RSS

LEBAH TAK BERMADU

07 Apr

Rapcat103472Lebah dan kehidupannya adalah sebuah contoh kehidupan yang mengajarkan kepada manusia bagaimana harusnya menjalani kehidupan di dunia yang fana ini. Tak berlebihan pula kiranya kalau kehidupan lebah di ibaratkansebagai ayat alam yang mengajarkan tentang keikhlasan dalam menjalankan fungsi dan tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing diri yang merasa harus berbuat sesuatu dalam hidupnya. Lebah menjalani hidup karena pengabdian. Dan pengabdianlah yang memberi semangat hidup pada lebah. Demikianlah seharusnya manusia menjalani kehidupannya. Pengabdianlah yang seharusnya melandasi kehidupannya. Tentu saja hanya pengabdian kepada Allah swt saja manusia mencurahkan kehidupannya.

Gambaran lebah di atas adalah gambaran lebah yang sebenarnya. Yakni lebah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada pimpinan atau ratu lebah. Mereka menjalankan tugas yang telah dibebankan pada dirinya dengan rasa ikhlas. Tanpa keluhan, tanpa pertanyaan, tanpa tendensi atau maksud tertentu. Semua dilakukan demi kelangsungan koloni lebah. Bahkan lebah jantan rela mengorbankan dirinya menuju kematian hanya untuk ritual perkawinan. Setelah perkawinan dengan ratu lebah pengganti yang baru, maka lebah jantan akan mati. Hampir semua jenis lebah mempunyai alur kehidupan yang sama kecuali satu, lebah bertanduk.

Lebah bertanduk ini, Bilamana dia butuh makanan buat bertahan hidup, dia justru mengambil milik lebah lainya. Padahal setiap harinya dia tetap juga menghisap saripati bunga. Disaat dia membutuhkan dia akan selalu mendekati, tapi disaat semua yang dia inginkan sudah tercapai maka pergilah dia dari dunia kita. Dengungan yang hingar bingar sebelum pemilihan ratu negeri. Yang berisikan janji-janji yang membumbung tinggi ke langit. Akan men-sejahterakan rakyat, mengangkat derajat rakyat, mendengungkan ekonomi kerakyatan, memberantas koruptor, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan mengangkat martabat bangsa dan negara. Ternyata semua hanya bualan belaka. Tak ada yang bisa dinikmati dari perilaku lebah bertanduk. Bahkan ternyata lebah ini adalah lebah tak bermadu.

Kadang kita juga bertanya-tanya, mengapa harus lebah bertanduk yang harus menjadi Ratu ? Mengapa lebah yang ternyata tak bermadu yang harus memimpin negeri ini ? Mengapa bualan-bualan politik mampu membius akal sehat kita ? Mengapa lebah pekerja dengan leluasa bergerak dan mempengaruhi pikiran dan perasaan kita ? Bahkan mereka dengan begitu mudahnya membalik kebenaran menjadi sebuah kebusukan ! Menawarkan umpan keduniawian pada meraka yang selalu pura-pura “tansah hanggung mestuti dumatheng darmaning kautamen”. Dan celakanya mereka yang kita anggap “hambeg pepoyaning kautamen” tersebut dengan mudahnya terjerumus hanya demi jabatan dan kekuasaan semu.

Bagaimanapun juga “nasi telah menjadi bubur”. Semua adalah kesalahan kita juga. Dan kita jualah yang harus menanggung semua yang akan terjadi ke depan. Mengapa dengan mudahnya kita percaya pada lebah jadi-jadian. Mengapa kita memilih lebah pekerja sebagai Ratu. Padahal ada pilihan untuk menghindarkan kita dari lebah-lebah siluman bertanduk yang tak bermadu. Semua karena kebodohan kita. Bodoh dalam penglihatan, bodoh dalam pendengaran, bodoh dalam pertimbangan. Dengan mudahnya kita menerima roti tawar manis dari bangsa siluman. Yang berpura-pura alim tapi sesungguhnya jahil dalam Iman. Berpura-pura religius tapi sesungguhnya “kopong tak berisi”. Berlagak sederhana tapi berbau “kemunafikan”.

Bagaimana mungkin bisa terjadi ? Negeri yang begitu kaya potensi untuk mewujudkan impian sebagai negeri yang “gemah ripah loh jinawi tata tentrem kertaraharja” tega mengorbankan kebahagiaan rakyatnya dengan mengambil hak-hak rakyat yang selama ini telah mereka miliki. Apakah kita lupa bahwa, “murah sandang pangan, seger kuwarasan” adalah hak rakyat yang sesungguhnya tidak bisa diganggu gugat. Ketiganya sudah dijamin oleh undang-undang dasar negara. Sudah menjadi harga mati yang di tetapkan oleh, para “pepundhen” negeri ini. Hingga tak ada satu alasanpun mencabut subsidi untuk rakyat yang selama ini dilakukan oleh negara. Jika hal itu terjadi, berarti indikasi pengkhianatan terhadap rakyat memang benar sudah terjadi.

Cobalah diputar ulang, mana janji-janji para lebah siluman waktu sebelum pemilihan yang menjadi kenyataan saat ini. Dari mulai “tanpa syarat” akhirnya justru penuh syarat. Menteri “profesional”, akhirnya yang duduk di kementrian hanya lebah-lebah pekerja. Penuh oleh para petugas partai koalisi. Rakyat sejahtera, ternyata segala kebutuhan pokok justru merangkak naik. Jauh melebihi apa yang dilakukan pemerintah sebelumnya. Naik turunnya harga minyak yang lebih banyak menimbulkan ketidak pastian dunia usaha justru dijadikan pilihan utama. Apa sebenarnya hasil kerja sampai dengan beberapa bulan ini benar-benar belum nyata dan belum bisa dinikmati oleh rakyat. Justru rakyat yang sekarang ini dibuat bingung dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Slogan “kerja, kerja dan kerja” seperti yang dilakukan lebah pekerja bahkan belum begitu terlihat. Yang terjadi justru masih berkutat dalam kebingungan membangun dukungan demi angan-angan kosong kesejahteraan dan ekonomi kerakyatan. Bagaimana tidak bingung ? Wong mengajukan calon Kapolri yang sudah disetujui oleh Dewan saja malah justru dianulir sendiri. Bingung. Mengangkat dimusuhi rakyat tidak mengangkat bisa-bisa malah kuwalat. Mau tidak mau ya harus memilih. Padahal, ketika terjadi peristiwa “harus” memilih, petugas partai ini justru berada di bibir jurang yang sangat dalam. Bisa dikatakan seperti “menggali kubur sendiri”.

Hal seperti ini tidak mungkin terjadi kalau tidak ada konspirasi negatif dalam proses pemilihan sebelumnya. Seseorang tidak merasa kalau dirinya telah masuk dalam perangkap yang sangat kuat. Yang dibangun dengan sangat sistematis dengan melibatkan institusi-institusi yang ada di pemerintahan saat itu. Lihat saja, bagaimana bisa dua institusi yang seharusnya bahu membahu dalam menanggulangi korupsi justru malah bertengkar dan berujung maut pada salah satunya. Disini jelas, yang mempunyai pirantilah yang akan memenangkan pertarungan tersebut. Seekor cecak bukanlah lawan bagi buaya. Tapi demi keselamatan buaya, maka cecakpun akan dilumat pula. Peristiwa ini terjadi di depan semua mata lebah-lebah bertanduk. Mereka membiarkan cecak dibiarkan hidup tanpa kaki, tanpa tangan dan tanpa ekor.

Beginilah yang pasti akan terjadi kalau lebah-lebah pekerja, yang seharusnya bekerja tulus ikhlas demi rakyar, bangsa dan negara justru menginginkan duduk manis di kanan kiri ratu lebah. Bahkan hasil akhirnya justru bisa lebih hebat lagi. Jika kebijakan-kebijakan yang lahir lebih banyak tidak bisa diterima oleh akal sehat dan bahkan dikeluarkan tanpa melibatkan hati nurani, maka yang terjadi adalah kerusuhan di masyarakat. Cepat atau lambat rakyatpun pasti akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dan jika sudah demikian, hasil akhir dari konspirasi negatif yang terjadi selama ini justru akan menghancurkan banyak infrastruktur yang telah dibangun dengan susah payah di pemerintahan sebelumnya.

Pemerintahan saat ini bisa jadi merupakan pemerintahan yang sangat lemah. Disatu sisi sangat bergantung pada faktor intern koalisi disisi lain juga sangat tak berdaya menghadapi tekanan faktor ekstern yang merasa telah berjasa menggendong tandu dan menempatkannya di singgasana. Belum lagi menghadapi alotnya lawan di sisi legalitas di dewan. Ya beginilah kalau segala sesuatu serba dipaksakan. Dipaksa naik meski belum mempunyai kemampuan. Dipaksa maju meski belum punya keberanian. Dipaksa jalan meski baru bisa belajar berdiri. Dipaksa memilih meski sebenarnya punya pilihan. Dipaksa memutuskan meski tahu akibat dari keputusan yang dikeluarkan.

Kita tidak tahu sampai berapa lama lagi usaha memporak porandakan lawan akan berhenti. Meski usaha terus dilakukan. Mulai memecah belah hati orang beriman di partai berlambang Ka`bah. Kemudian berlanjut usaha memporak porandakan partai lawan yang berlambang Beringin. Dan kemungkinan besar usaha politik devite et impera atau pecah belah akan berlangsung terus sampai para petinggi partai benar-benar tak berdaya lagi. Jika hal ini terus berklangsung sepanjang waktu pemerintahan maka, kita benar-benar tidak akan bisa merasakan manisnya madu dari lebah-lebah yang semula kita sangka penuh madu berkualitas.

Yang mengherankan juga, mengapa anak-anak bangsa ini begitu buta mata dalam memaknai semua apa yang terjadi. Mengapa kita masih menempatkan koalisi yang mengatakan dirinya hebat dalam hati dan tenggorokan mereka. Tidak bisakah kita sedikit menyisakan akal sehat untuk sekedar mengetahui mana yang sebanarnya mengandung kebenaran dan mana yang justru penuh dengan kebusukan. Memang kita bisa berkilah kalau semua ini hanyalah cobaan atau ujian bagi negeri ini. Tapi haruskah semua yang ada di negeri ini akan kita korbankan? Cukuplah semua ini sebagai cambuk bagi kita anak bangsa. Bahwa kesalahan yang sedikit saja bisa berakibat fatal, apalagi kesalahan besar dalam memilih pemimpin.

Kita semua harus bertobat, karena keadaan seperti ini sebenarnya bermula dari perilaku kita sendiri. Kita telah menjauhkan diri dari Iman. Sehingga kita tidak lagi bisa berfikir secara maksimal. Tidak bisa melihat lagi membaca arah pikiran sekelompok orang. Sehingga kita menjadi manusia yang lemah. Mudah diperdaya bujuk rayuan setan yang banyak bertebaran di sekeliling kita. Tak lagi perduli pada nasib sesama dan lebih memilih lembaran merah dan biru sebagai imbalan pemilihan. Tak lagi bisa berpikir apa yang akan terjadi jika negeri ini dikuasai oleh orang-orang yang tak berhak atas negeri ini.

Yang terakhir, peristiwa tanda tangan uang muka mobil para pejabat yang lolos menunjukkan tentang kapabilitas seorang pemimpin yang sebenarnya. Bagaimana mungkin seorang kepala negara berani tanda tangan tanpa harus mengetahui isi dari dokumen yang akan ditanda tanganinya? Benar-benar sangat berbahaya kejadian tersebut. Indonesia ini adalah sebuah Negara. Bukan toko kelontong yang dengan mudahnya memberikan tanda tangan dan cap stempel pada kwitansi kosong atas permintaan pembelinya. Sekali lagi bagaimana mungkin seorang pemimpin melakukan sebuah kesalahan yang sebenarnya haram untuk dilakukan.

Benar-benar lebah tak bermadu. Lebah yang benar-benar tidak bermanfaat bagi kehidupan umat. Sebuah pergantian kepemimpinan yang belum atau tidak membawa maslahat. Dan lucunya, ada banyak orang-orang bertopeng Iman yang berada di tengah-tengah lebah-lebah bertanduk yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan rakyat yang telah menempatkan dirinya di jajaran para pejabat. Sekarang apa yang bisa kita perbuat? Lelah,… ya sudahlah ,…. Nasi sudah menjadi bubur. Kita nikmati saja hidup di bawah kepemimpinan lebah-lebah tak bermadu,….

Marilah kita do`akan mereka yang memimpin negeri ini. Mudah-mudahan sesegera mungkin mendapatkan petunjuk dari Allah swt. sehingga kedepan bisa menjalankan roda pemerintahan yang benar. Yang bermanfaat. Yang bisa membawa negeri ini ke dalam balutan Iman. Sehingga nantinya semua bisa dipertanggung jawabkan kelak di hari pembalasan. Karena pada hakikatnya hidup adalah sebuah pengabdian. Pengabdian kepada Allah swt yang berdampak pada pengabdian kepada rakyat atau umat. Sebagai jalan yang akan memudahkan kita dalam berjalan menuju Allah swt. dan sebagai jalan untuk memilih dimana kelak kita akan tinggal di akhirat.

Sekian,

agushar,

Surabaya, 7 April 2015.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: