RSS

PEMILU SERENTAK

21 Jan

pemiluEntah kenapa tiba-tiba muncul wacana pemilu serentak di kalangan elit politik negeri ini. Apa kira-kira motivasi dari usaha memunculkan wacana pemilu serentak ? Menciptakan pemilu yang simple dan minim biaya ? Atau berusaha menerapkan prosedur sesuai dengan undang-undang tentang pilpres ? Atau justru usaha untuk mengebiri prosedur yang saat ini sedang berjalan ? Atau bahkan hanya usaha untuk menuruti syahwat mereka yang berambisi untuk menjadi presiden lewat jalur instan tanpa harus bersusah payah membangun kekuatan partai politik ? Bisa jadi alasan inilah yang paling masuk akal, mengingat di negara kita ini banyak sekali orang yang merasa diri mampu dan bisa berbuat sesuatu untuk negara ini. Tetapi jangan lupa kalau banyak sekali dari mereka yang tidak bisa “ngrumangsani” kalau diri mereka termasuk dalam kategori “ono gak nambahi, gak ono yo gak ngurangi”

Alasan bahwa yang paling penting dimiliki oleh calon presiden adalah leadership atau kepemimpinan memang benar. Menekan besarnya biaya pemilu juga “baik dan halal”. Membuka kesempatan atau jalan bagi tokoh-tokoh masyarakat diluar partai juga “bisa diterima” oleh akal. Yang tidak bisa diterima oleh akal adalah apabila wacana pemilu serentak ini hasil dari akal-akalan mereka yang yang selama ini sudah dibuang di bak sampah pemilu karena berkali-kali menjadi peserta pilpres, berkali-kali pula berhasil dipecundangi oleh masyarakat pemilih. Atau akal-akalan dari mereka yang masuk dalam kategori “mustahil” jadi capres karena hanya berani berkoar di luar institusi partai politik. Orang-orang seperti ini hanya mau mencicipi sekaligus menikmati kekuasaan tanpa bersedia menanggung susah dan sulitnya berjuang membangun partai politik.

Atau mungkin juga usaha menggulirkan wacana pemilu serentak ini berlatar belakang “keputusasaan” dari mereka yang sudah kalah sebelum bertanding di pemilu yang akan datang. Mereka menggiring opini masyarakat untuk menerima alasan-alasan yang mereka kemukakan di media tentang besarnya biaya pemilu. Padahal didalamnya ada maksud “busuk” untuk untuk memotong sayap-sayap partai serta melumpuhkan kaki-kaki-nya agar tidak lagi bisa selalu mendominasi kepesertaan capres di setiap pemilu. Jelas ini adalah usaha untuk mengebiri partai-partai besar yang notabene peraih electoral threshold tinggi yang telah “dihalalkan” untuk mengajukan capres dalam pilpres yang dilaksanakan beberapa waktu setelah pemilihan anggota legislatif. Dan semakin jelas pula kalau usaha ini kemungkinan besar dilakukan oleh mereka yang berpenyakit hati tapi tak pernah kehilangan ambisi untuk menjadi orang nomer satu di negeri ini.

Selalu ada baik dan buruknya.

Sebenarnya pemilu serentak ada baiknya juga. Tapi aturan pencapresannya juga harus di atur sesuai dengan akal sehat. Hanya partai yang meraih ET tinggi atau partai yang berkoalisi untuk memenuhi minimal syarat raihan ET pemilu periode sebelumnya yang bisa mengajukan capres di pilpres yang akan datang. Tidak boleh partai baru atau partai-partai gurem dengan seenaknya sendiri mengajukan capresnya. Boleh saja mereka beralasan karena yang dibutuhkan dari seorang presiden adalah kepemimpinan atau leadership yang tinggi. Tetapi kita bisa bayangkan bagaimana seandainya seorang presiden terpilih dari partai gurem yang bermodal popularitas atau dari tokoh masyarakat yang nantinya tidak didukung oleh mayoritas anggota parlemen di DPR ? Tentu kita tinggal menunggu kapan pemakzulan presiden itu akan terjadi.

Memang kita tidak pernah memungkiri kalau pemilu di negara kita saat ini sudah sampai pada taraf “penghamburan” uang rakyat. Kita lihat saja, ada pileg, pilpres, pilgub, pilwali atau pilbup. Beberapa diantaranya berkesempatan untuk berjalan dua kali jika memang mengharuskan untuk diulang. Sepertinya hidup kita ini penuh dengan pemilu. Hasilnya ? Tak ada yang istimewa, bahkan justru semakin memperbesar kesempatan bagi para koruptor di negeri ini untuk menjalankan aksinya. Itulah mengapa diperlukan sistem pemilu yang simple tapi berkualitas. Tentu saja pemikiran ini harus beralasan hanya demi kepentingan rakyat dan negara. Tak boleh ada sesuatu yang “membonceng” bergulirnya wacana pemilu serentak dengan tujuan memaksakan syahwat kekuasaan. Apalagi muncul dari mereka yang sebenarnya sudah terbuang di arena pilpres sebelumnya.

Pemaksaan perubahan sistem pemilu dalam kurun waktu yang pendek mengisyaratkan adanya kekuatan kepentingan pribadi untuk tetap ngotot ikut dalam pilpres yang akan datang. Disamping takut kehilangan kesempatan nyapres untuk yang kesekian kalinya. Oleh karena itu, “ramai-ramai” bersama masyarakat independen, mereka berusaha mencari celah dengan mengkritisi undang-undang dengan meletakkan harapan pada belas kasihan Mahkamah Konstitusi. Jika berhasil maka akan banyak lahir partai-partai gurem dengan figur capresnya masing-masing. Bisakah kita membayangkan apa yang akan terjadi ? Presiden dari partai gurem karena pemilihnya “milih sambil merem”. Lantas bisakah pemerintahan berjalan lancar kalau tidak mendapatkan dukungan partai besar di parlemen ?

Ramai-ramai nyapres.

Yang juga kita tidak habis pikir, mengapa terselip di benak kita bahwa semakin banyak calon semakin banyak pilihan. Padahal di negara kita ini semakin banyak calon presiden berarti semakin banyak calon yang tidak berkualitas. Dan itu juga berarti memperbesar kemungkinan kesalahan dalam memilih presiden. Padahal kita tahu kalau jabatan presiden itu bukan sesuatu yang main-main. Diperlukan ilmu dan kemampuan yang luar biasa dalam mengemban dan menjalankannya. Itulah kenapa saya bilang banyak diantara tokoh-tokoh atau mereka yang merasa dirinya tokoh tidak pernah bisa merasa bahwa keinginan yang muncul untuk mencalonkan diri menjadi presiden adalah “bisikan setan”. Atau bahkan kinerja “iblis”. Ya karena selama ini mereka mengikuti langkah yang diambil oleh iblis dalam pemilihan “khalifatul Ardh”.

Ada yang bukan dunianya, bahkan jauh dari dunia politik memaksakan diri untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atau bahkan mengincar jabatan eksekutif. Baik walikota, bupati, gubernur atau bahkan presiden sekalipun. Orang-orang seperti inilah yang kata orang jawa “gak grayahi jitho`e”. Atau ada yang sudah beberapa kali terjungkal di pilpres sebelumnya tapi masih ngotot untuk merebut kekuasaan melalui jalur yang sama. Padahal sudah nyata kalau rakyat tidak pernah menghendaki dirinya. Haruskah rakyat memungut lagi capres yang telah atau pernah dibuang jauh-jauh dari benaknya ? Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. Karena mustahil di negeri sebesar ini tak ada seorangpun diluar mereka (eks capres) yang mempunyai kemampuan untuk memimpin rakyat.

Sebenarnyalah mereka yang terlihat ambisi besarnya untuk menjadi pemimpin tidaklah layak dipilih menjadi pemimpin. Karena dikhawatirkan ada suatu tujuan lain yang jauh lebih besar dibalik keinginannya menjadi pemimpin atau penguasa. Tujuan lain inilah yang sangat perlu diwaspadai karena kebanyakan lebih bersifat pribadi, keluarga, teman atau kolega, dan golongan atau partai. Setiap pemimpin sangat sulit untuk melepaskan diri dari jerat kepentingan pribadi dan partai yang mengantarkannya menjadi seorang penguasa. Itulah mengapa pula sangat sulit memberantas korupsi. Sama sangat sulitnya untuk memilih pemimpin yang ideal untuk negeri ini. Meski secara logika dengan jumlah penduduk yang melimpah tidaklah sulit untuk menemukan “khalifah” yang benar-benar mengabdi kepada Allah swt serta menguras “energinya” untuk kepentingan bangsa dan rakyatnya.

Aturan pemilu saat inipun juga tidak bisa dibilang jelek. Syarat pengajuan capres oleh partai yang dominan juga sangat masuk akal. Karena hal itu adalah buah dari sebuah perjuangan partai yang panjang. Tetapi dampak buruknya juga terlihat dengan jelas dimata kita. Pemborosan uang rakyat yang luar biasa. Belum lagi kerugian sektor industri dengan berkali-kali memaksakan diri untuk libur atau tidak berproduksi. Seharusnya biaya yang sangat besar dari penyelenggaraan pemilu bisa digunakan untuk kepentingan rakyat. Masih terlalu banyak rakyat yang membutuhkan uluran tangan Pemerintah. Di awal tahun 2014 ini saja kita bisa melihat betapa berat penderitaan rakyat akibat bencana banjir. Bahkan bencana itu melanda sebagian besar wilayah ibukota yakni Jakarta. Lantas masihkah kita berbicara tentang syahwat kekuasaaan ?

Memang sulit menjadi orang bijak. Bijak pada diri sendiri maupun bijak pada orang lain. Memaksakan diri untuk memulung dukungan sementara mereka tidak pernah mendukung kita adalah sebuah sikap yang tidak bijak pada diri sendiri. Sedangkan memaksakan diri untuk menjadi pemimpin sementara orang lain tidak mau kita yang memimpin mereka adalah sikap tidak bijak pada orang lain. Seharusnya kita tahu diri dan tidak memaksakan kehendak untuk menjadikan diri sebagai pemimpin bangsa ini jika kita sudah tahu kalau mayoritas rakyat tidak menghendaki kita. Masih banyak ruang dan tempat untuk mengabdi pada rakyat dan bangsa ini. Tidak harus menjadi yang nomer satu. Lebih baik kita sama-sama mengingat kalau lahan untuk berbuat baik itu sangat luas. Seluas langit dan bumi.

Untuk itulah hendaknya kira menyadari bahwa tanggung jawab bangsa ini tidak hanya terletak pada pundak seorang pemimpin saja. Semua warga negara mempunyai tanggung jawab yang sama. Maka sudah seharusnya semua dari kita tidak saling menyerang satu sama lain hanya karena berebut kekuasaan. Marilah. Marilah kita pikul bersama-sama beban kepemimpinan negara ini dibawah kendali siapa saja yang memang telah di kehendaki oleh rakyat. Jangan sakit hati ketika ide-ide kita tidak terakomodasi oleh pemerintah. Kita harus yakin bahwa pemikiran kita bukanlah satu-satunya pemikiran yang paling benar. Banyak orang lain yang jauh lebih baik dan lebih benar dari apa yang kita tawarkan.

Berusahalah selalu untuk menjadi orang bijak. Karena orang-orang bijak di negeri ini sudah lama pergi meninggalkan kita. Mereka hanya mewariskan sikap dan perilaku yang benar-benar “lillahi ta`ala”. Mewariskan sikap saling menghormati sebagai sesama makhluk Allah swt. tidak perduli mereka dari keturunan siapa, suku apa, warna kulitnya apa, bahasanya apa, status sosialnya bagaimana. Tetap kita harus menghormati dan tidak memandang rendah kepada mereka. Dengan kata lain, kita harus membuka kembali buku panduan hidup agar semua sisi kehidupan kita bisa tergores dengan catatan-catatan indah sebagai bekal untuk mengembara di dunia lain selain dunia yang kita tempati saat ini. Terakhir, janganlah kita berperang pendapat dihadapan publik dengan emosi yang meledak-ledak. Berbicaralah dengan arif. Masyarakat negara ini sudah bisa menilai mana pribadi yang baik dan mana pribadi yang tidak baik dari cara mereka berbicara.

Sekian.

Surabaya, 21 Januari 2014

agushar

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 21, 2014 in Uncategorized

 

Tag: ,

2 responses to “PEMILU SERENTAK

  1. Toko Furniture Jepara

    Juni 5, 2014 at 3:31 pm

    bagus mas, artikelnya , terimaksih sanagt membantu,, salam kenal

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: