RSS

Sumber Kematian Hati.

02 Mei

Kematian hati orang-orang kafir adalah terkuncinya mata, telinga dan hati dari pemahaman kebenaran ajaran agama Islam. Salah satu penyebabnya adalah ketidakikhlasan mereka untuk menerima kebenaran dari orang yang tidak mereka kenal. Sebab yang lain adalah, pembawa kebenaran tersebut bukan datang dari golongan mereka. Mereka merasa dirinya lebih baik dan lebih mulia dari seluruh makhluk. Hingga seluruh indera yang ada terkunci dari pemahaman tentang kebenaran ajaran Islam. Menyebabkan indera tidak bisa lagi memberikan informasi akurat pada akal. Hingga akalpun tidak lagi punya kemampuan untuk mempengaruhi setiap keputusan hati.

Akibatnya adalah, akal akan berhenti pada titik keraguan antara benar dan salah. Dan pembenaran secara paksa sebuah keraguan hati menyebabkan langkah tak lagi berdasar pada Iman dan kasih sayang. Tapi lebih tertuju pada pelampiasan nafsu angkara murka. Itulah kematian hati dari pemahaman kebenaran tauhidnya Allah. Tapi yang juga perlu untuk dipahami adalah, kematian hati bukan hanya dialami oleh mereka yang mengingkari Islam sebagai sebuah kebenaran. Kematian hati juga banyak terjadi pada mereka yang mengatakan dirinya beriman tapi menjauhkan diri dari ilmu Iman. Hingga nantinya banyak sekali terlihat di neraka orang-orang yang dulu kita kenal sebagai orang beriman. Tapi diakhirat mereka hidup bersama-sama kita dalam neraka.

Mengapa bersama-sama kita ? Kalau bukan karena kemiskinan ilmu Iman yang kita miliki, tak mungkin kita akan mencicipi beratnya azab Allah di neraka bersama-sama dengan orang-orang yang mengingkari kebenaran tentang Allah dan kekuasaanya atas seluruh alam semesta. Bersama dengan orang-orang yang mengaku beriman tapi perilakunya jauh dari yang diajarkan oleh Al Qur`an. Jauh dari perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bahkan sangat-sangat mirip dengan perilaku orang-orang yang menolak dan memusuhi Islam. Kalau bukan kematian hati yang kita ciptakan sendiri tak mungkin surga akan menolak mentah-mentah langkah-langkah kaki kita yang cenderung terayun kearahnya. Padahal surga adalah dambaan manusia yang ingkar maupun manusia yang merasa beriman.

Kematian hati orang beriman.

Pujian. Bagaimanapun bentuk atau kemasannya hampir selalu membuat hati kita senang. Minimal, rasa senang itu melintas di pikiran dan hati kita. Kebanyakan diri kita memang senang dipuji. Baik dari teman sejawat, bawahan atau atasan di lingkungan kerja, dari keluarga atau kerabat, atau di lingkungan tempat tinggal kita. Hampir semua suka dan bangga memperoleh pujian. Padahal pujian yang kita banggakan bisa menyebabkan kita ketagihan layaknya pengaruh alkohol dalam minuman keras. Membuat kita kecanduan. Yang akan terjadi kemudian adalah keinginan agar pujian untuk kita tersebut akan selalu berulang disaat yang lain. Tanpa terasa kita sudah kejangkitan sebuah penyakit hati. Sebuah penyakit hati ingin selalu dipuji dalam setiap perbuatan yang kita lakukan.

Orang yang selalu ingin selalu dipuji adalah orang yang berpotensi besar kehilangan ikhlas dalam hidup ibadahnya. Padahal ruhnya ibadah adalah ikhlas karena Allah semata. Bukanlah tendensi keduniaan. Apalagi hanya senyum simpul kepuasan hati karena pujian seseorang. Bukan itu ! Makna hidup adalah ibadah. Mengabdi hanya kepada Allah dan tulus ikhlas hanya karena Allah swt. Tendensi keduniaan dalam setiap perbuatan yang kita lakukan sama artinya dengan mengecilkan peran Allah dalam hidup kita. Perbuatan yang berarti bagi orang lain adalah perintah mutlak dari Allah untuk kehidupan manusia. Tentu saja manusia yang mau memahami apa arti kehidupan bagi dirinya sendiri. Pemahaman seperti inilah yang sebenarnya sulit bagi kebanyakan orang.

Bangga. Perilaku narsis yang cenderung mengarah pada kesombongan. Sebuah sikap yang tidak pantas dimiliki oleh manusia. Tapi sebagian besar dari kita menyimpan deposit kesombongan. Yang pada saat-saat tertentu muntah dari gerak dan lisan kita bak peluru atau bom curah. Benih dari sikap ini adalah rasa tidak ingin berada di bawah status sosial orang lain. Hingga kita selalu membangga-banggakan kelebihan apa yang kita miliki. Dari mulai kesempurnaan fisik sampai kelebihan materi. Bahkan life style atau gaya hidup sering kita bangga-banggakan. Yang paling umum adalah bangga secara fisik dan menganggap rendah mereka yang mempunyai kekurang-sempurnaan fisik. Materi berupa uang, pakaian, kendaraan dan perhiasan menjadi bahan utama berbangga-bangga menuju kesombongan.

Memang sulit menghilangkan penyakit hati yang sudah terlanjur melekat. Apalagi kita juga sudah terlanjur menikmatinya. Hidup terasa hambar kalau bumbu-bumbu penyedap hidup yang biasa kita campurkan dalam perbuatan lalu tiba-tiba kita kurangi secara paksa. Seperti ada yang hilang dalam keseharian hidup yang biasa kita lalui. Padahal kalau kita mau jujur mengakui, bahwa dalam berbangga-bangga kelebihan yang kita miliki banyak sekali mengandung unsur ketidak-jujuran atau kebohongan dalam menuangkannya. Tapi kita enjoy saja. Kita tidak menyadari kalau sikap ini berpotensi menyebabkan kerugian besar dalam kehidupan kita kelak. Tentu saja bagi kita yang meyakini akan kebenaran kehidupan akhirat. Bagi yang tidak yakin kehidupan akhirat. Biar saja anjing menggonggong, narsis tetap berlalu menuju kesombongan.

Iri hati. Sebuah sikap ketidak-senangan terhadap kenikmatan materi yang di dapat oleh seseorang di sekitar kita. Sikap ini timbul lebih banyak dikarenakan bibit-bibit kebencian yang ada dalam hati kita. Atau bisa juga kebencian yang tergurat dari suburnya perasaan iri terhadap keberhasilan seseorang dalam hal materi. Islam menganjurkan untuk memuji Allah atas apa yang Allah limpahkan kepada makhluk ciptaanNya. Tak perduli, meski limpahan rahmat itu tertuju pada orang disekitar kita dan bukan pada diri kita. Iri atau kecemburuan dalam Islam hanya diperbolehkan pada perbuatan baik yang telah dilakukan oleh seseorang. Ketekunan dalam beribadah, kesenangan bersedekah, kerendahan hati seseorang, boleh kita iri kepadanya. Karena berdampak baik bagi diri kita.

Iri adalah penyakit hati yang berbahaya. Karena menyebabkan rasa ke-tidakpuas-an atas apa yang kita miliki saat ini. Sikap ini menjauhkan diri dari kesyukuran kita atas nikmat Allah. Karena hanya mengukur nikmat Allah dari segi material saja. Sedangkan materi dalam hidup hanya bersifat sementara. Mudah habis dan membalik keadaan sosial seseorang dari penuh nikmat ke kesengsaraan. Juga menjadikan diri kita buta terhadap nikmat Allah pada diri kita yang tak terhingga jumlahnya. Inilah sikap yang cepat mengarah pada keingkaran atas semua nikmat hidup yang diberikan oleh Allah. Menjauhkan diri dari sikap qona`ah. Menjauhkan diri dari rasa menerima, menikmati dan mensyukuri nikmat dengan peningkatan iman dan amalan ibadah.

Dengki. Penyakit hati yang berlatar belakang rasa iri, tapi disertai perbuatan untuk melenyapkan atau menghapus apa yang membuat dirinya iri. Contohnya adalah persaingan tidak sehat antara sesama pelaku usaha. Biasanya pelaku usaha kecil, tapi bisa juga menengah atau yang besar sekalipun. Berusaha menjatuhkan pesaing atau membuat malu mereka. Jika berhasil, baru hatinya merasa puas. Tidak mudah menemukan orang pen-dengki seperti ini. Karena mereka pandai menyembunyikan perbuatannya. Tapi kalau kita cermat, kita akan tahu siapa-siapa diantara orang-orang di sekitar kita yang mempunyai sikap dengki. Orang-orang yang merasa senang dengan musibah yang dialami oleh orang lain, ada kemungkinan dia mempunyai sikap dengki. Hanya mereka tidak menunjukkan kedengkiannya tanpa suatu alasan.

Hasad atau hasut. Kebanyakan di idap oleh para provokator atau pembawa kayu bakar. Entah mempunyai dasar kebencian atau hanya untuk kesenangan atau bahkan hanya untuk uang, seseorang suka melakukan pekerjaan menyulut kemarahan orang lain agar terjadi peristiwa yang heboh di masyarakat. Orang yang mempunyai sifat hasad memang sangat cocok dipekerjakan sebagai provokator. Dan kebanyakan provokator telah mengalami kematian hati. Karena hasut telah mereka jadikan ladang pekerjaan. Hingga jika pekerjaan mereka berhasil, tawa dan tepuk tangan akan mereka lakukan sebagai wujud kepuasan. Orang-orang seperti inilah yang berperan besar mengubah sebuah perselisihan kecil menjadi sebuah keonaran di masyarakat.

Fitnah. Kata fitnah dalam Al Qur`an dimaknai dengan kata cobaan. Tetapi fitnah yang kita maksud saat ini adalah fitnah yang mempunyai makna menyebarkan berita bohong. Sifat seperti ini sangat-sangat berbahaya. Karena bukan hanya berbahan baku bohong, tetapi dampak yang dihasilkannya jauh melebihi dari apa yang pernah kita bayangkan. Jika berita yang belum tentu kebenarannya ditelan mentah-mentah oleh seseorang, maka perselisihan bisa berubah menjadi pertengkaran. Bahkan bisa saling bunuh. Padahal bahan fitnahnya cuma bohong. Maka dari itu fitnah dikatakan lebih kejam dari pada pembunuhan. Karena permasalahannya tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Orang-orang yang suka membuat fitnah adalahh orang-orang yang berbahaya.

Buruk sangka. Bahasa kerennya negatif thinking atau berpikir negatif. Ini bisa terjadi kalau dalam hati kita selalu dipenuhi rasa curiga pada setiap orang yang baru kita kenal. Atau seseorang yang sedang mendekati kita setelah sekian lama tak pernah berkomunikasi. Memang kecurigaan bisa menimbulkan kehati-hatian, tapi selalu ber-curiga adalah sifat yang buruk. Tidak semua orang baru yang kita kenal akan berbuat sesuatu yang negatif kepada kita. Meski kehidupan saat ini lebih banyak memberikan informasi kalau penipu, penjahat atau pembunuh bebas berkeliaran disekitar kita, tapi buruk sangka tetap bukan sesuatu yang dianjurkan. Bahkan buruk sangka adalah sesuatu yang sangat dilarang karena bisa merugikan diri sendiri.

Jika kita selalu berburuk sangka kepada banyak orang, maka orang banyakpun akan memberi label buruk pada kita. Orang lainpun akan enggan berdekatan sama kita. Sementara sifat buruk sangka terus saja berlanjut tanpa halangan. Bayangkan betapa ruginya kita kalau setiap saat pikiran penuh dengan sesuatu yang negatif. Padahal yang diminta adalah sesuatu perbuatan yang positif. Perbuatan yang berdampak baik. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dan alam sekitar kita. Beban hidup yang sebenarnya bagi kita adalah Iman dan amal shalih. Iman dan perbuatan yang baik. Jika hati dan pikiran dipenuhi dengan sangkaan buruk, perbuatan lanjutannyapun juga tidak akan terlalu baik. Itulah sebabnya maka positif thinking harus selalu diusahakan meski kita harus tetap selalu waspada terhadap usaha-usaha orang lain untuk menipu kita.

Khianat. Ciri utama orang munafik. Orang yang tidak dapat mengemban amanat. Tak bisa dipercaya semua apa yang keluar dari lisannya. Adakah orang seperti ini disekitar kita ? Ada mungkin juga agak banyak. Indikasi orang yang mempunyai sifat khianat adalah suka berbohong, mudah berjanji tapi juga mudah mengingkari, banyak merencanakan hal-hal bagus, tapi tak ada satupun yang terealisasi. Banyak alasan untuk membela diri jika melakukan sebuah kesalahan dan berat mengakui kesalahan serta enggan untuk meminta maaf. Orang-orang seperti ini tak baik dijadikan teman. Karena umumnya hanya mau enak dan menang sendiri. Tak mau bersusah-susah seperti orang lain dan cenderung menghindari kesulitan. Tapi apabila ada sesuatu yang menyenangkan akan tampil lebih dulu.

Pengkhianat-pengkhianat umumnya juga mempunyai sifat licik. Bersembunyi saat dibutuhkan dan tampil ke depan laksana pahlawan disaat teman-temannya sudah hampir sekarat. Jumlah orang seperti ini saat ini sangat banyak. Kalau kita mau mencermati tingkah laku para pemimpin di negara ini, betapa banyak dari mereka yang tidak lagi mengindahkan kesetiaan. Bagai kutu loncat mereka berpindah dari satu partai ke partai yang lain. Tak punya pendirian yang teguh. Mereka terkesan hanya mencari keselamatan perut. Orang-orang seperti ini jika dihadapkan pada peperangan seperti Bad`r dan Uhud hampir pasti sudah lari tunggang langgang. Menjauh dari peperangan sambil menunggu siapa pemenangnya. Kemudian jika sudah jelas pemenangnya, mereka langsung ikut bergabung dengan tidak mempertimbangkan harga diri lagi. Itulah orang-orang pengkhianat sejati.

Kira-kira masih adakah manusia yang hatinya tidak berpenyakit ? Sulit menemukannya. Bahkan kalau mau jujur, Orang yang tidak berpenyakit hati cenderung tidak ada. Hampir semua berpenyakit. Kalau ada yang mengaku tidak berpenyakit kemungkinan besar dia pembohong. Sebab secara umum, mayoritas dari kita ini adalah pengejar materi keduniaan. Hanya karena kepandaian beracting saja yang menyebabkan kita seakan-akan berhati bersih. Harta, takhta dan wanita sudah begitu melekat di kepala kita. Hingga untuk ketiganya kita tak lagi memperdulikan peringatan Allah. Padahal mayoritas diri kita juga sudah tahu tentang penyakit hati. Tapi kebanyakan dari kita memang tak berdaya menghadapi kesulitan hidup yang bermakna cobaan.

Penyakit hati kronis adalah penyakit hati yang di awali dengan sifat iri dan buruk sangka. Lalu tumbuh menjadi kedengkian yang membuat sesak hati penderitanya, karena ingin membalas dan mempermalukan orang lain. Kemudian mulailah mencoba untuk menghasud kesana sini untuk mengadu domba antara dua orang yang kelihatan sedang tidak akur. Disamping menghasud juga sekalian menyebar berita bohong atau menebar fitnah. Kelihatan aktif dalam kegiatan, tapi sebenarnya punya misi pengkhianat. Tentu saja pengkhianat agama. Meskipun kadang juga mengkhianati teman dan saudara sendiri. Inilah beberapa penyakit hati yang bermuara di kebencian. Sebuah sifat yang haram untuk dipelihara oleh orang yang merasa punya Iman.

Penyakit hati membuat kerugian yang besar di kemudian hari. Membuat amalan seperti sesuatu yang tak berarti. Karena balasan langsung diambil cash di dunia. Berupa kepuasan hati dan kepuasan diri melalui tendensi keduniaan. Maka beberapa sifat yang menyebabkan titik-titik hitam memenuhi relung hati tersebut perlu kita waspadai. Setidak-tidaknnya harus selalu ada usaha ke arah penghindaran diri dari beberapa sifat tersebut. Sering mengingatnya dan mengingat akibatnya adalah upaya minimal yang harus kita lakukan. Sesering mungkin menyebut nama Allah dalam hati adalah benteng paling utama bagi kita yang mengaku beriman. Menebar kasih sayang pada saudara seiman dan saudara yang belum beriman dengan benar akan banyak membantu menghindarkan diri dari masuknya virus-virus kebencian.

Demikianlah, penyakit hati tidak hanya menyerang orang-orang kafir pada ketauhidan Allah dan apa yang ada pada Rasulullah saw, tapi juga banyak menyerang orang-orang beriman. Jika benar-benar tidak dipahami ilmunya Iman, niscaya Iman kita hanya tinggal Iman. Tidak berefek pada ketaatan perintah. Jadinya, ya hidup seperti tak punya pegangan akidah. Padahal orang yang beriman itu dikatakan seperti telah berpegangan pada buhul-buhul tali Allah yang sangat kuat. Tapi ketika Iman hanya sebatas pengakuan, maka tak ubahnya seperti bermain layang-layang. Rentan putus hanya karena gesekan dari tali layang-layang yang lain. Jika tali sudah putus, maka tak bisa lagi ada penyambungan. Yang ada hanyalah memulai dari awal lagi mempelajari Iman dengan segala ilmunya. Mudah-mudahan kita bisa mewaspadai diri dari beberapa penyebab penyakit kronis hati, agar jiwa bisa terisi dengan banyak kebaikan.

Sekian.

Surabaya, 30 April 2011.

Agushar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2011 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: