RSS

Membenci Kebenaran Kubur

18 Jul

Sebelum membaca keseluruhan artikel ini sebaiknya kita bertanya lebih dulu pada diri kita. Apakah kita seorang yang anti ziarah ? Apakah kita termasuk orang-orang yang membenci orang-orang yang berziarah ? Meski yang mereka ziarahi adalah kubur orang tua mereka atau saudara-saudara mereka sendiri ? Atau bahkan mungkin kita termasuk orang-orang yang mengkafirkan mereka yang melakukan ziarah ? Kemudian marilah kita coba untuk meneliti sejarah perjalanan Islam yang kita anut dan kita yakini sebagai agama yang paling benar ini. Meski kebanyakan dari kita yang menganggap diri paling benar lebih banyak bermodalkan subyektifitas nilai diri sendiri saja. Dan ingat ! Posisi yang paling membahayakan diri adalah disaat kita menganggap diri dan semua yang ada pada diri dan pikiran kita sesuatu yang paling benar.

Rasulullah saw. dan sahabatnya hidup dalam tekanan orang-orang kafir Quraisy ketika masih berada di Mekah, kampung halaman beliau sendiri. Kesulitan hidup bukan hanya terbatas pada pijakan kaki Rasulullah diatas bumi Mekah, tapi juga berdampak pada sulitnya menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah melalui wahyu-wahyu yang beliau terima. Hampir mustahil ajaran tauhid yang dibawa Rasulullah saw bisa mengalahkan kuatnya keyakinan orang-orang Quraisy terhadap penyembahan berhala. Tapi Allah mempunyai kehendak yang pasti tentang kemenangan Islam sebagai agama Allah. Disaat-saat Rasulullah berada dalam kesulitan hidup dan beratnya mengemban amanat dalam mengajarkan ketauhidan, Allah memberikan jalan atau celah untuk meneruskan langkah menuju kebesaran dan keagungan Islam. Tahukah anda kalau jalan menuju kebesaran dan keagungan Islam itu terselip diantara ritual ziarah ke mekah yang dilakukan oleh orang-orang arab pada saat itu ? Jika saja tidak ada musim ziarah di mekah pada bulan-bulan tersebut mungkin sejarah akan berkata lain.

Jadi  tidak  heranlah  apabila  tanda-tanda  kemenangan   bagi
Muhammad  itu  dimulai dari jurusan sebuah kota yang mempunyai
hubungan  sedemikian  rupa.  Ke  arah  ini  jugalah  dulu   ia
menghadap,  tatkala  dalam sembahyang itu al-Masjid'l-Aqsha di
Bait'l-Maqdis dijadikan kiblatnya, tempat sesepuhnya Musa  dan
Isa. Tidak heran apabila nasib baik itu akan jatuh di Yathrib.
Di tempat ini Muhammad akan beroleh kemenangan, di tempat  ini
Islam  akan  beroleh kemenangan, di tempat ini pula Islam akan
memperoleh sukses dan berkembang.
(Sirah Nabi, M. Husein Haikal).

Bermula dari beberapa penduduk Yatsrib yang datang untuk berziarah ke Rumah Allah atau ka`bah yang ada di mekah, Rasulullah saw. mendapatkan sambutan yang tulus tentang ajaran agama tauhid yang di sampaikannya. Mereka berjanji atau berikrar untuk mematuhi ajaran Rasulullah dan berjanji untuk melindungi Rasulullah dengan jiwa raga mereka. Dari peristiwa ziarah inilah kemudian lahir ikrar Aqaba yang berlanjut dan menjadi cikal bakal peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. Karena Rasulullah merasa tempat yang paling aman bagi perjalanan hidup beliau selanjutnya adalah yatsrib. Perlahan namun pasti Islam berjaya dan menemukan kebesaran dan keagungannya hingga saat ini. Namun kita banyak yang lupa atau mungkin tidak perduli kalau awal pertolongan terhadap diri Rasulullah dan agama tauhid yang di bawanya diletakkan oleh Allah di pundak orang-orang yang berziarah.

Antara ziarah dan haji.

Tiba giliran tahun berikutnya, bulan-bulan sucipun datang lagi
bersama datangnya musim ziarah ke Mekah,  dan  ke  tempat  itu
datang  pula  duabelas  orang  penduduk  Yathrib.  Mereka  ini
bertemu  dengan  Nabi  di  'Aqaba.  Di  tempat  inilah  mereka
menyatakan  ikrar  atau  berjanji  kepada  Nabi (yang kemudian
dikenal dengan nama) Ikrar  'Aqaba  pertama.  Mereka  berikrar
kepadanya untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak
berzina,  tidak  membunuh  anak-anak,  tidak   mengumpat   dan
memfitnah,  baik  di depannya atau di belakang. Jangan menolak
berbuat kebaikan. Barangsiapa mematuhi semua itu  ia  mendapat
pahala  surga,  dan  kalau  ada  yang  mengecoh,  maka soalnya
kembali kepada Tuhan. Tuhan berkuasa menyiksa,  juga  berkuasa
mengampuni segala dosa. (Sirah Nabi, M. Hesien Haikal).

Jika kita membaca sejarah Rasulullah saw yang di tulis oleh Muhammad Husein Haikal tersebut kita akan menemukan kalimat yang menyatakan bahwa beberapa orang yang telah berikrar di bukit Aqabah pada Rasulullah datang kembali ke Mekah dari yatsrib untuk melaksanakan haji. Dari sini kemudian timbul pertanyaan. Apakah memang benar mereka berhaji atau masih tetap melakukan ziarah ke ka`bah ? Sebab pada saat itu di sekitar ka`bah masih banyak berhala dan masih pula dalam penguasaan kaum Quraisy Mekah. Mungkin kita tetap berkeyakinan kalau haji telah di syariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim. Tapi yang terjadi selama kurun waktu jahiliyah adalah peristiwa ziarah ke Ka`bah yang dilakukan oleh seluruh penduduk Arab minimal sekali dalam setahun.

Tak bisa kita pungkiri juga kalau peristiwa ziarah tahunan ke Mekah yang dilakukan oleh masyarakat Arab pada saat itu telah memberikan kemakmuran pada penduduk Mekah. Bahkan Raja Habbsy (Ethiopia) pernah mengirimkan pasukan gajah yang dipimpin oleh panglima perang Abrahah untuk menghancurkan Ka`bah. Dengan harapan orang-orang Arab akan berpindah tempat ziarah ke gereja megah yang telah dibangunnya. Tapi Allah menentukan lain. Pasukan gajah tersebut justru hancur oleh sepasukan burung ababil yang dikirim oleh Allah untuk menyelamatkan tanah paling bersejarah di muka bumi tersebut. Dan Ka`bah di Mekah tetap menjadi tujuan ziarah orang-orang Arab sampai datang sebuah ketentuan dari Rasulullah saw pada hari penaklukan.

Saat ini kita tak lagi menemukan kata ziarah pada Baitullah Ka`bah di Mekah. Tapi peristiwa ritual haji dan umrah mungkin akan terus berlangsung sampai hari kiamat kelak. Seperti ritual ziarah kaum Quraisy yang memakmurkan kota dan penduduk Mekah, rukun Islam ke lima yang berlangsung setiap tahun plus ibadah umrah juga akan terus turut memakmurkan kota Mekah dan masyarakat disekitarnya sampai pada batas waktu yang ditentukan sendiri oleh Allah swt. Kalau kaum jahiliyah Arab datang ke Mekah untuk berziarah, orang-orang Mukmin saat ini datang ke Mekah untuk melaksanakan umrah atau berhaji. Tentu saja dengan situasi, kondisi dan essensi yang sangat jauh berbeda. Pada momen Ziarah banyak sekali berhala di sekitar Ka`bah, sedangkan pada momen haji dan umrah tak ada satupun berhala yang tersisa di sekitar Ka`bah.

Ziarah yang dilakukan orang-orang beriman saat ini tak lebih dari pada mengingat kematian yang pasti akan terjadi pada masing-masing diri kita. Mendoakan mereka yang sudah tinggal di alam barzah agar mendapatkan ampunan Allah atas segala dosa yang kemungkinan telah diperbuat semasa hidup di dunia. Juga sebagai bukti bahwa kita peduli pada kematian yang pasti akan datang. Mengingatkan kita agar selalu menghiasi langkah dengan ingatan kepada Allah dan segala yang diperintahkan. Memperbanyak amal shalih yang nantinya sangat berguna untuk bekal di akhirat. Juga sebagai bukti bahwa kita benar-benar mencintai kebenaran. Meskipun kebenaran itu berupa kematian jasad diri kita sendiri. Sekaligus membuktikan bahwa kita bukanlah manusia pembenci kebenaran. Meski mayoritas manusia takut dan sangat membenci kematian. Oleh karena itu mereka enggan untuk melakukan ziarah ke kubur, meski ke kubur orang tua kandung sendiri.

Kubur adalah tempat dikembalikannya jasad makhluk hidup kepada asalnya, yakni tanah. Tapi kubur tempat jasad mati manusia bersemanyam diberi tanda berupa nisan dan di lokalisir dalam satu tempat. Lain dengan jasad hewan yang telah mati. Dikubur dimanapun tempatnya tidak menjadi masalah. Tapi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna dalam penciptaan. Hingga berbagai kekhususan perlakuan terhadap matinya jasad manusia diatur sedemikian rupa. Diberi tanda di nisan yang ditanam untuk mengetahui jasad siapa yang ada di bawahnya. Jika kita tidak pernah peduli pada kubur, mengapa kita harus ribet memberi tanda berupa identitas mayyit pada nisan ? Dan mengapa pula kubur harus diberi nisan segala ? Toh ketidak pedulian kita pada kubur akan berakibat terlantarnya kubur itu sendiri ?

Padahal Ibunda Rasulullah saw. Secara rutin berziarah ke makam suaminya, yakni ayahanda Rasulullah saw. Abdullah. Juga Kakek Rasulullah Abd’l-Muttalib pernah melakukannya. Demikian juga dengan Rasulullah, ketika masih berumur enam tahun beliau juga pernah menemani ibundanya berziarah ke makam ayah beliau Abdullah bin Abd’l-Muttalib. Tapi kenapa ustadz-ustadz modern saat ini banyak yang mencibir perilaku orang-orang yang berziarah menjelang datangnya bulan Ramadhan ? Meski ziarah tersebut dilakukan di makam orang tua atau kerabat dekatnya ? Memang benar. Sangat mudah mengafirkan orang lain dari pada meneliti tentang kekafiran diri sendiri.

Tidak selang berapa tahun kemudian Muhammad menunggu tiba-tiba
tampak   tanda  permulaan  kemenangan  itu  datang  dari  arah
Yathrib. Bagi Muhammad Yathrib mempunyai arti  hubungan  bukan
hubungan  dagang,  tetapi suatu hubungan yang dekat sekali. Di
tempat itu ada  sebuah  kuburan,  dan  sebelum  wafat,  sekali
setahun    ibunya    berziarah    ke    tempat   itu.   Sedang
famili-familinya,  dari  pihak  Banu  Najjar,  ialah  keluarga
kakeknya  Abd'l-Muttalib  dari  pihak  ibu.  Kuburan itu ialah
makam ayahnya, Abdullah b.  Abd'l-Muttalib.  Ke  makam  inilah
Aminah    sebagai    isteri   yang   setia   berziarah.   Dulu
Abd'l-Muttalib juga sebagai ayah  yang  kehilangan  anak  yang
sedang  muda belia dan tegap, pernah berziarah. Ketika berusia
enam tahun, Muhammad juga pernah ke Yathrib  menemani  ibunya.
Jadi  bersama  ibunya  ia  juga  ziarah  ke makam ayahnya itu.
Kemudian mereka berdua kembali pulang. Aminah jatuh  sakit  di
tengah  perjalanan,  sampai  wafat. Lalu dikuburkan di Abwa' -
pertengahan jalan antara Yathrib dengan Mekah.
(Sirah Nabi, M. Husein Haikal).

Mereka yang tidak perduli pada ziarah kubur seharusnya juga tidak perduli pula pada sebuah prosesi pemakaman. Meski yang mati itu keluarga atau bahkan orang tua sendiri. Untuk apa susah-susah memberi nisan lengkap dengan nama dan tanggal kematian jika nantinya kubur itu sendiri tak pernah di ziarahi atau bahkan ditelantarkan ? Manusia sudah mendapatkan perlakuan istimewa dari Allah, maka sudah sewajarnya pula kubur manusia juga mendapatkan perlakuan yang berbeda dari kubur hewan atau binatang. Dirawat, diziarahi dengan memintakan ampun kepada Allah atas semua kesalahan yang mungkin telah diperbuat diwaktu jasadnya masih hidup di dunia. Dan semua itu membutuhkan pengorbanan. Baik pengorbanan sedikit harta, waktu dan tenaga serta pikiran. Sampai kapan ? Sebatas pada sekedar perawatan dan ketulusan do`a – do`a permohonan ampunan kepada Allah swt.

Di sekitar kita tidak sedikit orang-orang yang menghukumi syirik terhadap orang-orang yang melakukan ziarah. Padahal kalau di teliti, apa yang dilakukan oleh mereka yang melakukan ritual ziarah adalah memuji, meninggikan, mengagungkan asma Allah dan memanjatkan do`a kepada Allah swt. baik untuk arwah orang-orang shaleh yang sudah mati terlebih dulu atau permintaan atas hajat-hajat dunia akhirat kita hanya kepada Allah swt. Tapi bagi mereka yang mempunyai rasa benci pada umat yang tidak sejalan dengannya dan cemburu pada kemuliaan yang diberikan pada para penyebar agama Islam di tanah jawa dan Indonesia berusaha untuk menebar fitnah syirik secara membabi buta. Bahkan tidak sedikit yang mencibir orang beriman yang menziarahi makam orang tuanya dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak yakin terhadap sesuatu yang ghaib. Padahal syarat mutlak taqwa atau kebenaran Iman adalah yakin terhadap yang ghaib.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾

Alladziina yu`minuuna bil ghaibi wa yuqimuunash shalata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquuna”

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Dalam keseharian orang-orang yang mengatakan dirinya paling benar dan senang mengkafirkan saudaranya adalah orang-orang yang menjadikan akal sebagai Tuhan keduanya. Padahal hal seperti ini adalah sebuah kekafiran dan syirik, meski kadang banyak yang tidak menyadarinya. Modernisasi agama seperti yang dilakukan oleh orang-orang diluar Islam atau bahkan orang Islam sendiri telah menyandarkan cara ibadah berdasarkan pada perilaku yang hanya bisa dijangkau oleh akal dan tampak jelas terlihat atau terasa logikanya. Padahal tak satupun akal pikiran manusia di seluruh jagad ini yang bisa menggambarkan wujud Allah swt. Karena sesungguhnya, memang tak sesuatupun di alam semesta ini yang bisa dimisalkan sebagai Allah. Toh mereka tetap saja meyakininya, meski kadang lebih dikarenakan kebuntuan pemikiran akal itu sendiri.

Secara akal, manusia yang sudah mati tidak akan pernah bisa berbuat sesuatu untuk dunia yang telah ditinggalkanya. Karena secara akal juga hubungan keduanya telah terputus oleh kematian. Rasulullah saw adalah manusia yang paling istiqomah dalam memegang tali kebenaran agama Allah. Dan sadarkah kita bahwa syariat haji yang telah ditinggalkan oleh beliau telah berhasil membuat masyarakat Arab berada dalam kemakmuran hidup dunia ? Bisakah akal kita menelaah bahwa ritual ziarah ke Ka`bah di jaman pra Islam telah membuat makmur kota Mekah dan masyarakatnya ? Bisa jugakah akal kita menelaah mengapa para jama`ah haji berusaha untuk meraih dan bahkan mencium hajar aswad ? Jika saja Rasulullah tidak melakukannya kemungkinan besar umat beliau tidak akan berusaha meraih atau menciummnya.

Dan pewaris beliau yang benar-benar istiqomah dalam memegang ketauhidan dan menegakkan serta menyebarkan agama Allah tidak banyak meninggalkan sesuatu kecuali ilmu agama dan hanya nama yang tertera di nisan makammnya. Tetapi umat yang merasa telah mendapat warisan Iman dan Islam dari para penyebar agama tersebut merasa perlu untuk hanya sekedar berziarah dan memohonkan do`a ampunan bagi para syuhada` dan semua para ulama yang telah wafat lebih dulu. Juga sebagai wujud rasa terima kasih yang mendalam atas warisan Iman yang telah di tancapkan dalam masing-masing hati umat. Begitu banyaknya umat yang mempunyai kesamaan dalam berpikir tentang hal seperti ini membuat daerah sekitar makam penuh sesak dengan manusia. Hasilnya ? Masyarakat sekitar makampun memperoleh dampak perubahan peningkatan taraf hidup dari transaksi jual beli makanan dan cindera mata serta pelayanan kebutuhan para peziarah.

Bisakah hal seperti tersebut diatas di jangkau secara akal ? Tidak akan pernah bisa ! Karena kita sendiri tidak akan pernah bisa berbuat sesuatu seperti yang telah di perbuat para waliyullah tersebut. Para waliyullah tidak mendasarkan amal perbuatan ibadah pada sedikit banyaknya isi amplop. Sedang mereka yang mengatakan dirinya berada di jalan yang paling benar saat ini tak pernah kuasa untuk menolak isi amplop. Baik di mimbar-mimbar maupun di tempat-tempat tersembunyi yang lain. Inilah perbedaan ulama dunia dan ulama akhirat. Meyakini akhirat tapi hatinya tertancap pada gemerlapnya tampilan dunia. Akibatnya adalah tak pernah terlihat dimata kita, mereka para ulama yang mencintai kehidupan dunia berpenampian dan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh Rasulullah dan kedua khalifah penggantinya. Yakni hidup dalam keterbatasan materi dan serba seadanya.

Ada pula orang yang mempertanyakan, mengapa kita harus mendo`akan para waliyullah ? Pertanyaan ini sama saja dengan pertanyaan orang-orang yang tak punya keikhlasan dalam memeluk agama Islam. Pernahkan kita mempermasalahkan ? Mengapa dalam setiap shalat kita harus membaca shalawat untuk Rasulullah saw ? Padahal diri Rasulullah telah dijamin surga di tingkat tertinggi oleh Allah swt ! Dan pernahkan pula kita berpikir ? Mengapa Rasulullah saw bersusah payah untuk bangun dan shalat malam sepanjang umur beliau ? Padahal tempat untuk Rasulullah saw. di surga sudah di disediakan oleh Allah swt ? Mestinya kita selalu mengingat dan memegang teguh sebuah keyakinan. Bahwa akal bukanlah segala-galanya untuk sebuah ketauhidan. Akal hanyalah sarana spesial yang diberikan oleh Allah untuk manusia, tapi tidak untuk mengalahkan fungsi hati dalam mempertimbangkan dan menentukan sebuah kebenaran.

Tanpa pertimbangan hati, akalpun hanya akan berfungsi untuk mengakali banyak hal yang berhubungan dengan dunia dan akhirat. Hanya akan membawa kita ke dalam kesesatan perilaku. Untuk itu janganlah kita menuhankan akal yang ada di otak kita. Akal harus selalu berkoordinasi dengan hati untuk bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran yang baik dan benar serta tidak pula mudah menghakimi setiap perbuatan atau perilaku yang tidak sesuai dengan pemikiran kita. Dan ingat pulalah beberapa ayat di surat Al Hujuraat, jangan dulu memandang perbuatan orang lain itu jelek ! Jangan-jangan perbuatan kita sendirilah yang sebenarnya jelek ! Dan ingatlah pula, kebenaran hakiki hanya milik Allah semata. Hanya Allah yang paling tahu siapa sebenarnya diantara kita yang berada di jalan yang paling benar !

Sekian.

Surabaya, 18 juli 2011.

Agushar.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 18, 2011 in Renungan

 

2 responses to “Membenci Kebenaran Kubur

  1. ruly yusnita

    Januari 28, 2012 at 6:17 am

    tulisan yang bagus, saya juga suka berziarah ke makam ayah saya, tujuan saya hanya untuk memohonkan ampun kpd Allah SWT atas dosa-dosa ayah saya dan juga merawat kebersihan makam, disamping agar saya juga slalu ingat bahwa suatu saat kelak saya juga akan berada dialam kubur,tp ada saudara saya yg mengharamkan saya melakukannya, alasannya karna saya seorang wanita, pdhl dimakam sy tetap mnutup aurat, tidak menangis, bersama muhrim saya, tidak sering-sering, dan saya slalu berwudhu stiap ziarah,knapa saya dianggap berdosa melakukan ziarah ke makam orangtua saya sendiri oleh saudara sesama muslim saya sendiri?

     
    • Agus Hartono

      Januari 31, 2012 at 6:07 am

      Sebagian ulama telah memberikan referensi hukum “makruh”. Jadi silahkan berziarah dan memintakan ampun bagi ahli kubur. Asal kuat menahan diri dari keinginan meratap dan ikhlas hanya untuk meminta kepada Allah, silahkan ! Saya sendiri sering membawa rombongan dan memimpin jama`ah ziarah ke makam para wali. Peserta rombongannya juga kadang laki dan perempuan. Saya sarankan Yus ,. kalau bisa selalu ditemani muhrim, jangan berangkat sendiri. Demi keamanan dirimu. Sekian dulu . Terima kasih ya kunjungan and comment-nya.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: