RSS

Metamorfosa Manusia

07 Jun

Sebuah perubahan bertahap yang sering kita kaitkan dengan perubahan fisik dan kemampuan pada kehidupan katak dan kupu-kupu. Karena keduanya mengalami metamorfosis sempurna. Dari mulai telur, larva, pupa dan imago atau dewasa. Kebanyakan dari kita hanya memperhatikan perubahan keduanya pada tampilan fisiknya saja. Padahal di tiap fase perubahan fisik mereka mengalami perubahan kemampuan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Sebenarnuya bukan hanya kedua binatang tersebut saja yang mengalami metamorfosa. Sebagian besar jenis serangga juga bermetamorfosis. Hanya saja, sebagian diantara mereka ada yang mengalaminya secara tidak sempurna dengan melewati tahapan tertentu.

Katak misalnya, dari telur berubah fisik menjadi berudu. Beberapa waktu kemudian tumbuh kaki di bagian belakang dan depan tubuhnya. Kita menyebutnya dengan nama kecebong atau ceblong. Beberapa waktu kemudian barulah fisik katak sempurna sampai dewasa. Kalau kita cermat memperhatikan tahap demi tahap, perubahan fisik pada kehidupan katak mengalami peningkatan kemampuan dalam hidupnya. Dari telur ke berudu benih katak ini mengalami peningkatan kemampuan dari hanya diam ke gerak hidup dalam air dan masih bernafas dengan insang. Baru beberapa waktu kemudian ekor memendek untuk kemudian berubah fisik menjadi katak yang mempunyai kemampuan meloncat di daratan dan piawai berenang di air.

Demikian juga yang terjadi dengan kupu-kupu. Tahapan hidup dari satu fase ke fase yang lain juga mengalami perubahan peningkatan kemampuan diri. Dari telur ke larva adalah awal kehidupan. Dimana larva berupa ulat yang semakin besar dan memanjang. Di fase ini ulat hanya makan dan makan secara terus menerus. Kemampuan geraknya sangat lambat. Tapi dalam jumlah tertentu bisa menghabiskan daun tanaman hanya dalam satu malam. Tapi ketika sampai pada fase kepompong, kemampuan ulat yang terlihat hanyalah kemampuannya berpuasa. Ketika masa puasanya telah selesai, ulat menjelma menjadi seekor makhluk yang lain dari fisik yang dimiliki sebelumnya. Berkaki dan bersayap serta mempunyai penglihatan dan indera yang tajam. Sebuah peningkatan kemampuan diri yang sangat luar biasa.

Metamorfosis kedua binatang tersebut seharusnya menjadi inspirasi buat manusia. Bahwa peningkatan kualitas hidup bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Dan metamorfosa atau sebuah perubahan tidak harus selalu disertai dengan perubahan bentuk fisik. Ada dua metamorfosa yang seharusnya terjadi pada diri manusia. Metamorfosa duniawi dan metamorfosa kepentingan kehidupan akhirat. Keduanya memerlukan sebuah usaha yang serius. Metamorfosa duniawi didapat dari sebuah usaha yang dibatasi oleh halal dan haram. Cara mewujudkannya banyak mengandung unsur kebohongan. Sedangkan perubahan kepentingan akhirat adalah sesuatu yang harus di usahakan. Hanya kejujuran dan keikhlasan yang bisa mewujudkan perubahan kualitas Iman seseorang.

Metamorfosa duniawi seseorang bisa terlihat dari perubahan gaya hidup dan perubahan status sosialnya di masyarakat. Dari mulai balita, remaja, dewasa dan manula. Balita adalah masa ketergantungan murni pada orang tua. Segala keperluan hidup dan pelayanan dipenuhi oleh orang tua. Perubahan ke fase remaja menyebabkan peningkatan kekuatan fisik dan cara berpikir. Dari sifat kekanak-kanakan menjadi lebih mandiri dalam mengurus diri sendiri, meski masih tergantung pada orang tua dalam hal kebutuhan hidup. Dari fase remaja berubah ke fase dewasa. Dimana pada fase ini seseorang sudah mulai berpikir untuk memenuhi kebutuhan biaya hidupnya secara mandiri. Juga mulai berpikir untuk hidup berkeluarga. Baru kemudian berubah secara perlahan meningkat ke arah kematangan berpikir untuk menuju fase manula.

Di fase ini terjadi penurunan kualitas kemampuan. Baik dari segi fisik maupun power. Hanya kematangan berpikir yang masih bisa bertahan selaras dengan primanya kondisi tubuh. Tapi ketika penyakit mulai menyerang, maka cara berpikirpun juga akan mengalami penurunan. Tidak lagi bisa maksimal seperti ketika dalam keadaan normal atau sehat. Sadar atau tidak fase-fase perubahan pada diri manusia dari lahir sampai masa tua adalah sebuah metamorfosa tanpa perubahan bentuk fisik. Perubahan yang terjadi pada fisik yang semakin membesar dan gaya hidup serta status sosial yang diukur dari kekayaan materi adalah metamorfosa duniawi. Karena semua hal tersebut hanya berkaitan dengan kebutuhan hidup dunia. Seperti kata orang jawa, pangan, sandang dan papan atau perumahan.

Sedangkan metamorfosa yang lain adalah perubahan dalam hal kebutuhan hidup di akhirat. Karena manusia yang telah diberi kesempatan hidup didunia tidak bisa terlepas begitu saja sebelum menyelesaikan kehidupan akhiratnya. Untuk menentukan dimana dan bagaimana kelak di akhirat manusia akan tinggal dan menjalani kehidupannya, sangat tergantung pada apa yang di usahakan oleh manusia itu sendiri selama hidup di dunia. Jika selama hidup manusia hanya berorientasi pada kehidupan dunianya, maka metamorfosa yang terjadi juga hanya pada kehidupan duniawinya saja. Tetapi jika orientasi kehidupan juga mementingkan kehidupan akhirat, maka kemampuan spiritual atau tingkat keimanan dan amal shalihnya juga akan mengalami peningkatan.

Metamorfosa spiritual.

Perubahan kemampuan spiritual manusia adalah wujud metamorfosa dalam peningkatan Iman atau keyakinan akan tauhidnya Allah serta segala sifat yang ada pada Allah swt. Perubahan yang terjadi bisa saja merupakan hasil semu, sebab berkaitan dengan kualitas keyakinan yang telah terbangun. Dan hanya Allah sajalah yang paling mengetahui kualitas Iman seseorang. Tapi memang benar, segala sesuatu yang menjadi keinginan haruslah diusahakan. Tentang hasil tetap harus di serahkan kepada Allah swt dengan bertawakal. Tanpa upaya, metamorfosa spiritual tidak akan pernah terjadi pada manusia. Tanpa perubahan kualitas Iman niscaya kita akan masuk dalam kelompok orang-orang yang mengalami kerugian besar. Karena menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah diberikan oleh Allah swt.

Metamorfosa Iman seseorang dimulai dari masa sebelum akhil baliq. Di fase ini anak-anak hanya mengikuti apa yang diperintahkan atau di arahkan oleh orang tuanya. Begitu lahir dia sudah bisa dikatakan beragama Islam karena dilahirkan oleh Ibu yang beragama Islam. Sampai pada usia balita Iman seorang anak masih dalam tahap asal beriman. Baru setelah mencapai umur 10 tahun seorang anak bisa sedikit memahami agama. Dan lebih banyak masih pada tahapan pelajaran syariat. Yakni pelajaran agama yang bersifat hafalan dan tata cara shalat dan puasa. Pada tahapan ini anak masih belum sepenuhnya bisa mencerna pemahaman ilmu Iman melalui bukti-bukti ayat-ayat Al Qur`an dan ayat-ayat alam. Iman yang di miliki masih sebatas doktrin dari guru agama berdasarkan kurikulum sekolah atau pesantren.

Fase setelahnya adalah fase remaja. Pada usia sebelas tahun keatas mulailah bisa dikenalkan pada pemahaman terhadap ayat-ayat Al Qur`an. Itupun masih terbatas pada mereka yang menuntut ilmu agama di pondok-pondok pesantren. Pemahaman inipun masih juga terbatas pada pemahaman yang bersifat kurikulum pesantren juga. Artinya, seorang anak sudah mulai beriman di tahapan ilmul yakin. Yakni beriman dengan ilmu pengetahuan agama yang mengajarkan tentang kebenaran tauhidnya Allah dan logika pengabdian dari hukum sebab akibat. Pada tahapan ini tingkat keimanan sudah mengalami metamorfosa atau evolusi dari sekedar ikut-ikutan ke tingkat keimanan yang lebih dalam. Yaitu dengan pemahaman pengetahun yang di dapat dari para ustadz yang mengambil rujukan ajaran orang-orang shaleh di jaman dahulu.

Pada tahap ini seorang remaja sudah bisa menentukan diri dan pikirannya untuk memilih dan menentukan mana ajaran agama yang lebih bisa diterima oleh akal dan mana yang kurang bisa diterima oleh akal. Hingga kemantapan iman bisa secara otomatis meningkat sejalan dengan lebih banyaknya pemahaman ayat-ayat yang masuk dalam pikiran dan jiwanya. Tapi perbandingan antara mereka yang imannya meningkat dan yang tetap dalam iman-imanan masih sangat memprihatinkan. Remaja yang memilih dunia dan menjauhi agama jumlahnya jauh lebih banyak dari pada remaja yang memilih untuk alim dalam ilmu agama. Padahal fase ini menawarkan perubahan dalam tingkat keyakinan seseorang dalam bertuhan dan pilihan dalam bertingkah laku atau dalam berbuat sesuatu. Tapi kenyataan yang kita lihat saat ini memang demikianlah adanya. Hingga waktu yang terlewat tak memberikan manfaat perubahan Iman sama sekali.

Fase selanjutnya adalah fase dewasa. Dimana remaja berubah menjadi dewasa dalam pemikiran dan berhak untuk menentukan kemana arah tujuan langkah spiritualnya. Pada tahap ini tingkat keimanan seseorang bisa berubah dari ilmul yakin menuju ke ainul yakin. Yakni sebuah keyakinan yang tumbuh dari bukti-bukti kebenaran ayat Al Qur`an yang di padu dengan ilmu pengetahuan alam. Melalui berbagai pengamatan tentang apa yang terjadi di alam yang kita tempati ini mereka menemukan bukti kebenaran ayat-ayat al Qur`an dan pelajaran yang terkandung pada pergerakan benda-benda angkasa serta kehidupan makhluk yang hidup di sekitar kita. Bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Allah inilah yang akan membawa kita atau mereka ke keyakinan yang dalam dan kuat disamping pelajaran-pelajaran yang terkandung pada ayat-ayat muhkamat yang berisi petunjuk dan perintah yang jelas untuk berbuat kebaikan. Hingga perubahan tingkat kualitas Iman akan terlihat dari perubahan perilaku ibadah mereka.

Fase dewasa ini menjanjikan perubahan tingkat kualitas Iman yang dalam dan kuat serta berefleksi pada perubahan perilaku sehari-hari. Dari mulai asal berbuat menjadi sebuah perbuatan yang berlandaskan ajaran dan tingkah laku Rasulullah Muhammad saw. Tingkat kehati-hatian dalam berbuat dan mengambil keputusan atas sebuah masalah juga semakin tinggi. Karena rasa takut akan kesalahan mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan hukum Allah amat besar. Disinilah letak keimanan yang sebenarnya. Iman atau keyakinan yang berimbas pada ketaqwaan. Keyakinan yang berwujud ketaatan atau ketundukan pada perintah dan kepatuhan dalam menjauhi larangan-larangan Allah swt. inilah puncak dari tujuan ibadah. Penentu maqom atau kedudukan seseorang sebagai hamba Allah swt. Baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Fase selanjutnya adalah fase manula atau fase kematangan dalam berpikir maupun bertindak. Sebuah fase yang menempatkan manusia berumur di atas empat puluh tahun sebagai insan yang lain dari pada fase-fase sebelumnya. Pada fase ini seseorang seharusnya mengalami perubahan dalam hal kemampuan spiritual. Dalam arti, kehidupan sebagai hamba Allah swt sudah merupakan pencapaian mutlak yang harus terpenuhi. Sebab pada fase inilah letak kekhawatiran atau ketakutan seorang manusia pada hari kematian yang semakin dekat. Di fase ini juga manusia merasa bahwa kematian itu benar-benar akan terjadi pada dirinya dan orang-orang yang sebaya dengannya. Dan pada fase ini juga kebanyakan beberapa penyakit mulai datang menghinggapi. Hingga perasaan takut akan kematian juga mulai menjalar pada pikiran dan hati.

Demikian juga cobaan yang datang dari keluarga. Baik dari istri atau suami maupun cobaan yang datang dari anak-anaknya sendiri. Datangnya cobaan-cobaan inilah yang sedikit memaksa seseorang untuk mulai berpikir tentang taubat. Dan mau tidak mau, seseorang juga akan mencoba untuk mengerti tentang agama dan ilmunya. Meski bisa dikatakan terlambat dalam start tapi bukanlah sesuatu yang jelek untuk dilakukan. Bahkan merupakan sesuatu yang sangat baik, karena peringatan sebuah ayat yang melarang seseorang untuk berada dalam kematian kecuali dalam keadaan Islam atau berserah diri kepada Allah swt. Meskipun telah kehilangan banyak waktu dalam memahami ketauhidan Allah, mereka yang memulai Iman disaat rambut mulai memutih masih mempunyai kesempatan untuk memperolah derajat ketaqwaan dengan belajar memahami secara sungguh-sungguh.

Jujur atau tidak, memang pada fase inilah kebanyakan manusia baru berpikir tentang perubahan diri dan jalan hidupnya. Kenyataan lebih banyak berbicara bahwa manusia memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk dunia disaat masih dikaruniai kekuatan fisik. Dan baru berpikir tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang akhirat pada saat jasad sudah mulai rapuh. Tiga perempat seluruh umurnya dihabiskan untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Baru kemudian umur yang tersisa disempatkan untuk mempersiapkan bekal kematiaannya. Masih mending jika sisa umur itu dipergunakan dengan sungguh-sungguh. Tapi jika hanya sekedar melaksanakan syariat, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya Iman sampai di akhir hayatnya.

Metamorfosa pada diri manusia mestinya berlangsung pada semua tahapan yang ada. Tapi kebanyakan dari kita lalai akan kepentingan kehidupan akhirat disaat diri masih kuat. Tahapan-tahapan nyata yang dibuat oleh sebagian besar manusia hanya terbatas pada tingkat perubahan status sosial di masyarakat. Dimana limpahan materi dan gaya hidup menjadi tolok ukurnya. Kemauan bermetamorfosis yang ditunjukkan dalam usaha evolusi diri dalam Iman lebih banyak terabaikan. Waktu dan energi yang dimiliki habis hanya untuk mengejar kepentingan duniawi saja. Hingga ketika waktu dan energi diperlukan untuk mencari bekal akhirat, semua hanya tinggal sisa-sisa saja. Padahal akhirat jauh lebih penting dari pada urusan dunia. Tapi itulah kenyataan yang ada, mayoritas manusia lebih suka pada sihir dunia dari pada kenyataan akhiratnya.

Fase terakhir perubahan kualitas Iman sebenarnya menjanjikan kemuliaan hidup. Baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Seperti kemampuan meloncat dan kepiawaian berenang yang dimiliki oleh katak dari hasil metamorfosisnya, atau kemampuan terbang kupu-kupu dan ketajaman penglihatannya. Keduanya bermula dari bentuk fisik yang sangat berbeda di awal dan akhirnya. Tapi perubahan fisik dan kemampuan tersebut memberi pelajaran pada kita tentang sesuatu yang pasti memungkinkan jika Allah menghendakinya. Demikian juga pada diri manusia yang meng-evolusi kekuatan Imannya. Kekuatan Iman yang dilandasi kesabaran dan keikhlasan dalam menjalaninya membuat seseorang berada dalam maqom auliya. Dimana manusia berada dalam lingkaran janji Allah tentang orang-orang yang bertaqwa.

Taqwa adalah hasil dari metamorfosa ainul yakin ke haqqul yakin. Dimana keyakinan yang terbangun telah mencapai tingkat kemantapan yang tak akan tergoyahkan. Yang tertinggal hanyalah bentuk pengabdian kepada Allah yang terbungkus keikhlasan dalam semua amalannya. Segala sesuatu yang bersifat keduniaan telah lepas. Tak ada lagi syahwat material. Yang ada hanyalah ibadah. Baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Memberikan apa yang bisa mereka berikan. Memberi apa yang orang lain butuhkan. Perilaku yang terlihat adalah cerminan dari perilaku Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Juga cerminan dari para shalih di jaman sesudah Rasulullah saw dan para sahabatnya pula. Dan yang perlu kita tahu, orang-orang seperti ini jumlahnya sangat sedikit sekali. Karena kebanyakan manusia, termasuk diri kita adalah orang-orang yang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan hanya untuk kebutuhan dunia. Hingga kata taubat hampir selalu terletak di akhir kehidupan.

Metamorfosa hanyalah kata yang kita lekatkan pada kehidupan binatang. Terutama katak dan kupu-kupu. Sedangkan pelajaran dari metamorfosa keduanya kita buang jauh-jauh dari pikiran. Kita hanya mengamati dan tak pernah mengaplikasikannya untuk kepentingan perubahan kualitas iman. Padahal kita semua melihat pada awalnya, bahwa perubahan yang terjadi pada keduanya seperti sesuatu yang imposible. Dan kita juga tahu, kalau metamorfosa pada keduanya adalah sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa kita lihat dengan jelas. Yang memberikan keyakinan pada kita kalau sesuatu yang sepertinya tidak mungkin, bisa menjadi kenyataan jika Allah mengijinkanNya. Oleh karena itu, perubahan kemampuan manusia untuk bisa berbuat sesuatu di luar kemampuannya adalah sesuatu yang sangat-sangat mungkin jika memang sudah dikehendaki oleh Allah swt.

Manusia tak banyak yang meyakini kalau Allah memberikan segala sesuatu yang kita mintakan kepadaNya. Asal segala syarat kita penuhi dan semua perintah kita patuhi, Insya Allah apa yang kita minta akan Allah penuhi. Dengan memenuhi semua permintaan Allah dan melandaskan semua perbuatan pada keyakinan atau Iman akan ketauhidan Allah swt, insya Allah apa yang kita harapkan pasti akan terpenuhi. Itulah gambaran hasil dari sebuah usaha atau upaya yang sungguh-sungguh dan dilakukan secara istiqomah. Bukan hanya bisa terjadi pada binatang. Diri kitapun bisa berubah dari keadaan berlumuran dosa ke keadaan hamba yang terampuni semua dosa seperti yang terjadi pada beberapa sahabat Rasulullah saw. Lalu Allah menempatkan diri kita pada tempat yang tinggi dan terpuji seperti apa yang telah dijanjikanNya dalam Qur`an surah Al Israa` ayat 79.

Semua tergantung upaya kita. Sebesar apa usaha yang kita lakukan untuk memenuhi keinginan kehidupan akhirat. Apa yang kita usahakan untuk urusan dunia tak akan pernah bermanfaat jika tidak dilandasi oleh keimanan yang benar. Setinggi apapun materi yang kita kumpulkan, imbasnya akan ke diri kita juga. Imbas nikmat mungkin akan kita terima di dunia, tetapi imbas akhirat mungkin tak pernah kita perkirakan sebelumnya. Rasulullah saw tak pernah mengajarkan pada kita untuk menumpuk harta. Rasulullah mengajarkan pada kita untuk berjihad dan banyak-banyak bersedekah dengan harta yang kita miliki. Tapi kebanyakan dari kita justru mengingkari ajaran tentang manfaat sedekah. Berlebih-lebihan dalam hal keduniaan telah menghiasi tiga per empat umur kita. Seperempat sisanya jangan lagi sia-siakan. Bersegeralah pada ampunan Allah swt. Sebelum semuanya terlambat.

Sekian.

Surabaya, 06 Juni 2011.

Agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 7, 2011 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: