RSS

Muslim Anti Korupsi

18 Nov

korupsiKorupsi itu endemik, karena menjangkiti masyarakat di posisi atau lapisan tertentu dan keberadaanya cenderung menetap atau tinggal secara permanen di hati dan otak pengidapnya. Selain endemik, korupsi juga epidemik, karena korupsi tak ubahnya seperti penyakit yang mewabah di komunitas tertentu dan hampir keseluruhannya pernah mencicipi indahnya korupsi. Selain endemik dan epidemik, korupsi juga dapat dimasukkan dalam kategori pandemik. Karena hampir semua lapisan masyarakat si seluruh negara di dunia ini cenderung melakukannya jika tersedia cukup kesempatan untuk melakukannya.

Ironisnya adalah hampir semua negara di dunia ini mengakui tentang keberadaan agama di negara mereka. Baik secara terang-terangan atau secara sembunyi. Karena masih ada juga sebagian kecil manusia yang masih meragukan berita tentang penantian dan kebangkitan manusia sesudah kematian. Sedangkan agama yang ada di dunia ini hampir pasti mengajarkan kepada pemeluknya untuk eksis dalam perbuatan baik dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Kecuali sekelompok kecil manusia yang memang gemar atau hobbi berenang atau menyelam dalam indah dan nikmatnya kemaksiatan. Mereka berkelompok dan cenderung menentang bahkan menghalalkan segala yang telah dilarang dalam ajaran agama.

Korupsi di Indonesia.

Negara kita adalah salah satu negara yang mayoritas masyarakatnya menyatakan diri telah beragama. Bahkan kita telah pula menyatakan dan menyakini bahwa agama yang kita anut ini merupakan the best religion yang pernah ada di muka bumi. Agama terbaik karena tidak satupun yang diajarkan atau diperintahkan boleh terkontaminasi oleh hal-hal yang telah diharamkan. Meski hanya setetes percikan yang keluar dari mulut botol arak masak atau terbersit dari pikiran dan hati yang paling dalam sekalipun. Demikian indahnya ajaran Islam yang kita anut ini hingga kita juga begitu yakin kalau nantinya surga benar-benar akan kita warisi dan bukan diwarisi oleh kelompok lain. Tapi mengapa korupsi yang jelas-jelas merupakan larangan agama justru berkembang begitu pesat dan sepertinya tak terkendalikan ?

Kembali pada pengertian dan tujuan awal adanya agama. Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan untuk berbuat jelek atau tidak baik. Apalagi agama Islam yang kita yakini saat ini. Tidak ada. Bahkan agama kita tidak memperbolehkan berpikir dan berkeinginan untuk berbuat sesuatu perbuatan yang telah jelas merupakan larangan. Tetapi kenyataan yang ada dan terjadi saat ini di negara kita adalah terjadinya korupsi di hampir semua komunitas institusi atau kelembagaan. Baik lembaga sosial kemasyarakatan, terlebih lagi lembaga negara. Bahkan hampir keseluruhan departemen yang dibangun di pemerintahan republik Indonesia tercinta ini. Semuanya menebarkan bau korupsi.

Ternyata Insan korup di negara kita ini tidak hanya berdiam di departemen non akhlak, tetapi di departemen yang kita anggap gudang akhlak pun aroma korupsinya justru tercium sangat menyengat. Demikian juga dengan departemen yang seharusnya menjadi pagar terhadap tindak korupsi. Mereka justru berlomba menjadikan dirinya sebagai pelopor tindak korupsi. Dan mereka sangat bangga. Lihat saja, dengan kepercayaan diri yang tinggi mereka menyangkal semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dengan kepercayaan diri yang tinggi pula mereka tampil di hadapan publik dengan kehidupan mewahnya. Bergelimang harta, bergelimang takhta dan bergelimang wanita pula.

Anehnya, disatu sisi kita memandang mereka dengan pandangan sinis dan penuh kebencian tapi disisi lain kita menyimpan bayangan indahnya kehidupan dunia para koruptor tersebut di memori otak kita. Sehingga, ketika datang kesempatan di suatu saat yang memungkinkan kita melakukan korupsi, kitapun mengambilnya dengan gagah berani. Dengan sedikit detergen kita mulai melakukan pencucian harta-harta hasil korupsi tersebut agar tidak kelihatan lusuh. Agar tak terlihat gembolan menggunung di saku kanan kiri kita. Kemudian kita pinjam kantong-kantong saudara kita, kantong teman-teman kita, kantong anak buah kita bahkan mungkin juga kantong-kantong sopir pribadi atau pembatu rumah tangga kita.

Ya,… sebenarnya bukan hanya mereka yang saat ini terlibat masalah korupsi saja yang menjadi koruptor. Mereka-mereka yang saat ini menjadi penontonpun berkesempatan besar menjadi koruptor. Termasuk diri kita yang saat ini berteriak bersih dan suci tapi sebenarnya justru bergelimang dosa karena pakaian yang sehari-hari kita pakai adalah pakaian kemunafikan. Berpenampilan sok alim, sok suci, sok intelek, sok pahlawan, sok kaya, sok baik, sok sayang sama rakyat tapi sebenarnya pengoleksi dosa. Seandainya dosa-dosa itu dikumpulkan hampir pasti semua pengoleksi dosa ini akan memenuhi klasifikasi sebagai anggota inti atau utama sebuah partai munafik yang siap berkompetisi di pemilu-pemilu yang akan datang.

Hasilnya ? Seperti yang kita lihat saat ini. Mayoritas pejabat hasil pemilu, baik yang duduk di kursi eksekutif, legislatif maupun mereka yang ditunjuk duduk dan berperan di yudikatif sangat mungkin pernah merasakan nikmatnya jadi koruptor. Mengapa ? Karena korupsi sudah dianggap sebagai sesuatu yang elok. Sesuatu yang perlu dicicipi. Sesuatu yang menjanjikan surga dunia. Sesuatu yang biasa terjadi dimana saja. Sesuatu yang bisa merealisasi mimpi. Sehingga mereka lupa tentang amanat suci sebagai pemimpin rakyat. Sebagai wakil rakyat. Sebagai panutan rakyat. Sebagai pengayom atau pelindung rakyat. Sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas nasib rakyat.

Yang terjadi kemudian adalah keterpurukan nasib rakyat kecil dalam jurang kemiskinan. Lebih banyak jadi bulan-bulanan mereka yang kuat dalam setiap perselisihan yang terjadi. Terabaikan dalam berbagai kepentingan. Baik kepentingan pendidikan, kepentingan kesehatan, kepentingan pelayanan sosial, pelayanan surat-surat terutama berkaitan dengan kepemilikan tanah. Semua permasalahan yang terjadi dan menimpa mayoritas rakyat kecil tersebut adalah akibat dari kelalaian para pemimpin, para wakil mereka di dewan dan para pejabat yang lebih sibuk memperkaya diri dan keluarga serta lebih mendahulukan kepentingan partai dari pada kepentingan rakyat.

Mengapa bisa terjadi demikian ?

Kemunafikan telah membungkus keinginan sebagian besar masyarakat kita. Meskipun secara kuantitas terbilang begitu besar. Bahkan mungkin merupakan komunitas muslim terbesar di dunia tetapi secara kualitas sangat jauh dari keimanan. Apalagi dalam koridor ketaqwaan justru sangat jauh dibawah garis ketertinggalan. Agama hanya dianggap sebagai syarat kependudukan atau identitas diri. Tak lebih dari itu. Tak ada ketakutan tentang ancaman di hari kiamat atau kehidupan akhirat. Meski telah secara jelas dan gamblang di terangkan dalam berbagai kesempatan, tetap saja tidak menimbulkan keinginan untuk memulai beragama secara benar sesuai tuntunan.

Terbuai dalam keduniawian. Lupa tentang kehidupan di masa depan. Bahkan lebih ekstrim lagi, berani menentang perintah Allah swt agar menjauhi semua yang dilarang. Meremehkan perintah sholat, meremehkan perintah membayar zakat, meremehkan perintah puasa. Bahkan senantiasa mendekati berbagai macam kemaksiatan yang banyak tersebar di berbagai tempat dan terpampang nyata di depan mata. Semua perilaku tersebut dikarenakan tidak adanya kepedulian terhadap keimanan yang ditawarkan oleh agama. Padahal begitu banyak informasi yang tersedia di masyarakat. Baik melalui lisan para alim ulama yang intens berceramah di berbagai media maupun secara langsung dalam sebuah acara pengajian. Hampir semua informasi tentang ajaran agama yang disampaikan para ulama di seantero negara kita ini tak ubahnya seperti angin yang bertiup. Tak meninggalkan bekas.

Penyebab utama perilaku korup.

Korupsi terjadi lebih banyak dikarenakan lemahnya Iman yang kita miliki. Kelemahan Iman itulah yang lebih banyak menjadi penyebab keberanian kita menentang perintah-perintah Allah swt. Berani melanggar larangan Allah, bahkan berani mengesampingkan keberadaan Allah swt. Dengan kata lain, kekuatan Iman seseorang itu berbanding lurus dengan ketaatannya kepada Allah swt. Iman yang lemah hanya memberikan efek ketaatan yang rendah pula. Sehingga bisa dikatakan sebagai Iman-imanan atau pura-pura beriman. Efek dari iman yang lemah ini adalah ibadah yang sekedarnya saja atau sekedar beribadah saja.

Sedangkan Iman yang kuat akan berefek pada ketaatan yang tinggi. Hal ini menunjukkan kebenaran Iman yang dimiliki oleh seseorang. Sehingga perilaku ibadahnyapun menunjukkan tidak hanya sekedar ibadah. Kesungguhan dalam ibadah itu akan terlihat dengan jelas oleh orang lain bahkan dapat pula dirasakan. Kekuatan Iman ini menimbulkan efek ketakutan yang sangat akan ancaman adzab seperti yang diinformasikan dalam kitab. Sehingga perbuatan maksiat yang paling ringanpun hampir tidak mendapatkan tempat di hati orang-orang yang seperti ini. Juga memberikan efek tidak memperdulikan hukum pidana. Meski hukuman penjara yang dikenakan demikian ringan. Bahkan sangat ringan sekalipun. Mereka tak kan pernah tergiur.

Kelemahan Iman manusia inilah yang lebih banyak dipergunakan oleh syetan untuk mempengaruhi pikiran dan hatinya. Selain menyerang secara langsung pada diri seseorang yang berpeluang untuk berbuat korupsi, syetan juga menggunakan jalan lain dengan mempengaruhi keluarga orang tersebut. Baik itu istri, anak, orang tua, mertua saudara bahkan orang-orang dekat dari yang bersangkutan. Dengan jalan ini syetan hampir selalu berhasil mendorong manusia untuk bertindak korup. Oleh karena itulah pada setiap kasus korupsi yang terjadi pada seseorang, hampir pasti keluarganya mempunyai peran atas terjadinya tindak korupsi tersebut. Meski kadang terlihat begitu samar.

Selain kelemahan Iman, korupsi juga bisa disebabkan karena lemahnya hukum di negara kita. Bahkan banyak pula yang mengatakan tidak ada kepastian hukum di negara kita ini. Hal ini mungkin bisa terjadi karena para penegak hukum justru lebih sering melanggar hukum itu sendiri. Seperti pagar makan tanaman. Sehingga mereka menerapkan hukuman untuk para koruptor dengan hukuman ringan. Tentu saja ringannya hukuman itu akibat dari suap terdakwa ke para penegak hukum. Kenyataan seperti inilah yang juga menjadi penyebab tidak jeranya para koruptor dan calon koruptor di negara ini. Sehingga bisa pula diambil kesimpulan kalau di negara kita ini tidak akan pernah kehabisan bibit-bibit koruptor karena keinginan korupsi itu sendiri sudah mendarah daging sampai ke anak cucu.

Memberantasnya ?

Hanya ada dua jalan atau cara. Yang pertama adalah meningkatkan keimanan kita kepada Allah swt. dan yang kedua memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku korupsi dengan mengesampingkan rasa belas kasihan dan kemanusiaan. Inilah yang berat bagi sebagian besar masyarakat kita. Sa`no dan gak tego kadang mempunyai peran besar dalam menentukan tinggi rendahnya vonis atau putusan hukum. Meski, untuk memunculkan rasa sa`no dan gak tego tersebut kebanyakan terdakwa harus mengeluarkan uang yang jumlahnya kadang begitu fantastis. Ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Yah, memang begitulah potret hukum di negara kita. Kalau seorang ketua Mahkamah Konstitusi mau melakukan korupsi, apalagi yang bisa kita harapkan dari institusi hukum di negeri ini?

Sedangkan cara pertama, yakni meningkatkan keimanan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Kalau itu dilakukan masing-masing personal atas kemauan sendiri memang jauh lebih baik dan lebih berefek. Sedangkan menjaga Iman itu sendiri bukan pula merupakan hal yang mudah. Dibutuhkan usaha ekstra untuk menjaga Iman yang sudah kita miliki. Karena lawan kita yang sebenarnya tak akan pernah menyerah begitu saja. Pasukan syetan akan selalu berusaha untuk melumpuhkan sendi-sendi keimanan yang dimiliki manusia dengan berbagai cara mereka. Ironisnya, kita lebih banyak tidak menyadari penyamaran yang dilakukan kebanyakan pasukan syetan.

Iming-iming uang berlimpah, ditambah wanita cantik dan gempuran syetan di sekujur tubuh kitapun kadang tak kuasa untuk di tolak. Apalagi tak ada kehadiran Allah di hati kita. Hampir pasti bangunan Iman kita akan roboh pula. Akan berbeda jika Allah swt selalu hadir dalam kesadaran kita, apapun bentuk iming-iming keduniaan tak akan berefek pada keteguhan Iman. Tetapi sangat jarang ada manusia yang demikian kuat imannya pada zaman ini. Karena rata-rata bangunan iman manusia pada saat ini terbuat dari bahan yang tidak berkualitas. Sehingga sangat rapuh dan mudah runtuh. Lantas bagaimana agar supaya kita bisa membangun iman yang kokoh dan tidak mudah di gerogoti syetan?

Tidak ada waktu untuk berpaling dari Allah swt. Dengan memperdalam ilmu agama melalui jalur yang benar insya Allah, Allah swt akan selalu hadir dalam hidup kita. Intens dalam mengingat Allah melalui dzikir via kalimat thoyyibah akan sangat membantu. Memperbanyak shalat malam dan berusaha untuk memahami firman-firman Allah dalam Al Qur`an akan sangat bermanfaat. Jika memungkinkan, berusahalah untuk menghafal ayat-ayat Allah dengan bacaan secara tartil daripada berkaraoke dengan makna lagu yang gak jelas. Karena sebagian manusia lebih suka berkaraoke dengan fasilitas mahal dari pada melantunkan ayat-ayat Allah dengan lantunan irama yang begitu indah dan bermakna.

Membuat jadwal untuk mengikuti pengajian secara rutin minimal seminggu sekali juga sangat bermanfaat untuk menjaga ingatan kita kepada Allah serta menambah wawasan ilmu agama kita. Usahakan tiada hari tanpa mengingat Allah. Dengan shalat sunnah dan membaca Qur`an secara intens di setiap waktu yang lowong. Tetap mengingat Allah meski kita sedang melakukan kegiatan atau rutinitas sehari-hari. Jika kita bisa melakukan hal-hal tersebut berarti kita sudah berusaha untuk menghadirkan Allah swt dalam waktu-waktu kesadaran kita. Dan yang tidak kalah penting adalah jangan tujukan hati dan pikiran pada sesuatu yang kiranya tidak begitu kita butuhkan.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا﴿٩﴾وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا﴿١٠﴾

(9) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

(10) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Bisakah semua hal tersebut digunakan untuk menangkal keinginan untuk korupsi?

Sumber keserakahan adalah keinginan jiwa yang ditunggangi oleh syetan. Jiwa memang perlu diisi dan tidak boleh kembali kehadlirat Allah dalam keadaan kosong. Hal ini berlaku bagi mereka sempat merasakan indahnya dunia hingga ajal menjemput. Ayat diatas begitu jelas maknanya. Beruntunglah orang yang mensucikan jiwa. Jiwa yang suci adalah jiwa yang terisi oleh sesuatu yang bersih dan mengandung kebaikan. Hal ini bisa kita lakukan kalau kita memfilter setiap keinginan yang keluar dari hati dengan kekuatan Iman. Sehingga perilaku-perilaku yang terekam dan tersimpan di dalam jiwa nantinya adalah sesuatu yang baik. Jiwa akan tetap dalam kesucian ketika sesuatu yang tersimpan di dalamnya adalah sesuatu yang baik dan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah swt. Mereka inilah yang kelak akan mendapatkan keuntungan di akhirat

Tetapi jika yang terekam dan tersimpan dalam jiwa adalah sesuatu yang buruk, maka bisa dikatakan bahwa jiwa tersebut adalah jiwa yang penuh dengan kotoran. Orang yang jiwanya penuh dengan sesuatu yang kotor inilah yang kelak mendapatkan kerugian di akhirat. Termasuk di dalamnya mereka yang mengotori hati dengan keinginan-keinginan untuk berbuat korupsi dan maksiat-maksiat lainnya. Maka semua kembali kepada diri kita sendiri. Mau mewarisi surganya Allah swt, atau justru secara ikhlas menyediakan diri sebagai penghuni neraka. Jika pilihan terakhir yang menjadi obsesi, ya,…sepertinya tak kan pernah habis beneran stock koruptor di negara ini.

Sekian,

Surabaya, 16 Nov 2013.

Link : http://www.nu.or.id/

http://www.aswajanu.com/

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2013 in Renungan

 

Tag: , , , ,

One response to “Muslim Anti Korupsi

  1. Muhamad Murodin

    Januari 11, 2014 at 3:36 am

    Korupsi, gak jaman kalii…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: