RSS

Penciptaan Alam Semesta menurut Al Qur`an.

07 Okt

04Pada beberapa ayat, diantaranya di QS. Qaf ayat 38 yang berbunyi, “Dan sungguh, kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami tidak merasa letih sedikitpun.” dan Q.S. Al-Sajdah ayat 4 yang berbunyi, “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?” kedua ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa.

Enam hari yang dimaksud memang ada kesamaan dengan keterangan yang ada pada kitab Kejadian pada Perjanjian Lama, tetapi makna yang tersirat pada kata enam hari di kedua Kitab tersebut bisa jadi sangat berbeda. Jika di kitab Kejadian menyiratkan enam hari manusia dengan kata, Malam lewat, dan jadilah pagi. Maka pada pada Al Qur`an kata, “sittati ayyaamin” yang berarti enam masa yang panjang. Selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa yang disebut dengan (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses bukan enam hari sebagaimana mengartikan kata ayyaamin.

Ayat pertama diatas sekaligus juga membantah anggapan orang-orang Yahudi bahwa setelah selesai penciptaan pada hari ke enam, Allah beristirahat. Rasulullah pernah begitu sangat marahnya mendengar perkataan seorang Yahudi yang mengatakan hal tersebut sebelum turun ayat di QS. Qaf ayat 38 yang menjelaskan bahwa Allah tidak pernah merasa lelah atau letih. Bersemayam dalam bahasa Al Qur`an bukanlah bemakna “istirahat”. Tetapi lebih bermakna kembali ke Singgasana diatas Ars` untuk mengatur segala sesuatu urusan yang terjadi pada apa yang telah di ciptakanNya tersebut. Lantas bagaimana proses penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh Allah tersebut?

Enam fase atau enam periode dalam penciptaan langit dan bumi yang dimaksdu dalam Al Qur`an bisa dijelaskan sebagai berikut,

Periode atau fase pertama,

َوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُواأَنَّالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًافَفَتَقْنَاهُمَاوَجَعَلْنَامِنَالْمَاءِكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُون
Artinya:“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. AlAnbiya [21] :30)
Ini dimulai dengan sebuah ldakan besar (bigbang) sekitar 12-20 miliar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energy, dan waktu. “Ledakan” pada hakikatnya adalah pengembangan ruang.

Materi yang mula-mula terbentuk adalah hydrogen yang menjadi bahan dasar bagi bintang-bintang generasi pertama. Hasi fusi nuklir antara inti-inti hydrogen, menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi atau disebut juga Nukleosintesis Big Bang.
Nukleosintesis Big Bang terjadi pada tiga menit pertama penciptaan alam semesta dan bertanggung jawab atas banyak perbandingan kelimpahan 1H (protium), 2H (deuterium), 3He (helium-3), dan 4He (helium-4), di alam semesta.

Meskipun 4He terus saja dihasilkan oleh mekanisme lainnya (seperti fusi bintang dan peluruhan alfa) dan jumlah jejak 1H terus saja dihasilkan oleh spalasi dan jenis-jenis khusus peluruhan radioaktif (pelepasan proton dan pelepasan neutron), sebagian besar massa isotop-isotop ini di alam semesta, dan semua kecuali jejak-jejak yang tidak signifikan dari 3He dan deuterium di alam semesta yang dihasilkan oleh proses langka seperti peluruhan kluster, dianggap dihasilkan di dalam proses Big Bang. Inti atom unsur-unsur ini, bersama-sama 7Li, dan 7Be diyakini terbentuk ketika alam semesta berumur 100 sampai 300 detik, setelah plasma kuark–gluon primordial membeku untuk membentuk proton dan neutron. Karena periode nukleosintesis Big Bang sangat singkat sebelum terhentikan oleh pengembangan dan pendinginan, tidak ada unsur yang lebih berat daripada litium yang dapat dibentuk.(Unsur-unsur terbentuk pada waktu ini adalah dalam keadaan plasma, dan tidak mendingin ke keadaan atom-atom netral hingga waktu lama).

Fase Kedua
هُوَالَّذِيخَلَقَلَكُمْمَافِيالْأَرْضِجَمِيعًاثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءِفَسَوَّاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍوَهُوَبِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ
Artinya :“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”(Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)
Masa ini adalah pembentukan langit. Pengetahuan saat ini menunjukan bahwa langit biru hanyalah disebabkan hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar atmosfer langit biru tak ada lagi, yang ada hanyalah titik cahaya bintang , galaxy, dan benda-benda langit lainnya. Jadi, langit bukanlah hanya kubah biru yang ada di atas sana, melainkan keseluruhan yang ada di atas sana (bintang-bintang, galaxy, dan benda-benda langit lainnya), maka itulah hakikat langit yang sesungguhnya. Adapun dalam fase ini, pembentukan bintang-bintang di dalam galaxy yang masih berlangsung hingga saat ini.

Fase Ketiga
Pada masa ini dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya, termasuk bumi. Selain itu pada masa ini juga terjadi proses pembentukan matahari sekitar 4,6 miliar tahun lalu dan mulai di pancarkannya cahaya dan angin matahari. Proto-bumi (bayi bumi) yang telah terbentuk terus berotasi menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi sebagaimana yang Allah SWT firmankan dengan indah :
وَأَغْطَشَلَيْلَهَاوَأَخْرَجَضُحَاهَا
Artinya :“dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.”Q.S An-Nazi’at [79] : 29

Fase Keempat
Bumi yang terbentuk dari debu-debu antar bintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi.
Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang tampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” .sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَالْأَرْضَبَعْدَذَلِكَدَحَاهَا
Artinya :“dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.”(Q.S. an-Naziat [79] :30)

Fase Kelima
Hadirnya air dan atmosfer di bumi menjadi prasyarat terciptanya kehidupan di bumi. Sebagaimana firmanAllah SWT :
…وَجَعَلْنَامِنَالْمَاءِكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُونَ
Artinya :“…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup… “ (Q.S. al-anbiya [21] : 30
Selain itu, pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca dibumi, yakni awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya akan gas metan (CH4) dan ammonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energy listrik dan halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organic. Senyawa organic yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Sebagaimana dikembalikan pada surat Al Anbiya [21] ayat 30 yang telah menyebutkan bahwasannya semua makhluk hidup berasal dari air.

Fase Keenam
Masa keenam dalam proses penciptaan ala mini adalah dengan lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan.Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ini pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempengan tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Setelah mengkaji cara Al-Quran menjelaskan tentang penciptaan alam semesta. Penulis menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan antara satu sama lainnya. Seperti yang penulis kutip dari seorang ilmuan besar Albert Einsten: ”religion without science is blind and science without religion is damage.” (Albert Einstein, 1960)

Ilmu yang tidak disertai dengan agama akan hancur dan tumbang karena tidak adanya kekuatan iman. Sedangkan agama tanpa ilmu akan menjadi rusak karena akan dapat salah mengartikannya. Sebagaimana orang-orang materalis yang selalu menentang akan adanya penciptaan alam semesta. Ini merupakan contoh yang sangat signifikan jika ilmu pengetahuan tidak disertai dengan ajaran-ajaran agama.

Surabaya, 1 Oktober 2015

Agushar.
Dari berbagai sumber.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2015 in Renungan

 

Tag: , , ,

2 responses to “Penciptaan Alam Semesta menurut Al Qur`an.

  1. sayyid

    Agustus 23, 2016 at 10:15 am

    Assalamualaikum wr.wb,
    pak Agus Hartono.

    Memang tepat sekali bahwa penciptaan langit dan bumi dan segala isinya secara totalitasnya dengan enam(6) masa.
    seperti yg bpk sebutkan diatas: Pada beberapa ayat, diantaranya di QS. Qaf ayat 38 yang berbunyi, “Dan sungguh, kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami tidak merasa letih sedikitpun.”

    menurut bpk fase pertama(1) adalah bersangkutan dengan ayat :
    “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. AlAnbiya [21] :30)

    saya berpendapat bahwa ini kurang tepat karena kejadian ini terjadi setelah penciptaan langit dan bumi,padahal langit dan bumi saat itu belum terwujud.
    dengan ayat ini banyak orang/ilmuwan berpendapat bahwa penciptaan alam semesta terjadi karena big bang.(ini adalah pendapat yg salah).

    Ayat yg tepat yg kita gunakan untuk penciptaan langit dan bumi adalah dari surat Hud ayat 7.
    Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah `Arsy-Nya sebelum itu di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

    Dengan ayat ini jelas sekali bahwa sebelum penciptaan langit dan bumi ,Arsy Allah berada di atas air.
    Dengan ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:

    yg padu itu tidak selalu mengartikan padat.
    langit dan bumi pada mulanya bersal dari unsur yg satu, yaitu air (sesuatu yg cair) kemudian menjadi 2 benda yg berlainan yaitu atom dan asap(dukhan) hidrogen.
    pada awalnya kedua bahan ini ritqun (bersatu padu) kemudian terpecah(fatqun). Dari atom terbentuk bakal bumi dan dari asap(dukhan) hidrogen terbentuk bakal langit.

    tentu kita bertanya mengapa air(sesuatu yg cair) dan bukan sesuatu yg padat?
    sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah telah menciptakan malaikat dan jin dahulu dengan suhu yg amat panas.
    “Kabut alam semesta” itu sendiripun terdiri dari segala materi lahiriah-nyata-fisik penyusun seluruh alam semesta ini, dalam bentuk ‘uap’ dari unsur terkecilnya (‘Atom’). Atom juga adalah bentuk setiap materi-benda dalam keadaannya yang paling panasnya. Dan seluruh Atom di alam semesta ini bercampur-baur, bertumbukan dan bergerak dengan amat sangat bebas dan cepat ke segala arah, akibat dari adanya “energi awal alam semesta” yang amat sangat panas tersebut.
    Tentu saja setiap Atom itupun tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, akan tetapi jika telah bercampur dalam jumlah yang amat sangat banyak seperti di atas, maka bentuknya akan berupa ‘kabut atau asap’. Sedang jika dilihat dari dekat, asap atau kabut itupun tetap tidak terlihat mata telanjang. Secara sederhananya, “kabut alam semesta itu adalah kabut dari atom-atom gas hidrogen yang sedang terbakar”.

    Hal inilah yang dimaksud dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30 di atas, tentang “masih bersatu-padunya langit dan Bumi” pada saat awal penciptaan alam semesta ini, karena Bumi, beserta segala benda langit lainnya (bintang, planet, komet, meteor, dsb) memang masih melebur dan menyatu dalam ‘suatu kabut’ (atau sama-sekali belum berwujud).
    Segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (benda mati dan makhluk hidup, nyata dan gaib) pasti berasal dari suatu ketiadaan, lalu diciptakan oleh Allah, Yang Maha pencipta dan Maha kuasa.
    Teori big bang berkesimpulan bahwa langit dan bumi pada mulanya adalah subjek dari status ratq. Keduanya lalu dipisahkan (fataqa) satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita memahami bahwa seluruh materi di alam semesta terkumpul pada satu titik tunggal.

    Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belum diciptakan, juga masih dalam keadaan menyatu dan tidak terpisah dalam titik tunggal ini. Kemudian, titik ini meledak dahsyat dan menyebabkan materi-materi yang dikandungnya terpisah.Aneh kan.

    Fase kedua(2) dan seterusnya sampai ke enam(6), saya singkatkan saja dengan surat fushilat ayat 9 s/d 12.

    surat fushilat ayat 9/10
    Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”.Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

    arti ayat ini sbb.
    penciptaan bumi (kadar makanan untuk penguhninya dsb beserta matahari,bulan dan planit-planit disekitar galaksi kita dalam 4 masa).

    Lantas Allah menuju ke penciptaan tujuh langit,
    surat fushilat ayat 11/12
    Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

    setelah pemisahanyg pertama antara galaksii kita(bumi, matahari,bulan dan seluruh planit2) dengan tujuh langit(bima sakti), Allah memerintahkan kepada bumi(galaksi kita) dan tujuh langit(bima sakti) agar mendekat karena Allah bermaksud untuk menghiasi langit pertama dengan bintang-bintang.

    ada dua pengartian langit dalam alquran.

    -yg pertama yaitu 7 lapisan langit pada galaksi kita surat al mulk ayat 3.
    Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

    lapisan yg ke tujuh dalam galaksi kita (magnetosfir) berjarak kira-kira 30.000km dari bumi.

    -dan yg kedua yaitu tujuh langit (bima sakti) dimana langit yg terdekat dihiasi oleh Allah dengan bintang-bintang.
    surat fushilat ayat11/12.
    Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

    langit yg terdekat dari ke tujuh langit(bima sakti) ini berjarak kira-kira 4.5 tahun cahaya dari bumi.

    sebenarnya Allah sangat jelas dengan firmanNYA.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

     
    • Agus Hartono

      Agustus 25, 2016 at 1:45 am

      Wa alaikum salam ikhwan sayyid,….Terima kasih banyak atas pencerahannya. Pengetahuan tafsir saya sangatlah jauh dibawah standard, jadi komentar Ustadz sangatlah bermanfaat bagi saya. Meski masih berada dalam batas relativitas penafsiran, saya berharap Ilmu Pengetahuan pada akhirnya akan bisa menjelaskan dan menjawab tentang kebenaran tafsir yang mengarah pada kesesuaian takwil. Saya juga membaca banyak buku tasawuf modern yang banyak beredar di masyarakat, meski untuk itu saya harus memilah dulu para penulis dan penerbitnya. Jadi saya merasa sangat bersyukur ketika Ustadz menanggapi tulisan saya. Salam kenal Ustadz, barakallahu laka. Terima kasih.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: