RSS

Bolehkah Kita Berbohong ?

29 Sep

Sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa digunakan sebagai indikator penjawabnya masuk dalam golongan orang-orang munafik atau orang-orang yang bisa dipercaya. Ketika seseorang menjawab tidak boleh secara mutlak, maka orang inipun perlu diragukan kejujurannya. Karena jujur itu menyangkut lisan, hati dan perbuatan. Ketika lisan mengatakan tidak boleh, belum tentu demikian juga kata hatinya demikain juga perbuatannya. Mungkin juga hatinya berkata, kalau aku boleh. Lisan boleh saja berkata tidak tapi kebanyakan manusia rela berbohong untuk kepentingan pribadinya. Inilah standar ganda dalam bersikap yang banyak diikuti sebagian besar orang. Tak perduli dari lapisan mana saja dan dari golongan atau organisasi apa saja. Karena tak satupun manusia di abad ini yang tak pernah bohong.

Dan ketika seseorang menjawab boleh, orang inipun terkesan tak lagi memperdulikan arti sebuah kejujuran. Sepertinya bohong adalah suatu hal yang biasa. Sehingga apabila seseorang melakukan sebuah kebohongan, hal itu menjadi sesuatu yang harus dimaklumi. Mereka beranggapan bahwa bohong atau tidak itu adalah urusan pribadi. Asal tidak merugikan orang lain secara langsung orang sah-sah saja melakukan kebohongan. Seperti mereka yang banyak berkutat dengan dunia jual beli atau akrab dengan pasar. Bohong adalah sesuatu yang lazim. Bahkan seperti lazimnya sebuah kejujuran. Atau bahkan juga ada yang lebih ekstrem, kalau tak bisa bohong jangan masuk ke dunia jual-beli atau pasar. Mungkin juga ke dunia politik.

Tapi ketika seseorang menjawab boleh dengan syarat-syarat tertentu, maka yang demikian perlu mendapatkan perhatian. Apa kira-kira yang membuat orang boleh melakukan kebohongan. Padahal yang diperlukan secara mutlak dalam hidup manusia adalah sebuah kejujuran. Ternyata syarat yang dimaksud adalah kebohongan demi hidup diri dan hidup orang lain. Itupun masih ditambah lagi dengan syarat apabila keadaan benar-benar memaksa seseorang itu perlu untuk melakukan sebuah kebohongan. Contoh paling populer adalah memberikan informasi bohong untuk menyelamatkan seseorang dari ancaman pembunuhan seseorang yang lain. Atau kebohongan-kebohongan yang dilakukan dalam situasi peperangan. Seperti mengecat rambut sewarna dengan warna rambut lawan, hingga bisa dengan mudah mengelabuhi dan memperdaya musuh.

Mengapa diperbolehkan ? Jelas ! Untuk menghindari pengkhianatan terhadap teman atau kelompok sendiri dan menyelamatkan nyawa manusia serta untuk kepentingan taktik memenangkan perang. Hal-hal seperti ini tidak bisa dihindari besarnya peran sebuah kebohongan. Hampir mustahil untuk urusan seperti ini manusia mengharamkan kebohongan. Karena kenyataan sesungguhnya tidak seluruh kebohongan berakibat negatif. Hanya karena terlanjur berkonotasi negatif, semua kebohongan lantas di gebyah uyah menjadi sesuatu yang harus dihindari bahkan diharamkan. Padahal mereka yang mengharamkan kebohongan tanpa syarat sebenarnya adalah pelaku-pelaku kebohongan. Kebanyakan mereka tidak bisa melihat titik-titik kebenaran yang terkandung dalam sebuah kebohongan.

Dunia adalah kesenangan yang menipu.

Sifat keduniaan sendiri adalah sifat yang menipu pandangan dan pikiran manusia. Melalaikan dari tujuan hidup sebenarnya. Dimana, tujuan hidup adalah mengumpulkan point positif yang cukup untuk ditukar dengan ticket berlabel taqwa. Kenikmatan dunia telah menipu sebagian besar manusia. Dan memang tak bisa dipungkiri kalau sebagian besar manusia hidup dalam kebohongan. Karena hanya didunia sajalah manusia bisa berbohong. Sedangkan di akhirat kelak, tak ada lagi seorangpun yang bisa melakukan kebohongan seperti ketika mereka sering melakukannya di dunia. Meski kejujuran menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan, tapi kebohongan bukanlah sebuah hal yang sangat mudah untuk dihindari.

Dalam berbagai sisi kehidupan sebenarnya banyak mengandung kebohongan. Terutama untuk mencapai sebuah keinginan. Simak saja pertandingan sepak bola. Tanpa gerak tipu para pemainnya, sepak bola bukanlah sepak bola. Bayangkan saja jika semua pemain tidak boleh menipu lawan dengan gerakan lincahnya. Semua pemain harus jujur dalam bergerak dan menendang. Tak boleh mengecoh penjaga gawang dalam eksekusi tendangan penalti. Harus mengaku kalau sengaja melakukan pelanggaran. Sekali lagi,… bisakah kita membayangkan siapa yang akan menonton sepak bola ? Selama ini kita telah menyaksikan sendiri, betapa banyak kebohongan dilakukan oleh pemain sepakbola. Baik dalam gerakan, tendangan bahkan dalam melakukan pelanggaran. Tanpa sengaja kita terlarut dalam kesenangan yang berbumbu kebohongan.

Atau kita bisa memperhatikan pertandingan tinju. Jika petinju harus jujur dalam gerak dan memukul, maka pertandingan tinjupun akan kehilangan daya tarik. Tak ada lagi nilai estetika dalam gerak dan seni memukul untuk menjatuhkan lawan. Monoton. Demikian juga dengan pertandingan bulutangkis. Jika pemain tidak boleh menipu atau mengecoh lawan agar bola atau suttlecock segera menyentuh tanah di daerah lawan, maka buluangkispun bukanlah pertandingan yang patut untuk digemari. Demikianlah, tanpa disadari bahwa hidup kita ini sebenarnya suka dan bahkan menikmati kebohongan demi kebohongan yang terjadi. Tak sadar pula bahwa sebenarnya kita telah melegalisasi hadirnya kebohongan dalam sebagian tingkah laku kita.

Secara umum kita memaknai kata kebohongan dengan konotasi negatif. Karena yang kita lihat selama ini adalah kebohongan-kebohongan sejenis yang hampir selalu menyenangkan satu pihak dan merugikan pihak lain yang seharusnya tidak menanggung kerugian itu. Misalnya saja korupsi, manipulasi dan kebohongan-kebohongan yang umum terjadi di keluarga maupun masyarakat lingkungan sekitar. Atau dalam skala yang lebih besar yakni kebijakan-kebijakan negara besar yang cenderung membohongi masyarakat internasional dalam mewujudkan impian dunianya. Hal-hal seperti ini sepertinya sah-sah saja, tetapi mereka akan menolak jika dikatakan telah melakukan pembohongan publik. Bahkan mereka siap untuk melindungi kebohongan yang dilakukan dengan senjata-senjata pemusnah masal.

Memang benar, berbohong untuk mencapai keinginan duniawi memang nikmat. Tapi berbohong untuk menyelamatkan orang lain dari kejaran musuh mengandung konsekuensi yang sangat berat. Tidak jarang pula kebohongan demi keselamatan orang lain ini justru berakibat fatal bagi pelakunya. Bahkan terkadang nyawa sendiri yang menjadi korban. Apalagi dalam situasi peperangan. Bisakah kita membayangkan jika ada seseorang mencari anak kita untuk dibunuh, lantas kita tunjukkan persembunyian anak kita tersebut ? Rasanya hampir mustahil kita akan melakukannya. Mungkin kita bisa sepakat kalau kebohongan jenis ini sangat besar manfaatnya bagi orang lain. Sedangkan ada atau tidak manfaatnya bagi diri kita sangat tergantung kepada Allah swt. yang berhak menentukannya.

Demikianlah, kebohongan tidak selalu menghasilkan sesuatu yang buruk. Asal bisa menggunakan kebohongan dalam manzilah jihad fii sabilillah, Insya Allah akan memberikan nilai yang baik. Tetapi jika kebohongan hanya untuk memenuhi syahwat keduniaan, maka yang terjadi kemudian adalah ketentuan Allah tentang akibat dari sebuah amal perbuatan. Konsekuensi yang timbul menjadi tanggungan kita sepenuhnya sebagai buah dari tanaman atau perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu kita harus memahami kebohongan yang mana yang banyak merugikan orang lain dan kebohongan yang mana yang biasa kita identikkan dengan kata taktik atau cara-cara untuk menentikan keunggulan dalam bertanding maupun dalam peperangan.

Bagaimana dengan nilai-nilai raport atau ijazah ?

Jangan terlalu yakin pula dengan nilai atau angka yang kita miliki saat ini. Terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai raport dan ijasah atau transkip nilai. Kemungkinan besar semua nilai yang tertera sudah terkatrol secara sengaja atau tanpa kita sadari. Tak perduli dari jenjang manapun nilai yang kita miliki. Mungkin kita merasa nilai yang kita dapat adalah murni hasil jerih payah kita. Dan kita tak pernah merasa kalau nilai-nilai kita yang tertera di lembaran kertas tersebut sudah bercampur dengan rasa kasihan para guru kita. Bagaimanapun juga guru-guru yang pernah mengajar kita adalah manusia yang mempunyai jiwa ingin menolong dan mengangkat motivasi belajar murid-muridnya. Meski untuk itu para guru harus mempertaruhkan kejujuran yang selalu didengung-dengungkan di setiap telinga siswanya.

Jujur berarti hancur memang kadangkala ada benarnya juga. Jika para guru semuanya jujur dalam pemberian nilai kepada anak didiknya, niscaya nilai raport hampir semua siswa di negara ini hancur lebur. Sebab bobot soal ujian tidak sebanding dengan kemampuan murid dalam menyelesaikannya. Jika dibuat terlalu mudah, kesan yang timbul kemudian adalah rendahnya kualitas lulusan yang kelak akan dihasilkan. Jika dibuat terlalu sulit, kesan yang timbul kemudian adalah ketidakberdayaan siswa dalam menyelesaikan soal-soal dengan materi yang sebenarnya sudah harus dikuasainya. Tapi kenyataan seakan selalu berbicara, bahwa mayoritas siswa berada pada situasi tegang dalam menghadapi soal ujian. Sebuah ketegangan syaraf yang berpacu dengan waktu nan tak pernah berhenti berlalu.

Hasilnya sudah jelas, nilai yang jeblok disana sini. Dari mulai pelajaran, moral, science, sejarah sampai bahasa tak ada yang memuaskan. Ini mayoritas. Yang jenius bukannya tak ada. Ada, tapi hanya minoritas. Sangat sedikit sekali. Dan jumlah yang sedikit inilah yang digunakan untuk standard kemampuan siswa secara mayoritas. Akibatnya ? Jelas ! Diperlukan nilai-nilai bohong untuk menolong siswa agar dapat ikut merangkak naik ke kelas berikutnya atau untuk memperoleh “sertivikat” lulus. Salahkah tindakan bohong dalam masalah ini ? Kalau kita semua menyalahkan, ya memang benar tindakan yang salah. Tetapi hampir semua diri kita mungkin masuk dalam rombongan kesalahan ini. Karena kemungkinannya besar sekali bahwa nilai yang terlanjur kita miliki adalah hasil adonan rasa manusiawi para guru kita.

Beliau-beliau tidak tega melihat mayoritas siswanya murung karena harus berkali-kali “tinggal di kelas yang sama”. Juga pertimbangan lain yang berhubungan dengan motivasi yang hilang karena rasa putus asa. Yang bisa menyebabkan ke-engganan berangkat menuju ke sekolah. Jika hal ini terus berlangsung, muara dari akibat kejujuran pemberian nilai-nilaipun akan menuju ke meningkatnya jumlah siswa drop out. Tentu kita semua tidak menghendaki peristiwa seperti ini terjadi. Permasalahan selanjutnya adalah bolehkan kita berbohong ? Meski kita semua tak bisa melepaskan diri dari situasi dan kondisi yang berbalut kebohongan.

Memang, betapa sulitnya mempertahankan kejujuran, tapi kadang diperlukan juga sebuah kebohongan demi sebuah keselamatan. Terutama keselamatan jiwa seseorang atau kekalahan dalam perang mempertahankan Iman dan harga diri sebagai makhluk Tuhan. Bukan kebohongan demi eksistensi sekumpulan kaum yang harus mengorbankan jutaan jiwa yang tak bersalah. Apalagi pemusnahan masal atas dasar keunggulan rasial. Sedangkan dalam konteks pendidikan, kebijakan guru bagai buah simalakama. Di-markup salah, nggak di markup juga kasihan siswanya. Mudah-mudahan kita semua bisa memilah-milah yang mana tindakan yang benar-benar bermanfaat dan mana tindakan yang justru banyak mendatangkan mudharat. Bohong memang tidak dianjurkan tetapi kita tidak dapat menolak, bahwa kita hidup ditengah-tengah kebohongan mayoritas masyarakat yang mengaku memegang teguh sebuah kata yakni, kejujuran.

Sekian,

Surabaya, 28 September 2011.
Agushar

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 29, 2011 in Uncategorized

 

2 responses to “Bolehkah Kita Berbohong ?

  1. Moc Zainul Arifin

    November 15, 2011 at 1:32 am

    saya melihat bahwa kebijaksanaan sang penulis begitu tampak dari ulasan,analsis dan critical pada berbagai masalah..tidak hanya melihat masalah dari satu sudut pandang saja namun dr berbagai sudut pandang yang sangat konkrit dan menyeluruh….
    saya berharap penulis terus meng-update masalah kekinian yang populer dan bisa menjadi pelajaran yang berharga buat ummat sehingga bisa menghilangkan dahaga para pencari ilmu seperti saya..

     
    • Agus Hartono

      November 15, 2011 at 4:26 am

      Terima kasih Pak Zen, mudah2an nantinya bisa membuat tulisan yang lebih baik. Saat ini hanya sekedar menulis, waktunya belum terlalu luang. Dan saya yakin jika Pak Zen bisa menghasilkan tulisan yang jauh lebih baik dari sekedar coretan saya. Salam untuk seluruh keluarga.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: