RSS

Manzilah

21 Mei

Sebuah kata yang bermakna tempat atau kedudukan yang menempel secara khusus pada bumi dan bulan. Kita sering menyebutnya dengan istilah orbit, garis edar atau lintasan. Manzilah, adalah ketentuan Allah untuk lintasan perjalanan hidup makhluk-makhluk bulat di seluruh jagat raya. Hanya satu lintasan untuk satu planet dan pengikutnya. Sebuah perjalanan monoton. Membosankan. Tentu saja dalam pandangan manusia. Tapi makhluk-makhluk bulat yang kita sebut planet tersebut adalah makhluk-makhluk yang taat pada perintah Allah. Ada sekitar sembilan planet yang menyertai perjalanan matahari di manzilahnya. Semua melintas secara teratur mengitari Matahari. Tunduk. Tanpa membantah. Dan di angkasa raya ada ratusan milyar kehidupan sejenis tata surya yang kita tempati ini.

Mungkin ada keraguan kalau semua makhluk bulat yang berseliweran diangkasa selama ini adalah sesuatu yang hidup. Sebagian besar dari kita mengenal mereka hanya sebatas nama saja. Dari Merkurius sampai Pluto. Kita menyebut mereka dengan sebutan planet. Planet-planet tersebut berjalan dengan putaran atau rotasinya. Mereka berjalan di atas jalan yang telah ditetapkan atas dirinya. Hanya satu jalan dan kemungkinan besar tanpa kehendak bebas. Dalam pandangan kita sebagai manusia, mungkin mereka benar-benar menikmati hidup dalam keterbatasan gerak. Bentuknya hanya bulatan sederhana dan hanya berputar terus dari waktu ke waktu. Tapi seperti kita lihat, mereka menerima dan menjalani tanpa bantahan sedikitpun.

Dalam pemikiran kita, hidup dengan bentuk yang sederhana dan hanya berputar selama hidup adalah sesuatu kehidupan yang terlalu sederhana. Mungkin kita tidak akan pernah bisa menerima jika hal tersebut diberlakukan pada diri manusia. Kita tidak pernah menyadari kalau bulatan-bulatan yang kita sebut planet tersebut mengandung pesan dan ajaran bagaimana harus hidup. Manzilah atau orbit adalah jalan Allah. Dimana kita sebagai makhluk ciptaanNya tak ada pilihan jalan terbaik kecuali memilih jalan Allah tersebut. Sampai saat ini benda-benda angkasa tersebut masih tetap berjalan di orbitnya. Hingga gerakan-gerakan mereka masih tetap seperti sebuah kolaborasi gerak yang sangat indah. Hanya saja kita tidak bisa melihat dan merasakan pergerakan mereka. Yang bisa kita rasakan hanyalah bergantinya waktu dari siang menuju malam atau sebaliknya.

Mengapa mereka semua berputar ?

Mungkin kita menganggap bahwa putaran adalah sesuatu yang tidak berarti. Padahal inti dari pada kehidupan ini adalah putaran. Mereka berputar karena mereka hidup. Sesuatu yang hidup pasti menyimpan sesuatu yang berputar. Karena kehidupan memang dirangkai dari sesuatu yang berputar. Bintang dan semua planet yang menyertainya adalah unsur-unsur pembentuk kehidupan alam semesta. Mereka semua berputar dan berjalan di manzilah masing-masing. Demikian juga yang terjadi di tubuh manusia. Dari mulai sel sampai tubuh yang utuh mengandung sesuatu yang berputar. Sebuah bukti yang tidak terlalu mendetail adalah peredaran darah kita. Darah berputar terus tak ada hentinya untuk mendukung kehidupan masing-masing diri kita. Tentu saja didukung oleh piranti yang sangat penting, yakni jantung. Jika darah tidak berputar atau peredaran darah berhenti, maka disitulah kita akan menjumpai kematian.

Rotasi adalah penunjang kehidupan. Mereka yang melakukan rotasi adalah pendukung kehidupan. Demikian juga dengan manusia. Mereka yang melakukan rotasi bisa dikatakan telah atau sedang mendukung kehidupan alam semesta. Jika semua makhluk-makhluk bulat yang bertebaran di alam semesta melakukan rotasi, bagaimana dengan manusia ? Apakah kita juga harus berputar seperti mereka ? Kalau kita mau menjadi unsur-unsur pembentuk kehidupan yang lebih besar, tentu saja kita harus berotasi atau melakukan ritual berputar. Jika mereka berputar di manzilah yang telah di tentukan oleh Allah, kita juga harus demikian. Berputar atau berotasi di manzilah kita yang juga sudah ditentukan oleh Allah swt. Jihad fii sabilillah

Manusia sudah diberi bentuk demikian sempurna oleh Allah. Juga kebebasan berkehendak yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk yang lain. Tapi kehendak yang demikian bebas justru menjadi penentu di bagian mana manusia menempatkan dirinya dalam kehidupan alam semesta. Kebebasan berkehendak memberikan peluang kepada manusia untuk menjadi makhluk yang taat dan menjadi bagian dari unsur pembentuk kehidupan alam semesta atau menjadi bagian dari isi alam semesta yang tak berguna dan telah mengalami kematian, meski secara fisik masih hidup. Tapi kebanyakan manusia memahami kehidupan hanya pada sisi dirinya sendiri. Dan hanya sebagain kecil saja yang mau memahami tentang kehidupan yang lebih besar. Yakni kehidupan yang melibatkan semua penghuni alam semesta ini.

Allah swt. telah meninggikan derajat manusia di atas derajat makhluk-makhluk lain yang ada di alam semesta. Demikian juga Allah telah memberikan amanat untuk menjadi pemimpin kehidupan di muka bumi. Sebuah kehormatan hidup yang tak pantas di abaikan begitu saja tanpa rasa syukur. Apalagi tanpa perwujudan dari rasa syukur itu sendiri. Wujud kesyukuran manusia adalah kesediaan diri untuk mendukung kehidupan alam semesta yang telah di ciptakan oleh Allah swt. Dengan cara seperti yang telah dilakukan oleh makhluk-makhluk lain di alam semesta, yakni berputar. Tentu saja tidak harus berputar secara riil seperti berputarnya planet atau sel yang berputar mengelilingi inti sel. Manusia hanya perlu membuat putaran fiktif yang menggambarkan nilai atau derajat sebuah putaran. Yakni tiga ratus enam puluh derajat yang dibangun melalu ritual shalat dengan ruku` dan sujud yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Shalat adalah sebuah rotasi 360 derajat yang diberlakukan untuk manusia. 90 derajat digambarkan dengan ruku`, 270 derajat digambarkan dengan sujud. Relatif sangat ringan dari pada harus berputar dengan seluruh tubuh seperti makhluk-makhluk bulat Allah yang lain. Meski kita tidak memungkiri kalau putaran yang sesungguhnya bisa menimbulkan kondisi exctasy pada diri kita. Tarian sufi adalah salah satu metode pencapaian exctasy tersebut. Tapi ruku` dan sujud yang dilakukan pada manzilah yang benar akan bisa menyebabkan kita berada dalam kondisi tersebut. Itulah nikmat shalat bagi mereka yang benar-benar mendukung kehidupan alam semesta ciptaan Allah. Dengan shalat kita sudah melakukan rotasi seperti makhluk-makhluk Allah yang lain. Dengan shalat pula kita bisa dikatakan telah turut menyumbangkan energi bagi kehidupan alam semesta. Hanya saja, berapa banyak dari diri kita yang memanfaatkan kehendak dari Allah untuk tujuan seperti ini ?

Yang harus kita sadari adalah, bahwa kehidupan membutuhkan energi. Bukan hanya kehidupan kita sebagai manusia saja. Kehidupan dalam skala yang jauh lebih besar juga membutuhkan energi. Lantas dari mana sumber energi alam semesta ini di peroleh ? Dari rotasi atau perputaran. Kita tahu bahwa sesuatu yang berputar bisa menimbulkan energi. Seperti generator, anker di dalamnya berputar cepat di medan magnet dan menghasilkan energi serba guna untuk manusia. Demikian juga elektron yang berputar mengelilingi inti batang battery. Hidup kita menjadi lebih hidup dengan adanya energi lain diluar diri kita. Tak pernah kita bisa membayangkan bagaimana seandainya tidak ada energi lain selain energi diri kita. Apa yang akan bisa kita lakukan ?

Dari sini mungkin kita bisa membayangkan bahwa apa yang dihasilkan oleh peristiwa thawaf pada saat orang-orang melaksanakan ibadah haji. Apakah juga menghasilkan energi seperti generator yang hidup ? Tentu saja kemungkinan benarnya sangat besar sekali. Bahkan mungkin sumbangan energi dari baitullah inilah yang menyebabkan bumi tetap berputar dan hidup. Kita tak bisa membayangkan bagaimana diri bumi tanpa energi lain yang sangat luar biasa setelah kerusakan parah yang banyak dilakukan oleh para penghuninya. Bumi ini banyak sekali mengalami kerusakan karena ulah manusia. Jika pada saat atau periode yang sama tidak ada sumbangan energi yang sangat besar untuk bumi, mungkin bumi sudah berhenti berputar atau sudah mati.

Maka benarlah kiranya kalau kiamat tidak akan terjadi sepanjang di bumi masih ada orang yang ruku` dan sujud. Karena bumi masih bersedia berputar sepanjang manusia bersedia memberikan energi untuk bumi yang di pijaknnya. Sama seperti kita. Seandainya tidak ada energi yang bisa menghasilkan arus listrik kemungkinan besar tehnologi tidak akan bisa berkembang secepat sekarang ini. Tambahan energi membuat semangat hidup juga bertambah. Meski energi itu sendiri hanya bersifat menambah motivasi kita dalam berbuat sesuatu. Ruku` dan sujud manusia serta ritual thawaf di prosesi ibadah adalah sumber energi yang memotivasi semangat planet Bumi untuk tetap berotasi dan berjalan di atas manzilahnya sampai datang ketentuan Allah tentang diri bumi dan planet-planet yang lain.

Manzilah adalah sebuah ruas jalan atau orbit yang benar dan harus di lalui oleh semua yang merasa dirinya diberi kesempatan hidup oleh Allah swt. Tapi khusus untuk manusia yang telah diberi amanat memimpin makhluk di muka bumi diberikan dua pilihan orbit. Yakni orbit atau jalan kefasikan dan orbit atau jalan ketaqwaan. Dua manzilah bagi manusia sebagai pilihan untuk menentukan kehidupannya kelak di periode akhirat. Atau sebuah tawaran jalan hidup yang mempunyai dua alternatif yang berlawanan situasi dan kondisi. Satu jalan merupakan kehidupan yang memberikan kebebasan bergerak di luasnya langit dan bumi, satu jalan lagi terikat dalam sempitnya ruang dan terkungkung dalam mimpi buruk sepanjang penantian di alam barzah.

Hakikat kehidupan.

Perjalanan hidup yang benar adalah berputar tenang di atas manzilah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Sebagai wujud pengabdian dan partisipasi dalam pemberian kontribusi energi terhadap kehidupan alam semesta. Mungkin kalimat ini terasa agak sulit dipahami. Tapi makna sebenarnya adalah perwujudan rasa syukur kita secara lahir dan batin. Manifestasinya bermuara pada ketaatan pada perintah yang tersirat dari perilaku Rasulullah saw. dan tersurat dalam Al Qur`an yang mulia. Keikhlasan dalam mewujudkannya memerlukan keyakinan yang kuat dan bisa kita dapatkan dari pemahaman yang dalam tentang kebenaran tauhidnya Allah dengan segala kekuasaannya. Tentang kebenaran berita akhirat dalam kitabullah melalui tanda-tanda yang tersebar di alam semesta. Termasuk di bumi yang kita pijak dan pada diri atau jasad kita sendiri.

Wujud rotasi atau putaran bagi manusia adalah ruku` dan sujud. Ruku` sebagai bukti kesediaan untuk tunduk dan patuh pada perintah, sedangkan dua sujud adalah wujud kepasrahan yang membungkus do`a atau permintaan kita dalam duduk diantara dua sujud itu sendiri. Tiga ratus enam puluh derajat yang dibangun oleh ruku` dan sujud ini menggambarkan satu putaran atau rotasi syarat kehidupan. Sedangkan tujuh belas kali putaran sama nilainya dengan siang dan malam atau satu kali rotasi bumi. Sebuah nilai minimal kehidupan. Jika kita menghendaki nikmatnya kehidupan, maka jumlah putaran atau rotasi harus dilipat gandakan. Melalui shalat-shalat yang sunnah yang mengikuti shalat fardlu dan shalat malam yang sangat disarankan oleh Allah, Insya Allah nikmat kehidupan bisa kita rasakan.

Rotasi atau putaran menghasilkan energi. Semakin banyak putaran yang dilakukan akan semakin besar pula energi yang dihasilkan. Tentu saja sangat bermanfaat untuk menjalani kehidupan yang berintikan cobaan dari Allah swt. Tapi harus pula di ingat, hanya putaran atau rotasi yang berada di jalan atau orbit yang benar saja yang bisa menghasilkan energi. Hanya orbit atau jalan Allah saja yang telah ditetapkan sebagai satu-satunya jalan untuk kehidupan makhluk. Tak terkecuali untuk manusia. Hanya jalan kebaikan berbalut keikhlasan karena Allah saja yang akan bisa menghasilkan energi kehidupan alam semesta. Selain manzilah tersebut, semua putaran tidak mempunyai arti bagi kehidupan. Karena itulah ilmu menjadi dasar untuk membangun keyakinan yang bernafaskan ikhlas sebagai syarat mutlak mendapatkan keridhaan Allah dalam berbuat sesuatu di kehidupan dunia kita.

Harus juga kita ingat, bahwa ridha Allah swt terkunci dalam dua kata yakni Iman dan Islam. Jika kita ingin mendapatan ridhaNya, kita tak bisa melepas atau mengabaikan keduanya. Iman dan segala yang ada didalamnya harus menghiasi mata, telinga, akal dan hati. Karena hanya iman yang kuat yang akan menggerakkan jasad untuk berbuat sesuatu dalam nilai-nilai Islam. Iman yang lemah tidak akan bisa menggerakkan jasad untuk melakukan suatu perbuatan dalam balutan ikhlas. Padahal ikhlas adalah ruhnya ibadah. Islam bisa bermakna kepasrahan. Sebagai tuntunan ibadah dan perwujudan amal perbuatan mereka yang beriman. Tentu saja beriman dalam arti iman yang sebenar-benarnya Iman. Bukan hanya Iman-imanan atau sekedar beriman.

Manzilah adalah jalan yang sudah ditentukan oleh Allah swt. tujuannya adalah agar perjalanan tiap-tiap makhluk akan sampai pada tempat semula. Tak terkecuali untuk manusia. Jihad fii sabilillah atau berjuang untuk tetap di jalan Allah akan membuat kita tidak terpeleset ke tempat yang berbahaya. Meski bukan jalan yang mudah untuk di tempuh, tapi tetap bisa untuk dilalui dengan mudah bagi mereka yang memasrahkan dirinya hanya kepada Allah swt. Dengan berbekal Iman yang benar, kita seakan berpegangan pada buhul tali yang sangat kuat dan tidak akan pernah putus. Dan sebagai bekal, Iman akan menuntun kita kemana arah yang seharusnya kita tuju. Hingga titian Shiratal Mustaqim-pun akan dengan mudah kita lalui tanpa kesulitan yang berarti. Itulah impian orang-orang yang yakin tentang kebenaran kehidupan akhirat.

QS. Yunus : 5

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴿٥﴾

Huwalladzii ja`alasy syamsa dhiyaa`an wal qamara nuuran wa qaddarahu manaazila lita`lamu `adadas sinina wal hisaab, maa khalaqallahu dzaalika illa bil haqqi, yufashshiilul aayaati liqaumin ya`lamuuna”

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

Selain gambaran sebagai jalan yang sudah ditentukan untuk masing-masing makhluk, khususnya bumi dan bulan. Manzilah mempunyai fungsi atau berguna untuk mengetahui bilangan tahun dan penetapan waktu. Seperti pada ayat diatas, orbit atau garis edar yang tetap bisa dijadikan pathokan waktu bagi manusia. Hal itu dikarenakan posisi tegak lurus antara matahari dan sebagian tempat di bumi bergeser tetap di jalur edarnya secara berkala. Yakni antara garis lintang selatan dan garis lintang utara. Jika pada akhir atau awal tahun posisi matahari tegak lurus dengan tempat-tempat yang berada di posisi garis lintang selatan, maka tiga bulan kemudian posisi matahari akan berada tegak lurus dengan tempat-tempat yang berada di posisi garis equator atau kathulistiwa.

Lalu tiga bulan kemudian, tepatnya di akhir bulan Juni, posisi matahari akan berada tegak lurus dengan tempat-tempat yang berada di posisi garis lintang utara. Tiga bulan kemudian, yakni di bulan september. Posisi matahari kembali berada tegak lurus dengan garis kathulistiwa lagi. Dan tiga bulan kemudian posisi matahari akan kembali berada tegak lurus dengan garis lintang selatan. Demikian terus terjadi sepanjang tahun selama jutaan tahun. Hal demikian disebabkan karena bumi yang selalu berputar dengan kemiringannya mengelilingi matahari. Tunduk patuh untuk berjalan pada manzilah yang telah ditentukan tanpa ada keinginan untuk berpaling pada manzilah atau orbit lain. Karena bumi mengetahui konsekwensi dari perpindahan manzilah atau garis edar. Yakni kecelakaan besar yang mengakibatkan kehancuran diri akibat tabrakan yang dahsyat antar planet.

Demikian juga dengan bulan. Sambil berputar Bulan mengelilingi bumi pada manzilahnya. Waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengelilingi bumi adalah sekitar 29 hari. Senilai dengan satu per dua belas waktu yang dibutuhkan bumi untuk mengelilingi matahari. Dari kolaborasi bumi dan bulan inilah manusia menghitung umurnya. Menentukan batas siang dan malam. Menentukan batasan awal dan akhir bulan. Menentukan tanggal-tanggal dan saat-saat waktu shalatnya. Menentukan kapan harus memulai puasa dan mengakhirinya. Menentukan kapan harus memulai kerja dan kapan pula harus menghentikannya. Menentukan kapan harus bercocok tanam dan kapan harus berladang. Tak ada sesuatu yang tidak berguna apabila sesuatu itu telah di ciptakan oleh Allah. Hanya dengan berputar dan berjalan di orbit, bumi dan bulan telah melakukan ibadah kepada Allah sekaligus berbuat baik kepada manusia.

QS. Yaasiin : 39.

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴿٣٩﴾

Wal qamara qaddarnaahu manaazila hattaa `aadakal`urjuunil qadiimi”

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”.

Demikianlah sebagian kecil pelajaran yang bisa kita ambil dari sikap tunduk dan patuhnya bumi yang kita tempati ini pada perintah Allah swt. jika kita menyebut manzilah bumi dan bulan dengan kata orbit, maka manzilah kita sebagai manusia adalah jihad fii sabilillah. Sebagai jaminan dari Allah untuk keselamatan perjalanan hidup di dunia dan jaminan kehidupan yang lebih baik kelak di periode akhirat. Tapi semua terserah kita. Mau memilih jalan yang manapun Allah mempersilahkan. Asal kita sadar bahwa tiap-tiap pilihan mengandung konsekuensi sendiri-sendiri. Berita tentang keadaan di akhiratpun juga sudah di informasikan dalam kitab Al Qur`an. Juga melalui ucapan-ucapan atau sabda Rasulullah saw. Jika kita mengemukakan alasan tidak tahu tentang isi Al Qur`an dan hadist pada hari semua diri diadili, hal itu bukan karena Allah, juga bukan karena Rasulullah. Tetapi karena kesalahan diri kita sendiri.

Sekian.

Surabaya, 19 Mei 2011.

Agushar.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 21, 2011 in Renungan

 

Tag: , , , , ,

4 responses to “Manzilah

  1. AlirAir

    November 14, 2011 at 1:46 am

    Subhanallah mas, tulisan ini luar biasa….
    Apabila diizinkan, saya ingin berbagi tulisan yang inspiratif ini untuk yang lain dengan mencantumkan sumber aslinya.

     
    • Agus Hartono

      November 15, 2011 at 4:30 am

      Monggo, silahkan Mas. Mudah2an yad bisa menulis yang lebih baik lagi. Terima kasih.

       
  2. Mazli Muhd

    September 11, 2013 at 12:02 am

    Hebat sungguh penjelasannya. Alhamdullilah ianya dapat menghuraikan manzilah yang saya selidiki. Terimakasih.

     
  3. Julia

    Oktober 27, 2013 at 12:39 pm

    Penjelasannya Bagus bnget
    rinci sekali

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: