RSS

Penyakit Hati Yang Berbahaya.

24 Jan

H€@%+ $!ÇkPernahkah anda mendengar seorang ulama` memasang tarif mahal untuk sebuah undangan ceramah? Atau seorang ulama` yang diskriminatif dalam menghadiri undangan ceramah? Atau seorang ulama` yang selalu berbohong dalam perilaku sehari-harinya? Atau seorang ulama` yang bergelimang harta dan mempublikasikan hartanya di masyarakat luas? Atau mungkin juga ulama` yang senantiasa mempromosikan usaha travel haji & umrohnya? Ya,… memang itulah kenyataan yang banyak kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini. Banyak dari kita memuliakan para ulama`, tapi banyak juga dari kita yang kehilangan akal sehat dalam menilai mereka.

Sebenarnya, mereka para ulama` yang berperilaku seperti gambaran diatas adalah mereka yang sedang sakit atau mengidap sesuatu penyakit. Seperti penyakit manusia pada umumnya, mereka justru lebih mudah terserang beberapa penyakit hati. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari para mereka ini lupa pada jalan yang seharusnya mereka lalui. Jalan Allah itu membersihkan hati dari segala kekotoran atau kepentingan duniawi semata. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang mengatakan dirinya ulama` atau orang alim atau yang berilmu justru terjebak ke dalam suatu sifat yang selalu mereka dengungkan dalam setiap ceramahnya di depan masyarakat sekitarnya.

Mereka yang mengaku ulama` atau ustadz kadang justru terlihat tak lagi mengindahkan keikhlasan sebagai “ruh”nya ibadah. Sehingga mereka harus atau terpaksa mempertimbangkan “tarif” dalam setiap kali undangan yang diterimanya. Kadang juga harus atau terpaksa memilih undangan siapa yang harus di utamakan meski mereka sudah sanggup bersedia datang di undangan sebelumnya. Juga ada ulama` yang terpaksa harus berbohong habis-habisan untuk meyakinkan mereka yang datang kepadanya demi sebuah harapan. Baik menyangkut keduniawian atau sebuah kesembuhan dari suatu penyakit. Ada juga ustadz atau ulama` yang setiap hari selalu mempromosikan biro perjalanan yang dikelolanya demi keuntungan yang berlimpah ruah.

Perilaku-perilaku seperti tersebut diatas itu sebenarnya telah keluar dari keikhlasan yang menjadi ruhnya ibadah. Hal ini seperti tidak disadari sepenuhnya oleh mereka para alim atau mereka yang berilmu agama. Sejujurnyalah, penyebab hal-hal seperti ini terjadi tidak lain hanyalah kecenderungan kepada dunia yang jauh lebih besar dari pada kecenderungan akhirat. Sehingga dengan mudahnya setan membelokkan perilaku yang seharusnya tetap dalam koridor ikhlas karena Allah swt menjadi ikhlas karena duniawi semata. Memang, harus kita akui juga kalau penyebab perilaku tersebut juga sangat besar di pengaruhi oleh orang terdekat dikehidupan mereka sendiri. Misal, keluarga. Kadang tuntutan istri atau anak bisa menjadi penyulut terjadinya hal-hal tersebut diatas.

Marilah kita coba untuk sedikit mengulas kejadian-kejadian atau perilaku mereka yang mengatakan dirinya orang alim di masyarakat. Tidak usah terlalu jauh pada mereka yang berada di level atas, kita perhatikan saja mereka yang berada di level kampung. Sifat-sifat dibawah ini seakan telah melekat erat di hati mereka.

Sombong.

Merasa dirinya paling berilmu, sehingga menganggap orang lain semuanya bodoh. Merasa dirinya paling bener, sehingga tidak ada orang lain yang lebih bener dari dirinya. Merasa dirinya paling mulia di tengah masyarakat, sehingga orang lain harus hormat dan tunduk pada dirinya. Merasa paling berhak jadi Imam, sehingga tidak mau shalat dibelakang orang (imam) lain. Merasa paling pantas menduduki jabatan takmir, sehingga tidak rela ada orang lain yang terpilih menjadi takmir selain dirinya. Merasa paling berhak atas masjid, sehingga tak rela kalau ada orang lain yang ikut cawe-cawe dalam kegiatan atau kebersihan masjid.

Tidak jarang kita menemui orang-orang yang berperilaku seperti tersebut di lingkungan tempat tinggal kita. Sehingga kadang menimbulkan rasa sebel pada mereka. Akibatnya orang lebih suka menjaga jarak dengan mereka. Malas berjama`ah ke masjid karena tidak senang dengan segala kesombongan yang nampak dalam perilaku kesehariannya. Dan kebanyakan orang tidak lagi menaruh kepercayaan lagi pada mereka. Kalaupun harus berhubungan lebih banyak dikarenakan keterpaksaan. Misal karena jabatannya sebagai modin mengharuskan kita berurusan dengan mereka dalam hal perkawinan ataupun peristiwa kematian diantara keluarga kita.

Ujub atau Riya.

Selalu memamerkan segala perilakunya yang dianggap baik dan benar. Sehingga setiap bertemu orang selalu bercerita tentang apa yang baru saja telah dilakukan. Selalu menceritakan masa-masa lalunya dengan berharap orang akan takjub dan manggut-manggut. Mengeraskan bacaan Qur`an dengan pengeras suara meski tidak begitu diperlukan. Masih mending kalau enak di dengar, dan kebanyakan memang tidak enak di dengar. Karena tidak semua orang mempunyai kemampuan baca dan suara yang bagus dan indah. Tampilannya seperti benar-benar manusia yang religius. Sarung, kopiah, gamis, jubah dan selendang melingkari leher hampir tak pernah tanggal dari jasad atau tubuhnya.

Setiap selesai shalat dia beritakan kepada banyak orang. Setiap sedekah yang dilakukan dia beberkan ke masyarakat sekitar. Puasa sunnahnya dia bangga-banggakan di hadapan banyak orang. Tampilan religiusnya dia sebarkan di sosial media. Bahkan ada yang memberitakan bahwa dia baru saja melakukan shalat malam ! Kelihatan bangga sekali mereka dengan perilaku-perilaku yang sebenarnya justru menjebak mereka dalam kubangan perilaku riya` atau pamer. Suatu sifat yang sangat tidak dianjurkan dalam beribadah. Mestinya merekalah yang justru lebih tahu kalau ruh nya ibadah itu ikhlas dan ibadahnya ruh itu juga adalah ikhlas.

Iri dan dengki.

Iri dan dengki juga kerap melekat dalam diri orang yang merasa dirinya berilmu. Ketika ada orang lain tampil menggantikannya hatinya merasa tersakiti. Sehingga timbul rasa ingin menghabisi peran orang tersebut dengan cara-cara yang licik dan keji. Diantaranya dengan menebar fitnah tentang keabsahan ibadahnya. Dengan mengatakan bacaanya tidak benar, wudlunya tidak sah, shalatnya tidak sah, sifat dan perilaku kesehariannya tidak amanah. Pendek kata banyak tuduhan-tuduhan yang dialamatkan pada seseorang yang dianggapnya sebagai pesaing dalam urusan agama di wilayahnya. Hal ini menjadikan orang lain merasa disudutkan dengan berbagai fitnah yang sengaja di sebarkan sebagai pembunuhan karakter.

Peristiwa seperti ini sering terjadi karena ketakutan para alim tersebut akan kehilangan dunianya. Takut akan mengurangi rizkinya. Takut kehilangan kemuliannya di masyarakat. Takut tak ada lagi orang yang akan menghiraukannya. Takut tersisihkan oleh masyarakat sekitarnya. Dan takut tak akan ada lagi orang yang akan menggunakan jasanya dalam acara-acara yang di helat di daerahnya. Ujung-ujungnya adalah telah hilangnya rasa ikhlas dalam setiap perilaku ibadah kesehariannya. Ya,.. memang sulit menanamkan keikhlasan dalam perilaku sehari-hari. Orang yang mengatakan dirinya ikhlaspun masih belum tentu bahwa dirinya benar-benar ikhlas. Namun jika yang kehilangan ihklas itu adalah seorang yang dianggap berilmu dan sering menyampaikan ayat-ayat Al Qur`an di masyarakat, pengaruhnya akan sangat besar sekali. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat sekitarnya.

Bahkan tidak sedikit mereka yang mengidap penyakit hati ini menyebarkan fitnah di masyarakat agar jangan berjamaah di masjid. Dengan alasan imamnya nggak bener, sehingga shalat yang dilakukannya tidak sah. Belum lagi kadang juga menebar fitnah agar jangan ada masyarakat yang membantu masjid atau menyumbang acara-acara yang dilaksanakan oleh masjid karena keuangan masjid sedang melimpah. Dan mereka tidak menyadari kalau pada saat dirinya menjadi pengurus masjid tidak ada perubahan yang signifikan pada pembangunan mental masyarakat dan fisik masjid. Tetapi ketika orang lain giliran mengurus masjid, mereka menghasud jama`ah untuk tidak datang ke masjid. Padahal sebelumnya orang-orang tersebut adalah jama`ah aktif masjid.

Orang-orang atau para mereka seperti itulah yang bisa dikatakan sebagai ulama` palsu. Mereka mengatakan sesuatu yang mereka sendiri tidak sanggup mengerjakannya. Mereka menyuruh orang lain ikhlas tapi dia sendiri jauh dari ikhlas. Mereka menyuruh orang untuk berbuat baik, tapi perilakunya sendiri tak bisa dikatakan baik. Mereka menyuruh orang bersedekah, tapi mereka sendiri tak pernah bersedekah. Mereka menuding dan mengatakan orang lain salah, tapi mereka tak pernah melakukan introspeksi pada dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat kuman di seberang lautan, tapi tak pernah bisa melihat gajah. Meski gajah itu ada di depan batang hidungnya.

Sebenarnya penyakit hati itu bisa menyerang siapa saja. Tak perduli itu masyarakat biasa, pejabat, atau bahkan orang-orang yang ahli dalam ilmu agama. Dan sebenarnya juga mereka semua bisa dan mempunyai kesempatan untuk menghindarinya. Tetapi kita atau mereka lebih suka untuk mengikuti ajakan setan dan membiarkan hati kita sedikit demi sedikit terkikis oleh penyakit-penyakit tersebut. Padahal sudah jelas kalau penyakit hati tersebut akan menggerogoti pula catatan amal kebaikan kita serta cenderung untuk menambah dosa-dosa. Dan kenyataanya memang kita atau mereka lebih banyak tidak menyadari kalau perilaku kita sebenarnya lebih mendekatkan kita kepada neraka dan menjauhkan kita dari surganya Allah swt.

Jujur, diakui atau tidak fenomena seperti itu memang banyak menghiasi kehidupan kita sehari-hari. Hanya mereka yang selalu ingat kepada Allah sajalah yang bisa menghindarkan diri dari hal-hal yang demikian. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa Allah telah mengatur semuanya. Tentang kelahiran kita, tentang rizki kita, tentang ketentuan-ketentuan yang akan kita terima. Tentu saja berdasarkan niat dan usaha kita dalam meraihnya. Dan Allah juga telah menentukan kepastian tentang kematian kita. Dimana setelah datang kematian tersebut kita tak akan bisa lagi untuk melakukan koreksi atas semua yang pernah kita lakukan selama kita hidup di dunia.

Terakhir, marilah kita senantiasa untuk mengusahakan diri di dalam kebaikan. Dengan mengingat kematian dan memperhatikan serta mewaspadai bujukan setan melalui orang-orang dekat kita. Terutama keluarga kita sendiri. Sebab adakalanya kita tak pernah bisa menghindarkan diri dari setan yang bersekutu melalui orang-orang dekat kita. Dengan berdalih kebutuhan, kemudian kita rela mengorbankan amalan-amalan baik kita selama ini. Oleh karena itulah kita harus senantiasa untuk tetap berada di jalan Allah swt. dan menempatkan kepentingan akhirat diatas kepentingan dunia. Mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa mengingatkan kita kembali betapa pentingnya mensucikan hati dari tabiat-tabiat yang akan menjerumuskan kita ke dalam siksanya Allah swt.

sekian.

Agushar

23 januari 2015

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 24, 2015 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: