RSS

Kekuatan Dan Ciri Orang Beriman.

31 Jul

Allah々Dalam setiap kesempatan para khatib selalu menyampaikan tentang pentingnya peningkatan taqwa kepada segenap jama`ahnya. Mengapa demikian? Disamping sebagai rukun sahnya pelaksanaan shalat, taqwa adalah pencapaian tertinggi bagi umat Islam yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada Allah swt dan Rasulullah saw.

Sedangkan derajat taqwa hanya bisa dicapai dengan mempertebal atau meningkatkan kualitas Iman yang telah tertanam di dalam dada atau hati tiap-tiap umat yang mengaku dirinya beragama Islam. Dan kondisi sebenarnya dari umat saat ini adalah lebih banyak menempatkan Iman dalam porsi yang sangat kecil. Sehingga, efek kualitas dari iman itu sendiri terlihat juga begitu minim. Meski secara kuantitas kadang terlihat begitu banyak dan membludak.

Iman adalah rasa percaya dan keyakinan hati terhadap wujud dan kebenaran (haq) serta eksisitensinya suatu Dzat yaitu Alah swt. Keimanan bukan hanya sebatas mempercayai dan menyakini adanya dzat Allah saja, tetapi mempercayai dan meyakini tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan Allah itu sendiri. Terutama tentang kekuasan Allah yang meliputi segala urusan di alam semesta ini.

Misalnya tentang keberadaan Malaikat, tentang firman-firman yang diturunkan melalui wahyu kepada para Rasul, yang sudah terhimpun dalam kitab, tentang para Rasul atau orang-orang yang diutus untuk menyampaikan firman-firman yang telah turun kepada sekelompok kaum, tentang kebenaran akan datangnya hari kiamat atau hari penghisaban, yang terakhir tentang ketentuan dan ketetapan Allah yang dinamakan takdir.

Iman ini sendiri terbagi menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis atau tebalnya antara satu orang dengan orang yang lain, tetapi secara garis besar lapisan atau tingkatan iman itu terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu, Ilmul Yakin, ainul yakin dan haqqul yakin.

Ilmul Yakin adalah kesadaran untuk meyakini tentang segala sesuatu khususnya tentang ketauhidan Allah dan segala yang berkaitan dengan sifat-sifatNya melalui orang lain, misalnya guru di sekolah, kyai atau para ustadz bahkan mungkin orang-orang yang dekat dengan kita yang bersedia untuk memberikan masukan tentang berbagai hal. Khususnya mengenai ilmu agama.

Ainul Yakin adalah suatu keyakinan yang tidak hanya di dapat dari seseorang, tetapi keyakinan yang terbangun karena suatu pencarian tentang bukti-bukti keberadaan Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan dan kemutlakan mengenai hukum-hukum alam yang telah di ciptakanNya. Pada tahap ini seseorang akan melihat dan membuktikan sendiri akan kebenaran tentang ketauhidan Allah swt. yang awalnya hanya berupa informasi-informasi yang bersifat tekstual. Misalnya dengan mengamati pergerakan benda-benda di alam semesta. Keselarasan gerak dan keseimbangan yang terjadi pada makhluk-makhluk angkasa tersebut akan bisa menimbulkan getaran-getaran keimanan bagi mereka yang berfikir dan menggunakan akalnya.

Haqqul Yakin adalah keyakinan yang mutlak dan tidak akan tergoyahkan dari seseorang yang merasa bahwa dirinya hanyalah bagian yang sangat kecil dari sesuatu yang sangat-sangat besar dan diluar kemampuan logika berpikir manusia. Disini bukan hanya mata dan hati yang bisa melihat tetapi ada keterlibatan indera ke enam yang sangat dominan dalam keyakinan akan dzat Allah. Bahkan pada tahap ini seseorang akan dapat merasakan sendiri manisnya Iman dan pahitnya adzab yang mungkin kelak akan terjadi. Inilah Iman dengan sebenar-benarnya Iman.

Pada tingkatan ini seorang hamba akan secara otomatis melakukan perintah-perintah dari Tuhannya tanpa ada rasa keterpaksaan. Pada tingkatan ini pula akan timbul rasa kebutuhan yang sangat besar dari seseorang pada Tuhannya dan ada rasa ketergantungan yang sangat kepadaNya. Sehingga menimbulkan efek untuk selalu ingin berinteraksi kapan saja dan dimana saja dia berada. Hatinya akan selalu tertambat pada Allah, lisannya selalu memuji Allah, dan langkahnya selalu mencari keridhoan Allah swt.

Ujung atau muara dari perilaku seseorang yang sampai pada tingkatan ini adalah rasa ikhlas akan tindakan dan tingkah lakunya. Semua yang di lakukan hanya karena Allah semata. Tak ada rasa ingin dipuji, tak ada rasa iri hati, tak ada rasa dengki, tak ada kesombongan diri atau kesombongan tentang ilmu atau materi duniawi yang dimiliki. Bahkan setiap langkah dari amal dan perbuatan baiknya senantiasa dilakukan dengan senang hati.

Dari adanya tingkatan-tingkatan yakin inilah seseorang yang mengatakan dirinya beriman masih belum bisa dikatakan sebagai seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman. Sehingga Allah perlu memperjelas memberikan informasi iman yang sebenarnya kepada kita,

QS. Al Anfaal : 2 – 3.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٢﴾

”“Innamal mu`minuunal ladziina idza dzukirallahu wa jilat quluubuhum wa idza tuliiyat alaihim ayaatuhu zadathum iimaanan wa alaa rabbihim yatawakkaluuna”

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾

Alladziina yuqiimuunash shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquuna”

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

QS. An Naml : 3.

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ﴿٣﴾

Alladziina yuqiimuunash shalata wa yu`tuunaz zakaata wa hum bil aakhiratihum yuuqinuuna”

(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

QS. Al Ankabuut : 59.

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٥٩﴾

Alladziinash shabaruu wa `alaa rabbihim yatawakkaluuna”

(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.

Iman yang sebenarnya adalah iman dengan amal shalih, yaitu Iman yang disertai dengan amal perbuatan seperti yang disebutkan di beberapa ayat dalam Al Qur`an. Amal perbuatan itu diantaranya adalah : yang mengerjakan shalat dengan ikhlas, yang menafkahkan hartanya yang telah di limpahkan kepadanya di jalan Allah yaitu memberikan kepada mereka yang berhak dan yang membutuhkan, yang bertawakal hanya kepada Allah, yang mampu bersabar meski dalam keadaan tertekan, yang begitu yakin akan kebenaran tentang kehidupan akhirat, yang jika di sebut nama Allah bergetar hatinya karena takut akan adzabnya, yang apabila di bacakan ayat-ayatnya imannya akan bertambah. Itulah orang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman, dan Allah menambahkan dalam satu Ayat,

QS. Al Anfaal : 4.

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴿٤﴾

Ulaa`ika humul mu`minuuna haqqan, lahum darajaatun inda rabbihim wa maghfiratun wa rizkun kariimun”

”Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

Ma`asyiral muslimina rakhimakumullah, demikianlah sedikit tulisan di kesempatan ini, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi para pembaca sekalian, terutama bermanfaat bagi diri kami sendiri.

Sekian.

Surabaya, 31 Juli 2015

Agushar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 31, 2015 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: