RSS

Negara Islam Indonesia

10 Mei

Negara Dalam negara

Negara lain dalam sebuah negara adalah indikasi akan adanya ke-tidak sesuaian pemikiran sebagian masyarakat dengan sebagian masyarakat yang lain di negara itu sendiri. Tentu saja penyebabnya adalah perbedaan pandangan tentang design bangunan negara tersebut. Mulai dari pondasi, pilar sampai tata ruang dan warna serta penempatan seluruh perabotnya. Hampir semua dari kita yang mengikuti berita juga tahu kalau ada sebuah organisasi yang berlabel NII yang bermakna Negara Islam Indonesia, di indikasikan berusaha mendirikan atau mengubah negara Indonesia dari negara Kesatuan Republik (demokrasi) menjadi negara Islam. Dari sini banyak orang bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa sebenarnya negara Islam itu dan apa yang menjadikannya di tolak oleh mayoritas penduduk negeri ini ?

Dilihat dari makna kata-nya kita pasti berpikir kalau negara bentukan yang dimaksud, mayoritas penduduknya ber-agama Islam. Seluruh pemimpinnya juga orang Islam. Undang-undang atau landasan hukumnya juga hukum Islam. Pelaksanaan kehidupan sehari-hari masyarakatnya juga menggunakan syariat Islam. Pendek kata semua sendi kehidupan akan bernafaskan Islam. Lalu apa yang salah dengan negara Islam, hingga masyarakat Islam berusaha mati-matian menghindarkan diri dari kehidupan yang bernafaskan Islam ? Bukankah ini sebuah pengkhianatan terhadap Islam ? Kalau bukan sebuah pengkhianatan, lalu apa sebutan bagi orang Islam yang tidak mau menerima Islam sebagai agama negara ? Sungguh ini sebuah pertanyaan yang wajib di jawab bagi semua umat yang mengaku dirinya beragama Islam.

Sejarah memang memberikan gambaran kalau sejak awal negara kesatuan Republik ini bukanlah negara yang berpondasi dan berpilar Islam. Meskipun secara kuantitas umat Islam adalah mayoritas. Monarchi absolut adalah cikal bakal negeri nusantara dua benua yang kita sepakat dan akui sebagai Indonesia ini. Berbagai kerajaan besar dengan beberapa keyakinan tentang Tuhan pernah menghiasi kepemimpinan negara ini. Islam datang belakangan di sekitar tahun 1200 Masehi. Ada juga yang mereferensikan pada abad 7 atau sekitar tahun 700 Masehi. Kemudian berangsur-angsur masyarakatnya berganti keyakinan ke dalam agama Islam dari keyakinan yang sebelumnya mereka anut. Perlahan namun pasti akidah Islam merasuk ke dalam dada mayoritas umat di negeri ini. Dan sebelum masyarakat Islam menemukan jati dirinya dalam hembusan nafas negara yang beragama Islam, kolonialisme atau penjajahan oleh negara atas sebuah negara hinggap di negeri yang sedang mempersiapkan agama buat negaranya.

Selama ratusan tahun agama (falsafah dan sistem pemerintahan) kolonial mengikis habis setiap usaha untuk mewujudkan sebuah negara yang berdaulat dan beragama sendiri. Dan selama ratusan tahun juga masyarakat Indonesia dipaksa untuk memahami dan tunduk pada perilaku para serdadu kolonial dan orang-orang yang mengikutinya. Ada perbedaan yang sangat jelas dalam perilaku yang diajarkan dalam Islam dengan perilaku yang biasa dilakukan oleh serdadu kolonial. Lambat namun pasti, nafas Islam yang masih dalam perjalanan menuju hati terhadang oleh pemahaman agama lain yang menjanjikan relatif ringannya di pelaksanaan syariat. Hasilnya adalah terbentuknya dua celah menuju ke keyakinan hati yang memberikan jalan oksigen Islam dan perilaku individu kolonial.

Yang terjadi selanjutnya adalah, timbulnya kebimbangan yang sangat untuk menerima dan menjalankan syariat Islam dari diri yang sebelumnya intens menimba ilmu Islam. Ada perbedaan mencolok antara ajaran luhur Islam dengan kenyataan perilaku para personil penjajah. Pengaruh perilaku kolonial saat itulah yang membuat masyarakat Islam mencampur bahkan mengaduk rata antara keyakinan Islam dengan perilaku masyarakat penjajah. Dengan jujur bisa dikatakan bahwa sesuatu yang dilarang oleh ajaran agama adalah sesuatu yang mendatangkan kenikmatan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya. Hingga timbul sebuah keinginan yang dominan untuk tetap mempertahankan keyakinan Islam sebagai agama rasional tapi juga menerima dengan tangan terbuka kebiasaan hidup atau budaya kolonialisme. Sebuah aliran mayoritas yang tak pernah mendapat pengakuan dari pemeluknya. Islam katepe. Ternyata aliran Islam inilah yang banyak di anut oleh para tokoh dan pengikutnya di negeri ini.

Sebelum Indonesia berdaulat penuh sebagai negara yang diakui dunia, warna aliran keyakinan tak pernah dipermasalahkan. Konsentrasi umat terfokus pada pembebasan negeri dari kekejaman dan ketamakan para penjajah. Tapi setelah negara ini merdeka, sebagian umat ada yang perduli pada dirinya sendiri dan perduli pada saudaranya serta perduli pada kehidupan akhiratnya. Tetapi bukanlah sesuatu yang mudah untuk mewujudkan jalan Allah pada sebuah negara yang sudah terlanjur mengadopsi hukum dan kebiasaan kolonial sebagai jalan darah atau urat nadi kehidupan bernegaranya. Karena sebagian besar masyarakat sudah enjoy dan merasa nyaman dengan sistem pemerintahan yang terpisah dengan agama. Juga memberikan ruang gerak kebebasan perilaku tanpa harus terikat oleh ketentuan syariat agama.

Sebuah kenyataan yang membenarkan tentang hukum newton tentang gerak, bahwa setiap benda cenderung untuk tetap mempertahankan keadaannya. Pemerintahan yang sudah berjalan akan cenderung untuk tetap berjalan dengan kecepatan tetap. Hukum newton ini juga memberikan pengertian bahwa bukanlah perkara yang ringan menghentikan perjalanan sebuah negara dengan agama demokrasi-nya untuk berpindah ke jalur jalan yang lain. Meskipun jalur lain tersebut telah dianggap diyakini sebagai jalan Allah. Karena para pemimpin dan sebagian besar masyarakatnya sudah begitu menikmati jalur perjalanan negara ini. Sedangkan perpindakan jalur agama negara secara paksa, baik oleh pemerintah yang sedang berkuasa maupun oleh mereka yang berada di luar kekuasaan pasti mengundang reaksi keras dari banyak pihak. Mengapa ?

Tak lain, karena agama baru yang akan dianut oleh negara adalah sebuah beban kewajiban yang sangat berat bagi masyarakat. Karena mayoritas masyarakat telah terlanjur menganut sebuah aliran beragama hanya di kulitnya saja. Bukan di jantung atau isi sebenarnya dari sebuah agama. Kebiasaan inilah yang membuat berat setiap usaha untuk memindahkan jalur agama negara dari hukum produk kolonial ke dalam hukum Allah melalui firman-firmanNya. Itulah, mengapa setiap bentuk usaha untuk mengembalikan akidah negara seperti yang pernah diterapkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat serta para tabi`it tabi`in adalah sesuatu yang sepetinya hampir mustahil. Karena beratnya pelaksanaan syariat dan relativitas kejujuran serta kemampuan para pemimpinnya sendiri.

Usaha kelompok Negara Islam Indonesia bukanlah usaha yang jelek atau nista. Jika landasan perbuatannya masih dalam koridor ibadah karena Allah, saya yakin hal tersebut adalah sebuah usaha atau perbuatan yang mulia.tapi jika dasar perbuatannya diikuti oleh tendensi atau maksud kekuasaan saja, maka usaha tersebut adalah sebuah usaha yang cacat. Sedangkan kita sebagai umat muslim yang merasa beriman hanya kepada Allah swt saja terasa aneh juga kalau kita menolak pembentukan negara Islam dengan pemberlakuan syariatnya. Jika kita setuju dengan pembentukan negara Islam, berarti kita sudah menyadari secara lahir dan batin segala konsekuensinya hidup dengan balutan aturan Allah. Dan memang seharusnya demikian. Sebagai wujud dari kekafahan kita dalam memeluk agama Islam. Tetapi jika kita menolak pembentukan negara Islam yang nyata-nyata telah di terapkan oleh Rasulullah saw, perlu sekali untuk menjawab sebuah pertanyaan. Apa yang terjadi dengan pengakuan Islam kita ?

Tak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Disamping sebuah keraguan akan keberhasilan kepemimpinan seperti yang Rasulullah saw jalankan, ada faktor lain yang tidak kalah dominan untuk menolak pemberlakuan hukum dan syariat Islam di negara yang mayoritas umat muslim ini. Faktor tersebut adalah faktor keengganan untuk hidup dan berperilaku dengan tuntunan Al Qur`an dan Hadist. Hal ini dikarenakan rendahnya kualitas Iman atau keyakinan tentang Allah dan kehidupan akhirat serta janji balasan yang tersurat dalam kitab. Kita menganggap bahwa pelaksanaan syariat islam di masyarakat adalah sesuatu yang berat. Dan kita tidak pernah mau menyadari kalu beratnya pelaksanaan syariat Islam dikarenakan Islam yang selalu berada di tepian Iman. Seandainya Iman yang kita miliki ini benar-benar berkualitas, Insya Allah syariat Islam bukan sesuatu yang membebani.

Pada kondisi seperti saat ini, orang Islam yang beriman akan sulit menjawab pertanyaan setuju atau tidak setuju pembentukan negara Islam. Jika mengatakan setuju, jangan-jangan malah diculik lalu dijebloskan ke penjara atau bahkan mungkin juga langsung di tembak mati. Hal seperti ini sangat memungkinkan. Karena fenomena kejahatan semacam hipnotis yang sebenarnya hanya bermaksud menipu dan menguras uang korban telah di indikasikan merupakan kinerja anggota atau simpatisan NII. Padahal bukan tidak mungkin hal tersebut hanya merupakan black champange dari sekelompok orang yang antipati terhadap pemberlakuan syariat Islam. Atau memang sengaja dihembuskan oleh orang-orang susupan yang di danai oleh kelompok negara yang memusuhi Islam. Mereka sengaja berbuat seperti itu dengan tujuan untuk mendiskreditkan umat Islam. Menghadang pemberlakuan syariat Islam dan mempertahankan sistem pemerintahan yang menjamin kebebasan berekspresi. Meski ekspresi itu sendiri adalah ekspresi monyet.

Jika menjawab tidak setuju, malah lebih aneh lagi. Orang Islam kok tidak tertarik pada Islam. Bahkan justru ingin menjauh dari syariat Islam. Lebih ekstrim lagi, hendak membuang nilai-nilai luhur ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Aneh tapi nyata. Itulah perumpamaan yang ideal bagi orang-orang yang tidak menghendaki Islam tapi bersembunyi di balik kebenaran Islam. Benar-benar sekumpulan orang munafik. Diminta memilih dan mengambil satu, malah mengambil dua-duanya. Dan menganggap bahwa perilakunya benar dan berdasar. Surga dunia diambil, surga akhirat diambilnya juga. Apa ya mungkin ? Sebagian dari kita pasti menjawab mungkin saja ! Ini jawaban orang-orang yang mempunyai sikap over confidence. Dan orang seperti ini tak terhitung jumlahnya.

Surga itu sebenarnya ada di mana ? Di periode dunia apa di periode akhirat ? Mungkin banyak dari kita yang sepakat, bahwa surga ada di periode akhirat. Tapi kita sudah terlanjur mengakui kebenaran istilah surga dunia. Padahal dunia ini merupakan arena atau tempat ujian dan cobaan. Lama ujian kita hanya puluhan tahun. Jauh dari umur dunia sendiri yang mencapai milyaran tahun. Surga dunia hanyalah sebuah kata yang kita rekayasa. Sebagai gambaran tentang seluruh kenikmatan hidup yang ada dan tersedia di dunia. Dari referensi kitab, nikmat dunia itu merupakan sesuatu yang menipu. Jika kita sering membaca kitab pasti mengetahui perihal seperti ini. Tapi kita sudah terlanjur menyebut titik-titik kenikmatan dunia itu sebagai surganya dunia. Sesuatu yang mestinya harus dinikmati sepuas-puasnya.

Jika kita mau memahami, mayoritas nikmat dunia itu berada di atas kemaksiatan ! Sesuatu yang selalu terbalut nafsu angkara murka dan dimotivasi oleh sekelompok atau sekumpulan setan. Jika kita sadar, mungkin kita akan menganggukan kepala atau manggut-manggut. Tapi jika tidak mau menyadari tentang sebuah kebenaran, maka pasti kita akan menyangkal dan membantah habis-habisan. Yang dianjurkan adalah, mengambil sedikit kenikmatan dunia ini sebagai sarana pembuktian kasih sayang Allah dan mewujudkan kesyukuran melalui ketaatan terhadap perintah dan laranganNya. Tapi kebanyakan dari kita lebih suka mempersepsi sendiri kehidupan dunia ini menurut kehendak atau kemauan kita. Hingga sampai kapanpun, kebenaran dalam beriman tak ubahnya seperti syair lagu yang hanya keluar masuk melalui kedua lubang daun telinga kita.

Itulah kenyataan hidup saat ini. Sebuah pengingkaran yang kita elakkan dengan kata “sing penting atine”. Meskipun bukan negara Islam tapi kalau hatinya tetap dalam Iman dan Islam jadinya ya lebih baik dari pada negaranya negara Islam tapi hatinya penuh kekafiran. Ada benarnya juga jika kita mempunyai pendirian seperti ini. Tapi bagaimana kalau negaranya demokrasi penuh dengan masyarakat Islam tapi alergi dengan hukum Islam ? Atau negara yang penuh dengan orang Islam tapi meng-imani dan menyukai perbuatan orang-orang kafir atau orang diluar Islam ? Tentunya dalam perilaku “surga dunia” yang penuh dengan kemaksiatan ? Bagaimana ? Kita yang hidup dengan cara kita seperti ini saat ini masuk dalam kateori yang mana ?

Sesungguhnya, semua diri dari kita-kita yang merasa mengaku orang Islam harus lebih banyak berkaca diri tentang keislaman kita. Seberapa jauh dosa-dosa yang kita buat melalui otak kita ? Melalui mata kita ? Melalui telinga kita ? Melalui kulit-kulit sensitif kita ? Melalui tangan dan kaki kita ? Melalui prasangka kita ? Dan seberapa besar keberanian kita dalam meninggalkan shalat ? Atau menyepelekannya ? Kalau kita mengaku sudah selalu melaksanakan shalat, seberapa bersar pengaruh shalat itu pada perilaku kita ? Benarkah seperti apa yang dikatakan dalam kitab, bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar ? Adakah dari kita yang sudah merasakan bahwa shalat yang kita lakukan sudah berakibat diri kita terlepas dari perbuatan-perbuatan yang tergolong maksiat ?

Kenyataan keseharian hidup masyarakat kita secara umum masih sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Kebanyakan berpedoman “sing penting iku atine”. Hingga badan wadag dan perilakunya tidak lagi begitu penting untuk melakukan suatu perbuatan yang di referensikan oleh kitabullah Al Qur`an. Bahkan banyak diantara kita yang sangat elergi apabila mendengar kata Al Qur`an. Apalagi terhadap isinya ! Kita ini sebenarnya termasuk orang-orang yang bersembunyi dalam kebesaran dan kebenaran Islam saja. Bukan orang-orang Islam yang berserah diri hanya kepada Allah. Maka tak heran pula kalau banyak dari kita yang menolak negara ini berubah bentuk menjadi negara kesatuan yang bersistem pemerintahan Islam dengan hukum-hukum Islam pula. Apalagi yang bisa kita katakan untuk hal seperti ini ?

Islam memang tidak memberi kebebasan perilaku seperti bebasnya binatang-binatang yang hidup di hutan. Dan Islam juga menyadari kalau beragama itu juga bukan merupakan paksaan. Tapi kita semua juga tahu kalau di negara kita ini mayoritas orang mengaku dirinya beragama Islam. Lalu apa yang ditakutkan oleh orang Islam tentang negara Islam ? Sebuah pertanyaan yang jawabnya bermuara di kekafiran tentang sistem pemerintahan Islam. Sebuah pilihan yang sebenarnya merupakan ujian bagi umat Islam. Mana jalan yang sebenarnya akan kita lalui, sedang kita semua berdiri di persimpangan jalan. Padahal kita semua sudah sepakat kalau jalan lurus menuju ridha Allah adalah jalan yang paling baik bagi manusia. Tetapi kita lebih senang memilih jalan berkelok yang memberikan variasi-variasi kemaksiatan.

Negara Islam dalam negara kesatuan republik Indonesia adalah sebuah angan-angan yang sangat tidak mungkin tercapai. Karena mayoritas warga tidak menghendakinya. Meski kerangka struktural organisasi bisa kita temukan, wujud negaranya tidak akan pernah kita lihat dan rasakan. Mengapa ? Mayoritas dari kita adalah anti sistem pemerintahan Islam. Usaha pembentukan NII sendiri bukan pula merupakan sebuah jawaban atas maraknya kemaksiatan yang saat ini terjadi. Sebab di dunia ini sudah tidak ada lagi yang patut di beri kepercayaan seperti layaknya orang-orang dekat Rasulullah saw. Besar kemungkinan pula hembusan pembentukan NII hanyalah sebentuk ungkapan atas ke-tidakikhklas-an atas semua kemunkaran yang terjadi di bumi yang mayoritas masyarakatnya mengaku beragama Islam ini. Tapi kita terlanjur ketakutan. Tak sempat lagi berpikir untuk melakukan introspeksi diri dan tentang keislaman diri kita.

Mudah-mudahan Allah segera memberikan kesadaran untuk berfikir dan merenungkan tentang bagaimana seharusnya para pemimpin mengusahakan sesuatu yang benar untuk rakyatnya. Tentu saja dalam koridor “hidup adalah ibadah”. Dan semuanya bisa terwujud kalau para pemimpinnya juga tahu tentang ibadah dan mau melaksanakan ibadahnya. Sedangkan kondisi yang kita lihat di masyarakat saat ini sebenarnya sudah sampai pada level yang sangat mengkhawatirkan kehidupan ibadah umat. Dimana para pemimpin memberikan kesempatan yang seluas-luasanya kepada masyarakat yang ingin berperilaku maksiat melalui berbagai sarana yang sangat mudah kita temukan di gemerlapnya malam. Dari perilaku masyarakat seperti saat ini, mustahil kita tidak bisa membaca kalau kehidupan beragama tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hanya mata yang tertutup sajalah yang tidak bisa melihat tentang sebuah kenyataan yang sedang terjadi di depan matanya.

Sekian.

Surabaya, 9 mei 2011.

Agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: