RSS

Dari Kelahiran Sampai Perkawinan Rasulullah saw.

01 Des

MN_47Kelahiran Sampai Perkawinan Rasulullah saw.

Ringkasan dari “Sejarah Hidup Muhammad” karangan Muhammad Husain Haikal.

Ketika Abdullah, anaknya telah berusia duapuluh empat tahun, Abdul Muttalib menjatuhkan pilihan kepada Aminah binti Wahab bin Abd Manaf untuk dipinang sebagai istri anaknya tersebut. Hal tersebut karena keluarga Abd Manaf adalah salah satu keluarga yang terpandang dan terhormat kedudukannya di tengah-tengah masyarakat suku Zuhra. Oleh karena itu, pilihan terhadap Aminah adalah sesuatu yang sudah sepantasnya bagi Abdullah sebagai keluarga Abdul Muttalib yang juga terhormat di tengah masyarakat sukunya. Maka ditemuilah Uhyab, paman Aminah yang mewakili ayahnya yang sudah meninggal untuk melamar dan menentukan hari perkawinannya. Pada saat perkawinan Abdullah dengan Aminah dilangsungkan, Abd Muttalib juga melangsungkan perkawinannya sendiri dengan seorang perempuan bernama Hala. Dan dari perkawinannya tersebut lahirlah seorang laki-laki bernama Hamzah. Paman Rasulullah yang usianya hampir sama dengan beliau.

Setelah tinggal beberapa hari di rumah Aminah, tibalah saatnya untuk kembali ke rumah orang tuanya, Abdul Muttalib. Kemudian mereka bersama-sama kembali ke keluarga Abdul Muttalib. Beberapa waktu kemudian, Abdullah pergi meninggalkan Aminah dalam usaha perdagangan ke Suriah dalam keadaan hamil. Dalam perjalanannya ke suria, Abdulllah juga singgah ke Gaza. Kemudian singgah pula ke Medinah untuk beristirahat di tempat saudara-saudara dari Ibunya. Setelah hilang lelahnya, Abdullah merencanakan untuk kembali pulang ke Mekah dengan kafilahnya. Akan tetapi sebelum rencananya kesampaian, Abdullah jatuh sakit. Terpaksalah dia menunda kepulangannya ke Mekah dengan tetap beristirahat pada tempat saudara-saudara Ibunya. Kawan-kawan seperjalanannya memutuskan untuk kembali ke Mekah dan menyampaikannya berita sakitnya Abdullah kepada ayahnya, Abdul Muttalib.

Ketika Abdul Muttalib mendengar berita tentang sakitnya Abdullah, Ia kemudian mengutus anak sulungnya, Harith ke Medinah. Dan memerintahkan untuk membawa kembali ke Mekah sesudah kesembuhannya. Namun, sesampainya di Medinah Harith harus pula menerima kenyataan bahwa adiknya Abdullah ternyata telah wafat dan telah dikuburkan pula. Dengan hati pilu Harith kembali ke keluarganya di Mekah dengan membawa perasaan duka dan sedih yang sangat dalam. Ketika berita tersebut disampaikan pada ayahnya dan iparnya, Aminah tak pelak keduanya merasa sangat terpukul sekali. Sehingga perasaan duka dan sedih sebagai seorang yang kehilangan anak kesayangan dan kehilangan seorang suami yang menjadi harapannya di masa datang begitu menusuk ke hati yang sangat dalam.

Abdullah tidak mempunyai warisan yang didapat dari ayahnya, Abdul Muttalib. Tetapi meski begitu dari kegigihannya dalam berusaha Abdullah meninggalkan lima ekor unta dan sekelompok ternak kambing serta seorang budak perempuan, yakni Umm Ayman yang dikemudian hari menjadi pengasuh Nabi Muhammad saw. Beberapa bulan sesudah kematian Abdullah, Aminah melahirkan seorang anak laki-laki. Abdul Muttalib menyambut kelahiran cucu pengganti anaknya yang telah wafat itu dengan sangat gembira. Diangkatnya bayi tersebut dan dibawanya ke Ka`bah. Diberinya nama cucunya tersebut dengan nama Muhammad. Sebuah nama yang tidak umum dikalangan orang arab pada saat itu, tapi cukup mudah untuk dikenal. Kemudian disusukannya anak tersebut ke salah satu keluarga banu Sa`d seperti kebiasaan masyarakat arab bangsawan di Mekah pada saat itu.

Sebagian besar ahli sejarah memastikan kalau Nabi dilahirkan pada Tahun Gajah (570 masehi). Dan banyak pula yang bersepakat bahwa Nabi dilahirkan pada bulan Rabiul Awal tanggal duabelas atau hari keduabelas. Terlepas dari beberapa penafsiran tentang penetapan tanggal dan bulan kelahiran Nabi, yang jelas pada hari ke tujuh setelah kelahiran Kakek Nabi, Abdul Muttalib minta untuk disembelihkan unta. Maka diundanglah masyarakat quraisy untuk makan bersama. Ketika mereka mengetahui bahwa nama bayi yang baru lahir tersebut bernama Muhammad mereka saling bertanya, kenapa tidak menggunakan nama sesuai dengan kebiasan nenek moyang. Abdul Muttalib menjawab, “Aku menginginkan kelak dia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi”.

Kebiasaan orang arab adalah mengirimkan anak yang baru lahir setelah hari ke delapan kelahirannya ke suku-suku di pedalaman arab untuk disusui. Dan baru mengembalikannya ke kota setelah berumur sekitar delapan atau sepuluh tahun kemudian. Demikian juga dengan bayi Nabi, ibunya Aminah sementara menyusukan anaknya ke Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Pada saat yang sama Thuwaiba juga menyusukan Hamzah, anak Abdul Muttalib. Jadi Nabi dan Hamzah adalah keponakan dan paman sekaligus juga saudara sepersusuan. Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusui dia tetap menjaga hubungan baik dengan selama hidupnya. Namun sayang, anak Thuwaiba yang saudara sepersusuan Nabi meninggal lebih dulu dari ibunya pada tahun ke tujuh setelah hijrahnya ke Medinah.

Ketika datang wanita-wanita dari keluarga S`ad ke Mekah untuk mencari bayi-bayi yang akan mereka susukan, Aminahpun berharap ada salah satu dari mereka yang sudi untuk menyusukan bayinya. Tetapi dalam hal ini, mereka kurang suka mengambil bayi-bayi yatim yang kurang bisa diharapkan upahnya. Salah satu dari wanita tersebut, yakni Halimah binti Abi Dhua`ib yang tidak kebagian bayi seperti yang dia harapkan akhirnya dengan terpaksa pula membawa bayi Nabi dikarenakan takut malu apabila kembali ke pedalaman tanpa membawa bayi untuk disusui. Halimah berkata kepada Harith bin Abd’l-‘Uzza suaminya : “Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga.”

“Baiklah,” jawab suaminya. “Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.”

Halimah memang kurang mendapat respon dari para ibu-ibu karena dipandang sebagai perempuan atau wanita yang kurang mampu. Sehingga tak ada pilihan lain buat Halimah kecuali membawa bayi Nabi ke pedalaman untuk disusuinya. Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Setelah selama dua tahun Nabi disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima` anaknya, tibalah waktunya untuk membawa kembali nabi ke orang tuanya. Setelah dipertemukan pada orang tuanya Nabi kemudian dibawa kembali ke pedalaman dengan alasan agar lebih matang. Disamping kekhawatiran akan adanya serangan wabah yang menyerang kota Mekah. Selama dua tahun lagi nabi berada di padang Sahara menikmati udara yang bebas dan jernih, tak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa dan tak terikat pula oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa’d itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.”

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: “Lalu saya pergi dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan: “Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.” karena itulah kemudian Halimah berusaha untuk mengembalikan Nabi kepada orang tuanya di Mekah. Konon, Halimah menceritakan kepada Aminah setelah sampai ke Mekah dalam usahanya mengembalikan Nabi kepada keluarganya. Bahwa sebelum dikembalikannya Nabi ke Mekah tersebut, telah datang beberapa orang nasrani Abisinia yang memperhatikan bagian belakang tubuh Nabi. Dan mereka berkata, “Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya.” lalu Halimah cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dan membawa Nabi kembali ke rumah.

Sekitar lima tahun masa yang ditempuhnya di pedalaman itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya itu. Dikabarkan pula bahwa suatu saat ketika terjadi masa paceklik, Ibu Halimah pernah juga datang ke Mekah. Saat itu Nabi telah menikah dengan Khadijah. Nabi menyambutnya dengan penghormatan yang sangat. Dibentangkannya pakaiannya yang paling berharga untuk tempat duduk Ibu Halimah. Dan ketika kembali dibawakannya pula bekal harta berupa unta yang dimuati air dan empat puluh ekor kambing. Dan pernah pula ketika Syaima`, puterinya berada di bawah tawanan bersama-sama pihak Hawazin setelah Ta’if dikepung, kemudian dibawa kepada Rasulullah, ia segera mengenalnya. Ia dihormati dan dikembalikan kepada keluarganya sesuai dengan keinginan wanita itu.

Setelah kembali ke Mekah, Abdul Muttalib mengasuh cucu kesayangannya tersebut dengan perlakukan yang penuh kasih sayang. Suatu ketika, Aminah ingin memperkenalkan anaknya tersebut kepada keluarganya dari pihak keluarga Najjar yang ada di Medinah. Maka dibawanya serta Umm Ayman, budak perempuan yang ditinggalkan suaminya dulu, Abdullah. Sesampai di Medinah diperlihatkannya kepada Nabi sebuah rumah dimana tempat ayahnya dulu meninggal. Dan diceritakannya pula secara panjang lebar ketika Abdullah meninggalkanya untuk berniaga dan singgah untuk beberapa saat di tengah keluarga pamannya sampai ayah Nabi tersebut sakit dan meninggal di tengah-tengah keluarga pamannya. Sebuah kenangan yang membawa Nabi merasa kehilangan dan merasa dirinya sebagai anak yatim.

Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah sudah bersiap-siap akan pulang. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa’, ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan pula di tempat itu. Anak itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.

Kemudian Nabi hidup dalam asuhan kakeknya, Abdul Muttalib. Tetapi malang tak pula dapat ditolak. Beberapa waktu kemudian meninggal pulalah kakek yang sangat sayang kepada cucunya tersebut dalam usia yang sudah cukup tua. Maka seakan lengkap pulalah pukulan hati yang diterima oleh Nabi. Selanjutnya paman nabi yang bernama Abu Thaliblah yang kemudian bertindak untuk merawatnya. Dengan kasih sayang yang demikian besar pula Abu Thalib merawat kemenakan yang juga dia cintai tersebut. Dibawah asuhan Abu Talib pamannya ia mendapat perhatian dan pemeliharaan yang baik sekali, mendapat perlindungan sampai masa kenabiannya, yang terus demikian sampai pamannya itu pun akhirnya meninggal.

Sebenarnya kematian Abd’l-Muttalib ini merupakan pukulan berat bagi Keluarga Hasyim semua. Di antara anak-anaknya itu tak ada yang seperti dia: mempunyai keteguhan hati, kewibawaan, pandangan yang tajam, terhormat dan berpengaruh di kalangan Arab semua. Dia menyediakan makanan dan minuman bagi mereka yang datang berziarah, memberikan bantuan kepada penduduk Mekah bila mereka mendapat bencana. Sekarang ternyata tak ada lagi dari anak-anaknya itu yang akan dapat meneruskan. Yang dalam keadaan miskin, tidak mampu melakukan itu, sedang yang kaya hidupnya kikir sekali. Oleh karena itu maka Keluarga Umaya yang lalu tampil ke depan akan mengambil tampuk pimpinan yang memang sejak dulu diinginkan itu, tanpa menghiraukan ancaman yang datang dari pihak Keluarga Hasyim.

Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abd’l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya. Pernah pada suatu ketika ia akan pergi ke Syam membawa dagangan. Ketika itu usia Nabi baru duabelas tahun. Mengingat sulitnya perjalanan menyeberangi padang pasir, tak terpikirkan olehnya akan membawa keponakannya tersebut. Akan tetapi Muhammad yang dengan ikhlas menyatakan akan menemani pamannya itu, itu juga yang menghilangkan sikap ragu-ragu dalam hati Abu Talib.

Dalam buku-buku riwayat hidup Rasulullah diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan, bahwa rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.

Dalam perjalanan tersebut Rasulullah yang saat itu masih berusia sekitar dua belas tahun melihat luasnya jazirah arab. Dilihatnya pula peninggalan kaum Thamud berupa bangunan-bangunan. Di dengar pula segala apa yang diceritakan orang tentang peristiwa masa lampau. Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat ia lupa akan kebun-kebun di Ta’if serta segala cerita orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu. Di Syam ini juga Muhammad mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia.

Tampaknya Abu Talib tidak banyak membawa harta dari perjalanannya itu. Ia tidak lagi mengadakan perjalanan demikian. Malah sudah merasa cukup dengan yang sudah diperolehnya itu. Ia menetap di Mekah mengasuh anak-anaknya yang banyak sekalipun dengan harta yang tidak seberapa. Muhammad juga tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dengan ‘Ukaz, Majanna dan Dhu’l-Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu’allaqat. Dengan demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Maka pada bulan suci itu pulalah Nabi juga telah mengenal arti memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang Fijar. Sebuah peristiwa perang yang seharusnya tidak boleh terjadi karena saat itu adalah bulan yang disucikan. Akan tetapi Barradz bin Qais dari kabilah Kinana tidak lagi menghormati bulan suci itu dengan mengambil kesempatan membunuh ‘Urwa ar-Rahhal bin ‘Utba dari kabilah Hawazin. Perang demikian ini berlangsung antara kedua belah pihak selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan suatu perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban manusia lebih kecil harus membayar ganti sebanyak jumlah kelebihan korban itu kepada pihak lain. Maka dengan demikian Quraisy telah membayar kompensasi sebanyak duapuluh orang Hawazin.

Abu Talib pamannya seperti sudah kita sebutkan tadi hidup miskin dan banyak anak. Dari kemenakannya itu ia mengharapkan akan dapat memberikan tambahan rejeki yang akan diperoleh dari pemilik-pemilik kambing yang kambingnya digembalakan. Suatu waktu ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Banu) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali ia kawin dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Mekah yang terkaya. Ia menjalankan dagangannya itu dengan bantuan ayahnya Khuwailid dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya. Sungguhpun begitu usahanya itu terus dikembangkan.

Tatkala Abu Talib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil kemenakannya yang ketika itu sudah berumur duapuluh lima tahun.

“Anakku,” kata Abu Talib, “aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau engkau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?”

“Terserah paman,” jawab Muhammad. Abu Talibpun pergi mengunjungi Khadijah:

“Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?” tanya Abu Talib. “Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor.”

“Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai.” Demikian jawab Khadijah. Maka kembalilah sang paman kepada kemenakannya dengan menceritakan peristiwa itu. “Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu,” katanya.

Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itupun berangkat menuju Syam, dengan melalui Wadi’l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib tatkala umurnya baru duabelas tahun.

Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.

Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Marr’-z-Zahran. Ketika itu Maisara berkata: “Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu.” Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Mekah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya. ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan. Sesudah itu Maisarapun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Mekah yang besar jasanya.

Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia – yang sudah berusia empatpuluh tahun, dan yang sebelum itu telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan – kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya kata sumber lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: “Kenapa kau tidak mau kawin?”

“Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan,” jawab

Muhammad.

“Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta,

terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?”

“Siapa itu?”

Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: “Khadijah.”

“Dengan cara bagaimana?” tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.

Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan: “Serahkan hal itu kepadaku,” maka iapun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari perkawinan.

Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.

Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Rasulullah. Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapa, suami-isteri yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak,

dan sebagai ibu-bapa yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapa semasa ia masih kecil.

Sekian.

Ringkasan dari “Sejarah Hidup Muhammad” karangan Muhammad Husain Haikal.

media.isnet.org

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 1, 2015 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: