RSS

Selamat Jalan Lilo,…. Damailah kau disana,..

08 Mar

GambarKu-adopsi dia dari seorang teman sekitar dua tahun lalu. Masih terlalu kecil meski tidak bisa dibilang bayi lagi. Laki-laki yang terlahir dari rahim ibu di alam bebas yang kadang tak mengenal toleransi atau belas kasihan sedikitpun. Jika manusia sekitarnya tak ada yang peduli untuk merawatnya, kelak kebanyakan dari mereka akan hidup apa adanya. Berjalan tak tentu arah dan makan kadang banyak mengharapkan sisa-sisa makanan orang yang terbuang di sampah. Berpapasan dengan banyak orang, tapi kebanyakan dari mereka hanya sekedar menyapa. Kadang dengan sapaan yang tulus tapi tak jarang yang hanya sekedar menggoda. Dengan dasar kasih sayang, kami membawa Lilo, demikian kami memanggilnya, ke dalam keluarga kami. Meski diruimah saat itu juga sudah ada wingky yang kadang juga sangat menjengkelkan hati.

Seperti anak-anak seusianya, kadang banyak menjengkelkan hati. Dari mulai kotoran yang belepotan di lantai sampai menumpahkan makanan di meja. Melahap habis makanan yang tersedia dan lari sekencang-kencangnya atau bersembunyi di kolong meja atau di kamar tidur. Sebagai pelajaran kadang aku tak segan untuk sesekali menampar atau memukulnya. Jika sudah begitu dia akan diam dan takut-takut untuk mengulang lagi perilakunya. Repotnya juga ketiga anakku terlalu sayang sama Lilo. Jika aku marah mereka selalu melindungi dengan membawa Lilo masuk ke dalam kamar. Perlakuan seperti itu membuat Lilo juga semakin manja. Tak jarang dia selalu mengulang perilaku-perilaku menjengkelkan yang kadang memancing keinginan uuntuk mengusirnya saja dari rumah.

Pernah suatu hari istriku tak lagi kuat menahan perasaan sabarnya. Sampai-sampai memintaku untuk mengusir Lilo sambil mengancam, “Lilo yang pergi dari rumah atau Ibu yang pergi”. Astaghfirullah, sampai bingung aku harus menentukan. Bagaimana ini, haruskah Lilo kubuang jauh-jauh agar tak membekas dihatiku dan anak-anakku? Beberapa hari kemudian masih ku tahan untuk tidak mengusir Lilo. Pernah aku coba untuk membawa ke sebuah tempat dan lari meninggalkannya cepat-cepat. Tapi yang terjadi kemudian adalah susulan larinya yang ternyata begitu cepat kembali di sebelahku. Akhirnya kami berkumpul kembali sambil mengharap belas kasih dari istriku untuk menerima Lilo lagi seperti adanya. Nakal, manja, lucu sekaligus menjengkelkan.

Hari-hari berjalan seperti sebelumnya, Lilo tetap tak berubah, tapi perasaan hati istriku juga tetap seperti semula. Menginginkan Lilo pergi selamanya dari rumah. Sampai pada suatu hari aku terpaksa membuang jauh-jauh Lilo dari rumah. Aku lepas dia di suatu tempat yang menurutku nantinya Lilo bisa hidup mandiri, meski dengan susah payah. Dengan berat hati dan air mata yang selalu ingin tercurahkan, kami mulai berusaha melupakan Lilo. Dari pada aku harus selalu bertengkar dengan Istriku, lebih baik aku mengalah dengan menjauhkan Lilo dari rumah kami. Selanjutnya mungkin aku masih bisa bertahan melawan kesedihan sepeninggal Lilo. Tapi ketiga anak perempuanku terutama Restry, anak bungsu kami sangat terpukul dengan kepergian Lilo. Dia terlihat selalu murung dan berusaha menemukan kembali Lilo. Ketika hampir sirna kesedihan sepeninggal Lilo, datang berita lebih menyedihkan kalau Lilo sedang sekarat di jalanan akibat kecelakaan atau perkelahian.

Siang itu aku lagi sibuk mengerjakan tugas-tugas harian di pabrik tempat aku bekerja. Tiba-tiba ponselku berdering. Kubaca layar ponsel ternyata anak sulungku. Sambil menangis anakku bilang kalau ketemu Lilo di jalan dalam keadaan lunglai dengan banyak luka di tubuhnya. Terdengar anakku terus menangis diseberang sampai-sampai aku bingung harus bagaimana. Akhirnya kuputuskan untuk membawa pulang Lilo kembali kerumah. Dengan dibantu temannya Asty membawa kembali pulang Lilo. Sesampai dirumah lantas dibaringkan di matras. Aku perintahkan anak-anakku untuk membersihkan tubuh Lilo dengan air dan mengeringkan dengan kain bersih. Lantas aku pesan untuk memberikan pertolongan awal dengan membersihkan luka-luka dengan revanol dan memberikan obat antibiotik cair ke luka yang ada.

Sampai rumah langsung kulihat tubuh Lilo yang tak berdaya. Aku berpikir kalau Lilo akan pergi untuk selamanya dalam beberapa hari lagi. Kami semua tak tega melihat kondisi Lilo saat itu. Sampai-sampai Istriku yang selama ini begitu membenci Lilo akhirnya luluh juga hatinya. Dengan sabar kami sekeluarga merawat luka-luka Lilo dan memberi suapan makan dan minumnya. Anak-anakku juga menjaga Lilo dari gangguan Wingky yang juga super nakal. Kadang tubuh Lilo di injak-injak tanpa bisa membalas sedikitpun. Kalau sudah begitu kami selalu marah dan menjauhkan Wingky dari Lilo agar tak mengganggu proses penyembuhan sakitnya. Perlahan namun pasti tanda-tanda kesembuhan pada diri Lilo pun terlihat semakin menyakinkan. Dan memang benar akhirnya Lilo benar-benar sembuh dan selamat dari luka-luka robek di sebagian besar kulit dan kepalanya. Kami semua begitu senang dengan perkembangan itu.

Selang beberapa waktu kemudian Lilo terlihat benar-benar kembali normal. Dengan tubuh yang semakin kuat Lilo tak lagi menjadi bulan-bulanan Wingky dalam bermain. Bahkan beberapa bulan kemudian justru Lilo yang selalu unggul dalam setiap pergumulan karena keunggulan sifat alamiahnya. Semakin hari interaksi antara Wingky dan Lilo tak lagi membuat kami jengkel tapi justru banyak menghibur kami dengan tingkah-tingkah lucunya. Kami semua tak mengira kalau interaksi antara dua makhluk berbeda ras tersebut bisa berjalan seperti layaknya dua saudara kandung. Saling kejar dan saling gumul satu sama lain yang selalu berakhir dengan perdamaian antara keduanya. Suatu hal yang kadang justru tak terlihat pada diri kita selaku orang-orang dewasa. Kadang justru selalu nampak sifat bermusuhan dan saling membenci.

Beberapa bulan kemudian Wingky mendapat tawaran dari sekolah SD sebelah rumah untuk ikut serta meramaikan acara penilaian tim juri penilai dari diknas untuk prestasi adiwiyata untuk sekolah tingkat SD. Ternyata dikemudian hari SDN Kandangan II sebelah rumah kami justru masuk nominasi sekolah Adiwiyata. Kembali Wingky mendapatkan tawaran untuk turut berpartisipasi dalam penilaian lanjutan peraih predikat sekolah adiwiyata. Pada akhirnya ternyata SDN Kandangan II sebelah rumah justru meraih Predikat sekolah Adiwiyata Nasional. Tentu saja buka karena Wingky, Sekolah SD sebelah rumah kami mendapatkan predikat tersebut karena Prestasinya. Selang beberapa waktu kemudian Wingkypun akhirnya diadopsi oleh Pak Sugeng yang merupakan salah satu karyawan di Sekolah tersebut. Kamipun akhirnya merelakan Wingky pergi dan pindah ke komplek SD sebelah rumah kami.

Lilo yang akhirnya juga harus berpisah dengan Wingky terlihat kesepian sendiri. Hari-hari berikutnya Lilo harus bermain-main sendiri tanpa ada gangguan dari sahabatnya yang sudah pindah. Meski demikian Lilo justru mendapatkan perhatian berlebih dari kami sekeluarga. Setiap hari istriku membelikan makanan khusus kesukaan Lilo. Hingga akhirnya Lilo tumbuh besar dan kuat seperti layaknya laki-laki lain yang banyak bertebaran di sekitar rumah kami. Layaknya pemuda yang berpredikat “Bronis”, Lilo banyak menimbulkan kecemburuan dari pejantan-pejantan lain yang lebih senior di sekitar rumah kami. Kecemburuan yang akhirnya berbuah permusuhan dan dendam yang berkepanjangan. Yang menjadikan ruang gerak Lilo tak lagi begitu bebas di lingkungan sekitar rumah kami.

Tapi Lilo saat itu bukan lagi Lilo yang dulu lemah. Dia akan melawan setiap gangguan yang terjadi pada dirinya. Insting alamiahnya mengajarkan pada dirinya bagaimana menghadapi setiap serangan lawan yang kadang datang dari arah yang tak begitu disangka. Meski menjadi public enemy Lilo bahkan tak gentar sedikitpun untuk menghadapi lawan-lawannya. Kami sekeluarga menyadari tentang hal itu. Dan lebih banyak menasihati untuk tidak terlalu sering keluar rumah. Apalagi waktu tengah malam. Tapi Lilo tetap pada pendiriannya. Keras. Meski kadang ketika di rumah tak terlihat sedikitpun sifat-sifat keras dan bengalnya. Tak jarang ketika pulang Lilo sudah membawa luka sayatan-sayatan di tubuhnya. Dan kami dengan sabar pula selalu merawat dan memberi obat serta semangat hidup.

Lilo adalah kesayangan kami. Meski bagaimanapun nakal dan bengalnya tetap saja kami menganggap sebagai sifat-sifat yang masih wajar. Semakin hari semakin kuat rasa cinta kami padanya. Belum lengkap rasanya keluarga kami kalau Lilo tidak berada di antara kami. Hubungan batin kami sudah sedemikian kuatnya. Apalagi rasa sayang istri dan anak-anakku juga begitu dalamnya pada Lilo. Hingga kedekatan batin kami serasa tak lagi ada jarak. Ketika aku bangun sebelum subuh diapun bangun minta kue donat kesukaannya. Ketika aku keluar kadang tanpa sepengetahuanku dia juga keluar untuk kembali lagi ketika aku sudah pulang dari masjid. Ketika Istriku sibuk di dapur dia juga suka mengganggu dan bergelayut di kain bajunya.

Perhatian ketiga anakku juga tak kalah besarnya. Selain memandikan dan mengeringkan juga selalu memberi makan dan mengajaknya untuk selalu berkomunikasi meski Lilo sama sekali tak pernah mengerti. Karena kendala bahasa diantara kami yang jauh untuk bisa dipertemukan. Meski demikian bukan berarti kami harus selalu jengkel. Bahkan sudah tak pernah ada lagi kata jengkel dalam hubungan keluarga kami dengan Lilo. Yang ada hanyalah perasaan sayang dan cinta yang begitu dalam dari lubuk hati kami masing-masing. Kala kami duduk menikmati televisi diapun dengan nyamannya tertidur di betis salah satu diantara kami. Ketika salah satu kami ada yang makan sambil menonton televisi diapun dengan sabar menemani dengan menyandarkan kepala di kaki kaki kami. Tak jarang pula Lilo mendahului tidur dan menempati tempat tidur kami, meski untuknya sudah tersedia tempat tidur sendiri.

Sampai pada suatu ketika terdengar perkelahian yang sepertinya begitu serius. Dan esoknya kami melihat Lilo seperti kesakitan. Hari-hari selanjutnya terlihat Lilo begitu tersiksa dengan sakit tersebut. Disaluran pengeluarannya keluar tetesan-tetesan darah. Mulailah episode kesedihan melanda keluarga kami. Istriku terlihat begitu sedih. Tapi tetap telaten membersihkan tetesan-tetesan darah atau air dari saluran kencing Lilo. Anak-anakku meneteskan air mata karena tak kuasa melihat kondisi Lilo yang semakin hari semakin lemah. Tak mau menyentuh makanan sama sekali. Bahkan donat kesukaannya tak lagi menarik perhatiannya. Maunya hanya minum air sebanyak-banyaknya untuk kemudian keluar tanpa sengaja setetes demi setetes di setiap langkah dan tidurnya.

Kondisi Lilo yang seperti itu membuat kami sekeluarga begitu sedih. Sakit, dan trenyuh. Sering anak-anakku menangis ketika melihat kondisi Lilo tidur tak berdaya. Belum lagi kalau mengingat setiap hari Lilo harus tinggal sendiri di rumah sementara kami semua pergi dengan tugas dan kewajiban masing-masing. Semakin hari semakin kurus karena tak mau makan. Sementara ketika kami menyuapinya dengan air susu diapun selalu mengindar. Bertambah sedih hati ini ketika Lilo hanya diam membisu. Memang aku sempat mengatakan Lilo pasti sembuh. Dan harapan itu masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum kematiannya. Dengan isyarat khususnya Lilo masih menjawab setiap panggilan kami. Dari situ kami masih berharap bahwa Lilo pasti akan sembuh. Meski Istriku sudah berkata, “Kamu mau mati tah Nak ?”

Aku sebenarnya tak kuasa membendung keluarnya air mata. Tapi hal itu aku tahan sebisa-bisanya. Karena aku tak boleh terlihat lemah dimata istri dan anak-anakku. Konsep kehidupan dan kematian yang selama ini aku pelajari mengharuskan aku bisa tetap berdiri kuat meski harus kehilangan orang-orang atau sesuatu yang aku cintai selama ini. Dan aku harus bisa memberikan teladan tentang kesabaran tersebut di depan Istri dan anak-anakku meski napas Lilo tersisa beberapa hembusan lagi. Beberapa saat kami masih menunggu dan mendampingi Lilo. Sementara Asty, anak perempuan sulung sudah tak kuasa menahan tangisnya. Tak terasa pula air matakupun membasahi kelopak mata. Pelan aku seka dengan jemariku. Sementara anak keduaku, Disty masih berusaha untuk menyuapi air susu ke mulut Lilo. Dan yang menyedihkan lagi adalah anak bungsuku Restry saat itu tidak berada diantara kami. Kegiatan KTS sekolah mengharuskan dia masih berada di perjalanan ketika Lilo berada di akhir umurnya.

Dengan berat hati aku harus tinggalkan Lilo untuk beberapa saat guna menghadiri undangan pernikahan di wilayah tinggal kami yang lama. Masih di sekitar wilayah kami tapi harus berputar jalan untk tiba di pesta tersebut. Hanya beberapa saat aku dan Istriku langsung kembali pulang dan melihat kondisi Lilo. Benar, Lilo semakin lemah. Perlahan aku seka di bagian yang sakit dan Lilo meronta kesakitan. Aku bersihkan dengan alkohol dan aku teteskan minyak tawon dengan harapan lukanya akan mengering. Lilo terdiam dan menyadari kalau kami semua berusaha untuk memberikan pertolongan padanya. Kutinggalkan beberapa saat ke belakang. Kembali ke depan kulihat Lilo sudah tak ada. Kucari dia di depam rumah. Ternyata lilo menuju tanah berpasir di bawah pohon Ketepeng.

Dibawah gerimis kugendong dia kembali ke dalam rumah. Aku letakkan di tempat tidur yang telah tersedia untuknya. Kutinggalkan dia sejenak kembali ke belakang. Kembali ke depan ternyata Lilo sudah tak ada ke tempatnya lagi. Dengan sedikit teriakan, aku tanya anak-anakku, “Asty,… kemana Lilo pergi !!”. Semua yang mendengar bergerak mencarinya. Ternyata Lilo masuk kamar depan dan merebahkan tubuhnya di dinginnya lantai keramik. Padahal biasanya dia tidak mau tidur kalau tanpa alas ketika gelap mulai datang. Kuangkat tubuhnya dan kurebahkan kembali ke tempat semula. Tubuhnya diam dan terlihat tatapan matanya matanya kosong. Kami perhatikan dengan seksama setiap tarik dan hembusan nafasnya.

Sesaat kemudian Lilo menarik nafas dan mengejang tubuhnya untuk beberapa detik. Kepegang bagian perutnya yang mengeras. Kejang beberapa saat. Setelah itu lunglailah seluruh tubuh Lilo. Dengan tatapan mata kosong memandang kami semua ternyata Lilo sudah pergi. Ya Lilo pergi untuk selamanya meninggalkan kami semua yang terhenyak dengan isak tangis yang tak lagi tertahankan. Sebenarnya sesak juga dadaku menghadapi kepergian Lilo. Tapi sekali lagi aku harus tunjukkan kepada anak Istriku bahwa kita harus kuat dalam menghadapi setiap kematian yang terjadi diantara kami. Meski air mata akhirnya meleleh juga aku langsung mengambil langkah lanjutan untuk merawat dan menguburkan jasad Lilo.

Dibawah iringan tangis anakku kupejamkan mata Lilo yang menatap kosong dunianya. Kubelai sejenak tubuhnya untuk memastikan bahwa aku juga begitu mencintainya. Aku juga merasa kehilangan yang amat sangat. Bukan saja anak dan Istriku, tapi aku juga mengangis, meski dengan susah payah aku menahan tetesan air mataku. Perlahan kuyakinkan pada Istri dan anak-anakku bahwa Lilo telah benar-benar pergi untuk selamanya. Dan cepat atau lambat kita harus merawat dan menguburkannya dalam waktu yang seminimal mungkin. Dengan lunglai pula berita kematian Lilo ini harus sesegera mungkin tersampaikan pada anakku yang masih dalam perjalanan pulang dari KTS-nya. Begitu membaca pesan kematian Lilo dari kakaknya, lunglai dan menangis pulalah Restry dalam perjalanan pulangnya. Hal ini bisa kupahami sepenuhnya karena memang dia yang terlihat paling sayang pada Lilo diantara kami semua.

Sekitar dua puluh menit kemudian kuangkat Lilo dengan balutan kain putih ke dekat liang kubur yang telah kugali agak dalam. Setelah memastikan seluruh tubuh lilo bisa masuk dengan leluasa ke dalam kubur, perlahan aku angkat dan kumasukkan ke dalam lubang peristirahatan terakhirnya. Dengan tegar pula kututup lubang tersebut dengan tanah yang melimpah di sebelahnya. Kutata rapi tanah gundukan berpasir itu dengan serta merta meminta kedua anakku mendekat dan berdoa untuk Lilo sebagai perhatian dan kewajiban terakhir dalam merawatnya. Dengan air mata yang hampir tumpah kami bertiga berdoa demi kedamaian Lilo. Sementara Istriku tak kuasa menahan kesedihan hatinya di dalam rumah.

“Ya Allah, malam ini kami telah menguburkan makhlukMu ya Allah, ampunilah dia ya Allah, terimalah dia di surgaMu ya Allah. Allah ya karim,….ampunkan juga kami ya Allah,… kami telah berusaha untuk merawatnya ya Allah,.. meski kami tahu bahwa perlakuan kami kepadanya jauh dari maksimal ya Allah, tapi kami benar-benar tak kuasa atas takdirMu,….kami benar-benar tak pernah menyangka jika Lilo berumur sependek itu Ya Allah,… kami hanya berpikir kalau Lilo masih jauh dari ajal,.. karena kami begitu yakin kalau Lilo masih sangat muda untuk mati. Ampunkan kami ya Allah jika kami telah menyebabkan kematiannya,…ampunkan kami ya Allah jika kami menyebabkan dia banyak menderita dalam hidup singkatnya,…

Liloku sayang,… kami sangat mencintaimu Lil, …..kami sangat menyayangimu cung,…maafkan kami yang tak sanggup menahan kematianmu,..maafkan kami yang tak bisa merawatmu,…maafkan kami yang hanya bisa terpaku di saat-saat kematianmu nak,… Ya Allah Ya Rob, berikan tempat terbaik untuknya ya Allah,…berikan kesempatan Lilo mencicipi surgamu ya Allah, ya Allah,….kabulkan permintaan kami ya Allah, karena hanya kepada engkau kami meminta sesuatu yang akan kami persembahkan untuknya ya Allah,…. terimalah Lilo di sisiMu ya Allah,…..Lilo sayang,…… selamat jalan sayang,…… damailah kau disana sayang,….kami semua berdoa untukmu Nak,…… selamat jalan,………….selamat jalan,……….”

Tak kuasa rasanya menahan air mata ini. Apalagi ketika mendengar berita dari Pak Sugeng kalau Wingky juga pergi untuk selama-lamanya pada waktu yang hampir bersamaan karena sakit yang tak pernah terobati. Lengkap sudah kesedihan kami sekeluarga. Dua makhluk kecil kami telah pergi untuk selama-lamanya. Dua sahabat yang setia sampai hari kematiannya. Ingin hati menangis sepuas-puasnya jika mengenang saat-saat mereka berdua hidup rukun dan bercengkerama bersama diantara kaki-kaki kami. Selamat jalan Lilo sayang,… Lilo kucingku yang malang,……..selamat jalan Wingky,….Wingky kelinciku yang malang,…. damailah kamu berdua disana,……kami tak akan pernah melupakanmu,… tak akan,….tak akan,…….

sekian,

Surabaya, 8 Maret 2013.

Agushar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 8, 2013 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: