. Kalau tujuh jam tersebut berkurang bukan karena kesengajaan, mungkin masih bisa ditoleransi. Tetapi kalau buah dari kesengajaan berarti kita telah melakukan pengingkaran kesepakatan yang telah kita lakukan. Dalam bahasa belanda sering disebut wanprestasi.

Perilaku yang sering kita lakukan pada saat jam kerja adalah, sarapan sesaat setelah jam mulai kerja. Makan siang pada saat mulai kerja setelah istirahat. Juga ibadah shalat yang semestinya bisa kita lakukan pada jam istirahat atau pada saat jam pulang kerja. Ada juga hobby lain seperti transaksi kerja sambilan dengan menawarkan produk-produk dari luar perusahaan. Kita suka melakukannya. Alasan kita untuk menambal kekurangan upah. Padahal kita memasarkan produk perusahaan lain pada saat kita harus memberikan jam kerja kita pada perusahaan dimana kita bekerja. Mestinya semua urusan pribadi kita ya kita lakukan di luar waktu milik perusahaan.

Hal seperti inilah yang disebut mengurangi waktu kerja dengan sengaja. Bahkan kadang waktu kerja tersita untuk monitoring hutang barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan pokok. Tapi giliran ketika kelebihan jam kerja sedikit saja kita benar-benar tidak mau dan menuntut ganti rugi berupa jam lembur. Memang secara umum kita ini termasuk manusia yang suka mengambil hak orang lain tanpa mau kelangan sedikitpun hak kita. Mencuri waktu untuk kepentingan pribadi sepertinya memang sepele, tapi kalau dilihat dari kacamata kebenaran kita harus akui kalau itu memang sebuah kesalahan yang mengandung unsur kesengajaan. Termasuk didalamnya sengaja melambatkan diri setelah dering waktu kerja berbunyi.

Waktu akan memutar kembali untuk apa digunakan dirinya (diri waktu). Maka jika ingin memperoleh keberuntungan gunakan dan distribusikan waktu dengan sempurna. Isi dengan sesuatu yang bermanfaat dan jangan isi waktu dengan sesuatu yang hanya bersifat duniawi. Beberapa saat dari waktu aktif yang kita miliki sebaiknya kita gunakan untuk taffakur memikirkan ayat-ayat alam dan selalu ucapkan pujian ketika kita menemukan sesuatu yang menambah kedalaman Iman kita. Sejujurnya saja kita telah banyak kehilangan waktu dimasa lalu, tapi waktu lomba kita belumlah habis. Insya Allah masih ada beberapa waktu ke depan untuk memperbaiki penggunaan dan pembagian waktu yang kita miliki. Introspeksi diri dengan kacamata Iman mungkin akan lebih mudah untuk menemukan jati diri kita saat ini yang sebenarnya.

Sekian.

Surabaya, 08 April 2011.

Agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 8, 2011 in Renungan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: