RSS

“Waktu” Yang Tersia-siakan.

09 Okt

SEA029Semenjak kita ditakdirkan untuk hidup di dunia ini, semenjak itu pula waktu ada dalam genggaman kita. Jika kita mau memahami sedikit saja mengenai waktu, niscaya kita akan mendapatkan sedikit kepahaman yang sebenarnya merupakan pemahaman dasar sebuah kehidupan. Cobalah sedikit berpikir, apa yang disertakan oleh Allah swt. sewaktu mengijinkan kita semua menghuni alam ini? Selain ketentuan Allah swt berupa qodlo dan qodar yang kita yakini sebagai takdir apa sajakah yang kita bawa serta dalam sebuah perjalanan hidup yang sebagian manusia menyebut sebagai usaha “mardhotillah” atau mencari keridhaan Allah swt ini? Bukankah bekal awal hidup kita ini hanyalah “waktu”? Apalagi yang disertakan oleh Allah swt disaat kita dilahirkan ke dunia ini selain waktu ?

Sebagian diri kita menerjemahkan waktu dari Allah tersebut dengan kata umur. Tetapi umur hanyalah istilah yang mewakili seberapa lama kita memanfaatkan waktu kehidupan yang telah di tetapkan oleh Allah swt. Kita ingat berapa umur kita. Kita buat spesial tanggal ketika kita dilahirkan. Kita peringati setiap tahunnya dengan merayakannya. Tapi tidak banyak dari kita yang menyadari, bahwa bekal kita hidup dari Allah ini adalah “waktu” atau masa. Disamping bekal istimewa berupa “akal” yang telah tertanam pada jasad kita, hanya “waktu”lah yang kita miliki sebagai modal awal dalam perjalanan panjang kehidupan kita di dunia.

وَالْعَصْرِ﴿١﴾إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴿٢﴾إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴿٣﴾

(1)Demi masa.(2)Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,(3)kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Begitu sangat pentingnya modal kehidupan berupa waktu yang disertakan untuk kehidupan kita, sehingga Allah secara khusus pula memberi peringatan kepada manusia tentang perlunya pemanfaatan waktu selama waktu tersebut masih dalam genggaman hidup kita. Dalam sebuah surah pendek diatas Allah mengingatkan kita semua bahwa seluruh manusia akan berada dalam kerugian yang sangat besar kecuali mereka yang istiqomah dalam keimanan dan istiqomah pula dalam berbuat baik. Dan dalam kehidupannya selalu mengingatkan manusia lain dalam hal atau sesuatu yang benar untuk dilakukan dan selalu mengingatkan orang lain untuk tetap dalam kesabaran dalam menjalani kehidupan.

Meski kita tahu bahwa yang tersurat dalam QS. Adz Dzariyaat ayat 56, memberikan pengertian jika Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaNya, tetapi tidaklah serta merta seluruh manusia mengikuti kodrat penciptaan dirinya sebagai makhluk ibadah. Hanya sebagian kecil manusia saja yang benar-benar berusaha di jalan Allah guna memperoleh keridhaanNya. Mengapa demikian? Hal ini adalah dampak dari kebebasan memilih yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Meski kodrat penciptaan manusia adalah sebuah pengabdian sepenuhnya kepada Allah, tapi Allah juga tidak memaksa manusia untuk mengikuti jalanNya. Justru Allah memberikan jaminan kebebasan bagi manusia untuk beriman atau sama sekali tidak beriman.

Dalam QS. Al Baqarah ayat 256, Allah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk sebuah agama, terutama agama Allah. Tapi bagi siapapun yang telah menjatuhkan pilihan untuk perjalanan sebuah kehidupan dia tetap akan menanggung konsekwensi dari sebuah pilihan tersebut. Karena pemberian kesempatan oleh Allah bagi manusia untuk hidup di dunia yang bersifat sementara ini secara otomatis akan beroleh pula kesempatan bagi manusia untuk hidup dibalik kehidupan dunia, yakni kehidupan akhirat. Ada dua tempat yang diciptakan Allah swt dibalik kehidupan dunia untuk mengapresiasi seluruh perilaku manusia selama waktu kehidupannya di dunia yakni, surga dan neraka.

Bagi manusia yang tak perduli dengan keridhaan Allah tempatnya di neraka. Bagi mereka yang peduli dengan keridhaan Allah akan bertempat di surga. Dua tempat yang gambarannya sudah jelas. Baik dalam banyak ayat dalam Al Qur`an maupun yang digambarkan dalam berbagai hadist Rasulullah saw. Yang satu berkonotasi siksa dan yang lain berkonotasi nikmat. Lantas apa yang menjadi kunci penyebab terbukanya pintu kedua tempat tersebut bagi manusia? Yang pertama mengingkari nikmat dunia yang datang dari Allah swt, yang kedua mensyukuri semua nikmat yang diterima dari Allah selama kurun “waktu” dalam genggaman kehidupan.

Oleh karena itu tak berlebihan pula kiranya kalau kunci kedua tempat di akhirat tersebut terletak pada bagaimana pemanfaatan waktu yang kita miliki selama hidup di alam dunia yang fana` ini. Pada ayat di atas sudah sangat jelas kalau sesungguhnya semua manusia pasti dalam kerugian. Tentu saja kerugian yang dimaksud adalah kerugian di kehidupan alam akhirat kelak. Kecuali manusia yang beriman dan beramal shalih. Dan saling menasihati dalam hal kebenaran serta saling mengingatkan dalam hal kesabaran.

Manusia yang beriman, yakni mereka yang meyakini tentang kebenaran dan eksistensi Allah swt dengan segala sifat serta kekuasaanNya terhadap alam semesta ini, termasuk semua makhluk yang menghuninya. Terutama manusia sebagai makhluk yang disempurnakan penciptaannya. Yang dibekali akal untuk berfikir dan membedakan tentang sesuatu yang dianggap benar atau dianggap salah. Dan yang juga menjadikannya sebagai makhluk yang berbudaya. Sehingga manusia bisa berkuasa atas makhluk-makhluk lain yang hidup disekitarnya. Baik berupa tumbuh-tumbuhan maupun berupa binatang atau hewan.

Beramal shalih adalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan yang telah diperintahkanNya. Baik yang berhubungan dengan ibadah yang langsung berkaitan dengan Allah maupun ibadah-ibadah yang berkaitan dengan manusia lain dan alam sekitarnya. Hal seperti ini memerlukan Ilmu. Ada tata cara dalam beribadah. Baik ibadah vertikal maupun ibadah horizontal. Semua sudah diatur dalam kerangka syariat Islam yang berisi ketentuan-ketentuan dan tata cara ibadah seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dan ini mutlak harus dimiliki, karena ibadah tanpa ilmu hanya akan menyebabkan kerusakan ibadah itu sendiri. Ibadah yang rusak hampir pasti tidak akan menghasilkan apa-apa atau hanya menghasilkan kesia-siaan.

QS. Al Israa` 36.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴿٣٦

(36)Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Dalam sebuah ayat Allah swt mengingatkan kita untuk tidak mengikuti bahkan mengerjakan segala sesuatu yang kita sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Karena aplikasi pada jasad kita berupa pendengaran, penglihatan dan hati bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Ketiganya mempunyai fungsi dalam hal pemahaman. Tanpa ketiga aplikasi tersebut manusia akan mengalami kesulitan dalam kepahaman. Terutama dalam masalah ilmu. Ironisnya, banyak manusia merasa memiliki ketiga indera tersebut tapi tidak banyak yang menggunakan sebagaimana fungsi utamanya. Kebanyakan malah enggan mendekatkan ketiga aplikasi tersebut dalam ranah ibadah.

Nah, bagaimana dengan bekal waktu yang kita miliki? Sudahkah kita menggunakannya sesuai dengan yang dikehendaki kehidupan? Betapa banyak dari kita yang terpesona pada gemerlap dunia dan melalaikan kehidupan di dunia yang lain? Betapa banyak dari kita yang mabuk gemerlapnya dunia tapi melupakan kehidupan sesudah mati kita? Waktu kita lebih banyak sirna tanpa manfaat akhirat. Mayoritas waktu kita lebih banyak kita habiskan untuk berfikir tentang keduniawian. Kita sering memisahkan waktu dengan ingatan kepada Allah. Padahal kunci keberhasilan “mardhotillah” adalah ingatan kepada Allah yang sering kita sebut dengan istilah “dzikrullah”.

Sadarkan kita, kalau kunci perilaku yang benar selalu diawali dengan ingatan kepada Allah? Jika kita selalu mengingat Allah dalam segala keadaan, niscaya setiap perilaku kita akan selalu dihadapkan pada aturan-aturan yang merujuk pada kitabullah dan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Dengan demikian, setiap langkah kita akan selalu terlindungi dari kesalahan-kesalahan yang cenderung membawa kita ke dalam dosa-dosa kecil atau bahkan cenderung ke arah maksiat. Nah untuk bisa berperilaku “benar” dalam batasan ibadah, kita harus atau wajib mengetahui batasan-batasan perilaku yang sesuai dengan syariat maupun yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan oleh agama.

Bagaimana cara agar kita mengetahui segala aturan tentang syariat, tentunya kita harus belajar tentang ilmu Islam maupun ilmu Iman. Nah untuk itulah diperlukan “waktu” yang tidak sedikit. Mutlak harus ada waktu bagi kita untuk belajar tentang Iman dan Islam jika ingin berada pada “manzilah” ibadah. Waktu yang kita alokasikan haruslah maksimal. Bukan hanya sedikit waktu. Jika hanya sedikit waktu yang kita alokasikan untuk memahami ilmu agama. Hasil yang akan kita dapatkan hanyalah sekedar “tahu”. Jika hanya sekedar tahu ilmu agama, cara beragama kita juga akan bernilai sekedarnya.

Demikian juga dengan ibadah, jika ilmu tentang ibadah kita hanya sekedar, niscaya ibadah yang kita lakukanpun juga hanya bernilai sekedar ibadah. Jika ibadah kita bernilai sekedar, berarti hidup kita belum bisa dikatakan berada dalam “manzilah” ibadah. Dan jika ibadah hanya bernilai sekedar, maka “Iman” yang bersemanyam di dalam hatipun juga akan bernilai sekedar. Lebih tepatnya “Iman-iman”-an. Dalam bahasa agama belumlah sampai pada level kesungguhan Iman. Dan ini sungguh-sungguh membahayakan bagi kita yang mengaku abdi Allah swt. Karena sebagian besar waktu yang dimilikinya pasti teralokasikan untuk kepentingan dunia.

Sebagian besar manusia terbalik dalam mengalokasikan waktu yang diberikan oleh Allah swt. Seharusnya waktu untuk kepentingan akhirat lebih maksimal dibanding waktu untuk kepentingan dunia. Tetapi yang justru terlihat adalah kebalikannya. Waktu untuk menikmati dunia jauh lebih maksimal daripada waktu untuk mempersiapkan akhiratnya. Posisi alokasi waktu kehidupan yang seperti ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan Iman seseorang. Jika keimanan seseorang mendekati kesungguhan maka porsi waktu persiapan akhirat otomatis akan meningkat dengan sendirinya. Tetapi jika keimanan tetap stagnan pada posisi sekedar beriman, maka porsi waktu keduniawian pasti jauh lebih besar dari waktu untuk akhirat.

Itulah sebabnya mengapa manusia harus menuntut ilmu tentang keimanan secara intens. Karena grafik ilmu Islam akan meningkat sebanding dengan semakin tebalnya Iman seseorang. Dan hal itu memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Disamping mengorbankan waktu untuk menimba ilmu ibadah, seseorang juga harus bersusah payah dalam usaha memahami ilmu agama. Baik yang berkaitan dengan ilmu baca tulis Al Qur`an maupun yang berkaitan dengan ilmu ketauhidan. Sudah itu masih juga harus disibukkan dengan perwujudan dalam bentuk perilaku yang baik dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.

Waktu yang kita miliki akan bermanfaat bagi kehidupan kita diakhirat kelak apabila kita gunakan waktu tersebut untuk suatu perbuatan yang bermanfaat dan bernuansa ibadah. Tetapi jika kita menggunakan waktu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bersenang-senang sepanjang mata terbuka, maka waktu kita akan terkikis sia-sia. Lenyap seperti gas yang menguap lepas ke alam bebas dan tak pernah akan kembali lagi. Pahamilah, bahwa waktu adalah modal utama kita untuk meraih kesuksesan akhirat. Ambillah sedikit saja dari dunia ini dan tumpahkan waktu yang kita miliki untuk mewujudkan sukses akhirat.

Oleh karena itulah, senyampang waktu masih kita miliki, marilah kita gunakan sebanyak-banyaknya untuk memahami ayat-ayat Allah swt. Baik yang ada dalam kitab maupun melalui tanda-tanda alam yang terlihat di depan mata kita. Biasakan untuk memuji dan berpasrah diri kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisi. Ucapkan kata-kata pujian kepada Allah dengan perasaan tulus dan ikhlas. Sehingga ingatan kita kepada Allah dalam setiap kesempatan tersebut berimbas pada kedekatan kita kepada Allah swt. Pujian yang keluar dari lisan tetapi tidak mengandung keikhlasan tidak akan berdampak pada kedekatan pada Allah swt.

Marilah, dalam sisa waktu yang kita miliki, kita alokasikan sebesar-besarnya untuk ibadah kepada Allah swt. Dengan lebih banyak mendatangi majlis-majlis taklim yang ada disekitar kita. Membaca Al Qur`an secara intens setiap harinya. Mencari pemahaman pada tafsir dan penyebab turun ayatnya. Lebih banyak bergaul dengan para ulama` dan mendapatkan pencerahan ilmunya serta berusaha untuk mengaplikasikannya dalam perilaku sehari-hari kita. Sehingga nantinya kita dapat digolongkan oleh Allah kedalam manusia yang mencari keridhaan Allah dalam keseluruhan hidup kita. Amiiin….

sekian.

Surabaya, 8 Oktober 2015

agushar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 9, 2015 in Renungan

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: