RSS

Suara Rakyat Suara Tuhan

25 Nov

Allah々Suara rakyat.
Demokrasi menempatkan rakyat sebagai penguasa tertinggi dalam sebuah negara. Sehingga yang berhak menentukan pemimpin, baik yang ada di dewan perwakilan ataupun yang berada di pemerintahan hanyalah rakyat. Masalahnya adalah, ketika rakyat memilih dan menentukan siapa yang akan mewakili dan memimpin mereka, rakyat sudah dalam keadaan terbelah. Pecah terbagi dalam beberapa atau bahkan banyak kelompok yang membawa fanatisme masing-masing. Sehingga setelah proses pemilihan dan penentuan itu paripurna, yang terjadi adalah lahirnya dua sikap antara menerima hasil pemilu atau justru menolak hasil pemilu.

Hal seperti itu terjadi hampir di banyak negara di dunia, terutama negara yang rakyatnya belum matang atau belum mencapai kedewasaan dalam berpikir. Mayoritas masyarakat di negara sedang berkembang atau negara berkembang belum memahami atau bahkan tidak paham tentang kata amanat yang terkandung dalam sebuah kepemimpinan. Sehingga yang terjadi kemudian adalah sebuah pengakuan sekaligus pengingkaran sebuah proses demokrasi itu sendiri. Benarkah bisa dikatakan demikian? Mungkin benar tetapi mungkin juga bisa dikatakan salah. Karena perbedaan memang harus terjadi untuk memberikan ruang pada sebuah kebenaran yang relatif.

Suara Tuhan.
Ingatkah kita ketika Allah swt hendak mengangkat khalifah di muka bumi? Atau kalau memang belum pernah membaca saya coba nukilkan dari Al Qur`an tentang penetapan Nabi Adam as. Sebagai khalifah atau pemimpin kehidupan di permukaan bumi.

Pada awal-awal penciptaaan manusia, Allah berfirman kepada para malaikat :
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ
“,..Innii jaa`ilun fiil ardhi khalifatan,….sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.”

Khalifah disini ditafsirkan seorang pemimpin. Seorang pemimpin di muka bumi yang mewakili Allah dalam melaksanakan hukum-hukum atau peraturan-peraturan Allah. Yang dimaksud disini adalah Adam as.

Kemudian para malaikat mengajukan pertanyaan kepada Allah :
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ
“,…`ataj`alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfikud dimaa`a wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisu laka,….mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?

Orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah yang ada pada saat itu adalah bangsa jin, yang selalu membuat kerusakan dan pembunuhan. Yang sama-sama menempati atau mendiami bumi (?) atau mungkin juga sudah ada makhluk lain selain manusia tetapi bentuk fisiknya mirip manusia yang kegemarannya hanya melakukan perusakan terhadap alam dan saling membunuh (?).

Dan pertanyaan para malaikat ini di jawab oleh Allah dengan firmannya kepada malaikat :
إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴿٣٠﴾
“,…..`Innii a`lamu maa laa ta`lamuuna”. “sesungguhnya Aku mengetahi apa yang tidak kamu ketahui” QS. Al Baqarah 30.

Diantara malaikat dan iblis itu ada yang berkata : Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih tahu dari kami, karena kami lebih dulu dan melihat apa yang tidak dilihatnya. Maka kemudian Allah menciptakan Adam dari bermacam unsur tanah dan bermacam jenis air yang lalu dibentuk dan ditiupkan ruhNya, hingga berbentuk makhluk yang hidup dan dapat merasakan sesuatu yang ada di sekitarnya.

Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat dengan firmannya :
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ﴿٢٩﴾
”Fa`idzaa sawwaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhii faqa`uu lahu saajidiina”,…..Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” QS. Al Hijr 29. ayat serupa di QS. shaad 72.

disebutkan juga di ayat lain, bahwa Allah telah menciptakan nabi Adam dan memerintahkan kepada malaikat :
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ﴿١١﴾
“Wa laqad khalaqnaakum tsumma shawwarnaakum tsumma qulnaa lil malaa`ikatisjuduu li aadama fasajaduu illa `ibliisa lam yakun minas saajidiina”.,….”Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” QS. Al A`raaf 11.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ﴿١١٦﴾
“Wa `idz qulnaa lil malaa`ikatisjuduu li aadama fasajaduu illa `ibliisa `abaa”,….”Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” QS Thahaa 116. ayat serupa di QS. Al Baqarah 34, QS. Al Hijr 30-31, QS Shaad 73-74, QS. Al Israa` 61,

Demikianlah nukilan ayat-ayat yang mengabarkan tentang pembangkangan iblis disaat Allah swt. menentukan siapa yang nantinya menjadi pemimpin kehidupan di bumi. Mungkin kita bisa membantah dan mengatakan, “Jangan bandingkan pemilu di negara demokrasi dengan pemilihan dan penetapan Nabi Adam as sebagai khalifah di muka bumi”. Tetapi saya juga yakin kalau bantahan semacam ini hanyalah alasan untuk melegalkan sebuah pilihan sikap untuk tidak menerima hasil pemilu karena berbagai macam alasan. Dalam penetapan khalifah jelas, yang menerima penetapan Allah swt adalah Malaikat. Sedangkan yang mengingkari penetapan Allah swt adalah Iblis.

Mestinya kita bisa mengambil pelajaran dari Al Qur`an, karena Al Qur`an diturunkan sebagai petunjuk dan pelajaran. Setidaknya, ketika selesai proses pesta demokrasi hendaknya kita mengakui hasil yang ada dengan kebesaran hati. Sedangkan hal-hal berkaitan dengan kecurangan-kecurangan yang mungkin saja terjadi tetap di proses dengan kepala dingin. Tidak lantas berteriak lantang menolak dan mengatakan ilegal serta menempatkan diri di posisi sama dengan yang diambil oleh iblis dan pasukannya. Menghasut sana menghasut sini. Menebar berita seakan hanya dirinya yang paling benar. Menjelek-jelekkan kinerja pemerintah. Sebuah perilaku yang tak pantas dilakukan oleh seseorang yang mengatakan dirinya ber-iman.

Pengangkatan Nabi Adam as sebagai Khalifah adalah sebuah pelajaran bagaimana memilih dan bersikap tentang pemilihan itu sendiri. Allah telah menentukan yang terbaik untuk kepemimpinan makhluk di permukaan bumi. Dua makhluk pesaingnnya yakni Malaikat dan Iblis telah pula menentukan sikapnya. Yang satu berkonotasi baik satunya lagi berkonotasi buruk. Tentu saja kita sebagai makhluk harus mengambil sikap yang baik. Bukan keburukan yang harus kita pelihara sampai batas waktu hidup kita berakhir. Mestinya kita harus menentukan sikap seperti yang di ambil Malaikat. Bekerja bersama dengan mereka yang nyata-nyata terpilih dan berkesempatan untuk memimpin beberapa waktu ke depan.

Ingatlah bahwa negara dan bangsa ini tanggung jawab seluruh masyarakat atau warga negara. Terutama mereka yang merasa diri menjadi pemimpin. Baik dalam masyarakat skala kecil maupun dalam skala besar yang tergabung dalam kelompok atau golongan. Jangan jadikan pemilu sebagai ajang pemisah rakyat dan pemerintah. Jangan jadikan pemilu sebagai ajang pembantaian karakter seseorang yang nyata-nyata lebih diminati warga negara. Jadikanlah pemilu sebagai perekat berbagai perbedaan yang terjadi. Jangan memelihara sifat benci dan dendam. Karena benci dan dendam itu merupakan sifat warisan Iblis.

Bersabarlah seperti yang telah dilakukan oleh ketiga sahabat Rasulullah saw, sayyid Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ketiga sahabat tersebut mempunyai kesabaran yang luar biasa. Sehingga ketiganya berkesempatan untuk menjadi pemimpin umat Islam, meski kurun waktu memimpin mereka relatif berbeda. Tapi ketaatan ketiga sahabat pada pemimpin yang terpilih seharusnya memberikan referensi buat umat Islam untuk mencontoh keteladanan mereka. Mendukung dan membantu pemerintah demi kebesaran dan kekuatan agama serta bangsa dan negara. Tak ada pilihan untuk membangkang. Yang ada hanyalah pengakuan dan ketaatan serta dukungan yang positif demi kejayaan bangsa dan negara.

Besarkanlah hati untuk menerima apapun yang telah menjadi ketentuan Allah swt. Termasuk menerima apapun hasil pemilu, baik sebagai pemenang maupun sebagai pihak yang kalah. Bantulah pemerintah bekerja untuk mensejahterakan rakyat. Dengan hati yang tulus dan tidak malah berusaha menjatuhkan dengan berbagai tipu daya. Sepertinya membantu tapi sebenarnya justru menjatuhkan kredibilitas pemerintah. Seperti yang dilakukan oleh beberapa media yang sudah hampir kehilangan netralitas. Berhentilah dari usaha tersebut. Berbuat baiklah. Karena sesungguhnya perbuatan baik itu akan mendatangkan manfaat. Baik bagi diri kita maupun bagi orang lain di sekitar kita. Dan jadikanlah hidup ini indah dengan mengisi sisa-sisa umur dengan sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat.

Selesai.

Surabaya, 22 November 2013

Agushar

Nukilan ayat dari tulisan saya sebelumnya, Pembangkangan Iblis.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 25, 2013 in Renungan

 

Tag: , , , ,

3 responses to “Suara Rakyat Suara Tuhan

  1. Adie

    Februari 11, 2014 at 11:06 am

    Sebenarnya saya termasuk pribadi yg kurang setuju dengan demokrasi, demokrasi sudah gagal mnurut pandangan sya

     
  2. hisham el qaderie

    November 20, 2014 at 2:41 am

    masak sih suara rakyat suara tuhan. musyrik dong kita.

     
    • Agus Hartono

      November 28, 2014 at 5:38 am

      Yah, memang kalau dimaknai sekedarnya memang terkesan seperti itu. Tapi kalau dimaknai dalam konteks “Pemilu” di sebuah negara dibandingkan dengan “Pemilihan Khalifah Bumi” oleh Allah swt, pasti akan ketemu makna sebenarnya. Itulah, maka tafsir manusia itu lebih banyak bersifat subyektif. Apalagi terhadap Al Qur`an dan Hadist. Maka dari itu banyak sekali terjadi perbedaan pendapat yang mengakibatkan terpecah belahnya umat di bumi. Makasih Hisyam,..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: