RSS

Pujian Yang Sarat Makna

08 Des

Pujian. Sebuah ungkapan hati melalui lisan yang bisa dijadikan jalan untuk memudahkan tercapainya sebuah tujuan. Karena sifatnya yang menyenangkan, sebuah pujian bisa mempengaruhi sebuah keputusan. Terutama keputusan untuk meluluskan sebuah permintaan. Diantara kita ada yang mempunyai sifat suka memuji. Dan diantara kita juga ada yang mempunyai sifat suka dipuji. Berhati-hatilah dengan kedua sifat ini. Karena keduanya menawarkan surga dunia dan mengesampingkan kepentingan akhirat. Setan juga sering ikut andil dalam membelokkan arah pujian. Tetapi, janganlah kita terlalu khawatir, karena jika kita benar meletakkan keduanya pada tempat yang seharusnya, insya Allah kita pun akan mendapatkan tempat yang terpuji dari Allah swt.

Pujian mempunyai dua arah, yakni vertikal dan horisontal. Yang pertama arahnya ke Sang Penguasa Semesta Alam yaitu Allah swt, yang lainnya mengarah ke sesama insan. Tetapi ada juga pujian yang diarahkan untuk diri sendiri mapun kepada makhluk atau ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Pujian yang diarahkan untuk diri sendiri lebih banyak berakibat negatif karena berujung pada sifat narsis atau membangga-bangga diri. Sifat ini sangat merugikan diri sendiri karena menganggap tidak ada orang lain yang lebih baik selain dirinya. Mayoritas manusia tidak menyukai orang yang mempunyai sifat seperti ini. Sedangkan pujian yang di arahkan pada makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain selain manusia, bisa berarti hanya sekedar kekaguman atau justru bisa berkonotasi sebuah pemujaan. Pujian seperti ini bisa berujung pada sebuah pengingkaran tentang dzat Allah swt.

Pujian Vertikal.

Sebuah pujian yang ditujukan hanya kepada Allah swt sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang selama ini telah diperoleh dan dirasakan. Wujud dari kesadaran spiritual seseorang yang diperoleh dari usaha pencerahan hati. Merupakan reaksi langsung dari ketaatan yang besar kemungkinan juga akan berujung di kepasrahan. Tapi tidak semua manusia berada di manzilah ini. Indikator taat dan pasrah terletak pada keikhlasan dalam pengungkapannya. Sedangkan keikhlasan seseorang dalam mengungkapkan pujian kepada Allah sangat tergantung pada kekuatan Imannya. Dan kekuatan Iman sendiri sangat erat hubungannya dengan pemahaman akan ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran dan eksistensi Allah di alam semesta ini.

Pujian vertikal ini ada yang diungkapkan tanpa tendensi ada pula yang diungkapkan dengan tendensi tertentu. Tergantung apa yang di inginkan oleh mereka yang mengungkapkannya. Ada yang memuji hanya karena mendapatkan keridhaan Allah atas semua amal perbuatannya semata, ada pula yang berharap diampuni semua dosa-dosa yang telah dilakukan selama hidupnya. Ada yang memuji karena menginginkan surga serta dibebaskan dari azab neraka, ada pula yang memuji karena menginginkan kemuliaan di dunia. Nah, keinginan-keinginan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi inilah yang menyebabkan pujian sulit sekali dilepaskan dari tendensi mereka yang mengungkapkannya. Ditambah lagi dengan keyakinan sifat Ar rahman dan Ar rahimnya Allah swt.

Bagaimanapun juga kesukaan memuji Allah, meski disertai dengan tendensi adalah sebuah amalan yang mulia. Karena memang hanya kepada Allah sajalah manusia menggantungkan semua permintaan atau permohonannya. Asal tendensi atau maksud-maksud yang terkandung dalam pujian kita adalah maksud-maksud yang baik. Yang perlu di ingat adalah pujian kepada Allah ini bukanlah sesuatu yang ringan dan mudah dilakukan. Apalagi oleh setiap orang. Untuk bisa selalu memuji Allah seseorang harus mempunyai keyakinan yang kuat akan ketauhidan dan semua kekuasaan Allah swt. Kesadaran tentang ketidak berdayaan seseorang tanpa keterlibatan Allah dalam hidupnya menjadi salah satu penyebab seseorang ingin selalu mengingat dan memujiNya.

Keikhklasan dalam pujian kepada Allah ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kusyu` dalam ibadah. Orang-orang yang benar-benar yakin akan kebenaran kehidupan akhirat. Orang-orang yang ingin selamat dari ancaman azab Allah. Orang-orang yang rindu untuk kembali ke surganya Allah. Orang-orang yang menginginkan kekuatan dalam menjalani ujian dan cobaan dari Allah. Orang-orang yang ingin selalu mengingat Allah dalam segala situasi dan kondisi hidupnya. Orang-orang yang menginginkan ketenangan dalam menghadapi hiruk pikuk dunia. Orang-orang yang ingin terhindar dari bujuk rayu setan. Orang-orang yang ingin terhindar dari gemerlapnya dunia yang serba menipu. Dan orang-orang yang hanya menginginkan ridhanya Allah dalam segala amal perbuatan yang telah dan sedang di lakukannya.

Tendensi yang terselip diantara ungkapan pujian memang kadang bisa menjadi bumerang. Terutama tendensi yang brkaitan dengan keduniaan. Tetapi tendensi pujian kepada Allah dengan orientasi kehidupan akhirat tidak akan pernah bisa menjadi bumerang. Justru pujian dengan orientasi kehidupan akhirat itulah yang akan menyelamatkan seseorang bencana di kehidupan akhirat. Dengan catatan bahwa pujian yang terungkap adalah pujian yang tulus dan ikhlas. Bukan sekedar pujian lisan yang sangat mudah terlontar dari mulut. Tapi pujian ikhlas yang datang dari orang-orang yang taat dan tunduk serta patuh pada semua apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhannya, yakni Allah swt. Pujian yang terungkap dari orang-orang yang sadar bahwa memujiNya adalah perintah.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا﴿٣﴾

”Fasabbih bhamdi rabbika wastaghfirhu, innahu kaanaa tawwaban”

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Diantara sebagian ayat-ayat perintah untuk bertasbih dan memujiNya adalah sebagai berikut, QS : Ath Thuur ayat 48 ; Qaaf ayat 39 ; Asy syuura ayat 5 ; Al Mu`min ayat 55 ; Al Furqaan ayat 58 ; Thaahaa ayat 130 ; Hijr ayat 98 dan QS. An Nashr ayat 3. Dengan demikian memuji Allah swt, baik dalam bacaan shalat maupun memuji Allah di luar shalat adalah perintah. Maka dari itu marilah kita senantiasa memuji Allah, dan letakkanlah tendensi yang baik di kehidupan akhirat agar kelak kita bisa memetik manfaat dari pujian-pujian yang kita ungkapkan dari hati melalui lisan-lisan kita.

Pujian horizontal.

Meski ada juga pujian yang benar tulus, tapi pujian yang terlontar kebanyakan untuk manusia ini memang banyak atau sarat kandungan maknanya. Pujian antar sesama ini bisa disebabkan oleh keunggulan secara fisik maupun kemampuan-kemampuan lain. Keunggulan secara fisik banyak memancing pujian. Misalnya kecantikan pada wanita atau ketampanan pada pria. Atau kesempurnaan fisik yang berkaitan dengan bentuk tubuh atau bodystyle. Baik memuji untuk sekedar mengagumi atau ada maksud-maksud tertentu. Kecerdasan dalam berpikir juga bisa memancing pujian. Termasuk mereka yang kreatif, disiplin, piawai atau mahir dalam bidang tertentu, misal sport atau permainan. Dan masih banyak hal yang menyebabkan terlontarnya kata pujian dari seseorang ke seseorang yang lain.

Pujian yang di ungkapkan oleh publik lebih banyak di karenakan kekaguman atau pengakuan atas prestasi dan kemampuan diri mereka yang dipuji. Tapi pujian-pujian yang terlontar di kelompok-kelompok kecil masyarakat seperti keluarga, teman, relasi bisnis, apalagi dilakukan ketika ada banyak orang di sekitarnya, hampir pasti mempunyai tendensi tertentu. Minimal ingin tahu bagaimana reaksi orang tersebut setelah di puji. Ada dua reaksi akibat pujian seseorang pada orang lain. Yang pertama adalah reaksi positif. Reaksi ini keluar dari orang-orang yang suka akan pujian. Sedangkan reaksi negatif diperlihatkan oleh orang-orang yang sangat tidak suka dirinya di puji. Orang-orang yang bereaksi negatif terhadap pujian yang terlontar untuk dirinya ini adalah orang-orang yang sadar tentang makna pujian.

Mereka yang suka dipuji biasanya bereaksi senang atau gembira. Hal itu bisa di baca dari bahasa tubuh atau rona wajahnya. Reaksi selanjutnya adalah mengajak untuk lebih akrab untuk kemudian mengumbar sifat royalnya. Orang-orang seperti ini mudah dimanfaatkan oleh mereka yang memang suka memanfaatkan orang-orang yang suka pujian. Sedangkan mereka yang bereaksi negatif adalah orang yang sadar bahwa kebanyakan pujian membawa maksud-maksud tertentu. Dari mulai tetesan air sekedar pelepas dahaga sampai pada tanda tangan serah terima harta karun. Tidak sedikit juga pujian yang bertendensi berahi (sexual). Bahkan yang terakhir ini justru sarat dengan pujian sebelum akhirnya jatuh ke kubangan zina.

Pujian terjadi pada banyak hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Kita bisa ambil beberapa contoh diantaranya.

Pujian orang tua kepada anaknya.
Pujian ini lebih bersifat menghibur dan memotivasi serta membangkitkan kepercayaan diri. Tujuannya adalah agar anak tidak merasa pesimis dalam menghadapi problem atau beberapa kekurangan yang ada pada dirinya. Asal tidak berlebihan pujian ini dapat pula digunakan untuk membuat anak merasa diperhatikan dan disayang bahkan bisa memperkuat ikatan batin antara anggota keluarga. Tapi jika berlebihan justru akan bisa merugikan diri anak, karena perlahan pujian akan menimbulkan sifat-sifat sombong dan terlalu bangga dengan apa yang dimiliki.

Pujian anak kepada orang tua.
Kebalikan dengan yang pertama, pujian anak yang diungkapkan untuk orang tua kebanyakan berujung pada terpenuhinya sebuah permintaan. Jadi kebanyakan pujian anak kepada orang tua mengandung maksud-maksud tertentu yang berkaitan dengan ijin atau diperbolehkan keluar rumah bersama teman dekatnya. Bisa juga karena menginginkan fasilitas dan kebutuhan pribadi. Sepanjang anak masih bergantung pada kedua orang tua, pujian bertendensi ini bisa menjadi senjata untuk lulusnya sebuah permintaan disamping menyenangkan hati orang tua.

Pujian Guru kepada anak didiknya.
Pujian seorang guru kepada anak didiknya ini hampir seperti pujian orang tua kepada anaknya. Lebih banyak bersifat memotivasi agar lebih giat belajar dan memberikan kepercayaan diri yang kuat. Pengaruh pujian ini bisa sangat besar dan bermanfaat karena membuat siswa senang berada di kelas atau di sekolah. Hampir tidak ada tendensi negatif disini. Selain motivasi dan membangun kepercayaan diri guru tidak banyak perlunya untuk menyelipkan tendensi pada pujian terhadap siswanya.

Pujian siswa kepada gurunya.
Hampir sama dengan pujian anak kepada orang tuanya, pujian siswa kepada guru ini juga banyak tendensinya. Selain karena sifat, sikap dan kemampuan atau prestasi guru, pujian murid kepada gurunya lebih banyak berharap agar disuka, disayang, diperhatikan atau agar selalu diingat. Harapan paling dominan dari pujian ini adalah agar dikasihani dan diangkat nilai dari tiap-tiap bidang studi yang kurang dari standard. Boleh-boleh saja siswa memuji gurunya, tapi realisasi dari tendensi pujian tetap bergantung pada gurunya. Guru yang memang suka dipuji mungkin bisa juga royal nilai. Tapi guru yang menjaga obyektivitas nilai tak akan mempan ditembak dengan pujian. Meski pujian itu setinggi langit.

Pujian penjual kepada pelanggannya.
Personil sales atau marketing sebuah perusahaan trading adalah gudangnya kata-kata manis. Pujian adalah senjata andalan mereka. Meski kadang bau kebohongan dan tipu daya selalu menghiasi setiap tranksaksi. Tapi memuji adalah salah satu startegi pemasaran, meski tidak tertulis secara faktual dalam teori pemasaran. Mereka memanfaatkan custumer yang menyukai kata-kata manis yang ditujukan untuk dirinya. Dengan demikian mereka bisa dengan mudah menjatuhkan hati dan pilihannya pada produk-produk yang mereka tawarkan. Pujian bertendensi kuat dari para sales ini bisa berjalan mulus dengan kemampuan akting personilnya.

Tapi jangan kaget ! Para calon pembeli sebuah produk kadang juga tidak kalah dalam rayuan mautnya. Kata-kata manis plus bahasa tubuh kadang juga membuat para sales berbalik lemas sendi-sendinya. Kalau keadaan sudah begini biasanya para sales atau marketing produk akan memberikan discount sebesar-besarnya atau memberikan price yang paling rendah dari harga pokok penjualannya. Kebanyakan para sales dan custumer luluh karena pesona masing-masing diantaranya. Jika pesona sudah bicara maka bujuk rayu dengan pujianpun bisa menjadi senjata yang sangat akurat untuk mempengaruhi mulusnya transaksi.

Pujian seorang pria pada teman wanitanya atau sebaiknya.
Hampir semua dari kita yang pernah merasakan masa remaja, tepatnya masa pacaran pasti tidak akan memungkiri kalau pujian adalah bahasa sehari-hari. Kadang terlontar secara lisan kadang tertuang habis-habisan dalam tulisan. Tendensinya ? Jelas hanya karena ingin menarik hati dan simpati sepenuhnya mereka yang menjadi sasaran. Kalau intuisi tidak terlibat, bisa saja pujian hanya sekedar rasa kagum. Tapi jika ada intuisi yang terlibat diantara mereka maka hampir pasti pujian yang terlontar berada pada kisaran cinta atau perasaan mendalam yang sedang tumbuh.

Menarik hati atau menumbuhkan intuisi hanyalah salah satu tendensi dalam pujian antara dua insan berlainan jenis. Jika nafsu atau keinginan jiwa negatif juga ikut andil, maka akan banyak sekali maksud-maksud kotor yang terkandung di dalamnya. Mulai dari materi, birahi sampai pada maksud menyeret orang yang dimaksud dalam sebuah konflik pribadi atau keluarga. Dan kebanyakan pujian antara dua manusia berlainan jenis yang berada dalam batas dewasa adalah kekuasaan sepenuhnya atas diri secara lahir maupun batin. Mengapa demikian ? Karena hanya dengan kekuasaan yang mutlak akan diri sepenuhnyalah yang membuat kita bisa berbuat sesuatu apapun meski kadang harus berada di luar batas.

Demikianlah sedikit kupasan mengenai tendensi dalam sebuah pujian. Yang penting bagi kita adalah jangan terlalu percaya pada pujian yang sering kali mengiringi bujuk rayu. Baik rayuan untuk menjual, membeli, menarik simpati, mendapatkan sesuatu yang bersifat materi atau bahkan sampai pada rayuan untuk terjun di kedalaman jurang nafsu jasmaniah. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk dapat berkelit dari jeratan setan berahi. Hal ini sudah terbukti di berbagai lapisan masyarakat. Dari mulai kelas teri sampai kelas kakap. Bahkan di kelas manusia yang kita mengira telah di jaga oleh para malaikatpun juga sering kita dapati kehancuran moralnya. Apalagi yang berada diluar lapisan tersebut.

Yang harus kita upayakan adalah berusaha untuk mewaspadai setiap pujian yang terdengar di telinga kita. Jika kita tidak merasa seperti apa yang yang digambarkan dalam pujian seseorang, patut pula kita berfikir tentang tendensi dari pujian tersebut. Jangan memberi kesan seakan kita termasuk orang yang suka dipuji, sebab yang demikian akan melemahkan kekuatan jiwa kita. Orang yang suka dipuji adalah orang yang lemah meski ia kelihatan kuat dan kekar. Yakinlah bahwa di dunia ini ungkapan yang tulus dari seseorang sangat langka. Sebab ungkapan tulus hanya datang dari orang-orang yang ikhlas menghamba pada Allah swt. Selain dari mereka, mungkin termasuk kita juga adalah orang-orang yang hanya menyimpan kata ikhlas dalam rongga mulut, yang apabila diperlukan untuk meyakinkan seseorang, suatu saat akan kita keluarkan secara lisan. Tanpa hati. Ya,… tanpa hati.

Sekian.

Surabaya, 7 Desember 2011.

Agushar.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 8, 2011 in Uncategorized

 

One response to “Pujian Yang Sarat Makna

  1. Moc Zainul Arifin

    Desember 9, 2011 at 3:43 am

    alhamdulillah,..akhirnya pak agus mau nambahin ilmunya ke kita ttg “PUJIAN YANG SARAT MAKNA”.semoga kreatifitas pak Agus masih menghiasi blok ini tuk membuat hati kita semakin terbuka dan yakin tuk menatap hari ke depan dengan senyuman iman….
    mohon dong pak agus mengulas tentang ajaran tashawwuf….
    Matur Nuwon,…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: