RSS

Andai Tiada Surga dan Neraka

28 Sep

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾

Gambar

Andai Tiada Surga dan Neraka. Masihkah kita tetap beribadah kepada Allah swt.? dengan menjalani seluruh perintahNya tanpa bantahan sedikitpun? Menjauhi seluruh larangan untuk berbuat maksiat yang terasa begitu nikmat dan begitu menyenangkan perasaan? Padahal tidak ada konsekuensi akhirat atas tindakan baik dan buruk yang terjadi di kehidupan dunia kita. Sedangkan manusia seperti kita senantiasa menghitung untung dan rugi untuk menghiasi setiap langkah dunia kita. Jika hasil akhirnya dirasa menguntungkan kita cenderung mengerjakannya. Tapi jika dirasa tidak akan menguntungkan kitapun enggan melakukannya. Lantas? Masihkah kita beribadah jika ibadah itu sendiri tidak akan mempengaruhi kehidupan akhirat kita?

Sesungguhnya neraka dan surga adalah sebuah kesempurnaan penciptaan. Menjadi isi dari dunia lain yang menjadi pasangan dunia yang saat ini kita tempati. Dunia dan akhirat adalah sepasang makhluk yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk mendukung penciptaan makhluk-makhluk selanjutnya. Termasuk penciptaan manusia yang saat ini menjadi penghuni bumi. Salah satu makhluk bulat diantara milyaran makhluk bulat penghuni alam semesta. Yang dipermukaannya banyak terdapat makhluk kecil yang membuat bumi terlihat begitu sibuk. Manusia. Ya,… Manusia sebagai pemeran utama dalam kehidupan dipermukaan Bumi. Makhluk pilihan yang didaulat oleh Allah sebagai pemimpin kehidupan di muka bumi.

Tapi bagaimana seandainya surga dan neraka tiada tapi akhirat tetap ada? Mungkin kita masih tetap mempunyai kehidupan akhirat tetapi dengan wujud dan aktifitas yang hanya diketahui oleh Allah swt saja. Dan bagaimana pula seharusnya kehidupan kita di dunia? Tentu saja manusia akan hidup dengan orientasi dunia saja. Tanpa orientasi kehidupan akhirat. Lantas bagaimana dengan perintah ibadah? Masih perlukah kita melaksanakan perintah-perintah yang kadang terasa begitu berat dan menyita waktu. Shalat lima waktu sehari semalam. Belum termasuk shalat-shalat sunnah. Zakat dan sedekah, puasa yang nyata-nyata terasa begitu berat bagi mereka melaksanakan dengan keterpaksaan. Sedangkan hasil yang akan kita dapat menjadi sebuah tanda tanya besar.

Sesungguhnyalah, jika kita memahami hakikat kehidupan, terutama kehidupan manusia. Suka atau gemar membaca petunjuk-petunjuk Allah swt yang jumlahnya ribuan ayat. Senang menggunakan logika ketika melihat atau menjumpai “sesuatu” di hadapan kita. Sadar akan “rasa” yang tersebar di seantero permukaan tubuh kita. Niscaya kita bisa dengan mudah menjawab pertanyaan tentang ibadah seandainya tanpa surga dan neraka. Tetapi kebanyakan manusia hanya sibuk menikmati hidangan dunia untuk memanjakan “rasa” daripada berusaha mencari siapa yang menjadi penyebab utama perbedaan “rasa” dari seluruh yang dihidangkan oleh dunia. Sebagian besar manusia masuk dalam kategori ini. Termasuk kita.

Mereka yang menjawab tidak usah beribadah jika tidak ada neraka dan surga di akhirat adalah memang benar termasuk manusia. Sedangkan mereka yang menjawab tetap beribadah meski tiada surga atau neraka adalah manusia “istimewa”. Karena mereka telah terpilih oleh Allah untuk mendapatkan “petunjuk” bagaimana seharusnya harus “hidup” meski tidak ada konsekwensi akhirat yang jelas. Al Qur`an memberikan penjelasan untuk apa manusia diciptakan yang tidak lain hanyalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah swt. Dengan satu ayat ini saja seharusnya manusia tetap harus beribadah kepada Allah meski tanpa adanya balasan surga. Atau ketakutan akan pedihnya siksa neraka.

Penyebab pertanyaan seperti itu mungkin terlontar hanya untuk mengetahui apa sebenarnya orientasi kita sebagai manusia ini dalam mengabdi pada Allah swt. Karena sesungguhnya, sadar atau tidak ibadah kita lebih banyak berorientasi pada surga dan terhindar dari neraka. Orientasi kehidupan akhirat. Benar atau salah? Sebagian besar manusia, dengan kedangkalan ilmupun akan menjawab salah ! Karena ibadah itu harus mutlak karena Allah swt. bukan karena yang lain. Juga bukan karena nikmatnya surga dan pedihnya neraka. Juga karena surga dan neraka hanyalah sepasang makhluk yang keberadaanya karena diciptakan oleh Allah swt. Jadi, tidaklah pantas seseorang beribadah hanya karena mengharapkan surga.

Sebagian manusia mengatakan benar ! Alasannya? Karena keduanya, surga dan neraka adalah harapan bagi manusia. Harapan untuk menikmati indahnya surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya yang jauh melebihi seluruh kenikmatan yang ada di dunia. Yang lebih kekal. Bukan hanya sekedar nikmat yang mudah berlalu begitu saja untuk kemudian muncul lagi seperti makhluk penggoda Iman. Dan harapan untuk terhindar dari pedihnya siksa neraka seperti yang tergambar dalam Al Qur`an dan hadits Rasulullah saw. Yang tingkat kepedihannya jauh melebihi kepedihan yang pernah di derita manusia selama hidup di dunia. Maka bisa pula dikatakan masih begitu logis jika ibadah manusia dikarenakan ingin terhindar dari adzab neraka dan tergolong manusia ahli surga.

……. ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴿١٩٧﴾

Mestinya kita semua tahu dan sadar bahwa untuk surga dan neraka, Allah swt. telah menetapkan berbagai persyaratan yang tidak ringan untuk manusia. Ada bekal yang kalau manusia tidak membawa bekal tersebut surga pasti akan menolaknya. Bekal utama untuk di terima surga itupun harus mendapatkan ridhlo dari Allah swt. Harus ada label QC Passed berupa “ketaqwaan” agar manusia bisa di terima di komunitas surga. Ada korelasi yang sangat erat antara harapan surga dan lillahi ta`ala. Tanpa ketauhidan. Tanpa niatan hanya karena Allah swt. seorang manusia tidak akan pernah mendapatkan QC Passed surga berupa predikat “muttaqiin”. Sehingga bisa dikatakan jika seseorang sungguh-sungguh berharap surga, dia pasti akan beribadah semata-mata hanya karena Allah swt. bukan karena yang lain.

Surga dan neraka adalah logika yang sempurna. Meski tanpa surga dan nerakapun masih tetap logis karena “rasa” yang menempel pada dunia fana kita. Kesempatan hidup di dunia fana ini saja sudah merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Belum lagi kesempurnaan “rasa” yang bisa kita gunakan untuk mencicipi berbagai kenikmatan duniawi yang tersebar di bumi dan sekitarnya. Sudah lebih dari cukup Allah memberikan kesempatan kepada manusia berupa kehidupan dunia ini. Sehingga tak pantas kiranya kalau kita berpaling dari Allah swt yang telah memberikan kita kesempatan merasakan nikmatnya dunia meski kurun waktunya tidak sebanding dengan kekalnya nikmat akhirat. Jadi logikanya kita ya tetap harus beribadah kepada Allah swt. meski tanpa surga.

Meski secara logika manusia harus tetap beribadah tanpa surga, tetapi keputusan tetap kembali kepada manusia. Mau tetap beribadah atau tidak. Dengan janji nikmatnya surga saja manusia banyak yang memilih untuk tidak beribadah, apalagi tanpa adanya balasan kenikmatan surga. Hampir bisa dipastikan mereka yang beribadah hanya bisa dihitung dengan jumlah jari yang menempel di kaki dan tangan kita. Mayoritas manusia tidak akan beribadah pada Allah dan akan berkonsentrasi hanya untuk taat pada aturan-aturan yang di buat oleh penguasa dimana manusia itu berdiam diri untuk hidup. Sedangkan kita yang saat ini begitu yakin akan selalu beribadah meski tanpa surga, lambat laun akan menjadi pengingkar-pengingkar Allah swt karena tidak adanya siksa pedih neraka.

Mengapa demikian? Karena Allah memberikan kebebasan kepada manusia sebebas-bebasnya. Mau beriman silahkan. Mau ingkar silahkan. Mau beribadah silahkan. Mau tidak beribadah juga silahkan. Demikian ikhlasnya Allah menciptakan manusia. Hingga meski manusia memilih untuk berpaling kepada selain Allahpun, Allah tetap membiarkan manusia untuk tetap hidup dan menikmati segala fasilitas kenikmatan dunia yang tersedia. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan pernah merugi dengan keingkaran manusia. Allah maha kaya. Tidak membutuhkan ibadah manusia karena sesungguhnya ibadah yang dilakukan oleh manusia adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. Kelak untuk kehidupan yang lain di periode akhirat yang jauh lebih kekal daripada hanya sekedar umur manusia di dunia.

Surga dan neraka adalah keadilan Allah, kebijaksanaan Allah, dan keperkasaan Allah swt. Karena Allah telah menetapkan bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya untuk menjalani ujian. Dengan berbagai macam cobaan selama kurun waktu dibawah 100 tahun bumi, manusia berhak menentukan dimana mereka harus tinggal kelak. Dimana meraka harus menikmati balasan-balasan atas tingkah laku selama hidup di dunia. Dan dimana mereka harus mempertanggungjawabkan segala perilaku yang pernah di perbuatnya selama diberi kesempatan hidup di dunia. Untuk itulah diperlukan pemahaman tentang arti dan makna hidup yang hakiki. Agar kita nantinya bisa berperilaku sesuai dengan tujuan dari kehidupan dunia yang sebenarnya.

Sadarilah bahwa kehidupan dunia ini tak ubahnya keikutsertaan manusia dalam sebuah audisi kehidupan akhirat. Keikutsertaan dalam sebuah kompetisi Iman dan amal atau perbuatan untuk menentukan siapa yang berhak atas warisan surga dan warisan neraka. Yang kemenangannya tidak di tentukan oleh wasit atau juri yang kadang subyektif dalam memberikan nilai. Tetapi penentu kemenangan dalam kompetisi kehidupan ini adalah masing-masing diri manusia itu sendiri. Karena Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk memilih dimana mereka kelak akan bertempat tinggal untuk menghabiskan waktu akhirat yang demikian kekal. Tentu dengan konsekwensi keadaan atau situasi di masing-masing tempat pilihan itu sendiri. Surga atau neraka.

Yakinlah bahwa Allah swt adalah seadil-adilnya dzat di alam semesta ini. Surga dan neraka yang kita kenal selama ini hanyalah sebentuk nama yang sebenarnya bisa diubah dengan mudah oleh Allah swt. dan jika memang benar tidak ada surga dan neraka, maka tetaplah beribadah kepada Allah swt. Karena kehidupan ini sendiripun telah memberikan bebagai kenikmatan kepada kita. Atas keadilan dan kebijaksanaan Allah swt, insya Allah di akhirat tetap ada dua tempat untuk dihuni sebagai balasan bagi mereka yang menang dan mereka yang kalah dalam kompetisi kehidupan dunia. Sehingga prinsip-prinsip logika tetap melekat dalam keseimbangan penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh sang Maha Pencipta, Allah subhanallahu wa ta`ala.

Selamat berkompetisi dalam kehidupan dunia untuk meraih kemuliaan di periode kehidupan yang lain yakni akhirat. Yang jauh lebih menjanjikan kenikmatannya dari pada hanya sekedar kenikmatan sesaat seperti yang kita jalani saat sekarang ini.

Sekian.

Surabaya, 28 September 2013.

Agushar.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2013 in Renungan

 

3 responses to “Andai Tiada Surga dan Neraka

  1. soni

    Desember 4, 2013 at 11:47 am

    Tulisan anda benar-benar mencerahkan.
    Semoga anda dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT.

     
    • Agus Hartono

      Desember 13, 2013 at 12:38 am

      Terima kasih Mas Soni, demikian juga, mudah2an anda dan keluarga selalu dalam lindungan Allah swt. Amiin.

       
  2. Allahuma sholi ala Muhammad

    Agustus 22, 2015 at 8:48 am

    sangat logis sekali mas Agus Hartono terimakasih atas uraian logis yang juga bermuara kepada agama.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: