RSS

Mengapa Masjid Sepi Jama`ah ?

23 Jun

Introspeksi-3Kalau kita mau meneliti, ihwan-ihwan kita saat ini punya semangat yang sangat besar untuk membangun sebuah masjid yang megah. Terutama masjid-masjid di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan sepertinya justru semakin terlihat ada rasa persaingan dalam kemegahan masjid dengan kampung-kampung di sekitarnya. Ironisnya, semangat dalam membangun masjid tersebut ternyata jauh lebih besar daripada semangat untuk memakmurkannya. Akibatnya adalah seperti yang bisa kita lihat dan rasakan saat ini. Semakin banyak masjid yang begitu megah bangunan fisiknya, tapi disisi lain semakin sedikit yang mau datang ke masjid untuk memakmurkannya. Lalu apa yang salah ? Apa kira-kira penyebab permasalahan seperti ini terjadi ?

Memang ada masjid yang selalu ramai disaat waktu sholat tiba, tapi itu hanya terbatas hanya pada masjid-masjid yang berada di tempat wisata. Misalkan masjid di tempat-tempat wisata religi. Karena pengunjung yang melimpah menyebabkan masjid yang ada selalu tampak ramai dan hidup. Sedangkan di tempat yang berada di pemukiman penduduk tidak tampak antusiasme umat untuk berbondong-bondong ke masjid kecuali hanya pada saat tertentu. Misal di awal-awal bulan Romadhon, dihari jum`at atau di dua Hari Raya Idhul Fitri dan Idhul Adha. Kondisi seperti ini sebenarnya merupakan kodisi yang sangat memprihatinkan. Disaat-saat kegiatan dakwah begitu sedang gencar-gencarnya. Baik secara even maupun melaui tayangan-tayangan media elektronik. Ternyata masih juga belum berdampak signifikan terhadap peningkatan jumlah jama`ah sholat.

Ada beberapa kemungkinan penyebab sepinya jama`ah di masjid-masjid yang ada saat ini. Kalau di teliti dengan sedikit mendetail. Diantaranya adalah, :

  1. Karena keterbatasan pengetahuan tentang ilmu agama

  2. Karena beda keyakinan tentang mazhab

  3. Lebih suka untuk melaksanakan sholat sendirian di rumah.

  4. Karena berjama`ah di masjid relatif lebih lama dibanding sholat sendirian di rumah.

  5. Karena ada perseteruan pribadi dengan sesama jama`ah.

  6. Karena sakit hati tidak masuk dalam jajaran kepengurusan atau ketakmiran masjid.

  7. Karena tidak suka dengan pribadi-pribadi para pengurus masjidnya.

  8. Karena tidak suka dengan Imam atau pemimpin sholatnya.

  9. Karena tidak suka dengan pribadi ketua takmirnya

  10. Karena tidak suka dengan kepemimpinan takmirnya

Suka atau tidak, banyaknya alasan umat untuk tidak mau berjama`ah ke masjid telah menyebabkan kemakmuran masjid hanya menjadi sebuah angan-angan atau impian. Lantas siapa yang patut disalahkan dalam hal seperti ini ? Mungkin sebagian dari kita bisa menyalahkan umat karena keterbatasan ilmu Islam dan Ilmu Imannya. Tapi yang juga perlu di ingat adalah para pemimpin umat juga sangat besar perannya terhadap minimnya jama`ah sholat di masjid. Hanya kebanyakan dari mereka tidak menyadari akan perannya dalam hal minimnya jama`ah di masjid. Celakanya lagi kebanyakan mereka juga tidak mau disalahkan dalam permasalahan ini serta lebih suka menumpahkan semua kesalahan pada umat yang tidak mau datang ke masjid.

Marilah kita mencoba untuk menyelidiki sendiri, betapa banyak masjid di sekitar kita yang tidak ada habis-habisnya berkutat dengan permasalahan intern diantara pengurus masjidnya. Kenapa demikian ? Beberapa sebab mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dari mulai berebut untuk mewarnai masjid dengan keyakinan madzab kelompok tertentu sampai dengan berebut untuk mengelola masjid karena ada tendensi tertentu. Sehingga secara otomatis jama`ah berada dalam kebingungan harus bersikap bagaimana mengenai keberadaan masjid tersebut. Dan tidak jarang dari para jama`ah memilih untuk menjauh dari masjid dan menjalankan kewajiban sholat di rumah masing-masing.

Selain berebut mewarnai masjid dengan madzab tertentu, tendensi lain berupa penguasaan masjid oleh kelompok tertentu lebih banyak disebabkan karena keinginan mengelola keuangan masjid. Karena masing-masing kelompok yang bertikai selalu berfikir negatif mengenai pengelolaan keuangan masjid. Yang satu merasa benar dan menyalahkan yang lain serta menuduh lawannya melakukan penyelewengan terhadap kas masjid. Yang lain juga merasa demikian. Merasa telah melakukan sesuatu yang benar terhadap masjid dan merasa tidak melakukan sesuatu yang negatif seperti yang dituduhkan kepada diri mereka. Padahal kalau ditelusuri atau diaudit dengan benar pasti ketahuan apakah pengurus masjid melakukan penyelewengan keuangan masjid atau tidak.

Selama ini memang pengelolaan keuangan masjid, terutama masjid-masjid kampung masih menimbulkan tanda tanya besar dikalangan jama`ah. Meski secara kesepakatan laporan keuangan bulanan sudah di tempel dipapan pengumuman tapi belum bisa sepenuhnya terbebas dari manipulasi angka-angka yang tertera di laporan. Memang tidak semua masjid laporan keuangannya amburadul. Banyak juga masjid yang pengelolaan keuangannya sudah profesional. Hal ini karena mereka yang ada di kepengurusan atau ketakmiran terdiri dari orang-orang yang amanah atau bisa dipercaya. Tapi berapa banyakkah orang-orang yang mempunyai sifat amanah itu di sekitar kita ? Yang paling banyak justru orang yang berambisi untuk menjadi pengurus masjid dengan membawa segudang kepentingan pribadi.

Ada kalanya sebuah masjid yang di kelola oleh sekelompok orang tertentu terlihat tidak ada perkembangan sama sekali. Baik perawatan fisik masjid maupun pengembangan ilmu agama pada masyarakat sekitarnya. Hal ini memang dipengaruhi banyak sebab. Dari mulai minimnya kas masjid sampai pada ketidak pedulian pemimpin agama pada peningkatan keimanan masyarakat. Sehingga keberadaan masjid di masyarakat tersebut hampir-hampir tidak berdampak pada peningkatan ketaqwaan. Dan kalau kita mau jujur hal seperti ini banyak terjadi di berbagai tempat di sekitar kita. Padahal keberadaan masjid di suatu tempat mestinya bisa dijadikan sebagai sarana perekat umat. Tapi tidak jarang pula keberadaan masjid di suatu tempat justru menjadi sarana pemecah belah umat.

Satu contoh misalnya, sebuah masjid yang selama beberapa periode kepemimpinan sekelompok takmir tidak membuahkan perubahan apapun. Tapi setelah diadakan pergantian kepemimpinan justru ketahuan berbagai banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi terutama berkaitan dengan masalah keuangan. Dan setelah diadakan perbaikan administrasi justru masjid tersebut diketahui mempunyai perolehan dana yang cukup besar dalam setiap bulannya. Maka tak membutuhkan waktu lama masjidpun segera melakukan pembenahan baik secara fisik maupun psykis jama`ahnya. Disamping pembangunan fisik masjid juga seringnya diadakan pengajian untuk masyarakat sekitarnya.

Tetapi perkembangan masjid menuju perbaikan tersebut juga tidak sedikit mendapatkan cobaan. Mereka yang sebelumnya tersingkirkan dari kepengurusan justru menjadi bumerang yang menyerang pengurus masjid yang telah banyak melakukan perbaikan. Mereka menjauhi dan memboikot seluruh kegiatan masid. Senjatanya ? Hasut sana hasut sini…..tak perduli kalau dalam kepemimpinan mereka sebelumnya tak banyak membawa pengaruh positif apapun pada masjid dan umat. Mereka mempengaruhi masyarakat dengan meminta pengikutnya untuk menjauhi masjid. Untuk tidak membantu masjid. Yang mengherankan,… kok banyak juga masyarakat yang termakan hasutan dari para ulama palsu tersebut. Kalau bukan karena kejahilan dalam berpikir, tak mungkin seseorang akan mudah terperangkap dalam jerat setan atau iblis pembenci masjid.

Keengganan yang lain dari umat untuk datang ke masjid adalah karena tidak suka dengan Imam masjidnya. Ketidak sukaan ini bisa karena beberapa hal. Dari mulai cara membacanya yang dirasa kurang sempurna. Suara yang kurang bagus. Lagu bacaan yang digunakan juga tidak semestinya sehingga terasa tidak nyaman terdengar di telinga. Belum lagi pribadi imamnya yang kurang menyenangkan di kehidupan sehari-harinya. Seperti perilaku yang cenderung kasar, kurang sopan terhadap orang lain, merendahkan orang lain, mengkafirkan mereka yang tidak mau bersama-sama datang ke masjid untuk sholat berjama`ah. Suka menjelek-jelekkan orang lain. Merasa paling benar dan paling pintar di masyarakat sekitarnya. Cenderung memonopoli posisi imam meski ada imam yang lebih baik bacaannya dari dirinya. Hal-hal seperti ini tanpa disadari justru menjauhkan umat dari masjid. Tapi kebanyakan para imam di kampung-kampung tidak pernah mau introspeksi diri dan justrru membiarkan kondisi seperti itu berlangsung tanpa tahu kapan berakhirnya.

Kadang juga disebabkan karena perilaku pribadi Imamnya ketika berada diluar lingkungan masjid. Ada yang gemar nongkrong di warung kopi dengan tujuan nggak jelas. Ada juga yang kadang terlibat kasus korupsi di tempat kerjanya. Ada juga yang suka bermain perempuan atau istilahnya playboy. Bahkan kemungkinan juga ada yang suka atau hobby mengganggu istri orang. Hal-hal negatif seperti tersebut kadang seperti telah lepas dari pengamatan umum. Padahal masyarakat kita saat ini bukanlah masyarakat yang terlalu bodoh dalam menilai seseorang. Ketika seseorang yang masuk dalam kategori alim atau berilmu agama dan dianggap orang bersih dari maksiat ketahuan belangnya dalam bermaksiat, maka selamanya umat akan antipati kepadanya. Dan hal seperti ini tidak jarang memberikan kontribusi pada sepinya jama`ah di masjid.

Keengganan lain dari umat untuk tidak datang ke masjid bisa juga di sebabkan oleh cara kepemimpinan ketua takmir masjid sendiri. Perilaku sehari-hari dalam memimpin organisasi masjid kadang terlalu over atau berlebihan. Merasa seperti hanya dialah yang berhak memiliki dan mengatur masjid. Sehingga kadang berperilaku otoriter dan menganggap umat hanyalah sebagai obyek pelengkap masjid saja. Akibatnya sudah bisa ditebak mereka yang pernah jadi korban perilaku para ketua takmir hampir pasti akan memilih untuk menjauhi masjid selama dipimpin oleh takmir tersebut. Tidak jarang juga para ketua takmir dan pengurusnya tidak bisa menahan lisan untuk menyudutkan, menjelekan atau bahkan melakukan pembunuhan karakter terhadap seseorang yang dirasa menjadi penghalang dalam kelangsungan kepemimpinannya.

Padahal kalau kita mau sedikit berpikir pasti kita akan mendapatkan pencerahan tentang fenomena sepinya masjid. Rasulullah saw di ikuti umat karena keteladananya. Para sahabat diikuti umat juga karena keteladanan. Para salaf dicari dan diikuti umat karena teladan atau contoh perilaku juga. Dan Islam sampai saat ini banyak diikuti umat karena keteladanan Rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya. Tapi hal fenomenal dalam Islam tersebut telah lepas dari memori kebanyakan para ulama atau pemimpin agama di sekitar kita. Mereka lupa tentang hal yang satu ini. Padahal magnet yang paling utama dalam menarik umat ke dalam masjid adalah contoh perilaku para ulama. Teladan yang seharusnya menjadi magnet terbesar penarik umat ke arah masjid seperti sudah kehilangan energi.

Cobalah kita perhatikan, dalam hal penampilan, lifestyile pribadi dan keluarganya, mereka lebih pantas untuk dilebeli ulama hubbud dunya atau ulama yang cinta dunia. Dan untuk merealisasikan cinta dunianya tersebut bahkan ada yang harus melakukan penipuan terhadap umat. Bermacam cara penipuan demi untuk memenuhi gaya hidup ala celebritis dunia hiburan. Motor besar berharga ratusan juta, mobil sport berharga milyaran, pakaian dan aksesorisnya yang berharga puluhan juta bahkan ratusan juta. Belum lagi rumah yang sangat megah dan luas lengkap dengan kolam renangnya. Padahal, semua harta dan perilaku yang di pertontonkan di mata umat itu sangat berlawanan dengan perilaku Nabi dan para sahabatnya.

Kalau kita mau membaca sejarah hidup Rasulullah saw dan para sahabatnya, pasti kita akan dengan mudah membandingkan. Apa yang dimiliki dan yang diperbuat oleh Rasulullah dan para sahabat dengan hartanya adalah murni untuk perjuangan syi`ar Islam. Mereka yang saat itu kaya raya murni dari hasil usaha perdaganganya. Bukan kaya dari hasil tablig atau menyampaikan ayat-ayat Allah swt. Sedangkan saat ini orang banyak berusaha kaya raya dengan menjadi juru dakwah atau penceramah. Sehinga saat ini secara transparan kita dengan mudah bertanya pada seseorang berapa biaya untuk mendatangkan seorang ulama hanya untuk menjadi penceramah selama satu setengah jam saja.

Banyak manusia saat ini berusaha dengan semangat untuk mempelajari ilmu agama dan ilmu untuk bisa berbicara tentang agama. Tapi sedikit orang yang mau meneladani kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Lisannya berbicara akhirat tapi pikirannya menerawang dunia. Itulah fenomena saat ini. Dan yang berada di level lebih bawah berbeda lagi. Mereka berusaha menjadi orang terhormat dengan cara bergaul dalam masjid. Mereka ingin dianggap alim dengan selalu berbicara tentang masjid. Mereka ingin merendahkan orang lain dari serambi atau halaman masjid. padahal ujung-ujungnya mereka ingin mengambil sesuatu dari pilar dan lantai masjid. Orang tidak akan curiga karena tendensi tersebut terselubung itu di letakkan di lingkungan masjid juga.

Mereka lupa apa yang sebenarnya harus mereka pelajari dari masjid. Mestinya mereka belajar untuk meneladani perilaku Rasulullah saw dan para sahabatnya. Mereka seharusnya belajar essensi beragama dari lantai dan serambi masjid. Hingga ketika mereka berada di luar lingkungan masjid mereka akan membawa perilaku penghuni masjid sejati. Yang bersikap sopan terhadap semua orang yang di jumpainya. Mereka akan bersikap santun dalam setiap pergaulannya. Mereka akan meninggalkan sikap sombong, riya`, iri dan dengki yang haram dilakukan oleh penghuni masjid. Mereka akan bergaul dengan umat sebagai magnet-magnet masjid. Sebagai gravitator masjid yang berusaha menarik partikel-partikel pikiran dan hati umat untuk bergaul dengan masjid.

Demikianlah yang seharusnya dilakukan oleh ahli masjid, bukan malah sebaliknya. Mereka meremehkan umat yang tidak mau datang ke masjid. Merasa diri jauh lebih baik dengan mereka yang ada diluar masjid sehingga mereka pantas untuk merasa lebih mulia dari pada mereka yang berada diluar masjid. Tidak perduli dengan kegiatan sosial umat diluar kegiatan masjid. Tidak melakukan tegur sapa kalau tidak di dahului oleh orang lain selain sama-sama jama`ah masjid. Hal-hal seperti ini sudah jelas jauh dari contoh perilaku dari Rasulullah yang telah memberi teladan yang hampir sempurna tentang bagaimana umat harus berperilaku. Bukan malah sebaliknya, mempermalukan Rasulullah dengan berperilaku seperti perbuatan orang-orang yang berpenyakit hati. Orang-orang yang di dalam hatinya bercokol sifar takabur, riya`, iri dan dengki yang sudah kronis.

Magnet masjid itu akan bekerja apabila dalam masjid tersebut penuh dengan energi positif. Yang didapatkan dari mereka yang benar-benar ikhlas dalam beribadah dalam masjid. Bukan energi negatif dari orang-orang berpenyakit hati yang bertopeng masjid. Itulah sebabnya mengapa kita harus segera menyadari, bahwa magnet Islam itu adalah perilaku seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kalau mau umat lebih banyak bergaul dengan masjid ya harus bisa mencontoh perilaku Rasulullah yang telah terbukti dapat menarik pikiran dan hati umat dengan keteladan beliau. Jika kita tergolong umat terbaik, pasti orang akan mengikuti ajakan kita. Dan apabila ternyata umat tidak pernah menghiraukan ajakan kita, berarti kita yang harus segera introspeksi, mungkin ada yang salah dengan perilaku kita terhadap mereka. Jangan pernah selalu menyalahkan umat tapi pandai-pandailah membaca perilaku diri kita sendiri. Apakah sudah mendekati perilaku seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw atau justru malah berbanding terbalik dengan apa yang telah di teladankan oleh Rasulullah saw.

Sekian.

Agushar

Surabaya, 21 Juni 2015.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2015 in Renungan

 

4 responses to “Mengapa Masjid Sepi Jama`ah ?

  1. Giansa

    Desember 7, 2015 at 8:33 am

    Udah jauh-jauh ke masjid, puji-pujiannya lama banget, tp pas sholat suratannya pendek bgt, diakhiri doa bersama dg dipimpin imam yg gajelas mbaca apaan cepetnya luar biasa. Lama-lama jd males ke masjid.

    Apa mending jama’ah sama keluarga sendiri aja?

    Apa harus nunggu generasi takmir ini habis dulu, dan lalu Alloh menggantinya dengan yang lebih nyunnah.. Mashaalloh.

    Saya hanya jamaah yang berharap agar masjid tak dikuasai orang bodoh berduit. Yang dielu-elukan meski ilmunya sempit.

     
  2. Agus Hartono

    Januari 5, 2016 at 2:14 am

    Giansa yang baik,.. itulah memang fenomena beribadah dalam agama Islam. Bahkan di agama-agama yang lain juga. Tapi jangan khawatir, tiap2 orang akan membawa nilai sendiri-sendiri. Tentunya penilaian itu di mata Allah swt. Sesungguhnya kebodohan itu masih menguasai sebagian besar manusia. Terutama kebodohan dalam ilmu agama. Bukan hanya mereka yang memang benar2 bodoh dalam dalam kesehariannya, tapi mereka yang sehari2 bisa dikatakan sebagai manusia cerdik pandai banyak juga yang tampil bodoh ketika berada di koridor ibadah.

    Mereka yang mempunyai pemikiran seperti anda sangat banyak. Hanya karena keikhlasan karena Allah sajalah mereka masih mau menghidupkan sholat berjamaah di masjid. Terutama sholat Isya` dan sholat subuh yang memang sangat berat bagi sebagian besar manusia. mereka sadar kalau amal perbuatan baik yang kita lakukan, disamping berefek pada orang lain, juga berefek bagi diri kita yang melaksanakannya. Sedangkan situasi yang bagaimanapun yang harus kita hadapi dalam menegakkan sholat adalah merupakan cobaan dari Allah untuk para hamba Allah swt. Setiap perbuatan akan membawa sebuah akibat pula. Hal seperti ini merupakan sebuah kepastian dalam urusan agama.

    Mereka yang membawa kebodohan ke dalam ranah ibadah, tak perduli dari kalangan apapun pasti juga akan membawa akibat bagi dirinya kelak di akhirat nantinya. sedangkan kita yang bisa bertahan dalam kesabaran dalam menjalankan ibadah, termasuk berjalan ke masjid untuk berjamaah sudah pasti akan membawa akibat pula baginya. Saya begitu yakin bahwa kesabaran akan menumbuhkan sifat2 yang baik bagi manusia. dan karunia Allah berupa sifat2 yang baik adalah karunia yang paling besar yang didapatkannya dari Allah. karena hanya kepada orang2 yang sabarlah Allah memberikan balasan atau ganjaran tanpa batas.

    Kunci dari keberhasilan ibadah adalah penguasaan ilmu ibadah itu sendiri dan pencapaian derajat taqwa kepada Allah swt. Jadi tetaplah berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah, terutama untuk sholat Isya` dansholat subuh. Karena keistiqomahan dalam menjalankan kedua sholat ini bisa dijadikan tolok ukur keimanan seseorang. Seperti kita ketahui bersama, banyak dari kita yang asal beriman dari pada yang beriman dengan sebenar2nya Iman. Marilah kita tegakkan Iman kita dengan sifat2 yang baik yang akan kita peroleh jika kita mengistiqomahkan sikap sabar dalam beribadah. Baik ibadah yang bersifat vertikal maupun ibadah yang bersifat horizontal.

    Sekian dari saya, salam sejahrera untuk anda sekeluarga,….

     
  3. Dwi nurkolik

    Juni 27, 2016 at 4:23 pm

    Kalau ditempat kami masjid sepi karna jama’ah nya cenderung kemushola krn yang jarak nya dekat dari rumah,sedangkan yang dimasjid hanya 1% nya saja.

    Sebab yang kedua karna imam nya lebih mementingkan mushola.
    Menurut antum bagaimana dengan permasalahan ini?

     
    • Agus Hartono

      Juni 29, 2016 at 1:44 am

      Bpk,memang begitulah kondisi saat ini.
      Masjid yang begitu megah melompong pada saat shalat maktubah, tetapi penuh disaat shalat Jum`at. Karena kebanyakan jama`ahnya memilih untuk sholat di langgar atau mushala terdekat dengan rumah. Sedangkan langgar dan mushala juga hanya beberapa jama`ah saja yang hadir, karena mayoritas memilih shalat di rumah. Hal seperti ini sering saya jumpai ketika berada di kampung/desa. Dimana mereka yang mempunyai lahan lebih berusaha/berlomba untuk membangun langgar atau mushala di pekarangan rumahnya sendiri. Terhadap hal seperti ini kita selalu tak berdaya. Karena menyangkut hak pribadi. Padahal membangun masjid itu adalah kewajiban bersama,, bukan kewajiban individu. Jika pembangunan langgar atau mushala bukan untuk sengaja memecah belah umat mungkin masih bisa kita toleransi. Meski konsekwensinya Masjid akan minim jama`ah. Padahal kita juga tahu kalau shalat di rumah itu lebih baik dari pada tidak shalat. sedangkan shalat berjamaah di langgar atau mushala kecil itu lebih baik dari pada shalat di rumah. Demikian juga shalat di Masjid itu masih lebih baik dari pada shalat di langgar atau di mushala. Hanya faktor jarak sajalah yang menjadi penyebab jama`ah memilih yang terdekat dengan rumah.
      Sedangkan di perkotaan permasalahan bisa menjadi lain, meski masih kurang bisa diterima akal. Dalam satu wilayah kecil di perkotaan ada sebuah masjid. Di sekitar masjid banyak berdiri mushala (di tiap RT), padahal jarak mushala tidak terlalu jauh dari masjid. Dan jika semua jama`ah Mushala masuk dalam masjid juga masih tertampung. Permasalahannya adalah pembangunan mushala kadang juga tak murni karena Ibadah. Ada kemungkinan juga telah terjadi konflik kecil antar warga tentang permasalahan di masjid. Hal ini tidak sedikit terjadi di sekitar kita. Tetapi tetap saja kita tidak berdaya mengatasi hal seperti ini karena menyangkut hak. Sedangkan aturan mengenai pembangunan jarak antar Masjid secara detil mungkin belum kita miliki. Dari Rasulullah saw memerintahkan untuk membangun masjid di kampung2, membersihkannya dan mengharumkannya.
      Sedangkan maksud tulisan saya diatas adalah sepinya masjid dari jama`ah dikarenakan berbagai macam konflik yang terjadi di masyarakat sekitar masjid. Termasuk berbagai penyakit hati yang menjadi faktor utama konflik tersebut,…Demikian Bpk sedikit dari jawaban saya. Sepanjang pembangunan langgar atau mushala dibangun tidak untuk memecah belah umat kita masih bisa menerima, meski keberadaannya belumlah begitu mendesak. Tetapi jika keberadaan mushala di sekitar masjid menjadi cermin dari perpecahan hal ini sangatlah disayangkan,… terima kasih.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: