RSS

Outsourcing Tenaga Kerja.

04 Mei

Juragan dan buruh adalah dua kutub sosial yang berpasangan. Tidak bisa terpisahkan antara satu dengan lainnya. Seharusnya tidak boleh ada yang memisahkan atau berusaha memisahkan antara labour dan owner atau enterpreuner. Karena bisa berakibat terpisahnya jasad dan jiwa yang telah terpatri antara juragan dan buruh. Keduanya telah berhubungan sosial secara kafah sejak Allah swt. menciptakan status bos dan anak buah. Hanya karena kualitas hati yang busuk menyebabkan buruh atau anak buah menjadi budak atau bahkan budak belian. Kini setelah sekian ratus tahun dunia berusaha untuk menghapus perbudakan, praktik perbudakan mulai berjalan lagi dengan adanya bisnis jasa pengerah tenaga kerja. Hanya saja, alasan dan kemasannya telah dimodifikasi sedemikian rupa. Agar kalau terjadi perselisihan, hukum legal akan bisa memakluminya.

Yang terjadi di dunia usaha saat ini adalah pembuktian kata effektifitas dan effisiensi. Demi kelangsungan hidup perusahaan dan kelangsungan hidup dunia usaha, sesuatu perlu dan harus dilakukan. Efektifitas dan effisiensi menjadi pilihan utamanya. Ketika tenaga buruh tergantikan oleh modernisasi peralatan, buruh hanya bisa tertunduk lesu. Peningkatan pengangguran terjadi di semua belahan dunia. Buruhpun berlomba meningkatkan kualitas diri agar bisa ikut dalam persaingan merebut job di minimnya kesempatan yang tersedia. Tapi ketika dunia jasa menawarkan tenaga kerja dengan berbagai keuntungan yang berpihak pada perusahaan, mulailah timbul prasangka buruk para buruh tentang apa yang akan terjadi dengan nasib mereka di masa mendatang. Ternyata memang terbukti.

Setelah sekian lama praktik outsourcing berlangsung, buruh tak lagi menjadi bagian dari juragan. Seperti lebah yang mengisap madunya bunga atau menghisap gula di manisnya tebu. Tak jauh dari kebenaran sebuah kalimat, habis manis sepah dibuang. Ya, tenaga kerja saat ini berada diambang perpisahan antara ruh dan jasad dalam mencari nafkah. Perusahaan hanya membutuhkan kekuatan jasad dan kemampuan berpikir dari tenaga kerja. Jiwa masih sedikit diperhatikan. Misalnya dengan memberikan fasilitas tempat ibadah. Tapi ruh pekerja, perusahaan tidak menghendakinya. Memang kalimat ini seperti pemikiran yang konyol. Mana ada jasad tanpa ruh yang bisa bekerja pada seorang juragan, kecuali sekelompok pekerja dari fosil atau mungkin mayat hidup. Harus dipahami bahwa ruh, jasad dan jiwa itu menyatu pada diri manusia, meskipun dia hanya seorang buruh perusahaan.

Buruh tidak akan pernah ada kalau tidak ada juragan. Tapi jangan pula lupa, juragan juga tak akan pernah ada kalau tidak ada buruh. Allah swt menciptakan semua yang ada di alam ini dalam keadaan berpasangan. Tidak terkecuali buruh dan juragan. Dan hubungan ini akan tetap dalam genggaman Allah ketika keduanya masih berhubungan secara kafah atau lahir batin. Buruh ridho atas status buruhnya dan juragan juga ridho atas posisi juragannya. Tentu saja dalam konteks vertikal, habblum minallah. Tapi kondisi tenaga kerja saat ini dalam keadaan hanya dibutuhkan tenaganya saja. Dengan sistem outsourcing, perusahaan seperti membeli bahan bakar pada diri seorang buruh. Perusahaan tidak mau tahu proses pengadaan tenaga dan segala permasalahan yang ditimbulkannya. Mereka menyerahkan sepenuhnya hal-hal yang tidak berkaitan dengan kebutuhan perusahaan pada diri karyawan ke perusahaan jasa pengerahnya.

Outsourcing atau alih daya menyebabkan buruh banyak kehilangan haknya. Hak untuk mengabdi dengan segenap jiwa dan raganya sulit terjadi kalau tidak ada keseimbangan antara pengabdian itu sendiri dengan perhatian juragan terhadap kehidupan buruhnya. Hak peningkatan benefit yang selaras dengan meningkatnya kemampuan dan masa pengabdian diri buruh. Hak sense of belonging dari buruh yang hilang karena juragan tak lagi melibatkan hati dalam memandang buruhnya. Hak untuk diperhatikan oleh juragan juga sirna. Baik diri maupun keluarganya. Karena tuntutan effisiensi dan kelangsungan hidup perusahaan menghendaki juragan melepas perhatian pada tetek bengek urusan diri karyawan. Baik mengenai benefit, kesehatan maupun ketenangan dan kenyamanan dalam bekerja.

Kenyataan alih daya pengelolaan tenaga kerja saat ini telah banyak merugikan posisi tenaga kerja. Benefit yang stagnan mengikuti upah minimum regional menyebabkan buruh tak punya angan lebih tinggi dari apa yang dia peroleh saat ini. Tak lagi punya posisi tawar dalam menjawab setiap permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan perusahaan karena keterpaksaan menandatangai isi kontrak perjanjian kerja yang tidak berpihak kepadanya. Hal ini memang harus terjadi karena buruh tak punya pilihan lain pada saat dirinya berada pada posisi sedang membutuhkan lahan pekerjaan. Suka atau tidak suka buruh harus berada pada posisi lemah dalam setiap tuntutan kesejahteraan yang menjadi haknya. Sebuah posisi yang merangsang menguapnya keikhlasan dalam sebuah pengabdian.

Outsourcing atau alih daya menyebabkan buruh berperan seperti genset, sound system, atau accu yang direntalkan. Membuat para buruh tak lagi memiliki dirinya sendiri. Jasad bernyawa mereka tak ubahnya seperti barang yang tergadai pada perusahaan jasa penyedia tenaga kerja. Langkah dan lisannya seakan terkunci oleh isi perjanjian kerja yang ditandatangani dalam posisi keterpaksaan karena kebutuhan lahan kerja. Seperti buah catur yang tak sanggup melangkah karena kehendaknya sudah dicabut dari jasad. Perlakuan tidak adil antara karyawan outsourcing dengan karyawan tetap perusahaanpun tak bisa digugat. Jika ada sesuatu yang dianggap merugikan, buruh outsourcing hanya bisa menggigit jari. Karena jika melakukan perlawanan, hampir pasti buruh akan kehilangan lahan pekerjaan. Tanpa kompensasi sepeserpun.

Pengalihan pengelolaan tenaga kerja ke perusahaan penyedia tenaga kerja adalah bentuk pelepasan tanggung jawab perusahaan pada buruhnya. Atau sebuah bentuk pelarian dari tanggung jawab perusahaan atas kewajiban mengelola diri karyawannya. Padahal antara buruh dan juragan seharusnya terjalin hubungan batin yang tidak mungkin dipisahkan. Tetapi sistem pengelolaan tenaga kerja saat ini menyebabkan perceraian batin antara juragan dan buruh. Tentu saja yang diuntungkan adalah pihak perusahaan. Dimana perusahaan tidak lagi di sibukkan dengan urusan karyawan dan tetek bengeknya. Upahpun sudah jelas. Minimum regional. Buruh hanya mempunyai hak menjalankan atau tidak mau menjalankan sama sekali. Tentu saja pilihannya bagai buah simalakama.

Outsourcing mempunyai peran besar dalam membentuk perbudakan baru. Dimana perusahaan hanya membutuhkan power untuk ditukar dengan salary dan memberikan fee kepada mereka yang bersedia untuk menanggung diri tenaga kerja yang mereka pakai. Pemakaian power atau tenaga dari jasad tanpa mau bertanggung jawab terhadap jasad itu sendiri adalah bentuk baru perbudakan manusia. Perbudakan model lama adalah kepemilikan tenaga dan jasadnya sekalian. Serta perlakukan yang mungkin tidak manusiawi. Pemberian upah minimum yang berlangsung selama bertahun-tahun pada tenaga outsourcing saat ini memberikan bukti pada keterbatasan pemberian imbalan hanya sebatas kebutuhan perut. Padahal perbuatan lain yang membutuhkan biaya juga tidak sedikit.

Alih daya tenaga kerja memberikan keuntungan kepada pengusaha penyedia tenaga kerja yang sebenarnya tidak perlu. Memang perusahaan sangat diuntungkan dengan sistem ini, tapi sifat hubungan kerjanya berubah menjadi sangat tidak manusiawi lagi. Padahal manusia adalah makhluk Allah paling sempurna. Dan bisa berada di kemuliaan karena sikap pengabdiannya kepada Allah. Tapi sistem outsourcing telah menempatkan manusia dibawah derajat kemanusiaan. Mestinya memang outsourcing tidak pernah ada di bidang tenaga kerja. Jika perusahaan melalui departemen personalianya memang mampu menangani permasalahan tenaga kerja dan menganggap tenaga kerja sebagai komponen paling vital dalam proses produksi, maka tak perlu ada biaya untuk perusahaan jasa penyedia tenaga kerja.

Disinilah peran dan pemikiran para pengusaha dengan perusahaannya sangat-sangat diuji. Memberlakukan tenaga kerja dengan hubungan yang terputus oleh penyedia tenaga kerja, atau memberlakukan hubungan kerja antara pengusaha dan buruh tetap dalam koridor kemanusiaan. Memberikan pekerjaan pada buruh bisa diibaratkan menghidupi banyak keluarga. Ada nilai ibadah mulia yang bersifat vertikal maupun horizontal. Tapi secara umum atau mayoritas perusahaan saat ini tidak lagi memperdulikan nilai ibadah dalam berniaga atau ber-usaha. Hingga begitu sampai hati memberlakukan energi manusia seperti energi listrik yang harus dibeli dari perusahaan jasa produksi atau penyedia energi. Jika saja outsourcing ini bisa bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, maka bisa juga dipastikan bahwa para pengusaha atau mereka yang berkaitan dengan lahirnya sistem outsourcing tidak lagi memperdulikan kehidupan ibadahnya. Atau mungkin juga mengalami kematian hati.

Alih daya tenaga kerja bisa juga dikatakan sebagai kemunduran dalam logika berpikir. Hubungan lahir batin yang sudah terjalin antara juragan dan buruh seharusnya di tingkatkan lebih perhatian lagi sampai pada kesejahteraan keluarga buruh. Tapi yang terjadi saat ini justru menjauhkan diri buruh dari diri perusahaan. Juragan atau perusahaan tidak menghendaki lagi apa yang ada pada diri buruh selain tenaga yang tersimpan di tubuhnya. Sebuah kemunduran setelah apa yang telah diperbuat oleh juragan selama ini terhadap karyawannya. Sebelum peraturan tentang sistem kontrak kerja dan sistem outsourcing diberlakukan banyak perusahaan yang benar-benar memperhatikan kehidupan karyawannya. Bahkan sampai membantu karyawan untuk memiliki rumah segala. Saat ini mungkin hanya perusahaan sekelas badan usaha milik negara saja yang masih memperhatikan sampai kearah perumahan karyawan. Itupun badan usaha milik negara yang benar-benar sehat. Yang kondisinya kembang kempis tak jauh beda dengan perusahaan swasta.

Mungkin kita bisa mengatakan bahwa salah satu penyebab utama perlakukan terhadap karyawan seperti saat ini adalah jumlah tenaga kerja yang membengkak begitu besar. Sehingga daya tawar buruh terhadap perusahaan sangat lemah. Tapi permasalahan seperti ini mestinya tidak lalu menjadikan perusahaan berpikir negatif. Dan menjadikan buruh menjadi salah satu komponen yang harus dilumat status dan hak-haknya. Buruh adalah kaki tangan perusahaan. Harus di ingat, tanpa buruh sebuah perusahaan tidak akan pernah bisa eksis. Modernisasi peralatan sudah cukup untuk memangkas biaya tenaga kerja, tapi tidak lalu harus diikuti dengan membuang jasad buruh dan hanya mengambil energinya saja. Perlakuan demikian ini benar-benar melanggar hak-hak pengakuan buruh sebagai urat nadi sebuah perusahaan.

Pemberlakuan sistem kontrak kerja saja sudah membuat posisi buruh demikian lemah. Tak berdaya menghadapi akal perusahaan untuk menghindari pengangkatan secara otomatis setelah dua kali perpanjangan kontrak kerja. Apalagi ditambah dengan sistem outsourcing seperti sekarang ini, klop! Sempurna sudah penderitaan buruh. Bukan malah diperbaiki nasibnya, tapi malah diplokotho status dan hak-haknya. Jika bukan karena keterpaksaan memenuhi kebutuhan perut dan banyaknya pesaing yang membutuhkan ladang kerja pasti buruh tak akan mau melakukan sistem kerja seperti itu. Hanya situasi dan kondisi saja yang menyebabkan buruh terpaksa menjalani sistem kerja yang benar-benar tidak memihak dirinya.

Yang kita tidak habis pikir adalah para wakil rakyat yang konon mewakili suara rakyat. Bagaimana peran mereka di gedung dewan dan pemerintahan hingga bisa lahir peraturan tentang sistem ketenagakerjaan yang hanya berpihak pada pengusaha. Mengapa tidak bisa mengusahakan keadilan hak dan kewajiban antara buruh dan pengusaha. Seakan-akan para wakil rakyat tidak berdaya menghadapi ancaman gulung tikar dari pelaku bisnis apabila kemauan mereka tidak di penuhi. Ataukah memang sudah di skenario seperti sekarang ini. Sangat berbeda sekali ketika mereka membahas tentang kenaikan gaji mereka di dewan. Sangat-sangat njomplang dengan usahanya membahas nasib para buruh yang tidak pernah mendapatkan hak upah melebihi kebutuhan hidup minimum.

Permintaan buruh pada demo di hari buruh pada awal mei 2011 adalah sesuatu yang tidak berlebihan. Penghapusan sistem kontrak dan outsourcing adalah tuntutan yang manusiawi. Mengembalikan harga diri manusia di tempat yang seharusnya. Berada di samping juragan dalam sebuah kegiatan usaha. Juga menempatkan juragan pada perbuatan dalam koridor ibadah. Mempekerjakan banyak karyawan bukan hanya semata memperbesar usaha dan menumpuk kekayaan. Tapi harus juga dihadapkan pada makna kehidupan yang bersifat memberi. Memberi dalam arti luas. Bukan hanya sekedar perut kenyang. Tapi perhatian terhadap kehidupan buruhnya adalah sesuatu yang sangat berarti. Baik bagi diri buruh maupun bagi juragan.

Memang tidak bisa dipungkiri kalau persaingan dunia usaha semakin tidak memberikan ruangan untuk bernafas. Berjuang mati-matian untuk eksis dan tetap dalam profit yang telah direncanakan sejak awal. Tentu saja yang terjadi kemudian sudah bisa ditebak. Berjuang mati-matiannya hanya untuk mempertahankan prosentase profit. Sedangkan harga pokok produksinya harus ditekan serendah-rendahnya agar bisa tetap dalam harga pokok penjualan yang bisa bersaing di pasar. Hampir semua komponen biaya produksi diperkosa. Tak terkecuali biaya tenaga kerja, karena dianggap paling fleksibel. Dari mulai pengaturan jam kerja sampai pada pengurangan tenaga kerja yang dianggap tidak seberapa penting. Disinilah awal semua permasalahan yang berkaitan dengan status buruh.

Banyak alasan perusahaan untuk bisa melakukan pengurangan tenaga kerjanya. Situasi dan kondisi ekonomi yang lesu mereka jadikan alasan utama effisiensi tenaga kerja. Dengan memelas perusahaan meyakinkan, bahwa kalau tidak dilakukan pengurangan tenaga kerja, perusahaan akan gulung tikar. Maka para buruhpun luluh dibawah janji kalau kelak kondisi perusahaan membaik mereka akan dipekerjakan lagi. Kenyataannya, ketika kondisi ekonomi membaik, perusahaan tidak menggunakan tenaga yang telah di rumahkan, tetapi menggunakan tenaga kerja yang fresh dan berupah minimum. Dengan sistem perjanjian kontrak yang nantinya diutak-atik agar perusahaan terhindar dari otomatisasi perubahan status tenaga kontrak ke tenaga tetap perusahaan melalui terlampauinya dua kali perpanjangan kontrak tanpa jeda waktu.

Dengan sistem demikian perusahaan terhindar dari kewajiban merawat tenaga kerjanya. Tapi ketika dirasa sistem kontrak masih menyibukkan personel departemen perusahaan, timbul keinginan yang lebih praktis lagi dalam penggunaan tenaga kerja. Dan, outsourcing menjadi pilihan terbaik saat ini bagi perusahaan untuk mendapatkan tenaga otot dan otak manusia. Demikian berlangsung selama bertahun-tahun belakangan. Perusahaan tersenyum dan buruh meneteskan air mata. Diam. Menerima. Bekerja sambil mengharapkan sesegera mungkin taubat para pemilik perusahaan atau para juragan Dan para wakil rakyat untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan menjalin hubungan antara diri dengan buruhnya secara kafah. Hingga jelas perbedaan manusia dengan komponen-komponen penunjang produk di sektor usahanya.

Sekian.

Surabaya, 4 mei 2011.

Agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: