RSS

Kematian Hati

23 Apr

Dosa adalah penyebab timbulnya noktah hitam yang bersemayam dalam hati. Lahir beriringan dengan wujud perbuatan yang berpangkal pada penentangan terhadap kebenaran. Saling kejar laksana sampah yang terbawa ombak ke tengah lautan. Mencari dan menempati ruang-ruang kesucian serta memberi warna kebeningan hati yang begitu dalam. Lalu, tanpa terasa kelembutan berubah mengeras. Tak peduli dengan apa yang telah diperbuat dan tak sadar apa yang sedang diperbuatnya. Kekerasan hati yang perlahan akan mengakibatkan kematian. Kematian hati. Seberkas kematian yang menyebabkan penumpukan sampah di kekosongan jiwa yang tak kuasa menolak kedatangannya.

Penyebab utama jiwa dipenuhi sampah dosa adalah hati yang berpenyakit. Iri dan dengki akan menimbulkan kesombongan. Lalu timbul sifat narsis, sifat bangga terhadap diri sendiri. Merasa diri paling benar dan apa yang dilakukan oleh orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya dianggap sebagai sebuah kesalahan. Penyakit jenis ini paling banyak bersarang di dalam hati kita. Dampak dari penyakit hati ini kadang juga bisa bersifat anarkis. Bukan hanya berdampak pada gesekan kelompok-kelompok kecil masyarakat, tapi bisa jauh lebih besar lagi. Yakni, timbulnya rasa benci dan dendam yang menjurus pada permusuhan abadi.

Hati yang terkunci.

Dalam Al Qur`an, hati yang berpenyakit adalah hati orang-orang yang mengingkari kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Hingga mereka tidak akan pernah mau meyakini kebenaran yang datang kemudian. Bahkan jika diperingatkanpun mereka tidak akan pernah mau beriman. Karena perilaku yang demikian itulah lantas Allah mengunci mati hati mereka. Seperti yang di informasikan di QS 2 : Al Baqarah : 6-7.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴿٦﴾

Innal ladziina kafaruu sawaa`un `alaihim, `a`andzartahum `am lam tundzirhum laa yu`minuuna”

”Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman”.

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴿٧﴾

Khatamallahu `alaa quluubihim wa `alaa sam`ihim, wa `alaa abshaarihim ghisyaawatuw wa lahum `adzaabun `adhiim”

”Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”.

Seperti yang pernah terjadi pada kaum mad-yan. Dimana ketika nabi Syu`aib mengingatkan agar mereka menyembah Allah dan tidak mengurangi timbangan atau takaran serta tidak menghalang-halangi manusia untuk berusaha di jalan Allah. Nabi Syu`aib juga memperingatkan agar jangan berbuat kerusakan di permukaan bumi. Namun mereka mendustakan dan bahkan berusaha mengusir nabi Syu`aib dari kaumnya. Lalu Allah swt menurunkan azab berupa gempa bumi kepada mereka setelah mengunci-mati hati orang-orang yang mendustakan nabi Syu`aib. Maka bergelimpanganlah mayat-mayat mereka yang mendustakan Allah dan mendustakan peringatan yang diberikan oleh nabi Syu`aib karena gempa bumi yang sangat dahsyat.

QS. Al a`raaf : 100.

أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ ۚ وَنَطْبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ﴿١٠٠﴾

`Awalam yahdi lilladziina yaritsuunal ardha mim ba`di ahlihaa `an lau nasyaa`u ashabnaahum bidzunuubihim, wanathbau `alaa quluubihim fahum laa yasma`un”

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Mereka orang kafir yang dikunci mati hatinya oleh Allah, tidak akan pernah bisa memperoleh petunjuk tentang kebenaran ajaran Islam. Mata dan telinga mereka tertutup dari pemahaman kebenaran Al Qur`an. Tidak akan bisa memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Iman yang mereka akui tidak lain hanya sekedar pengakuan bohong. Pura-pura beriman jika berada di dekat orang beriman, kemudian terlihat kafir jika kembali di komunitas kekafiran. Pura-pura baik tapi sebenarnya memusuhi umat Islam dan ajarannya. Memandang rendah dan melecehkan apa yang mereka dengar semua yang bersumber dari Al Qur`an. Bahkan lebih jauh lagi mereka mencemoh atau bahkan mengolok-olok setiap kali mendengar ceramah dari para ustadz atau kyai.

Iman Tanpa Ilmu

Keyakinan dogmatis dan warisan iman kosong dari kebanyakan manusia di muka bumi lebih banyak menyumbangkan kekerasan hati dalam menerima kebenaran. Yakni penjelasan kebenaran yang muncul di kemudian hari sebagai petunjuk atas kesalahan-kesalahan yang sudah sangat lama terjadi. Kesalahan yang sudah berlangsung turun-temurun. Mengkultuskan metode yang di dapat dari para pemimpin spiritualnya serta menganggap mereka sebagai manusia setengah dewa. Apapun yang di ucapkan oleh pemimpin adalah mewakili perintah Allah. Maka tidak ada lagi tawar menawar logika. Semua harus berjalan sesuai keinginan pemimpin. Jadilah kebanyakan manusia bak sekumpulan robot yang tak lagi bisa berpikir tentang kebenaran ber-Tuhan dan kebenaran pengabdian.

Wujud materi Tuhan yang harus terlihat dan kewajiban mengabdi semau gue serta bukti ampunan yang harus terdengar oleh telinga telah membuat manusia tak lagi peduli dengan logika ketuhanan. Yang tertinggal hanyalah logika material. Sebuah logika berpikir yang hanya ditujukan untuk materi. Logika berpikir yang mengesampingkan urusan hidup yang sebenarnya. Sebuah pengabdian mutlak yang terbuang dengan berbagai bentuk pengingkaran atas nama materi. Sifat materialistis manusia yang berperan besar melahirkan tehnologi asal ber-Tuhan. Sebuah metode ibadah minimal yang lebih mengutamakan barter kewajiban mutlakSembah Yang” dengan materi yang telah terkumpul secara melimpah.

Yang terjadi kemudian adalah penolakan atas berita-berita tentang ketauhidan Tuhan dan berita-berita tentang kebenaran tata cara pengabdian. Mengapa bisa demikian? Tak ada lagi jawaban lain kecuali Tuhan yang telah tergantikan tempatnya oleh materi pendukung penyaluran hawa nafsu duniawi. Hingga kehilangan Tuhan tidaklah lebih terpukul dari pada kehilangan materi berupa harta, takhta dan wanita. Maka dikemudian hari metode penyembahan universal tiga ratus enam puluh derajat yang berulang-ulang dirasa sangatlah memberatkan. Hingga demi tetap eksisnya agama, terpaksa aturan-aturan dibuat seringan mungkin dan berpindah dari urutan wahid ke urutan kemudian.

Ketakutan akan hilangnya dunia dari jasad menyebabkan banyak manusia menutup mata, telinga dan hati mereka terhadap peringatan tentang kebenaran. Bahkan setiap saat propaganda untuk memusuhi pembawa kebenaran tidak pernah berhenti. Hingga Tuhan yang “sebenarnya”, merestui penguncian mata, telinga dan hati yang mereka kehendaki sendiri. Penanaman kebencian dan pembunuhan karakter pada penganut Islam telah melahirkan berbagai konflik di berbagai belahan dunia. Bahkan mungkin tidak akan ada habisnya. Karena mereka para musuh Islam tidak akan pernah mau menerima Islam dengan beban syariat yang tidak akan pernah bisa mereka kerjakan. Bagi orang kafir, Islam dan syariatnya adalah beban yang sangat berat.

Orang-orang kafir adalah orang-orang yang kalah sebelum bertanding. Tantangan terhadap pemahaman Islam tentang ketuhanan tak pernah mereka respon. Mengapa ? Karena ketauhidan Allah memang tidak akan pernah bisa dibantah. Bahkan oleh siapapun yang merasa hidup di muka bumi. Jika semua hati hidup, maka Allah dan ketauhidanNya takkan pernah bisa terbantahkan. Akan tetapi, kesalahan pemahaman tentang Tuhan yang sudah berabad-abad lamanya telah melahirkan perasaan “gengsi” untuk mengoreksi keimanan yang sudah terlanjur terbangun. Orang-orang kafir merasa lebih baik tetap dalam keyakinan lama asal gengsi tidak turun. Mereka lebih memilih mbrengkel atau bersikeras bahwa apa yang diyakininya selama ini memang sudah benar.

Maka dari itu, sebuah keyakinan harus dibangun dengan ilmu agar dewan pertimbangan agung yang ada di dalam dada memberikan masukan kepada akal yang ada di kepala tentang sebuah kebenaran. Tapi kebanyakan manusia lebih suka untuk berpikir ringan dan berbuat sesuatu yang ringan juga. Hidup di dunia adalah segala-galanya. Mempertahankan hidup adalah sesuatu yang mutlak harus diusahakan. Sedangkan kematian adalah peristiwa na`as yang menimpa makhluk hidup. Maka tidak ada kata mempertahankan kematian dalam kamus kehidupan makhluk. Tentu saja, karena yang kita kehendaki sebenarnya hanyalah kehidupan dunia yang abadi.

Nikmat dunia berupa materi dan prestise yang terlanjur menempel membuat wirang atau malu yang amat sangat apabila harus mengakui kebenaran yang datang dari dusun terpencil. Mereka lupa bahwa kebenaran hanya bisa muncul dari jiwa yang bersih dan suci. Bukan dari jiwa yang sudah terlanjur kotor. Demikianlah kenyataan orang-orang kafir yang mendustakan kebenaran yang datang dari munculnya ajaran Islam. Penentangan terhadap sesuatu yang sudah terlanjur biasa dilakukan dan beratnya pelaksanaan ibadah sehari-hari melahirkan perlawanan dan pengingkaran. Untuk apa ? Jelas hanya untuk mempertahankan gengsi dan ringannya prosesi ibadah. Orang-orang kafir merasa sangat malu kalau harus mengakui bahwa apa yang dilakukan selama ini yang berkaitan dengan ibadah ternyata benar-benar sangat keliru.

Memang berat rasanya kalau hati terpaksa harus mengakui bahwa Tuhan hanya dan harus wahid. Tidak melahirkan dan tidak pula pernah dilahirkan. Satu-satunya tempat bergantung segala sesuatu. Dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya. Konsep ketuhanan yang selama ratusan tahun telah diyakini, tiba-tiba harus dibuang jauh-jauh dari keyakinan. Memang benar-benar berat bagi hati yang terbuat dari bahan apapun. Harga diri dimata manusia telah menempati urutan teratas dari pada harus mengakui kesalahan yang sudah terlanjur default ratusan tahun. Merubah kekafiran menjadi sebuah pilihan dari pada sesuatu yang harus dihindarkan dari sisi kehidupan. Sungguh ironis sekali. Peringatan untuk manusia dari Allah tak ubahnya pemasangan rambu-rambu lalulintas ibadah. Tapi manusia memang lebih suka melanggar aturan Allah dari pada melanggar aturan lalu lintas.

Tak bisa dipungkiri kalau materi berpeluang membelokkan hati manusia dari Iman. Ketika materi perlahan mulai menempati ruang-ruang dalam relung hati, ketika itu pula Iman terdesak keluar sedikit demi sedikit. Perlahan namun pasti, jika tidak diperhatikan Iman-pun akan benar-benar pergi dari dalam hati. Habis. Yang tertinggal hanya kata iman yang bersemanyam disela-sela kata yang sering terucap. Diantara kita ada yang merasa diri masih mempunyai iman tapi tak pernah lagi melakukan perawatan keimanannya. Berani bicara tentang Iman, tapi tak pernah merasa bahwa dirinya telah ditinggalkan jauh oleh iman. Hingga tingkah laku sehari-harinya hanyalah sekedar mirip dengan orang-orang beriman. Tak pernah menyadari kalau amal perbuatan tanpa dilandasi oleh Iman hanyalah sebentuk fatamorgana di padang gersang.

Jika orang-orang yang mendustakan diri tentang Allah dan mendustakan pula ayat-ayat Allah dikunci mati hatinya dari kebenaran Iman, maka mereka yang asal beriman terkunci mati hatinya dari keikhlasan atau ketulusan hati hanya karena Allah swt saja. Inilah yang menjadi penyebab matinya hati orang-orang yang hanya mengaku dirinya beriman tapi tidak pernah berusaha untuk tahu ilmunya Iman. Hingga apa yang dilakukan selalu saja ada kepentingan pribadi yang menyertainya. Terutama sifat bakhil atau kikir, riya`, ujub, iri, dengki dan sifat-sifat lain yang cenderung bermakna negatif. Baik yang lakukan dengan sengaja atau yang kita lakukan dengan tidak sengaja.

Maka kalau kita merasa masih menginginkan Iman bersemanyam dalam hati kita, tak ada lagi tawar menawar tentang kapan harus mulai belajar memahami Islam. Segera dan tak ada lagi penundaan waktu. Selagi jasad masih kuat dan ruh belum melesat, segera lakukan taubat dan mulailah memahami ayat-ayat Allah. Agar Iman senantiasa bertambah kuat dan perilaku sesuai dengan syari`at yang di ajarkan oleh Rasulullah saw. Dan yang lebih penting lagi adalah agar nantinya kita bisa menyambut kematian kita dengan senyum keikhlasan dan hati penuh kepasrahan atas balasan apa yang nantinya kita dapatkan dari Allah swt.

Sekian.

Agushar.

Surabaya, 21 April 2011.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2011 in Renungan

 

One response to “Kematian Hati

  1. renungan

    April 28, 2011 at 5:52 am

    semoga ALLAH senantiasa menghidupkan hati kita. sungguh tiada yang lebih celaka kecuali matinya hati sampai akhir hidup ini

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: